Akibat fitnah kakak sepupunya, Sierra Moore dibuang keluarganya keluar kota Cragstone yang sangat jauh dan terpencil tanpa dibekali uang sepeserpun di usia 15 tahun. Tiga tahun kemudian, Tobias Moore, kakek Sierra yang baru mengetahui kalau Sierra telah didepak dari keluarga Moore sangat marah dan meminta anak dan menantunya untuk membawa Sierra kembali atau dia akan melongsorkan anaknya itu dari posisi CEO Moore Company. Sepupu Sierra, Nora Moore tentunya tidak senang dengan hal ini dan mengupayakan segala cara untuk bisa menyingkirkan Sierra dari keluarga Moore.
Apa yang membuat Nora tidak menyukai Sierra?
Hanya dengan dukungan kakeknya, akankah Sierra bisa bertahan dan mengambil kembali posisinya di keluarga Moore?
Akankah Sierra balas dendam pada orang-orang yang sudah menyakitinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiara Pratiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14 Aku akan mengambil alih Moore Company
"Sierra, sekali lagi aku berterima kasih atas pertolonganmu waktu aku terkurung di toilet. Kau pahlawanku! Kau tidak tahu betapa leganya aku saat melihat wajahmu waktu itu! Kau benar-benar keren! Kau adalah idolku! Cheers!" Anastasia mengangkat gelas sodanya tinggi-tinggi.
Sierra mendentingkan gelasnya pelan. "Aku hanya melakukan apa yang kebanyakan orang lakukan, itu bukan hal spesial."
"Sierra, kau terlalu merendah. Meskipun dari luar kau tampak dingin, tapi sebenarnya kau orang yang hangat. Aku sangat menyayangimu, Teman!"
Sierra hanya tersenyum tipis menanggapi Anastasia.
"Ngomong-ngomong, Paman," Anastasia menoleh ke arah Adrian. "Bukankah tadi Paman bilang ada urusan dengan Sierra? Urusan apa? Dari tadi kalian tidak membahasnya."
Sierra menghentikan gerakannya dan menoleh ke arah Adrian, menunggu.
"Hm... apa kau pernah mendengar soal Ghost S?" tanya Adrian langsung.
Sierra sedikit terkejut, namun ia adalah pakar dalam menyembunyikan emosi. Wajahnya tetap datar.
"Ghost S? Maksud Paman, hacker nomor satu saat ini?" timpal Anastasia antusias.
Sierra berkata, "Apa yang perlu aku bantu?"
"Aku ingin kau menemukannya. Aku ingin dia bergabung dengan tim IT Blackwood company. Aku bisa membayar berapapun yang dia mau," ujar Adrian serius.
Sierra terdiam sejenak, lalu menggeleng pelan. "Aku tidak bisa. Kalaupun kau berhasil menemukannya, belum tentu dia mau bekerja untukmu. Menurutku Ghost S tidak akan tergiur hanya dengan gaji dari Blackwood Group. Dan aku yakin sebagai hacker nomor satu, dia tidak kekurangan uang. Jadi jika hanya uang yang bisa Anda tawarkan, sepertinya sudah jelas dia akan menolak."
James menyipitkan mata, menopang dagunya. "Sierra, sepertinya kau sangat mengenal karakter Ghost S? Apa jangan-jangan kau adalah Ghost S?"
"Mana mungkin!" Anastasia membela dengan cepat. "Jika itu benar, untuk apa Sierra kembali ke sekolah? Jelas-jelas Ghost S itu jenius. Jenius seperti itu sudah tidak butuh sekolah!"
"Mungkin dia hanya butuh ijazah," gumam James.
"Apa gunanya ijazah kalau dia sudah punya banyak uang?" balas Anastasia tak mau kalah.
Sierra hanya diam, tidak membantah maupun membenarkan. Ia membiarkan perdebatan itu mengalir di sekitarnya. Adrian sendiri tidak berkomentar, namun tatapannya terus terkunci pada Sierra, memperhatikan setiap detail ekspresi dan gestur tubuh gadis itu. Tapi ia tidak menemukan apa-apa.
"Kalau begitu, bagaimana denganmu?" tanya Adrian tiba-tiba.
"Aku?" Sierra mengangkat alis.
"Apa kau mau bekerja di Blackwood Group? Gaji dan posisi bisa kita negosiasikan."
Sierra menyandarkan punggungnya, menatap Adrian dengan berani. "Aku tidak tertarik. Aku berencana mengambil alih Moore Company. Aku akan membesarkan Moore Company hingga bisa bersaing dengan Blackwood Group."
Suasana mendadak hening. Anastasia ternganga, sementara James hampir tersedak minumannya. Moore Company saat ini dipimpin oleh Brady, ayah Sierra, dan pewaris yang dipilih oleh Brady adalah Carson. Bukan rahasia lagi jika kedua orang itu tidak punya kemampuan untuk mengelola bisnis, performa Moore Company semakin merosot di bawah mereka. Entah apa tujuan yang ingin dicapai Sierra tapi pernyataan Sierra barusan adalah deklarasi perang terbuka untuk Brady dan Carson.
"Itu keren sekali! Aku mendukungmu, Sierra!" seru Anastasia setelah tersadar dari keterkejutannya.
Adrian terkejut, namun bukan karena tersinggung oleh ambisi Sierra yang ingin menyainginya. Ia terkejut karena keberanian gadis itu. Adrian berpikir bahwa ini adalah bentuk balas dendam Sierra terhadap keluarga yang telah menelantarkannya. Bukannya marah, sebuah senyum tipis justru muncul di wajah Adrian.
"Baiklah, berjuanglah. Kau juga jangan sungkan meminta bantuanku untuk itu," kata Adrian tulus.
"Semangat! Kau pasti bisa!" James ikut memberi dukungan.
"Benar! Jangan sungkan untuk minta bantuan pamanku! Anggap saja paman sendiri! Pamanku, pamanmu juga!" celoteh Anastasia riang.
"Diamlah," tegur Adrian pada keponakannya.
"Ehem!" James berdehem, mencoba menahan tawa melihat wajah Adrian yang memerah.
"Jangan dengarkan Anastasia," ujar Adrian pada Sierra.
Sierra mengangguk pelan. "Baiklah, mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu di masa depan, Mr. Blackwood. Jangan salahkan aku jika nanti aku akan merepotkanmu."
"Kenapa masih memanggilku Mr. Blackwood? Aku bukan atasanmu. Panggil nama saja," pinta Adrian.
"Mr. Adrian?"
"Tidak perlu menggunakan 'Mr'."
Sierra terdiam sejenak sebelum menyebutnya, "Baiklah, Adrian."
"Aku juga! Aku juga!" James menuntut bagian.
"Baiklah, James," jawab Sierra pendek.
Adrian memberikan tatapan mematikan pada James karena ikut campur dalam momen tersebut, namun James pura-pura sibuk mengamati hiasan dinding restoran.
Anastasia yang duduk di seberang mereka mulai memutar otak. Ia memperhatikan setiap gerak-gerik pamannya yang tidak biasa. "Apa sebenarnya yang dipikirkan Paman? Kenapa ia sangat ingin dekat dengan Sierra? Sejak kapan dia jadi banyak bicara?", batinnya.
Lalu sebuah pikiran liar melintas di benaknya. "Tunggu... Apa jangan-jangan Paman jatuh hati pada Sierra?"
Anastasia menggelengkan kepala. "Ah! Mana mungkin! Umur mereka kan sangat jauh. Tapi... Sierra cantik, keren, dan misterius. Tidak aneh juga jika Paman jatuh cinta padanya."
James menyenggol lengan Anastasia, membuyarkan lamunannya lalu berbisik. "Apa yang kau pikirkan?"
Anastasia mendekatkan bibirnya ke telinga James dan berbisik sangat pelan, "Paman bersikap sangat aneh di depan Sierra. Apa menurutmu Paman menyukai Sierra?"
James melirik Adrian sebentar lalu berbisik balik, "Hah? Apa sangat jelas terlihat?"
"Jadi itu benar?!" mata Anastasia membulat.
"Adrian tidak pernah mengatakannya langsung, tapi menurutku itu benar. Kenapa? Jangan bilang kau tidak setuju?"
Anastasia menggigit bibir bawahnya. "Aku hanya bingung apa aku perlu membantu Paman? Menurutku Sierra terlalu baik untuk Paman. Apalagi Paman terlalu tua untuk Sierra."
James menahan tawa. "Hei, apa kau tidak takut aku melaporkan ucapanmu pada Adrian?! Apa menurutmu jarak sepuluh tahun itu terlalu tua? Lagipula bukankah kau sangat menyukai Sierra? Seharusnya kau membantu Adrian. Jika mereka menikah, Sierra akan jadi keluarga kita. Dia akan menjadi Mrs. Blackwood."
Anastasia mengembuskan napas panjang. "Huft!"
Ia membayangkan masa depannya. Jika hal itu benar-benar terjadi, ia harus merubah panggilannya kepada idolanya sendiri. Membayangkan dirinya harus memanggil teman sebayanya dengan sebutan "Bibi" membuat Anastasia ingin membenamkan wajahnya ke dalam mangkuk sup miso.
Selesai makan malam yang penuh dengan ketegangan tersembunyi itu, Anastasia bangkit dengan semangat. Ia tidak membiarkan Sierra beranjak selangkah pun menuju pintu keluar untuk mencari kendaraan umum.
"Sierra, aku akan mengantarmu pulang! Tadi kau datang naik taksi, kan? Pokoknya tidak ada penolakan," paksa Anastasia sambil memeluk lengan Sierra erat.
Sierra baru saja akan membuka mulut untuk menolak secara halus, namun suara berat Adrian mendahuluinya. "Jangan menolak. Tidak aman bagi seorang perempuan untuk naik taksi sendirian di jam seperti ini."
Sierra tertegun, menatap Adrian dengan ekspresi bingung yang sulit disembunyikan. "Tidak aman?" Sierra hampir ingin tertawa. Adrian adalah saksi hidup bagaimana Sierra menumbangkan beberapa pembunuh bayaran di Cragstone demi menyelamatkannya. Baginya, menghadapi seorang supir taksi nakal mungkin hanya butuh waktu kurang dari lima detik. Namun, melihat sorot mata Adrian yang tak terbantahkan dan desakan Anastasia yang terus merengek, Sierra akhirnya menyerah. Ia melangkah masuk ke dalam mobil mewah Adrian.
Adrian mengatur rute dengan cerdik. Ia mengantarkan Anastasia dan James lebih dulu ke kediaman Jasper. Setelah kedua orang yang paling berisik itu turun, suasana di dalam mobil mendadak senyap. Hanya ada deru mesin dan aroma parfum maskulin Adrian yang memenuhi kabin. Adrian sengaja mengambil rute yang sedikit lebih jauh dan mengemudi dengan pelan agar bisa menghabiskan waktu lebih lama dengan Sierra, meskipun tidak banyak kata yang terucap di antara mereka.
Sesampainya di depan gerbang megah keluarga Moore, Adrian menghentikan mobilnya namun tidak segera membuka kunci pintu. Ia menatap profil samping wajah Sierra yang terkena bias lampu jalan.
"Apa kau betah tinggal di sini?" tanya Adrian tiba-tiba.
Sierra menoleh sedikit, tatapannya kosong menatap bangunan besar di depannya. "Hm? Yah, biasa saja. Tempat ini tidak pernah terasa seperti rumah bagiku. Tapi setidaknya kakek sudah kembali sekarang, jadi aku tidak benar-benar sendirian."
Adrian mengangguk paham, ada kilat simpati di matanya. "Apa aku perlu mengantar sampai depan pintu rumah?"
"Tidak perlu. Terima kasih atas tumpangannya. Aku pergi sekarang. Selamat malam," ucap Sierra datar sembari membuka pintu mobil setelah Adrian melepas kuncinya.
"Selamat malam," balas Adrian pelan, menatap punggung Sierra hingga menghilang di balik pintu besar itu.
Sierra melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan. Ia tidak berniat menyapa siapapun. Namun, begitu ia membuka pintu kamarnya dengan sentakan kasar, matanya menyipit tajam. Di sana, Nora sedang mengobrak-abrik nakasnya. Bahkan, laptop khusus milik Sierra sudah berpindah tempat ke atas meja dalam kondisi terbuka. Sierra tahu Nora tidak akan bisa menyalakannya karena sistem keamanan biometrik wajah yang ia tanam, tapi melihat tangan kotor Nora menyentuh barang-barangnya sudah cukup untuk memicu amarahnya.
"Apa yang kau lakukan di kamarku?" suara Sierra menggelegar dingin.
Nora tersentak hebat, hampir menjatuhkan sebuah kotak kecil yang ia pegang. Wajahnya pucat pasi karena tertangkap basah. "Eh... A-aku... aku hanya mencari barangku!"
"Kenapa kau mencarinya di kamarku?" Sierra melangkah maju, auranya mengintimidasi.
"Aku tidak menemukannya di kamarku, jadi aku pikir mungkin ada ke sini..." gagap Nora mencari alasan.
Sierra mendengus sinis. "Heh! Jadi sekarang kau mau menuduhku mengambil barangmu? Padahal jelas-jelas kau yang mengendap-endap masuk ke sini seperti pencuri."
"Kau—!" Nora hendak membalas, namun lidahnya kelu melihat tatapan Sierra yang seolah bisa menguliti orang hidup-hidup.
"Keluar sekarang juga! Apa kau tidak tahu bau busukmu menodai kamarku?" Sierra menunjuk pintu dengan kasar.
Nora yang merasa terhina langsung menghentakkan kaki dan berjalan keluar dengan wajah merah padam. Braakk! Sierra membanting pintu tepat di depan wajah Nora.
Di koridor, Nora mencaci-maki Sierra tanpa suara, wajahnya berkerut penuh kebencian. Ia telah menghabiskan waktu hampir satu jam untuk mencari sesuatu, apa saja yang bisa digunakan untuk memfitnah Sierra, namun kamar itu bersih dari barang-barang mencurigakan. Ia juga kesal karena laptop Sierra seolah mati total, tidak menyala sama sekali meski ia sudah mencoba menekan tombol power berkali-kali dan menghubungkannya ke pengisi daya. Ia yakin Sierra tadi siang masih menggunakannya di sekolah, tapi kenapa sekarang benda itu mati total. Nora yakin ada rahasia Sierra di dalam laptop itu.