NovelToon NovelToon
Psikopat Itu Suamiku

Psikopat Itu Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Psikopat / Balas Dendam / Obsesi
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Naelong

"Kenapa tidak dimakan, Sayang? Steak-nya hampir dingin," suara Arka memecah kesunyian. Nadanya lembut, namun ada tekanan yang tak kasat mata di sana.
​Alya menelan ludah. Tangannya gemetar di bawah meja. "Aku... aku tidak terlalu lapar, Mas."
​"Kau tahu aku tidak suka penolakan, bukan? Aku sudah menyingkirkan 'gangguan' kecil di kantormu tadi pagi agar kita bisa makan malam dengan tenang. Jangan buat pengorbananku sia-sia."
​Alya membeku. Gangguan kecil? Maksudnya Pak Rendi, rekan kerjanya yang hanya menyapanya di lobi?
​"Mas... apa yang kau lakukan pada Pak Rendi?" suara Alya nyaris hilang.
"Dia hanya sedang beristirahat panjang, Alya. Sekarang, makan dagingmu, atau aku harus menyuapimu dengan cara yang lebih... paksa?"
​Detik itu, Alya sadar. Pria yang tidur di sampingnya setiap malam bukan sekadar suami yang protektif.
Akankah Alya bisa bertahan dengan pernikahannya??

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19

Kehidupan di pondok kayu lereng pegunungan Alpen kini terasa jauh lebih tenang dan berwarna. Rangga, yang dahulu dikenal sebagai pria yang dingin dan tak tersentuh, telah berubah menjadi sosok yang lebih hangat, meski sisa-sisa kewaspadaannya sebagai mantan predator terkadang masih muncul. Bagi Rangga, setiap detik bersama Alya adalah sebuah anugerah yang harus ia jaga seumur hidupnya.

​Beberapa bulan telah berlalu sejak malam yang penuh penebusan itu. Hubungan mereka semakin erat, seolah-olah setiap luka masa lalu telah tertutup oleh kelembutan yang mereka bangun setiap harinya.

​Malam itu, suhu di luar turun drastis. Salju turun menyelimuti atap pondok, menciptakan suasana yang begitu intim di dalam ruangan yang hanya diterangi cahaya perapian. Rangga, yang merasa sangat mencintai istrinya, mendekati Alya yang sedang duduk di sofa sambil membaca buku.

​Rangga memeluk Alya dari belakang, menghirup aroma rambutnya yang selalu membuatnya tenang. Gairah seorang pria yang sangat memuja istrinya kembali bangkit. Ia memutar tubuh Alya secara perlahan, menatap matanya dengan tatapan yang dalam dan penuh damba.

​"Alya..." bisik Rangga dengan suara baritonnya yang khas.

​Ia mulai menciumi leher Alya dengan lembut, tangannya membelai pinggang istrinya dengan penuh kasih sayang. Rangga hendak mendekatkan wajahnya untuk mencium bibir Alya, memulai ritual cinta mereka yang selalu terasa baru setiap saat. Namun, tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, sesuatu yang tidak terduga terjadi.

​Wajah Alya mendadak memucat. Matanya terbelalak bukan karena gairah, melainkan karena rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyerang perutnya. Aroma parfum kayu cendana yang biasanya Alya sukai dari tubuh Rangga, malam ini terasa sangat menyengat dan memicu rasa mual yang luar biasa.

​"Mas... tunggu..." ucap Alya terbata-bata.

​Belum sempat Rangga bertanya, Alya sudah melepaskan diri dari pelukannya. Ia berlari kencang menuju dapur, menuju wastafel.

​Ugh... huekkk!

​Alya membungkuk di depan wastafel, memuntahkan cairan bening dengan tubuh yang gemetar hebat. Rasa mual itu terasa seperti diaduk-aduk di dalam perutnya, membuatnya merasa sangat lemas.

​Melihat hal itu, insting pelindung Rangga langsung meledak, namun kali ini bercampur dengan kepanikan yang luar biasa. Ia berlari menyusul Alya, memijat tengkuk istrinya dengan lembut sambil memegangi rambutnya agar tidak terkena muntahan.

​"Sayang! Ada apa? Apa yang salah? Apa kamu keracunan makanan?" suara Rangga bergetar. Wajahnya yang biasanya tenang kini dipenuhi garis-garis kecemasan. Ia merasa gagal melindungi Alya jika terjadi sesuatu pada kesehatannya.

​Alya tidak bisa menjawab, ia hanya terus memuntahkan isi perutnya sampai badannya terasa lunglai. Rangga segera menggendong Alya menuju tempat tidur, menyelimutinya dengan kain wol yang tebal.

​"Aku akan panggil dokter. Sekarang juga!" tegas Rangga.

​Rangga segera menghubungi Dokter Hans, seorang dokter privat yang tinggal tidak jauh dari pondok mereka. Dokter Hans adalah orang yang selama ini membantu memantau kondisi mental dan fisik Rangga selama masa rehabilitasi di Swiss.

​Selama menunggu dokter datang, Rangga tidak bisa duduk diam. Ia mondar-mandir di depan tempat tidur, menggenggam tangan Alya yang dingin, dan sesekali mencium keningnya. Pikirannya melayang ke tempat-tempat gelap; ia takut jika musuh lamanya kembali dan meracuni istrinya, atau jika ada penyakit mematikan yang menyerang Alya. Bagi Rangga, kehilangan Alya adalah akhir dari dunianya.

​Tak lama kemudian, Dokter Hans tiba dengan tas medisnya. Rangga segera mempersilakan dokter paruh baya itu masuk dengan wajah yang sangat tegang.

​"Dokter, tolong periksa dia! Dia tiba-tiba mual dan muntah-muntah hebat saat... saat kami sedang bersantai," ujar Rangga, menyembunyikan detail bahwa mereka baru saja akan melakukan hubungan intim.

​Dokter Hans tersenyum kecil melihat kepanikan Rangga. Ia mulai memeriksa denyut nadi Alya, tekanan darahnya, dan menanyakan beberapa pertanyaan tentang siklus bulanan Alya. Alya menjawab dengan suara yang pelan, menyadari bahwa ia memang sudah terlambat datang bulan selama dua minggu terakhir, namun ia terlalu sibuk menikmati kedamaian di Swiss hingga tidak memperhatikannya.

​Dokter Hans mengeluarkan sebuah alat tes sederhana dari tasnya dan meminta Alya melakukannya di kamar mandi. Sepuluh menit kemudian, Alya keluar dengan tangan yang sedikit gemetar. Ia menyerahkan alat itu kepada Dokter Hans.

​Dokter Hans melihat hasilnya, lalu menatap Rangga yang berdiri seperti patung yang sedang menahan napas.

​"Pak Rangga," panggil Dokter Hans sambil melepas kacamatanya.

​"Ya, Dokter? Katakan padaku, apa dia sakit parah? Apa aku harus membawanya ke rumah sakit di Zurich?" tanya Rangga bertubi-tubi.

​Dokter Hans terkekeh pelan. "Tenanglah, Pak Rangga. Istri Anda tidak sakit. Justru ini adalah kabar yang sangat membahagiakan. Selamat, Pak Rangga... Istri Anda sedang hamil. Usia kandungannya baru sekitar empat minggu."

​Keheningan seketika menyelimuti ruangan itu. Rangga terpaku. Kata "hamil" bergema di telinganya seperti lonceng yang sangat keras. Sang pria yang dulunya menganggap dirinya monster kini mendengar bahwa ada sebuah kehidupan baru, sebuah darah dagingnya sendiri, yang sedang tumbuh di rahim wanita yang ia puja.

​Rangga menoleh ke arah Alya. Mata mereka bertemu, dan keduanya mulai berkaca-kaca. Rasa haru yang luar biasa meluap, membasuh segala sisa-sisa kegelapan di hati Rangga.

​Dokter Hans merapikan peralatannya dan berdiri. Ia menepuk bahu Rangga dengan mantap.

​"Ini adalah masa yang sangat krusial, Pak Rangga. Mual di pagi hari atau bahkan malam hari adalah hal yang normal bagi ibu hamil. Tolong dijaga istrinya baik-baik, Pak. Jangan biarkan dia stres, pastikan nutrisinya terjaga, dan yang paling penting... berikan dia kasih sayang yang melimpah. Anak ini adalah masa depan Anda."

​Rangga mengangguk dengan sangat patuh, seperti seorang murid yang menerima instruksi paling penting dalam hidupnya. "Terima kasih, Dokter. Saya berjanji, saya akan menjaganya lebih dari nyawa saya sendiri."

​Setelah Dokter Hans pergi, Rangga kembali duduk di samping Alya. Ia perlahan merebahkan kepalanya di atas perut Alya yang masih rata, membisikkan doa-doa yang selama ini tidak pernah ia ucapkan.

​"Alya... terima kasih," bisik Rangga parau. "Terima kasih karena memberiku kesempatan untuk menjadi seorang ayah. Aku berjanji, anak ini tidak akan pernah melihat sisi gelapku. Dia hanya akan mengenal cinta."

​Alya mengusap rambut Rangga, air mata kebahagiaan mengalir di pipinya. "Kita akan melakukannya bersama, Mas. Kita akan membesarkannya di sini, jauh dari bayang-bayang masa lalu."

Bersambung....

1
🖤Qurr@🖤
Luar biasa! Aku suka novel ini!

- Parapgrafnya gak belibet.
Sederhana tapi mudah dimengerti alur ceritanya.
Setiap karakternya mempengaruhi emosi pembaca. /Rose/
Naelong: terimakasi sudah mampir😍
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
Ih, ayah apa seperti kamu, Baskara? Mending kamu aja deh yang mati.
🖤Qurr@🖤
Mas Rangga red flag deh..
Hazelisnut
seru banget ceritanya semalaman aku baca gak berhenti😭🫶🏻
Hazelisnut: sama² kakaknya😘
total 2 replies
Hazelisnut
chapter 2 di mana mau baca😭aku udah gak sabar mau baca selanjutnya
Naelong: insyaallah hari saya up lagi
total 1 replies
🖤Qurr@🖤
What the heck..?
🖤Qurr@🖤
/Sob/waduh...
🖤Qurr@🖤
🤣seram banget sih
Naelong: nggak seram ko😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!