NovelToon NovelToon
Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Hijrah Hati Menuju Ridha Nya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Rizal telah menyiapkan segalanya sebuah cincin dan masa depan yang ia dedikasikan sepenuhnya untuk Intan. Namun, tepat di malam ia berencana melamar, dunianya runtuh. Di depan matanya sendiri, ia melihat Intan mengkhianati cintanya, berselingkuh dengan sahabat karib yang paling ia percayai.
Di tengah hancurnya harga diri Rizal, hadir Aisyah, ibu tiri Intan yang selama ini menyimpan simpati pada ketulusan Rizal. Sebagai wanita yang lama menjanda dan tahu betul tabiat buruk putri tirinya, Aisyah menawarkan sebuah jalan keluar yang tak terduga.
"Nikahi aku, Rizal. Jangan biarkan Intan menginjak harga dirimu lagi. Aku akan mengangkat derajatmu lebih tinggi dari yang pernah ia bayangkan."
Kini Rizal berada di persimpangan: tetap meratapi pengkhianatan, atau menerima tawaran Aisyah untuk membalas luka dengan cara yang paling elegan—menjadi ayah tiri dari wanita yang menghancurkan hatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Pagi itu, teras rumah keluarga Baskoro tampak ramai.

Beberapa warga sekitar berkumpul dengan rapi, berharap bisa mendapatkan pekerjaan di usaha yang kini tengah viral tersebut.

Aisyah, didampingi oleh Intan yang memegang buku catatan, duduk dengan anggun menyeleksi satu per satu calon karyawan.

Aisyah tidak hanya melihat kemampuan memasak, tapi juga kejujuran dan kebersihan mereka.

Setelah berdiskusi singkat dengan Intan, Aisyah akhirnya berdiri dan mengumumkan keputusannya.

"Baiklah, setelah mempertimbangkan semuanya, saya sudah memutuskan," ujar Aisyah sambil tersenyum ramah.

"Mas Rudi, Mbak Yani, dan Mas Iman yang saya terima."

Ketiganya tampak sangat lega dan bersyukur. Mas Rudi yang memang memiliki pengalaman di bidang logistik, Mbak Yani yang terampil di dapur, dan Mas Iman yang sigap, tampak bersemangat.

"Terima kasih banyak, Nyonya Aisyah! Kami janji akan bekerja sebaik mungkin," ucap Mbak Yani dengan mata berkaca-kaca.

"Dan mulai sekarang, kalian bisa langsung bekerja," lanjut Aisyah tegas namun tetap lembut.

"Intan akan memandu kalian ke dapur produksi di paviliun. Dia yang akan mengatur pembagian tugas hari ini."

Intan segera berdiri, menunjukkan kepemimpinannya yang baru tumbuh.

"Mari, semuanya ikut saya. Kita harus segera mengejar target 500 toples untuk pesanan. Mas Rudi bantu saya angkat stok tepung, Mbak Yani langsung ke bagian pencetakan, dan Mas Iman tolong siapkan oven."

Melihat Intan yang kini begitu cekatan mengatur karyawan, Aisyah merasa hatinya sangat tenang.

Sementara itu, dari balik jendela lantai dua, Rizal memperhatikan mereka dengan senyum bangga.

Ia sudah bisa berdiri tegak tanpa tongkat, menyaksikan rumahnya kini tak hanya penuh kasih sayang, tapi juga menjadi sumber rezeki bagi orang banyak.

Pagi itu, suasana di kantor pusat Baskoro Group mendadak sunyi saat sebuah mobil sedan hitam berhenti tepat di depan lobi.

Pintu terbuka, dan Rizal melangkah keluar. Seluruh karyawan yang berada di area lobi terpaku.

Rizal tidak lagi menggunakan kursi roda, juga tidak lagi bertumpu pada tongkat kayu yang selama ini menemaninya.

Ia berjalan tegak, langkahnya mantap meski sedikit perlahan, dengan setelan jas hitam yang tampak sangat pas di tubuhnya yang kini lebih bugar.

"Selamat pagi, Pak Rizal!" sapa resepsionis dengan nada terkejut sekaligus kagum.

Rizal hanya mengangguk kecil dengan raut wajah serius yang berwibawa. Ia langsung menuju lift pribadi dan naik ke lantai paling atas.

Sesampainya di ruangannya, Ia segera membuka beberapa berkas laporan keuangan yang sudah menumpuk selama ia menjalani pemulihan di rumah.

Tak butuh waktu lama bagi ketajaman matanya untuk menemukan sesuatu yang janggal. Ia menekan tombol interkom di mejanya.

"Siska, ke ruangan saya sekarang. Bawa laporan pengadaan bahan baku tahun ini," perintahnya dingin.

Beberapa saat kemudian, Siska, sekretaris pribadinya, masuk dengan wajah yang sedikit pucat.

Ia melihat bosnya sudah berdiri di dekat jendela besar tanpa bantuan alat apa pun.

"Bapak sudah bisa berjalan?" tanya Siska terbata-bata.

Rizal berbalik, tatapannya tajam menghunjam. Ia melempar sebuah map merah ke atas meja.

"Siska, jelaskan padaku kenapa banyak selisih antara harga pasar dengan harga yang dilaporkan di sini? Kenapa biaya logistik membengkak hampir tiga puluh persen, padahal volume pengiriman kita stabil?"

Siska menunduk, tangannya gemetar memegang map tersebut.

Ia tahu Rizal bukanlah pria yang mudah dikelabui, apalagi sekarang kecerdasannya kembali didukung oleh kekuatan fisiknya yang pulih.

"Itu, bagian dari kebijakan Manajer Operasional yang baru, Pak," bisik Siska pelan.

"Kebijakan atau pencurian?" potong Rizal pedas.

"Panggil Manajer Operasional ke sini. Dan kamu, apakah kamu ikut menutupi ini?"

Siska menganggukkan kepalanya dengan lemas, air mata mulai menggenang di sudut matanya.

"Saya dipaksa diam, Pak. Kalau tidak, saya diancam akan dipecat olehnya."

Rizal mengepalkan tangannya. "Duduklah, Siska. Ceritakan semuanya sebelum aku benar-benar membersihkan sampah di perusahaan ini."

Kemudian Rizal meminta Siska untuk memanggil Bramastya.

Pintu ruangan terbuka dengan kasar. Seorang pria paruh baya dengan kemeja mahal dan jam tangan berkilau melangkah masuk dengan sapaan yang terdengar dipaksakan ramah.

Ia adalah Bram, Manajer Operasional yang selama ini merasa di atas angin karena menganggap Rizal tidak akan pernah pulih sepenuhnya.

Namun, langkah Bram seketika terhenti. Matanya membelalak melihat Rizal berdiri tegak di balik meja kebesarannya, tanpa tongkat, tanpa kursi roda.

Wibawa yang dipancarkan Rizal terasa jauh lebih menekan dari sebelumnya.

Ia melihat Siska yang menunduk dalam di kursi depan meja Rizal, bahunya tampak sedikit bergetar. Firasat buruk mulai menyergap Bram.

"Ah, Pak Rizal. Kejutan yang luar biasa! Bapak sudah bisa berjalan lagi?" ucap Bram mencoba menormalkan suaranya, meski keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.

Rizal tidak menjawab basa-basi itu. Ia justru melipat kedua tangannya di dada, menatap Bram dengan pandangan yang seolah bisa menguliti kebohongan pria itu.

"Duduk, Bram," perintah Rizal singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.

Bram duduk di samping Siska dengan gelisah. Ia melirik sekretaris itu, mencoba memberikan kode melalui tatapan mata agar Siska tutup mulut, namun Siska tetap bergeming dengan kepala tertunduk.

"Siska baru saja menceritakan sesuatu yang sangat menarik tentang 'selisih harga' dan 'biaya logistik' yang membengkak," ujar Rizal sambil perlahan berjalan memutari mejanya, mendekat ke arah Bram.

"Ternyata, selama saya belajar berjalan lagi di rumah, kamu justru belajar cara merampok perusahaan saya, ya?"

Wajah Bram seketika pucat pasi. "Itu fitnah, Pak! Siska pasti berbohong karena dia punya masalah pribadi dengan saya!"

Rizal berhenti tepat di samping kursi Bram. Ia meletakkan laporan keuangan yang penuh dengan coretan tinta merah di depan wajah manajer itu.

"Data tidak pernah berbohong, Bram. Hanya orang serakah seperti kamu yang berbohong."

Bram tertawa hambar, mencoba menutupi kegugupannya dengan kepanikan yang meluap-luap.

Ia menunjuk Siska dengan telunjuk yang gemetar, mencoba membalikkan keadaan.

"Pak Rizal, jangan percaya dia! Bram menggelengkan kepalanya dengan kuat, mencoba meyakinkan bosnya.

"Siska ini yang memanipulasi data! Dia sengaja menyalahkan saya karena saya pernah menolak permintaannya untuk naik gaji. Dia memfitnah saya, Pak!"

Siska yang tadinya hanya terdiam sambil terisak, tiba-tiba mendongak.

Rasa takutnya kini berubah menjadi kemarahan karena dikhianati dan dijadikan kambing hitam.

Dengan tangan gemetar, ia merogoh saku roknya dan mengeluarkan ponsel pintarnya.

"Cukup, Pak Bram! Saya tidak akan diam lagi," suara Siska meninggi.

Siska menunjukkan bukti ancaman Bram yang tersimpan rapi di dalam aplikasi pesan singkatnya.

Ia menggeser layar ponsel itu di depan mata Rizal.

Di sana terlihat jelas rentetan pesan dari nomor pribadi Bram yang berisi ancaman akan mencelakai keluarga Siska jika ia berani melaporkan selisih harga tersebut ke dewan direksi.

Tidak hanya itu, ada juga rekaman suara saat Bram membentak Siska di ruang arsip, memaksanya untuk menandatangani kwitansi fiktif.

Rizal mengambil ponsel itu, mendengarkan rekaman suara tersebut dengan rahang yang mengeras.

Ruangan itu seketika menjadi sangat dingin. Rizal menatap Bram yang kini benar-benar kehilangan kata-kata.

Wajah manajer operasional itu berubah menjadi abu-abu, nyalinya menciut hingga ke dasar lantai.

"Masih mau bilang ini fitnah, Bram?" tanya Rizal dengan suara yang sangat tenang—namun semua orang tahu, ketenangan Rizal adalah tanda badai besar akan datang.

Rizal menekan tombol interkom di meja nya dan memanggil petugas keamanan.

"Keamanan, naik ke ruangan saya sekarang. Bawa borgol jika perlu." ucap Rizal.

1
falea sezi
lanjut donk
falea sezi
aisyah umur brp
my name is pho: 25 tahun
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!