NovelToon NovelToon
SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

SEBELUM AKU LUPA SEGALANYA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Trauma masa lalu
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Dinna Wullan

Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.

Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SATU NYAWA DI DUA RAGA

Di sisi lain kota, di dalam kamarnya yang tenang, Arka sedang duduk di tepi tempat tidur saat serangan sesak itu datang kembali. Tanpa ada pemicu, tanpa ada pikiran yang mengarah pada kesedihan tertentu, dadanya mendadak terasa dihantam oleh gelombang duka yang begitu hebat.

Jantungnya berdegup kencang, dan sebelum ia sempat menyadari apa yang terjadi, air mata mulai mengalir deras membasahi pipinya. Arka tiba-tiba menangis. Ia terisak pelan, bahunya terguncang hebat seolah-olah ia baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Padahal, secara logika, hidupnya sedang baik-baik saja; ia sudah sehat, ia punya pekerjaan, dan keluarganya utuh.

Namun, hatinya seakan terhubung dengan gadis itu.

Ada sebuah ikatan tak kasat mata yang masih terjalin kuat di antara mereka. Di kamarnya yang sunyi, Arunika sedang meratapi nisan dan buku sketsa Senja, dan di saat yang bersamaan, Arka merasakan setiap tetes air mata itu di dalam jiwanya. Jika gadis itu menangis, ia akan menangis di sisi lain. Sebuah koneksi batin yang melampaui logika medis mana pun; seolah-olah mereka adalah satu nyawa yang terbagi dalam dua raga berbeda.

Arka meremas dadanya, berusaha mengatur napas yang tersengal. "Kenapa... kenapa sakit banget?" bisiknya di sela tangis.

Ia merasa seolah ada separuh jiwanya yang sedang kedinginan dan ketakutan di suatu tempat yang jauh. Ia tidak tahu bahwa rasa sakit ini adalah gema dari tangisan Arunika yang sedang merasa kehilangan "Senja". Arka tidak sadar bahwa ia sedang menangisi kematian "dirinya yang dulu" (Senja) melalui perasaan gadis yang mencintainya.

Malam itu, di dua tempat yang berbeda, mereka berdua berbagi duka yang sama tanpa saling tahu. Arka yang menangis tanpa alasan, dan Arunika yang menangis karena merasa telah kehilangan alasan untuk berharap. Semesta seolah sedang menunjukkan bahwa meski ingatan bisa dihapus, rasa sakit yang sudah terikat tidak akan pernah benar-benar bisa dipisahkan.

Arka menghapus sisa air mata di pipinya dengan kasar. Rasa sesak yang tiba-tiba ini benar-benar tidak masuk akal baginya. Ia merasa harus mencari pegangan, sebuah bukti fisik yang bisa menjelaskan siapa dirinya sebelum dunia menjadi gelap selama tiga tahun.

"Ibu, handphone-ku tiga tahun lalu apa ada?" tanya Arka saat ia keluar dari kamar dengan napas yang masih sedikit memburu. Suaranya terdengar mendesak, seolah ponsel itu adalah kotak hitam pesawat yang menyimpan kunci rahasia kehancurannya.

Ibunya yang sedang merapikan meja makan menoleh dengan tatapan sedih. Beliau menghela napas pelan, seolah berat untuk mengungkit kembali detail malam tragis itu.

"Hancur, Nak, saat kecelakaan," ucap ibunya lirih. "Ponsel itu terlempar ke aspal dan terlindas kendaraan lain. Ayahmu sempat menyimpannya, tapi layarnya pecah total dan mesinnya sudah mati. Tidak ada yang bisa diselamatkan dari sana."

Arka terdiam di ambang pintu. Harapan kecil yang baru saja menyala itu padam seketika. Jika ponsel itu hancur, maka semua jejak komunikasi, foto-foto, atau mungkin nama seseorang yang ia janjikan untuk ditemui di Braga malam itu ikut musnah. Ia tidak punya cara untuk melacak siapa "Arunika" atau siapa pun yang ia cari, karena di dunianya yang sekarang, nama itu tidak ada dalam daftar kontak fisiknya.

"Tapi kenapa, Nak? Ada yang mendesak?" tanya ibunya khawatir melihat wajah Arka yang pucat.

"Enggak, Bu. Arka cuma... ngerasa ada yang ketinggalan," jawabnya lemah.

Arka kembali ke kamar dan menyandarkan punggungnya di balik pintu yang tertutup. Ia tidak tahu bahwa hancurnya ponsel itu adalah bagian dari cara semesta menyembunyikan identitas aslinya dari Arunika, dan sebaliknya.

Namun, tepat saat ia meraba saku jaket yang ia pakai ke Braga sore tadi, jemarinya menyentuh sesuatu yang keras dan kecil. Ia menariknya keluar. Itu adalah sebuah sim card yang sudah usang dan sedikit tergores, yang entah bagaimana terselip di lipatan kecil dompet tua yang baru saja ia bongkar dari gudang tadi sore.

Arka menggenggam sim card tua itu dengan tangan yang sedikit bergetar. Ia duduk kembali di tepi tempat tidur, membiarkan keheningan kamar menyelimutinya. Namun, meski benda kecil di tangannya itu menawarkan secercah harapan, perasaan sesak di dadanya tak kunjung reda. Tangisnya mungkin sudah berhenti, tapi rasa perihnya masih tertinggal, mengendap seperti kabur yang tak mau hilang.

"Hatiku berat, seperti ada yang mengganjal," ucapnya lirih pada kegelapan kamar.

Ia meraba dadanya sendiri, mencoba menekan rasa sakit yang tidak punya luka fisik itu. Rasanya seolah-olah ada sebuah beban yang tidak terlihat sedang duduk tepat di atas jantungnya. Berat itu bukan hanya berasal dari rasa penasaran akan masa lalunya, tapi sebuah emosi yang jauh lebih dalam—sebuah rasa kehilangan yang sangat hebat, padahal ia baru saja kembali ke kehidupan.

Arka tidak mengerti bahwa rasa berat itu adalah "beban janji" yang masih menggantung. Di tempat lain, Arunika mungkin sedang memeluk buku sketsa Senja dengan isak tangis yang sama, dan frekuensi kesedihan itu menghantam Arka tepat di ulu hati.

Ia merasa seolah-olah jiwanya sedang dipanggil-panggil oleh seseorang yang sedang berteriak dalam diam. Ada sebuah kehadiran yang ia rindukan, namun memorinya menolak untuk memberikan wajah atau nama.

"Siapa sebenarnya yang aku sakiti sampai hatiku sesakit ini?" bisiknya lagi.

Arka menyadari satu hal; meskipun ponselnya hancur dan memorinya hilang, hatinya tidak bisa membohongi diri sendiri. Ia merasa "ganjalan" ini tidak akan pernah hilang sampai ia menemukan pemilik dari rasa sedih yang ia rasakan. Dengan tekad yang muncul di tengah keputusasaan, ia mulai memasukkan sim card tua itu ke ponsel barunya, berharap ada satu saja pesan atau nama yang tertinggal di sana untuk meringankan berat di hatinya.

Ibunya tertegun sejenak, jemarinya yang sedang melipat pakaian mendadak kaku. Beliau menatap Arka dengan tatapan yang sulit diartikan—ada perpaduan antara kasih sayang dan keraguan yang dalam. Beliau meletakkan lipatan baju itu ke pangkuannya, lalu menghela napas panjang sembari menepuk sisi kursi di sebelahnya, mengisyaratkan Arka untuk duduk.

"Ibu, menurut Ibu... apa dulu aku punya pacar?" tanya Arka sekali lagi, suaranya terdengar sangat rapuh, seolah jawaban itu adalah satu-satunya obat untuk rasa berat di dadanya.

Ibunya tersenyum tipis, namun matanya tidak menunjukkan binar kebahagiaan. "Sejujurnya, Nak... Ibu tidak pernah melihatmu membawa seorang gadis ke rumah. Kamu itu dulu orangnya sangat tertutup kalau soal perasaan. Kamu lebih banyak menghabiskan waktu dengan kamera dan buku catatanmu."

Beliau terdiam sebentar, lalu melanjutkan, "Tapi, Ibu ingat satu hal. Beberapa bulan sebelum kejadian itu, kamu sering sekali pulang terlambat dengan wajah yang... berbeda. Kamu kelihatan lebih banyak melamun sambil tersenyum, tapi setiap kali Ibu tanya, kamu cuma bilang lagi nunggu 'senja' yang indah di Braga."

Arka mengerutkan dahi. "Hanya itu, Bu?"

"Ibu sempat berpikir 'senja' itu adalah hobi fotografimu," lanjut Ibunya. "Tapi malam saat kamu kecelakaan, Ibu menemukan sesuatu di jaketmu yang sudah robek-robek. Ada selembar kertas kecil yang tintanya sudah luntur kena hujan. Ibu hanya bisa membaca satu kata di sana: 'Janji'."

Mendengar kata itu, jantung Arka seolah berhenti berdetak sesaat. "Janji?"

"Iya. Ibu tidak tahu itu janji dengan siapa. Tapi melihat kamu yang sekarang sampai menangis tanpa sebab dan merasa berat hati... Ibu rasa, mungkin memang ada seseorang yang hatinya tertinggal di kamu, atau jiwamu yang tertinggal di dia," ucap Ibunya lembut sambil mengelus rambut Arka.

Jawaban Ibunya tidak memberikan nama, tapi memberikan konfirmasi bahwa "ganjalan" di hatinya bukan sekadar sisa trauma. Ada sosok nyata yang pernah mengisi hari-harinya, seseorang yang ia sebut sebagai "Senja" di depan Ibunya, namun sebenarnya adalah alasan kenapa ia rela berlari di tengah badai Braga tiga tahun lalu.

Arka meremas sim card di tangannya. Sekarang ia yakin, ia tidak sedang gila. Ia hanya sedang terputus dari bagian terpenting dalam hidupnya.

Arka duduk di samping ibunya, menyandarkan punggungnya yang terasa kaku pada sandaran sofa. Ruang tamu itu terasa sunyi, hanya detak jam dinding yang seolah menghitung mundur sisa-sisa kewarasan yang Arka miliki. Bayangan wajah gadis di halte Braga tadi terus terlintas, meskipun ia tak bisa mengingat siapa gadis itu. Namun, getaran di dadanya saat duduk bersisian dengan gadis itu tidak bisa ia abaikan.

"Aku merasa seperti sedang menyakiti seseorang ketika aku pertama kali sadar, Bu," ucap Arka pelan. Suaranya pecah, seolah beban yang ia pikul selama tiga bulan sejak terbangun dari koma akhirnya mencapai titik puncaknya.

Ibunya menghentikan semua kegiatannya. Beliau menatap putranya dengan tatapan yang dalam dan penuh empati. "Maksudmu bagaimana, Nak? Kamu menyakiti siapa? Kamu kan tidak sadar selama tiga tahun."

Arka menggeleng frustrasi. "Itu dia masalahnya, Bu. Logikanya, aku tidak melakukan apa-apa. Tapi saat aku pertama kali membuka mata di rumah sakit, hal pertama yang aku rasakan bukan syukur karena masih hidup. Hal pertama yang aku rasakan adalah rasa bersalah yang luar biasa besar."

Ia menatap tangannya yang sedikit gemetar. "Rasanya seperti aku baru saja melepaskan pegangan tangan seseorang di tengah kegelapan. Rasanya seperti aku baru saja mengingkari janji yang sangat penting, dan aku bisa merasakan orang itu menangis karena perbuatanku. Sampai sekarang, tiap sore datang, rasa sakit itu muncul lagi. Aku merasa sedang membiarkan seseorang menunggu selamanya di tempat yang sangat dingin."

Ibunya menghela napas, meletakkan tangannya di atas tangan Arka, berusaha menyalurkan kekuatan. "Mungkin itu memori bawah sadarmu, Arka. Kejadian di Braga malam itu... kamu memang sedang mengejar sesuatu yang sangat penting."

"Tapi siapa, Bu? Kenapa hatiku harus sesakit ini kalau dia hanya sekadar teman?" tanya Arka dengan nada mendesak. "Tadi di Braga, aku duduk di halte. Ada seorang gadis di sebelahku. Kami tidak saling kenal, tapi saat dia bicara, hatiku rasanya mau hancur. Aku ingin minta maaf padanya, tapi aku bahkan tidak tahu apa salahku."

Obrolan itu berlanjut hingga malam semakin larut. Arka menceritakan bagaimana setiap kali ia mencoba memejamkan mata, ia melihat warna jingga yang menyakitkan—warna senja yang seolah menjadi saksi bisu kegagalannya. Ia merasa jiwanya terbelah; raganya ada di sini, di rumah ini, namun sebagian dari dirinya masih tertinggal di aspal basah Braga, masih berusaha mencari sosok yang ia kecewakan.

"Ibu tahu," bisik ibunya kemudian, "Dulu, tepat sebelum kamu kecelakaan, kamu pernah bilang kalau kamu menemukan 'rumah' dalam diri seseorang. Kamu tidak pernah menyebut namanya, kamu hanya memanggilnya 'Senjaku'. Ibu rasa, ganjalan di hatimu itu adalah dia. Dia yang belum sempat kamu pamiti ketika duniamu berhenti berputar."

Arka terdiam. Kalimat ibunya seolah menjadi palu yang menghantam dinding penghalang di otaknya. Jika ia memang punya "Senja", dan jika "Senja" itu adalah orang yang sama dengan yang ia cari, maka rasa sakit ini adalah hukuman karena ia telah "mati" dan meninggalkan orang itu tanpa penjelasan.

"Aku harus menemukannya, Bu. Bukan cuma buat aku, tapi buat dia. Aku nggak mau dia merasa ditinggalkan seolah-olah dia nggak berharga," ucap Arka penuh tekad.

Malam itu, Arka menyadari bahwa hidupnya bukan lagi tentang memulihkan fisik, melainkan tentang menyatukan kembali kepingan janji yang hancur. Ia merasa bahwa di suatu tempat di luar sana, gadis dari masa lalunya itu masih membawa luka yang ia timbulkan, dan ia tidak akan pernah bisa bernapas lega sebelum ia bisa menghapus air mata yang, tanpa sengaja, telah ia sebabkan selama tiga tahun lamanya.

1
Ira Indrayani
/Rose//Heart/
Dinaneka
Ceritanya bagus..
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍
Dinna Wullan: terimakasih dukungannya kak dina, siap meluncur
total 1 replies
Ros Ani
mampir lagi Thor karya barumu,semangat berkarya & sukses 💪
Dinna Wullan: terimakasih kak semoga suka, itunggu kritik dan sarannya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!