Nabila Zahra Kusuma gadis cantik yang hidup dengan keluarga yang sangat berantakan. Saat ibunya Siti Nurhaliza pergi meninggalkan dia dan ayahnya untuk memilih hidup dengan pria lain yang memiliki banyak harta. Sedangkan Hariyanto Kusuma ayahnya suka dengan dunia malam, minuman dan perjudian.
Nabila yang masih bersekolah kini harus berjuang untuk hidupnya sendiri, apalagi dia tidak ingin putus sekolah.
Setiap pulang sekolah, Nabila selalu menyempatkan diri kerja paruh waktu untuk mengumpulkan uang buat membiayai hidupnya.
Hidupnya sangat sulit. Terkadang dia harus menahan air mata agar tidak dianggap lemah oleh orang lain. Nabila juga sering mendapatkan perundungan dari teman sekelas yang menganggap dia rendah.
Semua itu dia hadapi dengan menjadi perempuan yang sangat kuat. Sifat lembut dalam dirinya dia sembunyikan hanya untuk mempertahankan diri.
Setiap hari Nabila harus menyaksikan ayahnya bersama perempuan lain dengan tubuh terbuka di ruang tamu rumah mereka. Pakaian mere
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mar Dani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Keadaan Mansion Mahkota kini terlihat sangat kacau. Kehadiran Luna membuat semua pelayan dan pengawal merasa meradang. Dari dulu mereka sangat membenci Luna, bahkan sampai sekarang kehadiran Luna membuat mereka seperti di neraka.
Belum lagi teriakan Luna membuat seluruh pengawal merasa kesal.
Jika harus menunggu Nyonya mereka, maka mereka butuh waktu 16 jam lebih untuk menderita.
Di satu tempat sepasang suami istri sedang asyik berpelukan. Nabila yang lengket seperti perangko dengan Reynaldo membuatnya malas untuk bangun dari tidurnya begitu pun kadal air.
"Hooooooaaaaammmmm..." Nabila yang mulai sadar dari tidurnya melihat Reynaldo yang sedang memeluknya seperti biasa selalu memandangi wajah Reynaldo dengan lembut Nabila memainkan hidung suaminya itu.
"Banguun Dal... Kadal ... Kadallllll airrrrrr.." ucap Nabila sambil memainkan hidung Reynaldo.
"Tidurlah sebentar lagi.."
"Ayo makannn aku lapaarrr.."
"Astagaaa Nabila kamu membangunkanku hanya untuk makan? Menyebalkan sekali..! " ucap Reynaldo memanyunkan bibirnya.
"Hahaha hidup Nabila hanya makan.. makannn.. dan makanan dan tidurr.." ucap Nabila sambil berdrama.
"Tidak!! Aku masih ingin tidur..!" ucap Reynaldo membenamkan wajahnya di ceruk leher Nabila.
"Eeeeehhhhheeeeeemmmmm bangunnnnnn oiii!!" teriak Nabila sambil menarik kepala Reynaldo dengan lembut agar menatapnya.
"Aku masih ingin tidurrr!!"
"Muaaahhhh!" Nabila dengan jail mengecup bibir Reynaldo singkat.
Reynaldo langsung membulatkan matanya menatap wajah khas bangun tidur istri kontraknya itu.
"Baiklah monyet kecill kamu duluan yang meminta kali ini..." seringai Reynaldo menatap wajah Nabila kemudian menarik pinggang ramping itu untuk lebih dekat dengannya.
"Heiii.. apa yang kamu lakukan pagi pagii..! Reynaldooo ini masih pagi heiii...! Monye.......mmmmpppp.." Nabila yang masih berbicara tiba-tiba terputus akibat Reynaldo sudah lebih dulu mencium bibir Nabila dengan lembut Reynaldo memainkan bibir mungil itu. Lambat laun ciuman itu semakin dalam. Bahkan Nabila sulit untuk bernapas. Reynaldo melepaskan ciuman itu kini beralir ke leher putih sang istri kontraknya.
Sedangkan Nabila kini mengalungkan tangannya ke leher Reynaldo, yah Nabila kini memilih membiarkan Reynaldo melakukan apapun.
Entah sejak kapan kini Nabila telah telanjang dada, sama halnya dengan Reynaldo. Pagi mereka kini dipenuhi suara erangan dan desahan Nabila. Sampailah di titik di mana Reynaldo melepaskan seluruh pakaian Nabila. Reynaldo sempat terdiam melihat pemandangan indah itu. Nabila sendiri tidak berani menatap wajah Reynaldo saat ini pipi Nabila memerah sambil menutup bagian penting miliknya akibat malu dengan ulah Reynaldo.
Reynaldo yang melihat ekspresi Nabila hanya tertawa melihat tingkah Nabila yang tengil kini berubah menjadi kucing lucu.
Reynaldo kini membuka seluruh pakaian mereka yah dua sejoli yang kini sama-sama memadu kasih.
Reynaldo menepis lembut tangan Nabila dari bagian dadanya. Kemudian Reynaldo memberikan sentuhan kepada si adik kembar milik Nabila. Nabila yang sudah pasrah kini hanya menikmati perlakuan Reynaldo. Terlebih lagi ketika tangan Reynaldo telah sampai ke bagian utama.
"Kamu siap? tapi ini akan sedikit sakit.." bisik Reynaldo lembut. Nabila hanya mengangguk iya sambil memejamkan matanya Nabila menahan rasa sakit itu. Setelah sampai barulah Reynaldo melakukan tugasnya dan Nabila mulai menikmati permainan Reynaldo, dan sampailah erangan dari keduanya terdengar. Tidak ada gangguan apapun dari luar untuk kali ini. Dan yah akhirnya mereka melakukan hubungan suami istri.
Sedangkan Bram kini mendapat informasi mengenai kekacauan di mansion.
"Luna kembali? Bagaimana dengan Nyonya Nabila?? Bagaimanapun aku lebih memilih Nyonya Nabila dibandingkan wanita setan itu, gak kebayang jika kulkas di mansion akan menjadi sayuran dan buah-buahan!!" ujar Bram meringis membayangkan bagaimana kehidupannya jika sampai Reynaldo membiarkan setan itu kembali.
"Bagaimanapun aku harus membuat Tuan dan Nyonya bersatu dan yah aku harus mencari perjanjian kontrak mereka! Mereka harus bersama.. Tapi bagaimana caranya...?? Ayoo Bram mikir.." ucap Bram dalam hati.
Kini monyet kecil sedang berada di pelukan kadal air. Pertempuran pertama setelah pernikahan kontrak mereka, kini mereka berbalut selimut. Nabila meneteskan air matanya, dia terisak sendu dalam pelukan Reynaldo. Reynaldo yang mendengar lirihan Nabila, menatap wajah cantik Nabila.
"Heiii ada apaaaaa??" ucap Reynaldo lembut.
"Hisskkk.."
"Hisssskkk" isakan Nabila semakin terdengar.
"Nabila kenapa?? Heii apa aku menyakitimu? Heii Nabila.." ucap Reynaldo panik sambil mengusap-usap kepala Nabila dengan lembut.
"Aaaaaaaahhhhhhhh.... Huaaaaaaaaaaa... Aku sudah tidak perawannn lagiiiii!!" teriak Nabila sambil memukul dada bidang Reynaldo.
"Kenapaaa Nabila?? Ada apaa?? Heii Sayangg..?" ucap Reynaldo sambil mengusap air mata Nabila.
Reynaldo yang menyadari itu hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun ada sedikit rasa bersalah karena telah melakukan hal itu kepada Nabila, bagaimanapun pernikahan mereka hanya sebatas kontrak.
Berawal dari pertemuan, pertengkaran dan berakhir menjadi istri kontrak.
Flashback On
"Menikahlah denganku, dan aku akan membayarmu dan masalah tentang uang kepada Daddymu tidak akan menjadi hitungan masalah ini aku hanya membutuhkanmu untuk menghindari perjodohan dengan seseorang!"
"Tidak aku tidak mauu!"
"Kamu harus mau! Aku membutuhkanmu untuk hal ini, ibu tiriku telah membunuh Mommyku dan aku harus membalas dendam padanya.. hanya enam bulan saja!"
"Enam bulan itu lama sekali! Aku masih muda dan aku masih ingin kuliah..!"
"Baiklah kamu ingin berapa lama?"
"Tiga bulan bagaimana!?"
"Baiklah tiga bulan! Kita akan menikah besok!"
"Gila yah kamu kira pernikahan sembarang!"
"Ini hanya perjanjian saja ingat Tiga bulan dan setelah itu aku akan membiayai kuliahmu, dan memberikanmu rumah dan aset..!" ucap Reynaldo.
"Okee baiklah deal!" Kini Reynaldo dan Nabila bersalaman di kamar mereka.
Flashback off
Pembicaraan beberapa minggu lalu sebelum pernikahan mereka terngiang jelas dalam bayangan Reynaldo. Nabila masih saja terisak dalam tangisnya.
"Reynaldo kamu harus bertanggung jawab bagaimana jika aku hamil!!"
"Kita akan punya anak.."
"Tapi kontraknya?"
"Lupakan saja, lagipula aku sudah nyaman denganmu.."
"Maksudmu??"
"Iya aku sadar aku sudah nyaman denganmu, dan soal kontrak nikah itu sudah tak berlaku! Kamu milikku sekarang..!"
"Ta-tapi kamu tidak mencintaiku!!"
"Aku akan mencintaimu.."
"Tapi aku?"
"Kamu juga akan mencintaiku.."
"Tapi bukankah kamu mengatakan aku bebanmu?"
"Iya kamu memang beban! Aku harus berusaha mencari uang untuk biaya makanmu yang besar.." ucap Reynaldo membelai pipi Nabila.
"Jadi bagaimana jika aku hamillll!! Aku masih terlalu mudaaa..!"
"Jika kamu hamil maka akan ada Nabila Junior dan Reynaldo Junior bukan kah itu lucu?"
"Ahhhh kamuu!! Sudahlah berbicara denganmu membuatku pusing.."
"Dengarkan aku Nabila Putri Mahkota, aku akan bertanggung jawab atas hidupmu, apapun itu aku akan menjagamu sekuat dan selama hidupku, dan perjanjian pernikahan itu lupakan saja, tidak ada tiga bulan, enam bulan atau tujuh puluh lima hari lagi, tapi yang ada selamanya.." ucap Reynaldo mencium kening Nabila.
"Aaaaaahhhh kamu sekarang pintarr merayuuu.." ucap Nabila berteriak namun dari matanya mengalir air kebahagiaan.
"Berjanjilah kamu tidak akan seperti Daddyku dan Daddymu..!" ucap Nabila kini menatap wajah tampan suaminya.
"Aku berjanji.." ucap Reynaldo mencubit pipi Nabila sambil mengecup tanpa henti bibir manis itu.
"Bagaimana satu kaliii lagi..?" ucap Reynaldo menaik turunkan alisnya menggoda Nabila.
"Plaaaakkkk!! Ini masih sakit bodoh!! Kamu ingin aku tidak bisa jalan..!"
"Tapi kamu tadi menikmatinya!"
"Ahhh tutup mulutmu kamu mesum sekali.." ucap Nabila malu.
"Hahaha cup cup tapi nanti di Mansion lagi yahh.."
"Lagi apa?"
"Bikin Nabila Junior.."
"Emmm lagi gakkk yahh??" ucap Nabila seperti sedang berpikir sambil mengalungkan tangannya ke leher Reynaldo.
"Aku ingin mandi sekarang antarkan aku.. ini masih sakit.." rengek Nabila manja.
"Baiklah Nyonya.." ucap Reynaldo kini menggendong tubuh Nabila.
Nabila menutup matanya kala melihat Reynaldo tidak memakai apapun.
"Hahahah semua ini milikmu jadi untuk apa kamu menutup mata!"
"Cihhh kamu memang mesum kadal air" ucap Nabila terkekeh sambil membenamkan wajahnya di ceruk leher Reynaldo.
Kemudian Reynaldo memasukkan Nabila ke dalam bathtub, dia mengisi bathtub itu dengan air hangat, kemudian memberikan sabun aroma Lavender, agar Nabila merasa tenang, barulah Reynaldo ikut menyusul untuk ikut berendam.
"Heii apa yang kamu lakukan" ucap Nabila kala Reynaldo ikut masuk ke dalam bathtub.
"Berendam di dalam.."
"Awas aja macam-macammm!! Tidur di luar besok.." ancam Nabila.
"Iya iyaaahh cuman peluk doang pelit banget.." ucap Reynaldo merajuk namun mampu membuat Nabila tertawa.
Hampir satu jam lebih mereka berendam, jangan tanya apakah mereka hanya berendam, tidak..
Kadal air akan selalu membuat monyet kecilnya menggerutu tidak jelas, namun tetap terkesan romantis bagi pasangan absurd ini.
Setelah selesai kini Reynaldo mencari keberadaan Bram. Ternyata Bram sedang menikmati Kue Coklat plus susu hangat.
"Asisten pribadi yang terlalu bebas kayak gini, makan sebelum tuannya!" cetus Reynaldo mengambil roti kemudian mengolesinya dengan selai coklat, kemudian menuang susu coklat dalam gelas.
"Bagaimana tidak makan duluan aku mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan dari Tuan dan Nyonya jadi aku memutuskan untuk makan duluan!"
"Kamu hampir saja menggagalkan rencanaku bangsat!"
"Maaff, itu untuk siapa Tuan?"
"Nyonya besarr! Siapa lagi yang bisa menyuruhku selain monyet kecil itu.."
"Pfffttttt!!" Bram ingin tertawa tapi dia masih waras dengan tatapan tajam bosnya.
"Kamu akan seperti ini ketika punya istri!" cetus Reynaldo pergi meninggalkan Bram.
"Tuan! Pukul 11 kita akan kembali ke Kota Perak" teriak Bram kepada Reynaldo yang kini melangkah kembali ke kamarnya.
"Seorang Reynaldo telah menemukan pawangnya! Setelah Nyonya Diana" ujar Bram sambil memakan roti Coklatnya.
Kini di kamar mereka terlihat Nabila yang sedang merias wajahnya. Reynaldo yang sudah dengan setelannya kini mengantarkan makanan untuk monyet kecilnya.
"Makanlah setelah ini kita akan kembali ke Kota Perak.."
"Tapi kita baru saja di Korea, aku belum berkeliling.." ucap Nabila dengan sedih.
"Ada hal yang harus aku selesaikan di Kota Perak, aku janji akan membawamu kembali ke sini dan kita akan berkeliling.."
"Hemmm baiklah, tapi sebelum pergi aku ingin membeli beberapa camilan boleh??" ucap Nabila memohon.
"Bolehh.. lakukan jika itu membuatmu bahagia" ucap Reynaldo mengusap kepala Nabila.
Di kediaman Mahkota kini Luna naik ke ruang khusus daerah Reynaldo, lantai tiga rumah itu khusus untuk Reynaldo dan Nabila.
Dan bagian membersihkan tempat itu pun khusus karena daerah itu memang sangat privasi bagi Reynaldo. Yang berani memindahkan dan menambahkan barang-barang di lantai tiga itu.
Bahkan saat pertama kali Nabila menginap, gadis itu sudah diberikan tempat di lantai tiga.
Kali ini Luna mengelilingi bagian atas itu, walaupun sudah dicegat, Luna tetap memaksa untuk naik ke lantai tiga itu.
Luna melihat Kamar Khusus Nabila, ruangan yang dilengkapi barang-barang branded milik Nabila yang Reynaldo sediakan untuk Nabila.
"Ini lebih dari surga sih.. bagaimana bisa barang-barang branded ini ada di ruangan ini.. dan ini tas Hermes terbaru dan hanya ada tiga di dunia." ujar Luna berbinar masuk ke ruangan khusus itu.
Saat keluar Luna membawa beberapa tas, dari ruangan itu.
"Nyonya apa yang kamu lakukan itu tas kesayangan Nyonya Nabila.." ucap pelayan khusus Nabila.
"Apahh?? Nyonya Nabila? Tunggu maksudmu?"
"Iya itu semua milik istri Tuan Reynaldo, dan Anda tidak bisa mengambil apapun dari ruangan itu!"
"Sejak kapan Reynaldo memiliki istri? Reynaldo hanya milikku!"
"Sadar diri saja, lagipula kamu akan ditendang oleh Nyonya Nabila dari sini!"
"Beraninya kamu berbicara seperti itu! Siapa kamu? Kamu hanya pelayan di tempat ini!!"
"Setidaknya jikapun saya pelayan, Nyonya Nabila jauh lebih menghargai kami!! Dan tidak berlagak seperti Anda, sekarang keluarlah dari lantai tiga ini! Kamu bisa masuk karena Tuan Matthew"
"Sini kamu akan ku habisi kamu!"
"Kamu pikir saya takut! Pergi tidak dan kemarikan ini bukan milikmu, kamu tak pantas memakai ini!" Aksi itu dilihat oleh beberapa pengawal bahkan pelayan itu sampai ditarik menjauh dari Luna agar tidak mengacaukan ruangan atas itu.
Luna pergi meninggalkan lantai tiga itu, dan kembali ke kamarnya.
Waktu pun berlalu kini mereka akan segera mendarat di Bandara Internasional JFK. Terlihat kini Reynaldo sedang menggendong bayi besarnya si monyet kecil.
Untuk berpindah ke mobilnya.
Nabila dibaringkan di dalam mobil, dengan kepala Nabila diletakkan di pahanya, memainkan rambut Nabila dan sesekali membelai pipi Nabila. Entahlah perasaan Reynaldo saat ini sedang berbunga-bunga terlebih lagi Nabila setuju untuk membatalkan status pernikahan mereka.
"Tuan, lokasi kita sedang diserang!" ucap Bram sambil melihat tab-nya.
"Shittt!!! Cepat bawa mobilnya, kita antar Nabila dulu baru kita ke sana..!!"
"Baikk Tuan" ucap sopir itu membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi ke Mansion milik Reynaldo.
Kini mereka telah sampai di kediaman Mansion Mahkota. Reynaldo dengan cepat menggendong tubuh Nabila, kemudian membawa wanita itu di kamar mereka. Kemudian Reynaldo meletakkan istri cantiknya itu. Tidak lupa Reynaldo mencium kening dan bibir wanitanya.
Setelah mengganti pakaiannya, Reynaldo langsung pergi meninggalkan istrinya. Jelas tidak ada komunikasi apapun antara bos dan pengawal karena memang kini wajah Reynaldo terlihat sangat marah, karena daerah kekuasaannya terusik, terlebih lagi saat kejadian Nabila, dia belum sempat melakukan sesuatu kepada para kolega yang ikut dalam penculikan Nabila kemarin.
Dari dulu Reynaldo selalu menghabiskan waktunya dengan bekerja, bedanya kali ini Reynaldo sudah memiliki rumah singgahnya.