Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pengakuan di Bawah Hujan Makam
Tiga hari aku menghilang di Yogyakarta, dan selama itu pula aku merasa tak lebih dari seonggok mayat yang berjalan. Namun, ada satu tempat yang akhirnya menarik langkah kakiku yang lemas, makam Ibu. Di sinilah satu-satunya tempat aku bisa mengadu tanpa takut dihakimi. Sebuah tempat sunyi di mana aku bisa menumpahkan segala kotoran yang menyumbat dadaku.
Langit Yogyakarta sore itu mendung pekat, seolah-olah ikut memikul duka yang kubawa jauh-jauh dari Jakarta. Aku bersimpuh di samping nisan Ibu yang dingin. Tanah makam itu masih lembap, menyisakan bau khas setelah hujan tadi siang. Aku mengusap permukaan batu nisan itu dengan jemari yang masih gemetar.
Bu, Kiki gagal, bisikku parau. Air mata yang kukira sudah kering kerontang, kembali merembes keluar. Kiki pikir dia adalah rumah yang aman. Ternyata, dia cuma panggung sandiwara yang lain. Harusnya Kiki tahu dari awal, kebahagiaan itu bukan diciptakan untuk orang seperti Kiki.
Aku terisak, membiarkan dahiku bersandar pada nisan yang membeku itu. Di tengah isak tangis yang menyesakkan, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat. Suara sepatu yang menginjak dedaunan kering dan tanah yang becek. Aku tidak menoleh, kupikir itu mungkin hanya penjaga makam yang sedang lewat. Namun, sebuah aroma parfum maskulin yang sangat kukenal, aroma yang sempat menjadi candu bagiku, tiba-tiba menyeruak di antara bau tanah basah.
Kiki.
Suara itu. Suara yang seketika membuat bulu kudukku berdiri sekaligus membuat hatiku terasa perih luar biasa. Aku segera berdiri dan berbalik dengan cepat. Di sana, Fikar berdiri dengan kemeja putih yang sudah kusut masai, rambutnya berantakan, dan matanya merah. Ia tampak seperti pria yang sudah tidak menyentuh tempat tidur selama berhari-hari.
Jangan mendekat, teriakku spontan. Aku mundur selangkah, hampir saja tersandung gundukan tanah di belakangku. Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?
Aku tahu kamu tidak punya siapa-siapa lagi selain Ibu, Ki. Tolong, dengarkan aku sekali saja, suaranya parau, hampir hilang ditelan deru angin sore.
Dengarkan apa lagi, Mas? Dengarkan tentang bagaimana kamu membelikan kenyamanan untuk Clara dengan uangmu? Atau dengarkan tentang foto kalian di rumah sakit yang dikirim wanita itu padaku? Aku tertawa hambar, sebuah tawa yang penuh dengan rasa jijik pada diri sendiri. Kamu memberikan cincin di satu tangan, tapi tanganmu yang lain memeluk wanita yang mengandung anakmu. Kamu luar biasa, Mas. Benar-benar luar biasa.
Tepat saat itu, guntur menggelegar di atas kepala dan hujan deras langsung tumpah membasahi kami tanpa ampun. Fikar tidak bergeming. Ia membiarkan tubuhnya basah kuyup, menatapku dengan sorot mata yang sangat menyakitkan.
Foto itu, itu bukan seperti yang kamu lihat, Ki! teriaknya berusaha menembus suara hujan. Ia melangkah maju dengan nekat, lalu meraih bahuku dengan kuat agar aku tidak lari lagi. Clara mengancamku! Dia punya video malam itu, video saat aku dijebak oleh musuh bisnisku dan dia adalah alatnya. Kalau video itu sampai tersebar, bukan hanya namaku yang hancur, tapi perusahaan yang menghidupi ribuan orang akan kolaps seketika. Aku memberinya uang agar dia menghapus video itu, bukan karena aku peduli padanya!
Lalu anak itu? teriakku balik di bawah guyuran hujan yang semakin menderu. Apa video itu juga yang membuat rahimnya terisi? Kamu mengaku mabuk, tapi hasilnya nyata, Mas! Hasilnya hidup dan bernapas!
Fikar terdiam sejenak, bahunya merosot lesu. Air hujan mengalir dari wajahnya seperti air mata yang tidak kunjung henti. Aku tidak tahu itu anak siapa, Ki. Dia mengklaim itu anakku karena dia memang ingin menghancurkan kita. Aku ke rumah sakit hanya untuk memaksanya melakukan tes DNA secara diam-diam, tapi dia justru menjebakku dengan foto itu. Aku bersumpah demi Tuhan dan demi makam Ibumu, aku tidak pernah menginginkan siapa pun selain kamu.
Aku menyentak tangannya, melepaskan cengkeramannya dari bahuku. Tapi kamu merahasiakannya dariku. Kamu membiarkan aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia, sementara kamu sendiri sedang menyimpan bom waktu ini. Kamu tidak pernah menganggapku sebagai istri, Mas. Kamu hanya menganggapku sebagai beban yang tidak sanggup mendengar kebenaran.
Aku takut kehilanganmu! Fikar berteriak frustrasi. Ia jatuh berlutut di tanah makam yang becek, tepat di depanku. Aku pengecut, Ki! Aku takut kalau aku jujur, kamu akan pergi sebelum aku sempat membuktikan bahwa aku bisa menyelesaikannya. Aku baru saja menemukan cintaku, aku tidak siap kehilanganmu secepat itu.
Aku menatap suamiku yang kini bersimpuh di tanah, bersimbah lumpur dan air mata. Pemandangan ini seharusnya membuatku iba, tapi hatiku sudah terlalu beku oleh pengkhianatan yang berulang. Kejujuran yang datang terlambat bukanlah kejujuran, melainkan sekadar pembelaan diri agar tidak ditinggalkan.
Kamu sudah kehilangan aku, Mas, kataku dingin, meski hatiku sendiri menjerit kesakitan sampai ke dasar. Saat kamu memutuskan untuk merahasiakan Clara, saat itulah kamu sendiri yang membunuh pernikahan kita. Pergilah. Urus wanita itu, urus anak itu. Jangan pernah cari aku lagi.
Aku berbalik tanpa menoleh lagi, meninggalkan Fikar yang masih meraung memanggil namaku di bawah hujan deras pemakaman itu. Setiap langkah yang menjauh darinya terasa seperti pisau yang mengiris jantungku perlahan, namun aku terus melangkah. Aku tidak ingin lagi menjadi bagian dari sandiwara berdarah ini. Di belakangku, suara tangis Fikar perlahan tenggelam oleh suara guntur yang menyambar, menandai akhir dari sebuah pengakuan yang sia-sia di atas pusara yang tetap bisu.
aku kok bingung bacanya...
ntar giliran kewajiban nuntut, tp hak sbagai suami ga d jalankan.
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Sedih
Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.