"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga puluh Satu
Rey memandangi langit-langit kamarnya yang berwarna abu-abu gelap. Suasana hening itu justru membuat pikirannya gaduh. Bayangan wajah Meira dari jarak dekat tadi terus berputar seperti piringan hitam yang rusak di kepalanya. Harum rambut gadis itu seolah masih tertinggal di indra penciumannya, serta cara Meira dengan berani merebut pensilnya benar-benar di luar dugaannya.
"Meira..." bisiknya pelan. Nama itu kini terasa berbeda di lidahnya. Bukan lagi sebagai jiplakan dari Lyra, tapi sebagai seseorang yang nyata.
CEKLEK!
Pintu kamar terbuka dengan kasar tanpa ketukan. Rey tersentak dan langsung mengubah posisinya menjadi duduk. Hera berdiri di sana dengan wajah yang memerah padam karena amarah. Di tangannya, sebuah ponsel tergenggam erat.
"Apa yang kamu lakukan, Rey?!" bentaknya tanpa basa-basi.
Rey mengerutkan kening. "Maksud Mama apa?"
"Jangan pura-pura bodoh! Mama dapat kabar kalau kamu yang kasih rekaman itu ke Kepala Sekolah dan sengaja kasih ke multimedia buat sebar di grup sekolah. Kenapa kamu malah kasih rekaman itu?!" Hera melangkah maju, suaranya melengking tajam di ruangan yang luas itu. "Mama udah susah payah cari celah dari Meira dan bikin nilai dia kosong supaya kamu bisa jadi nomor satu lagi seenggaknya sampai semester depan."
Rey menghela napas panjang, ia berdiri mensejajarkan posisinya dengan sang mama. Tatapannya datar namun tersirat ketegasan. "Karena itu curang, Ma. Rey nggak butuh bantuan kayak gitu atau apa pun buat ngalahin dia."
"Curang?" Hera tertawa sinis. "Di dunia ini nggak ada yang namanya curang kalau itu menyangkut kesuksesan, Rey! Meira itu ancaman. Kamu tau sendiri semenjak kepindahan dia, posisi kamu di puncak nyaris tergeser!"
"Rey mau menang karena Rey emang lebih baik dari dia, bukan karena Rey memanfaatkan masalah itu buat bikin dia jatuh, Ma." balas Rey dengan nada suara yang mulai meninggi. "Mama nggak capek apa, selalu atur strategi cuma buat Rey jadi nomor satu di dunia? Rey juga manusia, Ma. Bukan robot yang bisa di operasikan sesuka hati Mama."
BRAK!
Hera memukul meja belajar Rey dengan keras. "Jaga bicara kamu! Mama lakukan ini semua demi masa depan kamu. Dengar ya, Rey, jangan karena wajahnya mirip dengan masa lalu kamu itu, kamu jadi lembek seperti ini. Kamu harus terus cari celahnya. Cari apa pun yang bisa bikin dia kehilangan fokus atau minimal gak lebih baik dari kamu!"
Rey terdiam, namun rahangnya mengeras. Ibunya benar-benar tidak akan pernah mengerti.
"Mama peringatkan sekali lagi." Hera menunjuk tepat di depan wajah Rey. "Kalau hasil semester ini kamu kalah dari Meira, Mama sendiri yang akan turun tangan langsung. Dan kamu tahu apa yang bisa Mama lakukan!"
Setelah mengucapkan ancaman itu, Hera berbalik dan keluar dari kamar, membanting pintu dengan sangat keras.
Rey kembali menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menutup matanya dengan lengan. Ancaman ibunya terasa nyata, namun di sisi lain, dadanya terasa sesak oleh kebingungan yang luar biasa. Ia harus menjatuhkan Meira demi ambisi Mamanya, tapi setiap kali ia melihat gadis itu, keinginan untuk melindungi justru lebih besar daripada keinginan untuk menyakiti.
Rey terjebak di persimpangan yang menyesakkan, menuruti ego sang ibu atau mengikuti getaran asing yang mulai tumbuh di hatinya untuk Meira.
...\~\~\~...
Keesokan harinya, suasana di perpustakaan pusat kota terasa begitu tenang. Aroma buku tua dan udara dari pendingin ruangan menyelimuti Meira, Rey, dan Ilham yang sedang menyisir rak demi rak untuk mencari referensi tugas proyek kelompok mereka.
Namun, ketenangan itu tidak berlaku bagi Ilham. Cowok itu seolah punya cadangan energi yang tidak terbatas. Alih-alih fokus pada buku-buku tebal, Ilham berkali-kali melontarkan banyolan receh untuk memancing tawa Meira.
"Mei, lo tahu nggak kenapa bapak-bapak di buku ini kelihatan sedih?" tanya Ilham sambil mengangkat buku setebal kamus dengan cover memperlihatkan seorang pria tua yang tampak menunduk, wajahnya terlihat sedih dengan guratan-guratan keriput yang terlihat jelas.
Meira menoleh, mencoba menahan senyum. "Emang kenapa, Ham?"
"Karena dia lagi dalam masalah. Lihat, halamannya aja sampe mencapai 500 lebih. Siapa coba yang mau baca. Makanya dia kelihatan pusing disini, gak ada yang mau baca bukunya." jelasnya sambil bergidik ngeri. Ilham meletakkan kembali buku itu pada tempat semula.
Meira akhirnya tertawa meski tertahan karena dirinya sedang berada di perpustakaan. Namun, tawanya terdengar tulus, hingga membuat suasana di antara rak-rak tinggi itu terasa lebih hangat. Sementara itu, di sudut lain, Rey berdiri mematung sambil memegang sebuah ensiklopedia. Matanya menatap tajam ke arah interaksi mereka, namun telinganya terasa panas. Ada rasa sesak yang asing, merayap di dadanya setiap kali melihat Meira tertawa karena ulah Ilham.
"Bukunya nggak bakal ketemu kalau kalian berdua cuma main-main." sindir Rey ketus, meski sebenarnya ia hanya ingin menghentikan tawa Meira yang tidak ditujukan untuknya.
"Mei, kamu percaya gak, kalau Rey yang sedingin es itu suka sama komik ginian?" Ilham menunjukkan salah satu komik serial 'Si Juki' yang berada pada rak paling ujung sebelah kiri. Rak itu berisi kumpulan komik-komik animasi. Mulai dari sejarah yang dibalut dalam komik sampai pada komik Detektif Conan juga tersedia disana.
Meira membelalakkan matanya, menatap selang-seling antara komik di tangan Ilham dan wajah Rey yang kini sudah berubah warna menjadi kemerahan.
"Serius, Ham? Sosok Rey yang kalau ngomong irit banget kayak paket data sekarat itu baca komik ginian?"
"Sumpah, Mei. Dulu waktu SMP, gue pernah nemuin banyak komik Si Juki di rak kamarnya. Pas gue tanya, alasannya katanya buat analisis struktur visual. Padahal mah palingan dia ketawa-ketawa sendiri di kamar pas nggak ada orang." kompor Ilham dengan semangat, mengabaikan tatapan mematikan dari Rey.
Meira seketika ingat bahwa Ilham dan Rey pernah menjalin pertemanan yang sudah mencapai level sahabat, dari cerita yang ia dengar dari Abil. Ia percaya dengan Ilham karena pasti cowok itu sudah pernah main ke rumah Rey atau sekedar tahu kebiasaan dari cowok itu. Meira tertawa geli membayangkan Rey yang kaku itu sedang terkikik sendirian di kamar sambil memegang komik jenaka.
"Alasannya gak nyambung banget buat komik kayak gini, Rey." goda Meira, membuat Rey semakin salah tingkah dan membuang muka.
"Simpen nggak, Ham. Bukan waktunya buat bercanda." suara Rey merendah, terdengar sangat mengancam. Ia melangkah mendekat, berusaha merebut komik tersebut, namun Ilham dengan gesit menghindar sambil terus tertawa.
"Tuh kan, Mei. Dia panik. Berarti bener!" Ilham tertawa puas, membuat Meira kembali terkekeh. Gadis itu merasa kalau sisi lain Rey yang selama ini tertutup tembok raksasa mulai terlihat satu per satu.
"Aku jadi penasaran pengen ke rumahmu, terus liat koleksi komik kamu deh." ucap Meira lagi masih dengan kekehannya.
Rey tertegun. Gerakannya yang hendak merebut komik dari tangan Ilham mendadak terhenti. Kalimat sederhana dari Meira itu seperti sengatan listrik yang melumpuhkan sarafnya. Ke rumahnya? Melihat koleksinya? Membayangkan Meira berada di dalam ruang pribadinya, tempat di mana ia sering mengasingkan diri dari tuntutan ibunya, membuat jantung Rey berdegup dengan ritme yang berantakan.
"Nggak ada yang perlu dilihat." jawab Rey cepat, berusaha mengembalikan raut wajah datarnya meski telinganya masih memerah. "Ayo cepet cari buku sisanya. Kita nggak punya waktu banyak."
Ilham menyikut lengan Rey sambil mengerling jahil ke arah Meira. "Duh, kode keras tuh, Rey. Dalam hati lo pasti seneng kan Meira penasaran sama koleksi struktur visual lo itu?"
Meira hanya tersenyum tipis melihat tingkah kedua cowok itu. Ia dapat merasakan kedekatan Ilham dan Rey yang sempat renggang itu perlahan-lahan mulai mencair. Beginikah rasanya Lyra saat melihat kehangatan dari mereka pada saat itu? Sangat disayangkan jika persahabatan seindah ini harus hancur hanya karena ego remaja yang belum matang.
Setelah tumpukan buku referensi berhasil dikumpulkan, Ilham dengan semangat mengajak Meira dan Rey untuk mampir ke sebuah Kafe Gelato di dekat sana.
"Nah, ini tempatnya. Pokoknya kamu harus coba, Mei. Gelato di sini paling enak se-Lampung!" seru Ilham penuh keyakinan.
"Iya, iya. Emang seenak apa, sih? Sampe bisa bikin kamu excited banget gitu." timpal Meira sambil terkekeh.
"Buktinya, si kulkas berjalan ini aja nggak bisa nolak kalau diajak ke sini." sahut Ilham seraya melirik Rey yang sudah berjalan lebih dulu memasuki kafe dengan gaya sok acuh.
Interior kafe itu terasa hangat dengan lampu-lampu gantung berwarna kekuningan dan aroma manis wafel yang baru matang. Meira memesan rasa sea salt dan dark chocolate, sementara Ilham memesan rasa stroberi yang meluap-luap. Rey? Ia hanya memesan satu scoop vanila kecil yang tampak membosankan di mata Ilham.
Namun, baru saja sendok gelato mereka menyentuh lidah, ponsel Ilham bergetar di atas meja. Ilham meraihnya dengan santai, namun wajahnya mendadak berubah pucat pasi setelah membaca pesan singkat yang masuk. Tangannya yang memegang sendok tampak sedikit gemetar, dan binar jenaka di matanya padam seketika.
"Mei, Rey... Sorry banget, gue harus cabut duluan. Ada urusan mendadak yang nggak bisa ditinggal." pamit Ilham terburu-buru. Ia menyambar tasnya, bahkan tidak berani menatap mata Meira terlalu lama. Ia pergi begitu saja, meninggalkan gelatonya yang mulai meleleh di dalam cup.
"Dia kenapa selalu begitu, sih?" gumam Meira pelan, entah bertanya pada Rey atau pada dirinya sendiri.
Rey tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap pintu kafe yang masih berayun pelan setelah dilewati Ilham dengan terburu-buru. Tatapan matanya yang biasanya tajam kini meredup, menyimpan kecurigaan yang sama besarnya dengan apa yang dirasakan Meira.
"Dia emang kayak gitu dari dulu. Si paling banyak nyimpen rahasia." sahut Rey akhirnya, suaranya terdengar lebih berat dari biasanya.
Meira baru saja hendak menyendok sisa gelatonya ketika ponselnya yang tergeletak di meja berdenting. Sebuah notifikasi dari nomor tak dikenal masuk, membuat Meira refleks meraih benda tipis itu. Begitu layar terbuka, jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat.
No Name :
Jangan lengah, Meira. Salah satu dari teman-temanmu berusaha menyembunyikan sesuatu soal Mamamu.
Tangan Meira membeku. Kalimat itu terasa seperti siraman air es yang mematikan kehangatan suasana kafe. Pandangannya perlahan terangkat, menatap Rey yang sedang menyuapkan gelato vanilanya dengan tenang. Lalu ingatannya melayang pada Abil yang penuh penyesalan, dan Ilham yang baru saja pergi dengan wajah sepucat mayat.
Salah satu dari teman-temanmu?
Siapa?
Apakah Rey? Apa Abil? Atau Ilham, yang sering terang-terangan seperti menyembunyikan sesuatu?
Meira menarik napas panjang, berusaha menenangkan gemuruh di dadanya, namun suara guntur yang tiba-tiba menggelegar dahsyat di luar sana justru membuat pertahanannya goyah. Dalam sekejap, langit yang tadinya hanya mendung berubah gelap total. Hujan turun dengan intensitas yang luar biasa, seolah-olah langit sedang menumpahkan seluruh kemarahannya.
"Astaga. Hujannya deras banget." gumam Meira pelan, suaranya sedikit bergetar.
"Kita kejebak." sahut Rey pendek. Ia menatap ke luar jendela besar kafe yang kini tertutup tirai air tebal. Jalanan Lampung yang biasanya ramai mendadak sunyi, hanya menyisakan suara hantaman air pada aspal.
Udara dingin dari AC kafe yang bercampur dengan suhu hujan mulai menusuk kulit Meira. Gadis itu sedikit menggigil, refleks merapatkan kedua lengannya. Melihat itu, Rey bergerak tanpa suara. Ia melepas jaket yang dipakainya dan menyampirkannya ke bahu Meira dengan gerakan yang kaku namun pasti.
"Pake. Gue nggak mau lo sakit dan proyek kelompok kita jadi berantakan karena lo absen." dalih Rey dengan nada datar, mencoba menutupi perhatian tulusnya di balik alasan logis yang dingin.
Meira tertegun. Ia merasakan kehangatan menjalar dari kain jaket itu, membawa aroma parfum Rey yang khas maskulin namun menenangkan.
"Makasih, Rey."
Rey tidak berpaling, ia tetap menatap ke depan, namun tangannya mengepal di bawah meja. Ia teringat ancaman Mamanya semalam. Ia teringat bagaimana Mamanya begitu berambisi menyingkirkan Meira. Dan sekarang, ia duduk di sini, melindungi gadis yang seharusnya ia jatuhkan.
Di bawah tirai hujan yang membungkus kafe itu, mereka berdua terjebak dalam pikiran masing-masing. Rey dengan kedilemaan perasaannya, dan Meira dengan labirin rahasia yang semakin menyesakkan.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰