Cerita mengikuti Chen Wei, seorang pemuda dari keluarga Cina yang menjadi penerus kekuatan Mata Naga Biru – salah satu dari tiga artefak kuno yang mampu membangkitkan atau mengalahkan Kaisar Naga, makhluk yang pernah hampir menghancurkan dunia. Setelah kampung halamannya dihancurkan oleh Sekte Darah Naga yang mencari ketiga mata naga untuk menguasai dunia, Chen Wei memulai perjalanan panjang untuk melindungi artefak tersisa, belajar mengendalikan kekuatan naga dalam dirinya, dan mengumpulkan sekelompok sahabat yang setia.
Melalui ujian yang penuh bahaya, pertempuran dengan musuh yang kuat, dan pengungkapan rahasia sejarah keluarga serta hubungan dengan musuhnya, Chen Wei harus memilih antara menggunakan kekuatan untuk membalas dendam atau untuk melindungi keseimbangan alam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29: Lautan Api dan Air Mata Harapan
Empat bulan telah berlalu sejak kelompok-kelompok penyelidik berangkat ke seluruh dunia. Setiap hari membawa kabar baru – terkadang kabar kemenangan yang membuat hati mereka penuh kegembiraan, terkadang kabar kehilangan yang membuat mereka menangis dalam diam. Dunia mulai berubah – komunitas yang dulunya terpisah kini bekerja bersama, desa-desa yang tadinya miskin dan terlupakan kini tumbuh subur dengan bantuan ilmu pengetahuan dan kekuatan alam yang digunakan dengan bijak.
Namun pada hari yang mendung di bulan keenam, sebuah pesan darurat datang dari Gurun Pasir Merah – lokasi di mana Mata Naga Merah disimpan dan dirawat oleh Zhang Tian dan Hong Yu. Kegelapan telah muncul dengan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya, membentuk lautan api hitam yang mengancam untuk menghancurkan seluruh gurun dan menyebar ke daerah sekitarnya.
Chen Wei segera mengumpulkan kelompok intinya – Mei Hua, Lin Xue, Tian Chen, Liu Qing, dan Wu Chen – serta pasukan terbaik akademi. Mereka berangkat dalam perjalanan cepat menuju Gurun Pasir Merah, dengan hati yang penuh kekhawatiran dan tekad yang bulat. Perjalanan melalui gurun yang luas dan tandus membawa mereka melalui medan yang berbahaya, di mana angin topan pasir dan makhluk-makhluk gurun yang terkontaminasi oleh kegelapan menyerang mereka tanpa henti.
Ketika mereka akhirnya mencapai kuil yang menyimpan Mata Naga Merah, mereka menemukan pemandangan yang membuat napas mereka terhenti. Kuil yang dulu indah kini dikelilingi oleh lautan api hitam yang berkobar-kobar, dengan bentuk-bentuk makhluk mengerikan yang muncul dan menghilang di dalamnya. Di atas kubah kuil yang mulai runtuh, Zhang Tian dan Hong Yu berdiri bersama dengan beberapa penjaga terakhir, menggunakan kekuatan Mata Naga Merah untuk membentuk tembok api merah yang melindungi artefak suci itu.
"Kita sudah bertahan selama tiga hari!" teriak Zhang Tian ketika mereka mendekat. "Tetapi kegelapan itu semakin kuat setiap saat! Ia mengkonsumsi energi dari segala sesuatu yang hidup di gurun ini!"
Chen Wei melihat ke arah lautan api hitam itu, dan dia bisa merasakan bahwa ini bukan hanya kegelapan biasa – ini adalah bagian dari Gelombang Kegelapan yang Xiang Yu pernah ceritakan, yang telah menemukan jalannya ke dunia mereka. Dan di tengah lautan itu, dia bisa melihat sosok yang besar dan mengerikan yang mulai terbentuk – sosok yang menyerupai Kaisar Iblis yang mereka pernah kalahkan, namun jauh lebih kuat dan mengerikan.
"Itu adalah manifestasi dari semua ketakutan dan kesedihan dunia ini," kata Tian Chen dengan suara rendah. "Ia mengambil bentuk dari kekuatan yang paling ditakuti oleh manusia, menggunakan ketakutan kita sendiri melawan kita."
Tanpa berlama-lama, pertempuran epik segera pecah. Chen Wei dan kelompoknya melompat ke arah lautan api hitam, masing-masing menggunakan kekuatan terbaik mereka. Lin Xue melepaskan badai petir yang menerangi langit mendung, sementara Mei Hua memanggil hujan es yang membekukan bagian-bagian dari lautan api itu. Wu Chen bergerak seperti kilat, stafnya menyapu melalui udara dan menghancurkan makhluk-makhluk yang muncul dari kegelapan.
Liu Qing dan Hong Yu bekerja bersama di dekat kuil, menyembuhkan yang terluka dan menggunakan ramuan khusus untuk memperkuat tembok perlindungan. Zhang Tian berdiri di sisi mereka, menyalurkan seluruh kekuatan Mata Naga Merah untuk membentuk pagar api yang semakin kuat.
Namun makhluk yang muncul dari kegelapan itu tidak akan mudah dikalahkan. Ia menyerang dengan kekuatan yang luar biasa, setiap serangannya mampu menghancurkan tembok batu dan membakar segala sesuatu yang ada di jalannya. Chen Wei tahu bahwa mereka tidak bisa bertahan lama jika terus bertempur dengan cara ini – mereka perlu menemukan cara untuk mencapai inti kegelapan itu dan menghadapinya dengan cara yang berbeda.
"Aku akan masuk ke dalamnya!" teriak Chen Wei kepada teman-temannya. "Kalian harus menjaga aku tetap hidup dari luar dan memberikan kekuatanmu padaku! Jika aku bisa mencapai intinya, aku bisa menunjukkan padanya bahwa kita tidak takut padanya – bahwa kita menerima kegelapan sebagai bagian dari diri kita yang lengkap!"
Teman-temannya menolak pada awalnya, tetapi mereka tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara. "Kita akan selalu ada untukmu, Chen Wei!" teriak Mei Hua dengan suara penuh dengan cinta dan kekhawatiran. "Jangan pernah lupa itu!"
Chen Wei mengambil batu ungu yang diberikan Xiang Yu dan mengikatkannya pada Hati Naga. Dia mengambil napas dalam-dalam, kemudian melompat ke dalam lautan api hitam itu. Api tidak membakarnya seperti yang diharapkan – sebaliknya, ia merasakan rasa sakit dan kesedihan yang luar biasa yang berasal dari inti kegelapan itu. Setiap inci yang dia lalui membawa rasa sakit yang menusuk ke dalam hatinya, membawa kenangan dari semua penderitaan yang pernah dia alami dan yang pernah dialami dunia ini.
Di dalam inti kegelapan, dia menemukan sosok seorang anak kecil yang menangis di tengah kegelapan yang pekat. Anak itu mengenakan gaun putih yang kotor, matanya penuh dengan rasa takut yang mendalam.
"Semua orang selalu meninggalkanku," bisik anak itu dengan suara yang meratap. "Semua orang selalu memilih kebaikan daripada aku. Tapi aku juga penting – tanpa aku, tidak ada yang bisa memahami rasa sakit dan kesedihan!"
Chen Wei jongkok di depan anak itu, matanya penuh dengan belas kasihan. "Kau benar," katanya dengan lembut. "Kegelapan memang penting. Tanpamu, kita tidak akan pernah bisa menghargai cahaya. Tanpamu, kita tidak akan pernah bisa tumbuh atau belajar dari kesalahan kita. Kau adalah bagian yang berharga dari kita yang lengkap."
Dia menjangkau tangannya dengan lembut, dan saat tangannya menyentuh anak itu, energi dari Hati Naga dan batu ungu menyebar ke seluruh inti kegelapan. Cahaya pelangi muncul dari kegelapan yang pekat, bukan dengan menghancurkannya tetapi dengan menyatu dengannya. Anak itu berhenti menangis, kemudian tersenyum dengan lembut.
"Terima kasih," ujar anak itu dengan suara yang tenang. "Aku sudah sendirian selama sangat lama..."
Dengan itu, inti kegelapan mulai berubah. Lautan api hitam di luar berubah menjadi lautan energi yang hangat dan menyembuhkan, menyebar ke seluruh gurun dan menghidupkan kembali tanah yang tandus. Bunga-bunga mulai tumbuh dari pasir yang panas, dan sungai-sungai kecil mulai mengalir kembali ke daerah yang telah kering selama berabad-abad.
Chen Wei muncul dari dalam energi itu dengan tubuh yang lemah tapi wajahnya penuh dengan kedamaian. Teman-temannya berlari menjemputnya, mata mereka penuh dengan air mata kegembiraan. Mereka tahu bahwa mereka telah memenangkan pertempuran penting ini, tetapi perjuangan mereka belum selesai.
"Satu lokasi telah diselamatkan," kata Chen Wei dengan suara yang lembut tapi penuh tekad. "Tetapi masih banyak lagi yang perlu kita lakukan. Kita harus terus berjuang sampai semua dunia ini aman.
Mereka berdiri bersama di tepi gurun yang baru saja dihidupkan kembali, melihat matahari yang mulai terbit di ufuk, menerangi dunia dengan cahaya baru yang penuh harapan.tetapi mereka juga tahu bahwa dengan cinta dan persahabatan yang mereka miliki, tidak ada yang tidak mungkin mereka capai.