Lima tahun lalu, Olivia Elenora Aurevyn melakukan kesalahan fatal salah kamar dan mengandung anak dari pria asing. Ketakutan, ia kabur dan membesarkan Leon sendirian di luar negeri. Saat kembali ke Monako demi kesehatan psikologis Leon, takdir mempertemukannya dengan Liam Valerius, sang penguasa militer swasta. Ternyata, pria "salah kamar" itu adalah Liam. Kini, Liam tidak hanya menginginkan putranya, tetapi terobsesi memiliki Olive sepenuhnya melalui rencana pengejaran yang intens dan provokatif.
Dialog Intens Liam kepada Olive
"Setiap inci tubuhmu adalah milikku, jangan pernah berpikir untuk lari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pita Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 DARAH YANG TAK PERNAH BERBOHONG
Senin, 30 Maret 2025, Musim Semi
Gemerlap lampu kristal di ballroom salah satu hotel paling mewah di London memantul pada kain-kain sutra dan bordiran mahal yang memenuhi panggung utama. Peragaan busana koleksi terbaru "Butterfly-E" baru saja berakhir dengan tepuk tangan meriah yang seolah tak kunjung usai. Di belakang panggung, kesibukan masih terasa luar biasa. Olivia Elenora Aurevyn yang kini dikenal sebagai Aurel sedang dikerumuni oleh para model, jurnalis, dan rekan kerja yang ingin memberikan selamat atas kesuksesan besarnya.
Olive, yang kini tampil lebih matang dengan rambut long layered dan gaun rajut elegan yang membentuk tubuh hourglass-nya, tersenyum sopan sembari menjawab pertanyaan-pertanyaan teknis. Namun, fokusnya terpecah. Ia terus melirik ke arah sudut ruangan tempat putranya, Leon Alexander, seharusnya duduk menunggu.
Alex, putra kecilnya yang baru saja merayakan ulang tahun keempatnya hari ini, merasa sangat bosan. Setelah menahan keinginan buang air kecilnya cukup lama karena melihat mamanya begitu sibuk, anak itu akhirnya tidak tahan lagi. Dengan inisiatif yang luar biasa berani untuk anak seukurannya, Alex turun dari kursi dan menyelinap keluar dari kerumunan, menuju toilet hotel yang terletak di koridor sepi tak jauh dari sana.
Setelah menyelesaikan urusannya, Alex melangkah ke wastafel. Ia berjinjit kecil, mencoba mencapai keran otomatis. Di saat yang sama, seorang pria dewasa bertubuh tinggi besar dengan setelan jas tiga lapis yang sangat kaku baru saja keluar dari bilik toilet dan berdiri di wastafel tepat di samping Alex.
Pria itu adalah Liam Maximilian Valerius.
Liam mencuci tangannya dengan gerakan yang sangat efisien dan dingin. Namun, sudut matanya menangkap sosok kecil di sampingnya. Ia tertegun sejenak. Gerakan anak itu saat membenarkan lengan bajunya yang sedikit basah, cara anak itu memiringkan kepala untuk melihat pantulan dirinya di cermin, hingga gerakan tangannya saat membenarkan rambut yang jatuh ke dahi semuanya terasa sangat familiar bagi Liam.
Itu adalah copy dari gerakan Liam sendiri. Gerakan refleks yang bahkan belum dilakukan Liam malam itu, namun anak ini melakukannya dengan sangat identik.
Rasa dingin yang biasanya membungkus hati sang Iron Monarch tiba-tiba mencair digantikan rasa penasaran yang tak bisa dijelaskan. Tanpa memedulikan statusnya sebagai penguasa keamanan global, Liam berjongkok di samping Alex. Gerakan ini sangat aneh; Liam tidak pernah bersikap hangat pada siapa pun, apalagi pada anak kecil yang tidak ia kenal.
"Hei," sapa Liam dengan suara yang diusahakan selembut mungkin, meski sisa-sisa wibawa dinginnya masih terdengar. "Kenapa kau sendirian di sini, Jagoan?"
Alex menoleh. Ia menatap mata tajam Liam tanpa rasa takut sedikit pun. Darah Aurevyn di dalam tubuhnya membuatnya tetap tenang. "Aku bisa sendiri, Tuan. Mama sedang kerja."
Liam tersenyum tipis sebuah senyum yang jarang sekali terlihat. "Siapa namamu?"
"Namaku Alex," jawab anak itu polos.
"Alex... nama yang bagus," gumam Liam. "Dan mamamu, dia bekerja sebagai apa di sini?"
"Mama adalah desainer utama. Dia yang membuat semua baju cantik di luar tadi," ucap Alex dengan nada bangga yang kental.
Liam mengangguk. Ia kemudian menggandeng tangan kecil Alex, menuntunnya keluar dari kamar mandi agar anak itu tidak tersesat. "Lalu, di mana papamu? Kenapa hanya mamamu yang bekerja?"
Pertanyaan itu membuat langkah Alex terhenti sejenak. Ia menatap Liam dengan mata jernih yang tampak sedikit sedih namun tetap tegar. "Aku tidak punya papa sejak aku lahir, Tuan. Hanya ada aku dan Mama."
Mendengar itu, Liam merasakan sebuah denyutan amarah yang aneh di dadanya. Ia mengumpat dalam hati, menyumpahi pria tidak bertanggung jawab mana pun yang telah meninggalkan wanita dan anak secerdas ini sendirian. Liam tidak menyadari, bahwa pria "bajingan" yang sedang ia kutuki adalah dirinya sendiri, sang pemilik benih yang tertanam lima tahun lalu di Monte Carlo.
"Alex! Leon Alexander!"
Suara teriakan yang penuh kecemasan itu memecah keheningan koridor. Olive berlari dengan napas tersengal-sengal, wajah porselennya tampak sangat pucat karena panik kehilangan anaknya. Saat ia melihat sosok Alex di ujung koridor, ia langsung mempercepat langkahnya tanpa sempat memperhatikan siapa pria dewasa yang sedang menggandeng anaknya.
"Ya Tuhan, Alex! Mama bilang tunggu di sana, jangan pergi sendirian!" Olive langsung berlutut dan memeriksa tubuh Alex, memastikan putranya baik-baik saja.
Liam berdiri mematung. Jantungnya berdegup kencang saat melihat wanita di depannya. Meskipun lima tahun telah mengubah banyak hal rambut yang berbeda, gaya berpakaian yang lebih mandiri, dan aura yang lebih kuat Liam tidak mungkin salah. Wajah itu adalah versi nyata dari foto-foto masa lalu yang sering ia lihat di layar ponselnya.
"Olivia?" panggil Liam dengan suara tegang dan bergetar.
Olive tersentak. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat mendengar nama aslinya dipanggil oleh suara asing yang sangat dalam dan dominan. Ia perlahan berdiri, mengendalikan ekspresi wajahnya agar tetap tenang dan profesional.
Olive menatap pria di depannya. Ia tidak mengenali siapa Liam. Baginya, pria di hotel malam itu hanyalah bayangan gelap tanpa wajah. Ia tidak tahu bahwa pria yang berdiri di depannya adalah penguasa Monako sekaligus ayah dari anaknya.
"Maaf?" Olive tersenyum natural, sebuah senyum sopan namun menjaga jarak. "Nama saya Aurel. Anda mungkin salah orang, Tuan."
Liam terpaku. Ia menatap mata hazel Olive yang jernih. Tidak ada tanda-tanda pengenalan di sana. Gadis ini benar-benar tidak mengenalnya? Atau dia sedang bersandiwara dengan sangat baik?
"Terima kasih sudah menemani putra saya berbicara dan menjaganya," lanjut Olive dengan suara lembut namun tegas. "Alex memang terkadang terlalu berani. Kami permisi dulu."
Olive segera menggendong Alex yang beratnya mulai terasa di lengannya. Ia membungkuk sopan satu kali lagi sebelum berjalan pergi dengan langkah cepat, meninggalkan Liam yang masih mematung di tengah koridor hotel.
Liam menatap punggung Olive yang menjauh. Pikirannya kacau. "Aurel? Dia menyebut dirinya Aurel?" bisik Liam. Namun, instingnya mengatakan hal lain. Itu adalah Olivia Elenora Aurevyn, sang Golden Butterfly yang hilang. Tapi kenapa dia ada di sini? Dan siapa anak itu?
Beberapa jam kemudian, di sebuah apartemen mewah yang telah menjadi tempat persembunyian nyaman bagi Olive selama beberapa tahun terakhir di London.
Suasana tenang malam itu tiba-tiba pecah oleh suara erangan kecil dari kamar tidur. Olive, yang baru saja selesai membersihkan sisa riasannya, segera berlari ke kamar Alex.
Di atas tempat tidur, tubuh kecil Alex bergetar hebat. Keringat dingin membasahi dahi dan rambutnya. Wajah anak itu tampak sangat menderita dalam tidurnya.
"Alex! Sayang, bangun! Mama di sini!" Olive mengguncang bahu anaknya dengan lembut.
Ini adalah mimpi buruk yang sering terjadi selama satu tahun terakhir. Sebuah trauma psikologis yang tidak diketahui akarnya oleh Olive, namun seolah-olah Alex sedang bertarung dengan bayangan masa lalu yang kelam.
Alex tersentak bangun, matanya terbuka lebar dan langsung dipenuhi air mata. Ia langsung menerjang pelukan Olive, menangis tersedu-sedu hingga dadanya sesak.
"Mama... Mama..." isak Alex.
"Sshhh, tidak apa-apa. Mama di sini, Sayang. Hanya mimpi buruk," bisik Olive sambil mengusap punggung anaknya, hatinya terasa seperti tersayat sembilu melihat penderitaan Alex.
"Dunia... dunia tidak mau Alex, Ma," tangis Alex pecah. "Papa juga tidak mau Alex. Kenapa Alex ada kalau tidak ada yang mau?"
Pertanyaan itu membuat Olive terpaku. Tubuhnya kaku seketika. Bagaimana bisa seorang anak berusia empat tahun bermimpi tentang penolakan dunia dan ayahnya? Apakah ini adalah ikatan batin yang tak terlihat dari kejadian malam itu? Kejadian di mana pria itu menganggap Olive hanya sekadar pelampiasan nafsu?
Olive menelan ludah, mencoba menahan air matanya sendiri agar tidak tumpah di depan anaknya. Ia mengeratkan pelukannya, menciumi puncak kepala Alex berulang kali.
"Dengarkan Mama, Leon Alexander Aurevyn," ucap Olive dengan nada yang sangat menyentuh. "Mama sangat menginginkanmu. Mama mencintaimu lebih dari nyawa Mama sendiri. Dunia ini indah karena ada Alex di dalamnya. Jangan dengarkan mimpi buruk itu, oke? Alex adalah anugerah terindah bagi Mama."
Olive terus membisikkan kata-kata penenang dan menyanyikan lagu nina bobo favorit Alex hingga napas anak itu kembali teratur dan ia tertidur lagi karena kelelahan menangis.
Setelah Alex tertidur, Olive tetap terjaga di sampingnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan perasaan hampa. Pria di hotel tadi... kenapa tatapannya terasa begitu menuntut? Dan kenapa ia mengenal nama "Olivia"?
Olive membelai pipi Alex yang masih basah oleh sisa air mata. "Siapa pun pria yang memberikan benihnya padaku, Alex... dia tidak akan pernah menyakitimu. Karena aku tidak akan pernah membiarkannya menemukan kita."
Olive tidak tahu, bahwa di sebuah kamar presidential suite tak jauh dari apartemennya, Liam Maximilian sedang tidak bisa memejamkan mata. Ia sedang menatap layar laptopnya, memerintahkan Marcus untuk mencari tahu segala hal tentang desainer bernama "Aurel" dan mencari tahu siapa ayah dari anak laki-laki bernama Alex tersebut.
"Darah tidak pernah berbohong, Marcus," desis Liam dalam kegelapan malam. "Anak itu memiliki mataku. Dan jika wanita itu benar-benar Olivia, aku tidak akan membiarkannya kabur untuk kedua kalinya."
Musim semi di London baru saja dimulai, namun bagi Olive dan Liam, badai besar justru baru akan menerjang hidup mereka yang selama lima tahun ini tampak tenang di permukaan. Sebuah rahasia besar tentang darah dan asal-usul Alex kini berada di ambang kehancuran, menunggu satu momentum kecil untuk meledak dan mengubah segalanya.