Nala Aristha hanyalah "putri yang tidak diinginkan" di keluarga Aristha. Selama bertahun-tahun, ia hidup di bawah bayang-bayang kakaknya yang sempurna, Bella.
Ketika keluarga Aristha terancam bangkrut, satu-satunya jalan keluar adalah memenuhi janji pernikahan tua dengan keluarga Adhitama. Namun, calon mempelai prianya, Raga Adhitama, dirumorkan sebagai pria cacat yang kejam, memiliki wajah hancur akibat kecelakaan, dan temperamen yang mengerikan.
Bella menolak keras dan mengancam bunuh diri. Demi menyelamatkan nama baik keluarga, Nala dipaksa menjadi "mempelai pengganti". Ia melangkah ke altar dengan hati mati, bersiap menghadapi neraka.
Namun, di balik pintu kamar pengantin yang tertutup rapat, Nala menemukan kebenaran yang mengejutkan. Raga Adhitama bukanlah monster seperti rumor yang beredar. Dia adalah pria dengan sejuta rahasia gelap, yang membutuhkan seorang istri hanya sebagai tameng.
"Jadilah istriku yang patuh di depan dunia, Nala. Dan aku akan memberikan seluruh dunia in
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hazard111, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Gaun Pengantin Bekas dan Jarum yang Menusuk
Pagi datang dengan enggan ke kediaman keluarga Aristha. Matahari seolah malu menampakkan diri, bersembunyi di balik sisa-sisa awan kelabu yang masih menggantung rendah pasca badai semalam. Cahaya yang masuk ke dalam kamar sempit Nala di bagian belakang rumah hanyalah bias samar yang pucat, membuat ruangan berukuran tiga kali empat meter itu terasa semakin dingin dan lembap.
Nala duduk di tepi tempat tidurnya yang keras. Seprai katun murah yang sudah memudar warnanya terasa dingin di kulitnya. Ia tidak tidur semalaman. Matanya terpaku pada dinding kosong di hadapannya, tempat ia biasanya menggantung sketsa-sketsa lukisan buatannya. Namun pagi ini, dinding itu kosong. Ia telah menurunkan semua lukisannya, menyimpannya rapi di dalam kardus bekas mie instan di kolong tempat tidur.
Ia sedang mengemasi hidupnya. Atau lebih tepatnya, mengubur hidupnya yang lama.
Di luar sana, rumah besar itu mulai menggeliat bangun. Nala bisa mendengar suara langkah kaki pelayan yang terburu-buru di lorong, denting piring keramik dari ruang makan, dan suara tawa renyah Bella yang terdengar begitu ringan, kontras dengan keheningan mencekam di kamar Nala. Bagi Bella, hari ini adalah hari pembebasan. Bagi Nala, ini adalah hari pertama dalam penjara barunya.
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu terdengar kasar dan tidak sabar. Sebelum Nala sempat menjawab, pintu kayu itu sudah terdorong terbuka.
Nyonya Siska berdiri di ambang pintu. Wanita itu mengenakan gaun pagi berbahan sutra merah marun, wajahnya sudah dipoles riasan tipis meski hari masih sangat pagi. Di tangannya, ia membawa sebuah garment bag (tas pelindung baju) berwarna putih tebal yang terlihat berat.
Di belakangnya, Bella mengekor dengan senyum puas yang sulit disembunyikan. Ia membawa kotak sepatu dan sebuah kotak perhiasan beludru.
"Bangun, Tuan Putri," sindir Siska dengan nada tajam. Ia melangkah masuk tanpa melepas sandalnya, seolah lantai kamar Nala terlalu kotor untuk dipijak.
Siska melempar tas pakaian itu ke atas kasur Nala. Bruk. Suaranya terdengar berat dan final.
"Ini gaun pengantinmu," kata Siska dingin. "Coba pakai sekarang. Aku harus memastikan gaun itu pas di badanmu yang kurus itu. Kita tidak punya waktu untuk memesan baru, dan aku tidak mau memanggil penjahit ke sini. Terlalu berisiko. Jika tukang jahit itu melihat wajahmu dan bukan wajah Bella, gosip bisa menyebar ke seluruh kota sebelum pernikahan terjadi."
Nala menatap tas putih itu. Tangannya gemetar saat menyentuh ritsletingnya. Perlahan, ia membukanya.
Sebuah gaun pengantin yang menakjubkan terungkap. Gaun itu bergaya ballgown klasik dengan potongan bahu off-shoulder. Kainnya terbuat dari satin duchesse kualitas terbaik yang berkilau lembut, dilapisi dengan renda Prancis yang rumit di bagian dada dan lengan. Ribuan kristal Swarovski kecil dijahit tangan di sepanjang korsetnya, memantulkan cahaya redup lampu kamar Nala seperti bintang-bintang kecil yang terperangkap.
Itu adalah gaun impian setiap wanita. Gaun yang dirancang khusus untuk Bella oleh desainer ternama. Harganya mungkin bisa membiayai hidup Nala selama sepuluh tahun.
"Kenapa diam saja? Cepat pakai!" bentak Bella, duduk di kursi belajar Nala yang reyot sambil menyilangkan kakinya yang jenjang. "Jangan harap kau bisa membawanya lari. Itu hanya pinjaman."
Nala bangkit berdiri. Dengan gerakan kaku seperti boneka kayu, ia melepas pakaian tidurnya. Ia merasa telanjang dan hina di bawah tatapan menilai ibu tiri dan kakaknya. Tidak ada privasi. Tidak ada harga diri.
Saat kain satin dingin itu menyentuh kulitnya, Nala menahan napas. Gaun itu berat. Sangat berat. Bukan hanya karena lapisan kainnya yang bertumpuk-tumpuk, tapi karena beban tak kasat mata yang dibawanya. Ini adalah kain kafan sutra yang akan membungkus masa mudanya.
Nala menarik ritsleting belakang dengan susah payah.
"Kebesaran," komentar Siska datar, matanya menyipit kritis.
Benar saja. Bagian pinggang gaun itu longgar sekitar dua sentimeter. Tubuh Nala jauh lebih ramping, efek dari jarang makan makanan bergizi, dibandingkan tubuh Bella yang berisi dan terawat. Bagian dadanya juga sedikit melorot, membuat Nala terlihat seperti anak kecil yang sedang mencoba baju ibunya.
"Dasar tidak berguna," decak Siska kesal. Ia mencubit sisa kain di pinggang Nala dengan kasar, membuat Nala meringis pelan karena kukunya yang tajam mencubit kulit. "Badanmu seperti papan triplek. Bagaimana gaun semahal ini bisa terlihat bagus kalau pemakainya seperti pengemis?"
"Aku bisa memperbaikinya," suara Nala keluar perlahan, nyaris berbisik.
Siska dan Bella menoleh serempak.
"Apa katamu?"
"Saya bisa menjahitnya," ulang Nala, kali ini lebih tegas. Ia menatap pantulan dirinya di cermin lemari yang retak di sudut. "Saya punya alat jahit. Saya bisa mengecilkan bagian pinggangnya dari dalam tanpa merusak potongannya. Beri saya waktu dua jam."
Siska menatap Nala curiga, lalu mendengus meremehkan. "Ya, tentu saja kau bisa. Kau kan memang berbakat jadi tukang jahit atau pembantu. Seniman gagal sepertimu pasti terbiasa dengan pekerjaan tangan kasar."
Wanita itu berbalik menuju pintu. "Kerjakan. Jangan sampai ada satu pun kristal yang lepas. Kalau sampai gaun itu rusak, aku akan memastikan jari-jarimu patah sebelum kau masuk ke mobil pengantin."
Siska keluar ruangan, meninggalkan aroma parfum menyengat yang menyesakkan dada.
Bella masih tinggal sejenak. Ia berjalan mendekati Nala, menatap adiknya dari pantulan cermin. Ada senyum miring di bibirnya.
"Kau tahu, Nala? Sebenarnya gaun itu terlihat lebih cantik saat kau yang memakainya," bisik Bella, namun nadanya jauh dari pujian. "Putih melambangkan kesucian dan kepolosan. Sangat cocok untuk domba persembahan yang akan disembelih."
"Keluar, Kak," ucap Nala datar.
Bella tertawa renyah, lalu meletakkan kotak sepatu di lantai. "Selamat menjahit, Adikku sayang. Nikmati malam terakhirmu sebagai manusia bebas."
Pintu tertutup. Nala kembali sendirian.
Dua jam kemudian, kamar itu sunyi senyap. Hanya ada suara jarum yang menembus kain dan desah napas Nala yang teratur.
Nala duduk bersila di atas lantai yang dialasi karpet tipis. Gaun pengantin mewah itu terhampar di pangkuannya, memenuhi hampir separuh ruangan sempit itu dengan kemegahannya yang angkuh. Lampu meja belajar diarahkan tepat ke bagian pinggang gaun yang sedang ia kerjakan.
Tangan Nala bergerak cekatan. Ia menggunakan teknik jahit tangan yang rapi, menyembunyikan kelebihan kain ke bagian dalam tanpa memotongnya, karena ia tahu Siska akan murka jika ia memotong gaun itu.
Setiap tusukan jarum terasa meditatif. Masuk, tarik. Masuk, tarik.
Pikirannya melayang ke masa lalu. Dulu, ibunya pernah mengajarinya menjahit. “Jahitlah lukamu sendiri, Nala. Karena di dunia ini, tidak ada orang lain yang akan melakukannya untukmu,” kata ibunya saat Nala jatuh dari sepeda dan lututnya berdarah. Saat itu ibunya sedang menambal baju seragam sekolah Nala yang robek karena mereka tak punya uang untuk beli baru.
Sekarang, nasihat itu terasa begitu nyata. Nala sedang menjahit nasibnya sendiri. Ia sedang mengecilkan ruang geraknya, menyesuaikan diri dengan bentuk kehidupan baru yang dipaksakan padanya.
"Aww!"
Nala tersentak. Jarum di tangannya meleset, menusuk ujung jari telunjuknya cukup dalam.
Refleks, ia menarik tangannya menjauh agar darah tidak menetes ke kain satin putih itu. Setitik darah merah segar muncul di ujung jarinya, membulat seperti butiran delima.
Nala menatap tetesan darah itu. Perih. Tapi rasa perih itu membuatnya sadar bahwa ia masih hidup. Ia bukan boneka. Ia manusia yang bisa berdarah.
Ia buru-buru mengisap jarinya, merasakan rasa besi di lidahnya, lalu mengambil plester lusuh dari laci meja. Setelah memastikan lukanya tertutup rapat, ia kembali menjahit. Ia tidak boleh berhenti. Ia tidak boleh menangis. Menangis hanya akan membuat matanya bengkak, dan Siska pasti akan memarahinya jika ia terlihat jelek di hari pernikahan.
Waktu berjalan lambat, merambat seperti siput yang malas. Sore berganti malam. Hujan kembali turun, kali ini lebih lembut, namun membawa hawa dingin yang menusuk tulang.
Nala baru saja menyelesaikan jahitan terakhir dan memutus benang dengan gigi ketika pintu kamarnya kembali terbuka tanpa ketukan.
Kali ini Bella datang membawa nampan berisi sepiring nasi dan segelas air putih. Tidak ada lauk mewah, hanya telur dadar dan sedikit sayur sisa makan malam keluarga.
"Makanlah," kata Bella, meletakkan nampan itu di meja belajar, menggeser alat jahit Nala dengan kasar. "Ibu bilang kau tidak boleh pingsan karena kelaparan besok. Itu akan memalukan keluarga."
Bella tidak langsung pergi. Ia duduk di tepi tempat tidur, memegang segelas wine di tangannya. Wajahnya terlihat sedikit merah, tanda sudah minum beberapa gelas. Alkohol membuat lidahnya lebih tajam dan jujur.
"Kau takut?" tanya Bella tiba-tiba.
Nala meletakkan gaun itu dengan hati-hati di gantungan, lalu berbalik menatap kakaknya. "Menurut Kakak?"
Bella terkekeh, menggoyangkan gelas wine-nya. Cairan merah itu berputar-putar seperti pusaran darah.
"Harusnya kau takut, Nala. Sangat takut." Bella mencondongkan tubuhnya ke depan, matanya membelalak dramatis. "Aku punya teman yang bekerja di rumah sakit pusat. Dia pernah merawat salah satu mantan pelayan di rumah Raga Adhitama."
Nala diam saja, mengambil sendok dan mulai memakan nasi dingin itu. Ia butuh energi. Ia tidak peduli dengan cerita horor Bella.
"Pelayan itu..." lanjut Bella, suaranya dipelankan seolah sedang menceritakan rahasia negara, "lidahnya dipotong."
Gerakan tangan Nala terhenti di udara.
"Kabarnya, dia hanya salah bicara sedikit di depan Tuan Raga. Dan zap!," Bella membuat gerakan menggunting dengan jarinya. "Pria itu memang gila. Dia tidak mentlerir kesalahan. Dia hidup dalam kegelapan sejak kecelakaan itu. Wajahnya... separuh hancur meleleh seperti lilin. Matanya satu buta dan berwarna putih susu. Dia membenci semua orang yang cantik dan sempurna, sungguh ironis."
Bella meneguk wine-nya, lalu menatap wajah Nala yang mulus.
"Itulah kenapa aku menolak. Aku terlalu berharga untuk dihancurkan oleh monster seperti itu. Tapi kau..." Bella tersenyum miring, tatapannya meremehkan. "Kau sudah terbiasa menderita, kan? Kau kan kuat. Kau pasti bisa bertahan... setidaknya sebulan atau dua bulan sebelum dia bosan dan membuangmu ke kolam buaya."
Nala meletakkan sendoknya. Nafsu makannya hilang seketika. Ia menatap Bella lurus-lurus. Tatapan Nala begitu tenang, begitu dalam, hingga membuat senyum di wajah Bella perlahan luntur.
"Kak Bella," panggil Nala pelan.
"Apa?"
"Apa Kakak bahagia?"
Pertanyaan itu sederhana, namun efeknya seperti tamparan bagi Bella. Gadis itu terdiam, gelas di tangannya berhenti bergoyang.
"Tentu saja aku bahagia!" sergah Bella defensif, suaranya meninggi. "Aku bebas! Aku tidak jadi menikah dengan monster itu! Aku akan mengejar karirku, aku akan menikah dengan pria tampan dan normal! Kenapa aku tidak bahagia?"
"Baguslah," jawab Nala singkat. Ia kembali menyuapkan nasi ke mulutnya. "Kalau begitu, tidurlah yang nyenyak malam ini, Kak. Karena mulai besok, Kakak tidak akan punya alasan lagi untuk mengeluh. Semua beban keluarga ini sudah kupikul."
Bella ternganga. Ia datang untuk menakut-nakuti Nala, untuk melihat adiknya menangis dan memohon, tapi yang ia dapatkan justru ketenangan yang tidak pernah dia harapkan. Nala tidak terlihat seperti korban. Nala lebih terlihat seperti... martir. Seseorang yang menerima takdirnya dengan kepala tegak.
Rasa kesal merayapi hati Bella. Ia merasa kalah telak meski dialah pemenangnya. Dengan kasar, ia meletakkan gelas wine kosong di meja.
"Jangan sok suci, Nala. Kita lihat saja nanti, apakah kau masih bisa sesombong ini saat Raga Adhitama mulai menyiksamu."
Bella menghentakkan kakinya keluar kamar, membanting pintu dengan keras hingga dinding bergetar.
Nala menghela napas panjang. Ia meletakkan piring yang baru habis separuh. Perutnya mual.
Ia berjalan menuju jendela, menyibakkan tirai tipis yang berdebu. Di luar, hujan rintik-rintik membasahi kaca, membiaskan cahaya lampu jalan menjadi pendar-pendar abstrak.
Nala menempelkan telapak tangannya ke kaca yang dingin. Bayangan wajahnya terpantul samar. Wajah yang besok akan dirias tebal untuk menipu dunia.
"Raga Adhitama..." bisiknya, menyebut nama itu untuk pertama kalinya dengan lantang. Nama itu terasa asing di lidahnya. Berat, gelap, dan penuh misteri.
Apakah benar dia sekejam itu? Apakah benar dia monster yang memotong lidah orang?
Nala meraba dadanya. Jantungnya berdetak kencang, bukan hanya karena takut, tapi juga karena rasa penasaran yang aneh. Seumur hidupnya, Nala hidup bersama monster-monster yang berwajah cantik dan tampan, ayahnya, ibu tirinya, kakaknya. Mereka tersenyum manis sambil menusukkan pisau ke punggungnya.
Mungkin... hanya mungkin... monster yang berwajah buruk rupa justru memiliki hati yang lebih jujur.
Nala berbalik, menatap gaun putih yang tergantung di lemari seperti hantu yang menunggu.
"Baiklah," gumamnya pada keheningan malam. "Akan kumasuki nerakamu, Tuan Muda. Mari kita lihat, siapa yang akan terbakar lebih dulu. Kau... atau aku."
Malam itu, Nala tidur tanpa mimpi. Tidur lelap seorang prajurit sebelum melangkah ke medan perang yang mematikan.
ceritanya bagu😍