Tio tidak pernah meminta untuk mati—apalagi tereinkarnasi dan bangun di dunia kultivasi brutal sebagai Ci Lung di Benua Tianlong.
Dengan tekad sederhana untuk hidup tenang di Lembah Sunyi, ia mencoba menjauh dari sekte, perang, dan orang-orang yang bisa membelah gunung hanya dengan bersin. Sayangnya, sebuah sistem misterius muncul, memberinya kekuatan… sekaligus hutang yang terus bertambah.
Lebih sial lagi, dunia mulai salah paham dan menganggapnya sebagai ahli tersembunyi yang menakutkan—padahal tingkat kultivasinya sebenarnya masih pas-pasan.
Di belakangnya berdiri Gu Shentian, guru di puncak Void Realm yang terlalu kuat untuk dijelaskan. Di sampingnya ada Yan Yu, murid kecil yang terlalu percaya bahwa gurunya adalah legenda hidup.
Ci Lung hanya ingin hidup normal.
Masalahnya…
Setiap kali ia mencoba, langit justru retak duluan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fandi Pradana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Anak Yang Salah Tempat
Masalahnya bukan Yan Yu kuat.
Masalahnya adalah…
Yan Yu polos.
Dan dunia murim tidak punya toleransi untuk kepolosan di tempat yang salah.
Pagi itu kabut masih tipis di lembah. Ci Lung lagi duduk di batu, serius banget… bukan karena meditasi.
Karena kailnya nyangkut.
“Yan Yu,” panggilnya sambil narik-narik benang pancing yang jelas-jelas kalah sama ikan. “Ambil air di hulu sungai.”
Yan Yu muncul dari balik kayu bakar. “Siap, Guru.”
“Jangan jauh-jauh.”
“Iya.”
“Kalau lihat orang asing, pura-pura jadi anak desa.”
Yan Yu mengangguk serius banget, seolah baru dapat teknik rahasia tingkat Surga.
“Kalau ditanya?”
“Bilang aja nyasar.”
“Kalau ditawarin sekte?”
“Lari.”
“Kalau dikasih permen?”
Ci Lung berhenti narik kail.
“Itu… pikir sendiri.”
Yan Yu mengangguk, wajahnya penuh tekad seperti baru menerima warisan teknik pamungkas.
Di sisi lain lembah, tiga kultivator sekte menengah sedang patroli.
Secara resmi, mereka “mengamati fluktuasi energi”.
Secara tidak resmi, mereka penasaran akut dan nggak bisa tidur karena gosip Penunggu Lembah.
“Aura di sini bikin merinding,” kata yang pertama, Meridian Opening layer 8, sok berani.
“Katanya zona absolut,” jawab yang kedua.
“Kalau mati, salah sendiri,” simpul yang ketiga, yang sebenarnya paling takut tapi gengsi.
Mereka melangkah masuk.
Tidak ada tekanan qi.
Tidak ada aura pembunuh.
Tidak ada formasi menyala.
Justru itu masalahnya.
“Kenapa tenang banget…” gumam salah satu.
Lalu—
Mereka melihatnya.
Seorang bocah.
Nyeker.
Baju sederhana.
Bawa ember.
“…anak?”
“…di sini?”
“…HIDUP?”
Yan Yu juga berhenti.
Ia memiringkan kepala.
“Om-om ini siapa?”
Salah satu kultivator hampir keselek qi sendiri.
“K-kamu… tinggal di sini?”
Yan Yu mikir dua detik. “Iya.”
“Sendirian?”
“Enggak,” jawabnya jujur. “Ada orang.”
Tiga kultivator saling pandang.
Orang.
Bukan “guru besar”. Bukan “tetua agung”. Bukan “Void Realm layer sekian”.
Cuma… orang.
Keringat dingin mulai turun.
“Siapa orang itu?” tanya kultivator tertua, senyumnya dipaksa ramah banget.
Yan Yu menunjuk ke arah bangunan kayu reyot di kejauhan.
“Di sana. Lagi mancing. Tapi biasanya nggak dapet.”
SUNYI.
Yang muda langsung mundur setengah langkah.
Yang tengah menelan ludah.
Yang tua merasa hidupnya terlalu singkat.
“O-oh… gurumu ya?”
Yan Yu mengangguk cepat. “Aku nggak tahu namanya.”
Bohong sedikit.
Tapi dia nggak sadar itu bohong.
“Kamu… kuat?” tanya yang muda, berusaha mengukur aura Yan Yu.
Yan Yu mikir lama.
“Aku bisa angkat ember.”
Qi ketiganya bergetar.
Karena ember itu…
Penuh.
Airnya tenang. Tidak ada riak.
Tapi saat Yan Yu menggeser ember sedikit—
qi di sekitar mereka ikut tenang.
Meridian yang biasanya seret… lancar.
Nyeri lutut hilang.
Pikiran jernih.
Salah satu hampir nangis.
“Anak ini…” bisik mereka.
“Salah tempat.”
Yang tua, masih mencoba peruntungan terakhir, berkata lembut, “Nak… kamu mau ikut kami ke kota? Banyak jajanan.”
Yan Yu langsung menggeleng keras. “Nanti dimarahin.”
“Dimarahin siapa?”
“Orang itu.”
Tiga kultivator serempak:
“Oh. Yaudah. Nggak usah.”
Mereka mundur. Pelan. Sopan. Hampir membungkuk tanpa sadar.
Yan Yu melambai ceria.
“Hati-hati ya! Jalannya agak licin kalau hujan!”
Tiga kultivator itu hampir sujud sebelum benar-benar pergi.
Sore hari.
Ci Lung masih mancing. Masih belum dapat ikan.
Yan Yu datang bawa ember.
“Kok cepet?” tanya Ci Lung.
Yan Yu santai. “Ada om-om nanyain arah.”
Ci Lung berhenti. Perlahan menoleh.
“…Om-om?”
“Iya.”
“Lu jawab apa?”
“Jawab jujur.”
“…Semua?”
Yan Yu mikir.
“Hampir.”
Ci Lung memijat pelipis.
“Yan Yu.”
“Iya Guru.”
“Mulai besok, kalau ada orang luar—”
“—bilang nyasar?”
“Bilang kamu bisu.”
“Ohhhhh.”
Yan Yu manggut-manggut serius.
“Kalau dikasih permen?” tanyanya lagi.
Ci Lung diam lama.
“Ambil.”
Yan Yu cerah.
“Terus?”
“Bagi dua.”
Yan Yu tersenyum puas.
Ci Lung menatap sungai.
Ikan tetap nggak dapet.
Harga dirinya yang kena.
Malam itu, laporan menyebar ke sekte-sekte sekitar.
“Zona hitam itu… ada anak kecil.”
“Anak kecil?”
“Dan dia… membuat qi kami tenang.”
“Apa dia Void Realm?”
“Tidak terasa.”
“Foundation Establishment?”
“Tidak terasa.”
“Qi Refining?”
“…tidak terasa.”
Sunyi panjang.
Kesimpulan mereka hari itu:
Lembah itu terlalu berbahaya.
Bahkan anaknya pun tidak normal.
Beberapa sekte langsung memperketat wilayah.
Beberapa tetua mulai meditasi lebih rajin.
Satu sekte bahkan mengeluarkan larangan:
“Dilarang mendekati anak-anak di wilayah barat.”
Alasannya tidak dijelaskan.
Takut disalahpahami.
Di dalam lembah—
Ci Lung tidur nyenyak.
Yan Yu tidur lebih nyenyak.
Di luar, dunia murim mulai berubah arah.
Awalnya mereka takut pada Penunggu Lembah.
Sekarang…
Mereka mulai memperhitungkan kemungkinan yang lebih mengerikan.
Bagaimana jika—
Penunggu Lembah itu cuma orang biasa?
Dan yang benar-benar aneh…
adalah anak yang salah tempat.
Dan kalo boleh jujur,
Kalau authornya konsisten pakai gaya ini, ini bisa jadi ciri khas yang beda dari pasar murim mainstream, aku bakal lanjut baca.
Inget thor aku bakal jadi salah satu pembaca yang marah kalo Yan yuu kenapa-kenapa😠