NovelToon NovelToon
Mencari Jawaban

Mencari Jawaban

Status: tamat
Genre:Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Sabana01

Hidup Almira dan Debo nyaris sempurna. Tumbuh besar di Washington D.C. dengan fasilitas diplomat, mereka melihat ayah mereka, Pak Baskoro, sebagai pahlawan tanpa celah. Namun, impian itu hancur berkeping-keping dalam satu malam di Bandara Soekarno-Hatta.
Koper yang seharusnya berisi oleh-oleh dari Amerika, berubah menjadi maut saat petugas menemukan bungkusan kristal putih seberat 5 kilogram di dalamnya. Ayah mereka dituduh sebagai kurir narkoba internasional.
Di tengah keputusasaan, teman-teman berkhianat dan harta benda disita. Almira dan Debo dipaksa menghadapi realita pahit: mereka kini adalah anak seorang "kriminal". Di tengah badai tersebut, muncul Risky, seorang pengacara muda yang dingin dan misterius. Risky setuju membantu, namun ia memperingatkan satu hal:
"Kebenaran terkadang lebih menyakitkan daripada kebohongan. Apakah kalian siap menemukan jawaban yang sebenarnya?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabana01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9

BAB 9

Ketegangan di ruang sidang itu tidak lantas menguap setelah hakim mengetuk palu penundaan. Sebaliknya, udara terasa semakin statis, seolah-olah listrik bertegangan tinggi baru saja menyambar ruangan itu. Almira masih berdiri mematung di tengah ruangan, dadanya naik turun dengan napas yang memburu. Tangannya terasa hampa setelah buku merah itu diambil oleh petugas pengadilan, namun matanya tetap terkunci pada sosok ayahnya.

Baskoro tidak diizinkan mendekat, namun ia memberikan sebuah anggukan kecil. Tatapannya seolah berkata: Cukup, Nak. Kau sudah melakukan lebih dari cukup.

Namun, di sudut lain, Wirayuda tidak tinggal diam. Pria itu tidak tampak seperti orang yang baru saja tertangkap basah. Dengan tenang, ia merapikan jasnya, berbisik kepada asistennya, lalu berjalan mendekat ke arah barisan pagar pembatas antara area pengunjung dan area persidangan.

"Almira," suara Wirayuda terdengar sangat tenang, bahkan hampir seperti seorang paman yang sedang prihatin. "Kau tahu, mencuri dokumen negara adalah tindak pidana serius. Aku mengerti kau sangat ingin menyelamatkan ayahmu, tapi memalsukan dokumen biro umum hanya akan membuat posisimu semakin sulit."

Almira menoleh, tatapannya tajam seperti silet. "Palsu? Kita lihat saja apa kata ahli forensik nanti, Pak. Atau Anda ingin saya putarkan rekaman suara Anda yang sedang merencanakan penjebakan Ayah saat ini juga di depan wartawan?"

Senyum tipis di wajah Wirayuda menghilang sekejap, digantikan oleh kilatan kebencian yang murni. Ia mencondongkan tubuh, berbisik sangat rendah hingga hanya Almira dan Risky yang bisa mendengarnya. "Kau pikir buku tua itu akan menyelamatkan kalian? Di luar sana, duniaku jauh lebih besar daripada ruang sidang ini. Berhati-hatilah saat pulang, Almira. Jakarta bisa menjadi tempat yang sangat berbahaya bagi gadis yang terlalu berisik."

Risky melangkah maju, menghalangi pandangan Wirayuda terhadap Almira. "Ancaman di depan publik, Pak Dirjen? Itu sangat tidak elegan untuk orang setingkat Anda."

Wirayuda hanya mendengus, lalu berbalik pergi dengan langkah santai, diikuti oleh rombongan stafnya yang tampak seperti sekumpulan gagak hitam.

Dua jam penundaan itu terasa seperti dua tahun. Almira, Risky, dan Yoga—yang berhasil masuk lewat jalur belakang—berkumpul di ruang tunggu saksi yang dijaga ketat. Di sana, mereka hanya bisa menatap layar televisi yang terus-menerus mengulang cuplikan kejadian saat Almira menerobos masuk.

"Kita harus cek Debo," bisik Almira cemas.

Risky mengeluarkan ponsel khusus yang tadi digunakan untuk berkomunikasi dengan rumah Bogor. "Debo, kau di sana? Bagaimana situasinya?"

Suara Debo terdengar bergetar di seberang sana. "Kak, ada mobil hitam yang berhenti di depan gerbang rumah tua ini. Mereka tidak turun, tapi mereka hanya diam di sana sejak satu jam yang lalu. Aku... aku mematikan semua lampu dan bersembunyi di bawah meja."

Jantung Almira seolah berhenti berdetak. "Risky, mereka mengincar Debo!"

"Yoga, jemput dia sekarang. Bawa dia ke apartemen rahasiamu di Kelapa Gading," perintah Risky tanpa ragu. Yoga langsung berdiri dan menghilang lewat pintu darurat.

"Tenang, Al. Yoga tahu apa yang harus dilakukan," kata Risky mencoba menenangkan. "Sekarang, fokuslah. Hakim akan segera kembali. Jika buku itu dinyatakan asli, jaksa tidak punya pilihan selain menunda dakwaan dan mulai menyelidiki Wirayuda."

Tepat saat itu, pintu ruang sidang kembali dibuka. Suasana kembali riuh saat majelis hakim masuk. Hakim ketua tampak lebih tegang dari sebelumnya. Ia mengenakan kacamatanya, membolak-balik beberapa lembar laporan hasil verifikasi sementara dari ahli forensik dokumen kepolisian.

"Berdasarkan pemeriksaan awal," hakim ketua memulai, suaranya bergema di mikrofon, "Majelis hakim menemukan bahwa dokumen yang diserahkan oleh saudara Almira memiliki stempel dan nomor seri yang terdaftar resmi dalam inventaris Kementerian Luar Negeri. Namun..."

Hakim berhenti sejenak. Almira menahan napas.

"...pihak Kementerian melalui perwakilan hukumnya baru saja menyerahkan surat pernyataan bahwa buku log tersebut telah dinyatakan hilang sejak dua bulan lalu karena pencurian, dan isinya diduga telah mengalami modifikasi oleh pihak yang tidak bertanggung jawab."

"Keberatan, Yang Mulia!" Risky berdiri dengan emosi yang meluap. "Itu adalah upaya sabotase bukti! Bagaimana mungkin dokumen yang baru saja kami ambil dari brankas terkunci dinyatakan telah dimodifikasi?"

"Majelis hakim tidak bisa mengabaikan pernyataan resmi dari instansi terkait, saudara penasihat hukum," sahut hakim dengan nada yang terdengar ditekan. "Namun, mengingat adanya keraguan yang signifikan, majelis hakim memutuskan untuk menunda putusan sela dan memerintahkan penyelidikan internal terhadap saksi-saksi di biro umum."

Sidang ditutup dengan ketukan palu yang terasa seperti hantaman di kepala Almira. Ini bukan kemenangan yang ia harapkan. Wirayuda telah menggunakan kekuasaannya untuk menanamkan benih keraguan terhadap bukti yang mereka bawa.

Saat petugas mulai menggiring Pak Baskoro kembali ke mobil tahanan, Almira berlari ke arah ayahnya. Untuk pertama kalinya, ia berhasil menyentuh tangan ayahnya melalui celah pagar.

"Ayah..."

"Almira, dengarkan Ayah," bisik Pak Baskoro dengan cepat. "Di dalam koper hitam itu, di bagian lapisan bawahnya, Ayah sempat menyembunyikan sebuah pulpen perekam yang selalu Ayah bawa untuk rapat. Ayah menyalakannya saat pamanmu Hermawan menitipkan koper itu. Ayah tahu ada yang tidak beres sejak awal, tapi Ayah tidak sempat mengambilnya saat ditangkap."

Almira tertegun. "Pulpen perekam? Dimana koper itu sekarang?"

"Ada di gudang barang bukti Polres Jakarta Barat. Kau harus mendapatkannya, Al. Di sana ada rekaman percakapan Ayah dengan Hermawan saat penyerahan koper. Itu bukti fisik yang tidak bisa mereka sebut 'modifikasi'."

Sebelum Almira sempat bertanya lebih jauh, petugas sudah menarik ayahnya menjauh.

Risky menarik Almira keluar dari kerumunan wartawan yang mulai beringas. Di parkiran, sebuah pesan masuk ke ponsel Risky dari Debo.

"Kak, aku sudah aman bersama Yoga. Dan Kak... aku menemukan sesuatu di flashdisk Hermawan yang tadi kita lewatkan. Ada folder tersembunyi dengan nama 'Asuransi'. Di dalamnya ada jadwal pengiriman barang ilegal lewat jalur laut yang akan dilakukan malam ini di Pelabuhan Tanjung Priok. Nilainya ratusan miliar."

Almira menatap Risky. Sorot mata mereka bertemu. Mereka tahu, malam ini akan menjadi malam yang panjang. Mereka harus memilih: pergi ke gudang barang bukti untuk mengambil pulpen ayahnya, atau menuju pelabuhan untuk menghentikan pengiriman besar yang bisa menghancurkan karir Wirayuda selamanya.

"Kita bagi tugas," ucap Risky. "Aku akan mengurus pelabuhan dengan bantuan koneksi lamaku di kepolisian yang masih jujur. Kau dan Debo... ambil pulpen itu. Itu kunci untuk membebaskan ayahmu secara hukum."

Almira mengangguk, mengepalkan tangannya. "Jawaban ini akan segera selesai, Risky. Aku janji."

1
Sulfia Nuriawati
potret pejabat ms kini, mw segalanya instant, g bs d pungkiri pasti d dunia nyata jg bgtu cm g ada yg berani bongkar
sabana: 🤭🤭🤭
lanjut baca kk
total 1 replies
Ophy60
Ikut tegang....memang uang dan jabatan membuat orang lupa diri.Pak Wirayuda dengan tega mengorbankan anak buahnya sendiri.
Ophy60
Apakah Hermawan juga korban ??
sabana: lanjutkan baca kak
total 1 replies
Ophy60
Sepertinya menarik kak...
sabana: lanjutkan kak, semoga suka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!