NovelToon NovelToon
Rumah Yang Mengingat Namaku

Rumah Yang Mengingat Namaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Rumahhantu / Hantu / TKP
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?

Malam Membuka Tanah

Seharian penuh sebelum malam ketujuh itu, rumah terasa seperti menahan napas.

Tidak ada suara aneh, tidak ada bau tanah, bahkan daun mangga di belakang pun nyaris tidak bergerak. Justru ketenangan itulah yang membuatku makin gelisah. Seperti laut yang terlalu tenang sebelum badai.

Ayah tidak banyak bicara sejak pagi. Dia hanya mondar-mandir di teras, merokok lebih banyak dari biasanya. Setiap kali menatapku, matanya terlihat seperti ingin mengatakan seribu hal tapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Dini menemaniku membereskan kamar. Dia melipat bajuku pelan, seolah sedang mempersiapkan seseorang untuk pergi jauh.

“Lo jangan mikir macam-macam,” katanya, berusaha terdengar santai. “Malam ini kita beresin semuanya, terus hidup normal lagi.”

Aku tersenyum tipis.

Normal.

Kata itu terdengar seperti bahasa asing.

Arga datang menjelang asar membawa beberapa barang: cangkul kecil, kain putih, garam kasar, dan botol air yang katanya sudah didoakan lagi oleh Pak Karso. Wajahnya jauh lebih tegang dari hari-hari sebelumnya.

“Kita mulai setelah isya,” katanya pada Ayah. “Sebelum 02.17.”

Ayah mengangguk tanpa membantah. Untuk pertama kalinya aku melihatnya benar-benar pasrah, bukan pada makhluk di bawah tanah, tapi pada kebenaran yang selama ini dia hindari.

Sore itu aku duduk lama di bawah pohon mangga—untuk pertama kali tanpa rasa ingin lari.

Tanah di sekitarnya masih cekung, bekas galian yang muncul sendiri beberapa malam lalu. Aku menyentuh permukaannya pelan. Dingin. Lebih dingin dari tanah biasa.

Di kepalaku terlintas bayangan anak bergaun putih itu.

Gantian ya, Kak…

Aku menarik napas dalam-dalam.

“Kalau kamu dengar,” bisikku pelan pada tanah, “aku nggak benci kamu. Aku cuma nggak mau jadi jalan yang salah.”

Angin berdesir sebentar, membuat daun mangga bergoyang. Entah jawaban atau cuma kebetulan.

Dini memanggilku dari teras.

“Sa, masuk. Jangan lama-lama di situ.”

Aku menurut.

Setelah isya kami berkumpul di ruang tengah: aku, Ayah, Dini, dan Arga. Tidak ada orang kampung lain yang berani terlibat. Mungkin mereka sudah cukup lama berpura-pura lupa.

Di atas meja kami meletakkan semua benda milik Ranti yang pernah muncul: sandal merah, jepit kupu-kupu, pita rambut, dan kalung bertuliskan namaku. Arga bilang semuanya harus dikembalikan ke tempat asalnya—ke lubang itu.

Ayah memandangi benda-benda tersebut dengan mata berkaca.

“Dia masih kecil sekali waktu itu,” katanya lirih.

Tidak ada yang menjawab.

Aku mengenakan lagi gelang hitam putih pemberian Pak Karso, yang entah bagaimana selalu kembali utuh meski sudah putus berkali-kali. Rasanya hangat di kulitku, satu-satunya hal yang membuatku merasa masih hidup.

“Kita cuma punya satu kesempatan,” kata Arga. “Kalau gagal, dia akan mengambil apa yang sudah dijanjikan.”

Semua mata menoleh padaku.

Aku mengangguk.

“Aku siap.”

Padahal di dalam dada, aku hancur ketakutan.

Kami mulai menggali sekitar pukul sepuluh.

Lampu darurat dipasang menghadap pohon mangga. Bayangan kami memanjang aneh di tanah, seperti bukan milik tubuh sendiri.

Ayah yang pertama menancapkan cangkul. Tangannya gemetar, tapi gerakannya mantap. Dini berdiri di dekatku sambil memegang senter. Arga mengawasi sambil berdoa pelan.

Tanahnya terlalu mudah dibuka.

Tidak ada akar melintang, tidak ada batu, seolah memang menunggu disentuh lagi.

Setiap mata cangkul masuk, bau yang keluar makin kuat—bau lembap bercampur amis, seperti ruang tertutup puluhan tahun.

Aku merasakan mual naik ke tenggorokan.

“Kalau kamu nggak kuat, masuk saja,” kata Ayah tanpa menoleh.

Aku menggeleng.

“Aku harus lihat.”

Galian makin dalam. Setengah meter. Satu meter.

Lalu cangkul Ayah mengenai sesuatu yang keras.

Bukan kayu seperti kotak sebelumnya, tapi permukaan lebih lebar.

Arga langsung menghentikan kami.

“Pelan-pelan.”

Kami menyibak tanah dengan tangan. Yang muncul pertama kali adalah sudut papan tua, lalu bagian lain yang lebih besar—seperti tutup peti kecil.

Dadaku berdetak gila.

Ayah terdiam lama sebelum berani membuka.

Di dalamnya tidak ada tulang, tidak ada mayat seperti yang kutakutkan.

Hanya kain putih terlipat rapi, dan di atasnya selembar kertas lusuh bertuliskan:

“Yang dipinjam akan dikembalikan lewat nama yang sama.”

Tulisan tangan Nenek.

Ayah terisak.

“Ini ulah kami semua,” katanya.

Belum sempat kami mencerna, angin tiba-tiba berhenti total. Suasana menjadi senyap pekat, bahkan suara jangkrik pun hilang.

Jam di ponselku menunjukkan 01.40.

Waktunya makin dekat.

Kami menaruh satu per satu benda milik Ranti ke dalam lubang: sandal, jepit rambut, pita, kalung. Setiap benda menyentuh dasar tanah, bulu kudukku berdiri.

Arga meminta Ayah berdiri di tepi lubang.

“Sekarang Bapak harus bicara. Jujur tanpa ditutup apa pun.”

Ayah mengangguk, suaranya bergetar.

“Ranti… kalau kamu dengar, Om minta maaf. Kami takut waktu itu. Kami bodoh. Seharusnya kamu nggak jadi harga untuk hidup kami.”

Angin berputar pelan.

Daun mangga bergesekan seperti suara langkah.

Dini merapat ke sampingku.

Dari dalam lubang terdengar bunyi kecil—seperti anak menarik napas.

Aku menahan diri agar tidak lari.

Ayah melanjutkan, hampir berteriak:

“Kami kembalikan semua milikmu! Kami lepas janji itu! Jangan ambil Raisa, dia nggak bersalah!”

Jam menunjukkan 02.10.

Tanah di dasar lubang mulai bergerak sendiri.

Pertama hanya getaran kecil, lalu makin jelas. Butir-butir tanah bergulir ke atas seperti didorong dari bawah.

Arga menarikku mundur.

“Dia datang.”

Bau itu muncul lagi—lebih pekat dari malam mana pun.

Dari dalam lubang terdengar suara anak kecil tertawa pelan.

Lalu tangan pucat menyembul, diikuti kepala yang sangat kukenal.

Ranti keluar perlahan, bukan seperti bangkit, tapi seperti naik dari kolam gelap.

Dia berdiri di tengah lubang, menatap benda-benda di sekitarnya.

“Kakak bawa mainanku pulang,” katanya riang.

Ayah jatuh berlutut.

“Pulanglah dengan benar, Nduk. Jangan lewat Raisa.”

Ranti menoleh padaku.

Matanya tidak lagi kosong seperti dulu. Ada kebingungan di sana.

“Tapi janji bilang harus ada gantian.”

Di belakangnya, sosok perempuan tanpa wajah muncul lagi—kali ini lebih jelas, tubuhnya tinggi seperti bayangan pohon.

Dia berbisik dengan suara serak:

“Perjanjian belum lunas.”

Arga maju satu langkah.

“Perjanjian manusia bisa dibatalkan dengan pengakuan dan pengembalian.”

Sosok itu tertawa pendek, suara yang membuat tanah ikut bergetar.

“Tidak semudah itu.”

Lampu darurat berkedip.

Jam 02.16.

Aku merasakan tarikan aneh di dadaku, seperti ada tali tak terlihat menghubungkanku dengan Ranti. Semakin dekat jarum jam, semakin kuat tarikan itu.

Ranti mengulurkan tangan padaku.

“Ayo, Kak. Di bawah nggak sesakit di atas.”

Aku hampir melangkah sebelum Dini memelukku erat.

“Jangan dengerin dia, Sa!”

Ayah berdiri di depanku, menghadang.

“Ambil aku saja!” teriaknya. “Aku yang ikut janji itu!”

Sosok tanpa wajah mendekat ke arah Ayah, mengamati seperti menimbang barang.

“Terlambat,” desisnya.

Jam 02.17.

Semua lampu padam.

Dalam gelap total, aku mendengar banyak suara sekaligus: tangisan, doa Arga, teriakan Ayah, dan tawa Ranti yang bercampur dengan desis makhluk itu.

Tubuhku ditarik ke depan.

Aku merasakan kakiku menyentuh tepi lubang.

Dingin luar biasa merayap naik sampai pinggang.

Di kepalaku muncul gambar-gambar bukan milikku: Ranti bermain di bawah mangga, Ranti menangis memanggil ibunya, Ranti sendirian di tempat gelap bertahun-tahun.

Air mataku mengalir.

“Aku ngerti sakitmu,” bisikku. “Tapi aku juga mau hidup.”

Tiba-tiba gelang di tanganku panas sekali.

Cahayanya menyala samar di tengah gelap.

Arga berteriak membaca doa lebih keras. Dini memegang bahuku dari belakang, Ayah memeluk kakiku agar tidak maju lagi.

Ranti menatap gelang itu dengan bingung.

“Kakak masih punya tali sendiri,” katanya lirih.

Untuk pertama kalinya sosok tanpa wajah tampak ragu.

Aku memberanikan diri bicara pada Ranti, bukan pada makhluk di belakangnya.

“Kamu bukan barang titipan. Kamu anak yang harus pulang dengan cara benar. Bukan lewat tubuhku.”

Angin berhenti.

Suara-suara menghilang satu per satu.

Ranti memandang benda-benda di lubang—mainannya, pitanya, kalungku.

“Aku capek main sendiri,” katanya pelan.

Aku mengulurkan tangan, bukan untuk menerima, tapi untuk mengantar.

“Pulanglah lewat jalanmu.”

Air mata jatuh dari matanya—air mata hitam seperti lumpur.

Sosok tanpa wajah menjerit marah, mencoba menariknya kembali, tapi Arga melemparkan segenggam garam dan air doa ke arah lubang.

Cahaya kecil muncul dari dalam tanah.

Ranti menoleh terakhir kali padaku.

“Terima kasih, Kak.”

Tubuhnya perlahan memudar, berubah jadi serpihan seperti abu yang terbang ke atas.

Sosok tanpa wajah menjerit sekali lagi, lalu ikut tersedot ke dalam cahaya itu.

Tanah menutup sendiri seperti mulut yang selesai bicara.

Lampu menyala kembali.

Jam di dinding menunjukkan 02.18.

Kami terdiam lama sekali.

Lubang di bawah mangga kini tertutup rapat, seolah tidak pernah digali. Bau tanah hilang, udara kembali normal.

Ayah memelukku sambil menangis keras. Dini ikut terduduk lemas. Arga bersandar ke batang mangga dengan wajah pucat tapi lega.

Untuk pertama kalinya sejak aku pindah ke sini, malam terasa benar-benar sunyi—bukan sunyi yang menunggu, tapi sunyi yang selesai.

Tapi di tanganku, kalung bertuliskan namaku masih tersisa.

Tulisan di liontinnya berubah pelan menjadi satu kata:

“Hidup.”

Aku menatapnya lama.

Aku tidak tahu apakah semuanya benar-benar berakhir.

Yang kutahu, malam ini aku memilih untuk tetap menjadi Raisa.

Dan pilihan itu baru awal dari perjalanan panjangku pulang pada diriku sendiri.

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 S͠ᴜʟʟy☠ᵏᵋᶜᶟ
Rahasia apa di rumah tua itu ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!