"Kau tahu apa masalahmu, Salena? Kau terlalu sibuk menjadi sempurna sampai lupa caranya menjadi manusia." — Zane Vance.
"Dan kau tahu apa masalahmu, Vance? Kau pikir dunia ini panggung sirkusmu hanya karena teman-teman bodohku memanggilmu Dewa. Dasar alay." — Salena Ashford
Zane Vance (21) pindah ke Islandia bukan untuk mencari musuh. Tapi saat di hari pertama dia sudah mendebat Salena Ashford—si putri konglomerat kampus yang kaku dan perfeksionis—perang dunia ketiga resmi dimulai.
Semua orang memuja Zane. Mereka memanggilnya "Dewa dari New York" karena pesonanya yang bad boy, dingin, dan Urakan Ganteng (ini kata teman Selena), kecuali Salena.
Namun, semakin keras Salena berusaha menendang Zane dari tahtanya, semakin ia terseret masuk ke dalam rahasia hidup cowok itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia Besar
Suasana di ruang kerja Tuan Ashford yang berlapis kayu ek tua terasa begitu mencekik. Aroma cerutu mahal dan buku-buku kuno memenuhi ruangan, namun yang paling mendominasi adalah aura otoritas dari pria yang duduk di balik meja besar itu.
Zane berdiri tegak, sementara Salena duduk di kursi beludru di sampingnya, berusaha menyembunyikan rasa tidak nyaman pada tubuhnya yang masih sensitif akibat penyatuan mereka semalam.
Tuan Ashford meletakkan sebuah map dokumen, lalu menatap Zane dengan tatapan yang seolah bisa menembus tulang belulang.
"Zane Sebastian Vance," ucapnya dengan nada rendah namun menggelegar. "Aku mengenal silsilah keluargamu. Aku tahu betapa bebas dan liarnya dunia kalian di New York. Uang, kekuasaan, dan wanita adalah konsumsi harian di sana. Tapi dengarkan aku baik-baik..."
Ayah Salena berdiri, berjalan perlahan mengitari mejanya hingga ia berdiri tepat di depan Zane. Tinggi mereka hampir setara, menciptakan ketegangan yang kasat mata.
"Jangan bawa dunia bebas mu itu pada putriku," peringatan itu keluar dengan tajam. "Salena adalah mahkota keluarga Ashford. Di Islandia, kami memegang teguh kehormatan. Jadi, aku berikan kau satu peringatan keras, Jangan sentuh dia sebelum waktunya, Zane."
Zane terdiam, rahangnya mengeras. Ia merasakan telapak tangannya dingin, sementara Salena di sampingnya menahan napas.
"Aku tidak akan pernah memberikan restu, bahkan aku akan memastikan kau dideportasi dari negara ini dalam waktu satu jam, jika kau berani merusak putriku sebelum kau mengucapkan sumpah di depan altar," tegas Tuan Ashford, matanya berkilat penuh ancaman.
"Aku ingin dia tetap suci hingga hari pernikahannya. Apakah kau mengerti, anak muda?"
Zane menelan ludah dengan susah payah. Kata-kata itu menghantamnya seperti palu godam.
Rasa bersalah seketika menjalar di sekujur tubuhnya saat ia mengingat kembali desahan Salena dan gairah panas yang mereka lewatkan beberapa jam yang lalu di kabin pegunungan. Ia telah melanggar batas yang baru saja ditetapkan oleh ayah Salena.
Zane melirik ke arah Salena yang tertunduk, wajah gadis itu memerah padam. Zane tahu, jika ia terlihat ragu sekarang, Tuan Ashford akan curiga.
"Saya mengerti, Tuan Ashford," jawab Zane dengan suara yang dipaksakan untuk tetap tenang dan mantap.
"Saya sangat menghormati Salena. Kehadiran saya di sini adalah untuk menjaganya, bukan untuk merusaknya."
"Bagus," sahut ayahnya pendek. "Karena jika aku menemukan satu saja noda pada kehormatannya karena ulahmu, kekuasaan keluarga Vance di New York tidak akan cukup untuk menyelamatkanmu dariku."
Zane mengangguk kaku, meski hatinya bergemuruh. Ia merasa seperti seorang penipu yang berdiri di depan hakim. Namun, di sisi lain, ia semakin bertekad untuk segera menghalalkan Salena agar ia tidak perlu lagi bersembunyi di balik bayang-bayang.
Saat mereka keluar dari ruang kerja itu, Zane baru bisa bernapas lega. Begitu berada di koridor yang sepi, ia menarik Salena ke sudut pilar.
"Sal..." bisik Zane lirih, matanya menatap Salena dengan rasa bersalah sekaligus keinginan yang masih membara. "Ayahmu... dia akan membunuhku jika dia tahu apa yang kita lakukan semalam."
Salena menghela napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya. "Maka pastikan dia tidak pernah tahu, Zane. Setidaknya sampai kau benar-benar membawaku ke depan altar itu."
Zane tersenyum tipis, mencium kening Salena dengan lembut. "Aku akan mempercepat waktu itu, Salena. Aku tidak ingin menunggumu terlalu lama."
Zane tahu, jika ia hanya diam, ia adalah seorang pengecut. Dengan langkah yang dipaksakan untuk tidak goyah, ia kembali memasuki ruang kerja itu, meninggalkan Salena yang menatapnya dengan penuh tanda tanya di ambang pintu.
"Tuan Ashford," suara Zane memecah keheningan ruangan.
Ayah Salena mendongak dari dokumennya, alisnya bertaut. "Ada lagi, Vance?"
"Saya ingin meminang Salena," ucap Zane tanpa basa-basi. Suaranya lantang, meski jantungnya berdegup kencang.
"Saya ingin menikahinya secara resmi. Sesegera mungkin. Saya tidak ingin hubungan ini hanya sekadar kencan biasa. Saya ingin dia menjadi istri saya."
Tuan Ashford terdiam sejenak, lalu tawa kering yang meremehkan keluar dari bibirnya. Ia menyandarkan punggung, menatap Zane seolah pria muda di depannya sedang mengucapkan lelucon konyol.
"Menikah?" tanyanya sinis. "Kalian baru bertemu beberapa minggu. Kalian baru memulai hubungan ini. Dan kau, seorang pewaris Vance yang terkenal dengan kehidupan malam Manhattan, datang ke sini meminta izin menikah?"
Tuan Ashford berdiri, berjalan mendekat dengan tatapan mengintimidasi. "Siapa yang tahu jika besok atau lusa kau akan bosan, Zane? Siapa yang menjamin kau tidak akan membuang putriku saat kau merindukan gemerlap New York? Pernikahan bukan pelarian dari rasa takutmu pada Kharel atau Phoenix. Jawaban saya adalah tidak."
Zane terdiam seribu bahasa. Ia mematung di tengah ruangan, tidak bergeming sedikit pun. Namun, di balik diamnya itu, badai sedang mengamuk di dalam kepalanya.
Setiap kata bosan yang diucapkan ayah Salena justru memicu memori sensorik yang menyiksa. Teriakan tertahan Salena saat puncak kenikmatan semalam, deru napasnya yang memburu di ceruk leher Zane, dan bagaimana jemari lentik Salena mencengkeram bahunya, semuanya memutar seperti kaset rusak yang tak bisa dihentikan.
Bagaimana bisa aku bosan? batin Zane berteriak. Aku sudah memilikinya seutuhnya. Aku sudah merusaknya di mata hukum mu, Tuan Ashford.
Zane merasa seperti berdiri di atas lapisan es yang sangat tipis. Ia ingin berteriak bahwa ia sudah melampaui batas itu, bahwa Salena sudah menjadi miliknya dalam arti yang paling intim. Namun, ia tahu satu kata saja tentang malam itu akan menjadi akhir dari hidupnya di Islandia.
"Saya serius, Tuan," gumam Zane akhirnya, suaranya kini terdengar rendah dan sarat akan emosi yang tertahan. "Saya tidak akan pernah bosan padanya. Dia adalah satu-satunya alasan saya merasa hidup kembali."
"Buktikan dengan waktu, bukan dengan kata-kata," pungkas Tuan Ashford dingin. "Sekarang, keluar. Dan ingat pesanku tadi: jangan berani-berani menyentuhnya."
Zane berbalik dengan kaku. Saat ia keluar dari ruangan, ia mendapati Salena masih menunggunya dengan wajah pucat. Zane hanya bisa menatap Salena dengan tatapan penuh luka dan hasrat yang tersiksa. Ia merasa sangat berdosa, namun di saat yang sama, ia tahu bahwa ia akan melakukan hal yang sama seribu kali lagi jika itu artinya ia bisa memiliki Salena.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading 🥰