Arka terbangun dari tidur panjang selama tiga tahun tanpa membawa satu pun kepingan memori tentang siapa dirinya. Ia hidup dalam raga yang sehat, namun jiwanya terasa asing, terjebak dalam rasa bersalah yang tak bernama dan duka yang bukan miliknya. Di sisi lain, Arunika baru saja menyerah pada penantiannya. Selama tiga tahun, ia menunggu seorang pria dari aplikasi bernama Senja yang menghilang tepat di hari janji temu mereka di Jalan Braga. Pencarian Arunika berakhir di sebuah nisan yang ia yakini sebagai peristirahat terakhir kekasihnya.
Namun, takdir memiliki cara yang ganjil untuk mempertemukan mereka kembali. Di sebuah halte yang lembap dan kafe tua di sudut Braga, Arka dan Arunika duduk bersisian sebagai dua orang asing yang berbagi rasa sakit yang sama. Arka dihantui oleh bayangan janji yang ia lupakan, sementara Arunika terombang-ambing antara kesetiaan pada masa lalu dan debaran aneh yang ia rasakan pada pria bernama Arka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DINDING RASA BERSALAH
Di sebuah kamar kost kecil yang hangat dengan aroma lilin aromaterapi, Arunika duduk termenung di depan layar laptopnya. Awalnya, ia hanya berniat merapikan kotak masuk email lamanya yang sudah penuh sesak dengan notifikasi sampah. Namun, satu nama pengirim di folder archive yang tak sengaja tersentuh membuatnya membeku.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat membaca deretan huruf di alamat email itu: arka_wiratama@gmail.com.Ia membuka pesan yang terkirim tepat tiga tahun lalu, di malam yang paling dibenci sekaligus paling dirindukannya.
Subjek: Aku minta maaf, Nika.
"Aku minta maaf, Nika. Aku benar-benar menyesal. Tadi aku habis bantu temanku, ada urusan mendesak yang tidak bisa kutinggalkan begitu saja. Aku tahu aku terlambat, tapi tolong jangan pergi. Kamu di mana? Aku dalam perjalanan ke halte sekarang. Kamu blokir aku di semua media sosial, aku tidak bisa menghubungi kamu lewat telepon. Tolong, Nika... tunggu aku."
Arunika menutup mulutnya dengan tangan yang bergetar hebat. Air mata mulai menggenangi kelopaknya. Selama tiga tahun ini, ia hidup dengan rasa benci dan kecewa yang mendalam. Ia mengira "Senja"—pria dari Jogja yang ia kenal lewat dunia maya—sengaja meninggalkannya begitu saja di halte Braga tanpa kabar, hanya untuk mempermainkan perasaannya.
"Jadi... pria itu Arka?" bisiknya parau. "Senja-ku... adalah Arka?"
Pikirannya melayang kembali ke masa itu. Ia adalah gadis dari Jogja yang nekat datang ke Bandung demi menemui pria yang berjanji akan memberinya kepastian di bawah lampu jalan Braga. Karena lelah menunggu di tengah hujan badai dan merasa dikhianati, Arunika mematikan ponselnya, memblokir nomor pria itu, dan pulang ke Jogja dengan hati yang hancur. Ia tidak pernah tahu bahwa di detik ia mematikan ponselnya, pria itu sedang bertaruh nyawa di jalanan untuk menemuinya.
"Berarti dia kecelakaan dan koma karena mengejarku?" Isakan Arunika pecah. "Dia menderita selama tiga tahun karena aku memutus akses komunikasi kami saat dia sedang berjuang untuk datang..."
Di saat yang sama, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru di depan pintu kostnya. Pintu diketuk dengan tidak sabar.
Arka berdiri di sana, napasnya masih tersengal, jaketnya lembap oleh udara malam. Saat pintu terbuka, ia langsung menatap Arunika yang wajahnya sudah sembap oleh air mata.
Arka: (Suaranya bergetar) "Nika... Aku baru dari Sumedang. Aku ketemu Danila. Dia bilang aku mengejar seorang gadis dari Jogja malam itu. Katakan padaku... apakah gadis itu kamu?"
Arunika tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangkat layar laptopnya, memperlihatkan email yang baru saja ia baca. Arka mematung. Ia mendekat, membaca baris demi baris tulisan yang pernah ia ketik dengan kepanikan luar biasa tiga tahun lalu.
Arka: (Menutup mata, air matanya jatuh) "Jadi benar... Itu kamu. Kamu wanita yang aku cari di tengah hujan itu, Nika."
Arunika: (Menangis tersedu-sedu) "Kenapa kamu nggak bilang dari dulu, Arka? Kenapa takdir harus sekejam ini? Selama tiga tahun aku membencimu. Aku mengira kamu pengecut yang membiarkanku sendirian di kota asing. Ternyata... kamu hampir mati karena aku."
Suasana di kamar kost itu mendadak mendingin. Isakan Arunika yang tadinya terdengar penuh kerinduan, kini berubah menjadi getaran hebat karena rasa bersalah yang menghunjam relung hatinya. Ia melepaskan genggaman tangan Arka, mundur beberapa langkah hingga punggungnya membentur lemari kayu.
Arunika: (Suaranya pecah, penuh penekanan) "Jangan mendekat, Arka. Tolong... jangan sekarang."
Arka: (Tertegun, tangannya masih menggantung di udara) "Nika? Kenapa? Kita sudah tahu kebenarannya sekarang. Ini takdir, Nika. Kita dipertemukan lagi supaya aku bisa menebus kesalahan itu."
Arunika: (Menggeleng kuat-kuat, air mata mengalir deras) "Menebus apa? Kamu kehilangan tiga tahun hidupmu! Kamu koma, kamu menderita, dan kamu hampir mati karena aku yang egois malam itu! Kalau saja aku nggak mematikan ponsel, kalau saja aku nggak memblokir nomormu karena emosi sesaat, kamu pasti masih punya ingatanmu. Kamu nggak akan kehilangan waktu berharga di masa mudamu!"
Arka: "Nika, itu bukan salahmu. Aku yang terlambat datang—"
Arunika: (Memotong cepat) "Dan aku yang membuatmu mengejar maut! Aku membaca email ini, Arka. Kamu bilang kamu panik karena aku nggak bisa dihubungi. Kamu kecelakaan karena aku memutus satu-satunya cara kita berkomunikasi. Aku nggak bisa, Arka... Setiap kali aku melihat wajahmu sekarang, aku nggak melihat 'Arka yang baru'. Aku cuma melihat pria yang hidupnya hancur karena menunggu gadis bodoh dari Jogja."
Arka: "Tapi aku mencintaimu, Nika! Arka yang sekarang mencintaimu, dan Arka yang dulu juga mencintaimu sampai rela mempertaruhkan nyawanya."
Arunika: "Itu dia masalahnya!" (Arunika berteriak kecil di tengah tangisnya). "Cinta itu yang bikin kamu hancur. Aku nggak sanggup menanggung beban ini. Setiap kali kita makan bareng, jalan bareng, atau kamu tersenyum padaku, aku akan selalu teringat bahwa senyum itu harus dibayar dengan tiga tahun kamu terbaring kaku di rumah sakit."
Arunika menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan. Ia merasa menjadi racun di hidup Arka.
Arunika: "Pergi, Arka. Aku minta tolong... jangan temui aku lagi. Cari hidupmu yang hilang. Cari kebahagiaan yang nggak ada hubungannya dengan gadis yang hampir membunuhmu."
Arka: (Suaranya rendah, menahan perih) "Kamu serius? Kamu mau kita kembali jadi orang asing setelah semua ini?"
Arunika: "Lebih baik kita jadi orang asing daripada aku terus-menerus melihat luka yang aku ciptakan di hidupmu. Tolong, Arka... keluar dari sini. Jangan buat aku makin merasa bersalah."
Arka berdiri mematung di ambang pintu. Ia melihat gadis yang paling ia cintai kini meringkuk dalam trauma dan rasa bersalah yang begitu dalam. Arka tahu, memaksa tinggal hanya akan membuat Arunika makin sesak. Dengan berat hati, ia melangkah mundur.
Arka: "Aku pergi kalau itu mau kamu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Nika... Kecelakaan itu bukan hukuman buat aku. Itu adalah bukti kalau di dunia ini, ada satu orang yang sangat berarti sampai aku nggak peduli lagi sama nyawaku sendiri. Dan orang itu kamu."
Arka berbalik, berjalan menyusuri lorong kost yang sepi. Di belakangnya, ia mendengar suara pintu yang terkunci rapat, diikuti isakan pilu Arunika yang pecah di balik kayu itu. Mereka kini terpisah lagi—bukan oleh jarak Jogja dan Bandung, bukan oleh koma, tapi oleh dinding rasa bersalah yang jauh lebih tebal.
Bandung pagi itu terasa seperti kota mati bagi Arka. Kabut tipis yang turun tidak hanya membawa dingin, tapi juga firasat buruk yang merayap di dadanya. Ia berdiri mematung di depan pagar kost Arunika, menggenggam plastik berisi bubur ayam yang mulai mendingin dan setangkai mawar putih yang terasa semakin berat.
Matanya tertuju pada kamar nomor tiga. Kosong. Tidak ada lagi sepatu kets putih di keset, tidak ada lagi gantungan kunci kucing di pintu. Arka merogoh ponselnya, mencoba mengirim pesan satu kali lagi, namun layar hanya menampilkan centang satu yang membeku.
"Ibu!" panggil Arka setengah berlari saat melihat sang pemilik kost sedang menyapu halaman. "Bu, Arunika mana? Kok kamarnya bersih sekali?"
Ibu kost itu menghentikan aktivitasnya, menatap Arka dengan sorot mata iba yang membuat jantung Arka mencelos.
"Mas Arka... Mbak Nika sudah berangkat tadi subuh sekali," jawabnya pelan. "Barang-barangnya sudah dipaketin kargo semalam. Katanya mau pulang ke Jogja dan tidak akan kembali lagi."
Dunia Arka seolah berhenti berputar. Kantong plastik di tangannya terlepas, jatuh begitu saja ke semen yang lembap.
"Dia... tidak meninggalkan alamat, Bu? Atau pesan?" suara Arka bergetar, nyaris hilang tertiup angin.
"Tidak ada alamat, Mas. Dia cuma titip pesan singkat," Ibu kost itu menghela napas. "Katanya: 'Tolong bilang ke Mas Arka, jangan dicari lagi. Biarkan semuanya selesai di sini. Dia berhak bahagia tanpa beban sepertiku.'"
Arka terduduk lemas di tangga semen. Kalimat itu menghantamnya lebih keras daripada benturan aspal tiga tahun lalu. Arunika tidak lari karena benci; ia lari karena rasa bersalah yang membakarnya hidup-hidup.
"Kamu bodoh, Nika," gumam Arka sambil menatap mawar putih yang kini tergeletak di samping kakinya. "Kamu pikir dengan menghilang, beban ini hilang? Kamu justru meninggalkan lubang yang lebih besar di hidupku."
Ingatannya melayang pada malam kecelakaan itu. Dulu, ia gagal menemui Arunika karena maut menghalanginya. Kini, setelah ia berhasil mengingat segalanya, ia kembali kehilangan gadis itu karena dinding yang dibangun Arunika sendiri.
"Nggak," Arka tiba-tiba bangkit, matanya yang tadi meredup kini berkilat penuh tekad. "Tiga tahun aku kehilangan waktu karena koma. Aku nggak akan membiarkan sisa hidupku hilang lagi karena menyerah pada ketakutanmu."
Arka memungut mawar itu, membersihkan debu yang menempel di kelopaknya. Ia tidak akan membiarkan sejarah pahit di halte itu terulang kembali. Jika Arunika memilih pulang ke Jogja untuk bersembunyi, maka Arka akan menjadikan Jogja sebagai pemberhentian terakhirnya.
"Bu, kereta ke Jogja paling pagi jam berapa?" tanya Arka tegas.
"Mas mau nyusul?"
"Saya nggak mau jadi pria yang terlambat untuk kedua kalinya, Bu."
Arka membalikkan badan, berlari menuju jalan raya. Ia tidak peduli jika ia harus menggeledah seluruh sudut kota Jogja. Kali ini, mawar putih itu harus sampai ke tangan pemiliknya, bukan berakhir layu di atas trotoar Bandung yang sunyi.
Gemini said
Arka berdiri mematung di ujung peron, debu dan asap tipis kereta menyapu wajahnya yang kuyu. Gemuruh roda besi yang beradu dengan rel perlahan mengecil, meninggalkan kesunyian yang mencekik di tengah keramaian stasiun. Punggung kereta Argo Wilis itu akhirnya menghilang di balik tikungan rel, membawa pergi satu-satunya alasan Arka untuk tetap terjaga.
Ia menunduk, menatap telapak tangannya yang masih terasa panas bekas menggedor kaca jendela gerbong tadi.
Arka: (Berbisik parau, nyaris tak terdengar) "Hilang bukan cara terbaik, Nika... Kamu bahkan nggak pernah kasih aku kesempatan buat bilang kalau aku nggak menyesal sedikit pun."
Ia menarik napas panjang, mencoba mengisi rongga dadanya yang terasa kosong melompong. Perasaan sesak yang biasanya menghampiri setiap sore di halte kini datang berlipat ganda, menghantamnya dengan kenyataan bahwa kali ini, dialah yang ditinggalkan di halte kehidupan.
Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel yang layarnya masih menampilkan foto profil Arunika yang kini menghilang—tanda bahwa ia benar-benar telah diputus dari dunia gadis itu. Jarinya bergerak gemetar di atas papan ketik, menuliskan pesan yang ia tahu mungkin hanya akan berakhir dengan tanda centang satu yang abadi.
Arka: "Aku nggak akan berhenti di sini. Tiga tahun lalu aku kecelakaan karena ingin menemuimu di halte. Kalau sekarang aku harus mengejarmu sampai ke ujung Jogja hanya untuk bilang aku sayang kamu, itu hal paling kecil yang bisa aku lakukan dibanding penantianmu selama ini."
Ia menekan tombol kirim. Statis. Tak ada balasan, tak ada tanda pesan terbaca. Namun, ada sesuatu yang berubah di sorot mata Arka. Kesedihan itu perlahan mengeras menjadi tekad yang dingin.
Arka: (Batin) "Tunggu aku di Jogja, Nika. Kamu boleh lari dari Bandung, kamu boleh lari dari kenangan halte itu, tapi kamu nggak akan bisa lari dari takdir kita yang bahkan maut pun gagal memutusnya."
Arka membalikkan badan, berjalan keluar dari stasiun dengan langkah yang mantap. Ia tidak menuju ke rumah, melainkan ke loket pembelian tiket bus atau kendaraan apa pun yang bisa membawanya lebih cepat ke arah timur.
Arka: (Berbicara pada petugas loket) "Satu tiket paling pagi ke Yogyakarta. Lewat jalur darat atau udara, apa saja, yang penting sampai sebelum kereta Malabar tiba di Stasiun Tugu."
Malam itu, di bawah temaram lampu jalan Bandung, sebuah janji baru terucap tanpa saksi. Bahwa Arka tidak akan membiarkan matahari terbenam besok tanpa ia berada di hadapan Arunika sekali lagi.
mampir juga yaa Thor di cerita aku "My Dangerous Kenzo"🙏👍