Aruna dan Genta adalah definisi air dan minyak. Di kantor penerbitan tempat mereka bekerja, tidak ada hari tanpa adu mulut. Namun di balik layar ponsel, mereka adalah dua penulis anonim yang saling mengagumi karya satu sama lain melalui DM NovelToon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kencan Terstruktur, Hasil Hancur
"Ini gue mau kencan atau mau wawancara kerja?" tanya gue pada diri gue yang ada di kaca apartemen gue. Genta ngirim pesan kalau dia bakal jemput jam empat sore teng. Bukan jam empat lewat lima, bukan jam empat kurang lima. Jam empat teng, itu sudah harga mati.
Dan bener aja, pas jarum jam tepat di angka dua belas, klakson mobilnya bunyi.
Genta turun dari mobil dengan tampilan yang bikin gue pengen gigit jari. Dia cuma pakai kaos polo putih dan celana chino, tapi auranya tetep kayak CEO yang mau akuisisi perusahaan. Dia nyodorin selembar kertas, bukan bunga, bukan cokelat. Selembar kertas.
"Ini apa, Pak?" tanya gue sambil masuk ke mobil.
"Itinerary," jawabnya santai sambil mulai nyetir. "Pukul 16.30 kita sampai di museum seni untuk apresiasi visual. Pukul 18.00 reservasi makan malam di restoran Prancis, saya sudah pilih menu yang minim risiko kolesterol. Pukul 20.00 kita pulang agar waktu istirahat kamu efisien."
Gue melongo. "Ini kencan, Genta! Bukan studi banding!"
"Perencanaan adalah kunci keberhasilan, Aruna," balasnya tanpa dosa.
Tapi semesta kayaknya lagi dipihak gue. Baru jalan sepuluh menit, Jakarta ngasih kejutan, macet total karena ada perbaikan jalan dan pipa bocor. Itinerary Genta yang rapi itu langsung berantakan. Wajahnya mulai tegang, dia bolak-balik liat jam tangan sementara mobil nggak gerak sama sekali.
"Sepuluh menit terbuang. Kita bakal telat ke museum," gumamnya, jarinya ngetuk-ngetuk setir dengan gelisah.
Gue yang tadinya mau marah malah jadi kasihan liat dia. Genta itu kalau naskah hidupnya nggak sesuai draf, dia langsung panik sendiri.
"Udah, batalin aja museumnya. Makan malamnya juga," kata gue santai.
"Nggak bisa, Aruna. Saya sudah reservasi tempat terbaik. Ini kencan pertama kita, harus berkesan."
"Berkesan itu nggak harus mahal dan ribet," gue buka sabuk pengaman, lalu nunjuk ke arah trotoar di seberang jalan yang rame banget sama kepulan asap wajan. "Lihat itu? Seblak Jeletot Mak Ijah. Itu jauh lebih berkesan buat perut gue sekarang daripada makanan Prancis yang porsinya cuma seuprit."
Genta ngelihat ke arah gerobak pinggir jalan itu dengan tatapan ngeri. "Aruna, higienitas tempat itu meragukan. Dan secara logika, makan di pinggir jalan saat polusi begini itu..."
"Banyak bicara! Ayo turun!" gue tarik tangannya paksa keluar dari mobil yang untungnya kejebak macet di samping trotoar.
Setengah jam kemudian, di sinilah kami. Duduk di atas kursi plastik kelir bakso, dikelilingi suara klakson dan bau knalpot. Genta duduk dengan posisi kaku, takut celana mahalnya kena debu, sementara di depannya ada seporsi seblak level lima yang pedas.
"Makan, Pak Editor. Ini namanya revisi rencana,"
..."Makan, Pak Editor. Ini namanya revisi rencana,"...
goda gue sambil nyuap kerupuk basah dengan nikmat.
Genta ragu, tapi akhirnya dia nyoba satu sendok kecil. Detik berikutnya, wajahnya langsung merah. Dia mulai batuk-batuk, buru-buru nyari air minum, sementara gue ketawa sampai sakit perut.
"Aruna... ini... ini nggak masuk akal. Kenapa orang suka makan api?" tanyanya sambil ngos-ngosan, tapi dia malah nyendok lagi karena penasaran.
Di tengah keringat yang bercucuran dan rasa pedas yang nampol, Genta tiba-tiba ketawa. Bukan tawa jaim atau senyum tipis, tapi tawa lepas yang bikin orang-orang di sekitar nengok.
"Kenapa ketawa?" tanya gue heran.
"Ternyata benar," dia natap gue sambil ngusap keringat di dahinya pakai tisu. "Sama kamu, rencana paling sempurna saya pun tetap jadi typo. Tapi anehnya, saya nggak keberatan. Makan seblak di sini... jauh lebih enak daripada bayangan saya soal restoran Prancis tadi."
Gue terdiam, ngerasain panas di pipi gue bukan lagi karena cabai, tapi karena kata-katanya. Di pinggir jalan yang berisik ini, tanpa gaun mewah atau makanan mahal, gue ngerasa kencan ini adalah draf hidup gue yang paling juara.
"Berarti habis ini jangan kaku-kaku lagi ya?"
Genta senyum, lalu dengan berani dia nyolek ujung hidung gue yang kena kuah seblak. "Tergantung. Kalau naskah kamu masih banyak typo, saya tetep bakal jadi monster."
Gue mendengus, tapi tangan gue di bawah meja diam-diam menggenggam tangannya yang besar. Kencan ini memang berantakan secara struktur, tapi secara rasa... ini sempurna.
genta sama aruna biar sambil joget 🤭
Mungkin bisa ditambah kata-kata seperti “seolah-olah”, “kayaknya”, atau “gue merasa” biar tetap konsisten.
Overall adegannya sudah tegang banget kok, ini cuma detail kecil aja 🤍 Maaf ya kak🫣🙏🏻🙏🏻