NovelToon NovelToon
Its Always Been You, Fraya

Its Always Been You, Fraya

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cintapertama / Enemy to Lovers
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Juno Bug

Damian Harding terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Ia adalah pusat semesta Milford Hall—ditakuti, dipuja, dan tak pernah ditolak.

Sampai Fraya Alexandrea datang.

Gadis Indonesia yang tak tertarik pada popularitas, tak gentar pada reputasi, dan tak mau tunduk pada nama besar Harding.

Penolakan Fraya bukan sekadar luka bagi Damian—itu menjadi tantangan. Apa yang dimulai sebagai permainan ego perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap.

Rindu. Candu. Obsesi.

Dan di sekolah elite yang penuh rahasia itu, tidak semua cinta datang dengan cara yang indah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Juno Bug, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pink Tape And A Walkman

​Siang itu angin berembus begitu sejuk. Pada musim gugur yang seolah tengah bersiap menyambut dekapan musim dingin di penghujung November ini, hembusannya mulai terasa menyengat, meninggalkan sensasi gigil di permukaan kulit.

​Arnelia duduk—atau lebih tepatnya, setengah terbaring—di atas sofa empuk di halaman belakang rumahnya yang begitu luas. Mantel tebal yang dikenakannya membungkus tubuh dengan rapat, sebuah upaya untuk menghalau dingin yang sejak tadi mencoba menusuk hingga ke tulang.

Ia merapatkan syalnya, hingga kain itu nyaris menutupi sebagian wajahnya yang tampak pucat.

​Harley, pelayan setia yang berdiri mematung di sampingnya, melirik sekilas. Mungkin dalam hatinya ia sedang bertanya-tanya.

Kalau memang sudah tahu kedinginan, kenapa Nyonya tetap memaksakan diri duduk di luar begini?

Namun, ia tetap setia menunggu sang nyonya besar yang terkenal memiliki hati selembut malaikat itu.

​Arnelia mengalihkan pandangannya sejenak dari kerumunan anak-anak yang asyik bermain, lalu menoleh pada Harley yang masih memegangi selimut tambahan.

"Harley, kau bisa masuk saja ke dalam rumah. Udara sedang sangat dingin saat ini. Pergilah dan hangatkan badanmu," perintah Arnelia Harding dengan suara yang terdengar agak serak.

​"Tidak apa-apa, Nyonya. Saya akan tetap di sini kalau-kalau Nyonya butuh saya," jawab Harley dengan nada hormat yang kental.

​Arnelia hanya tersenyum samar, senyum yang terlihat sedikit letih.

"Aku baik-baik saja. Lagipula, aku tidak memerlukan lebih banyak bantuan karena untuk saat ini sudah cukup."

​Harley menatap wanita yang sudah ia layani jauh sebelum Arnelia menikah dengan keluarga Harding. Ada gurat kesedihan yang coba ia sembunyikan di balik wajah datarnya. Sang pelayan tetap enggan beranjak, ia menggeleng sopan pada majikannya yang terlihat semakin pucat di bawah sinar matahari musim gugur.

​Arnelia akhirnya pasrah. Ia tak lagi memaksa pelayan setianya. Disesapnya segelas teh hangat yang uapnya masih mengepul tipis, sembari menjaga fokus pandangnya ke arah lapangan yang terhampar di depannya.

​Tak lama, salah seorang dari bocah-bocah itu berlari menghampirinya. Dengan gerakan tergesa, ia nyaris melompat ke arah sofa dengan keras. Harley yang sudah waswas sejak tadi langsung bersiap menangkap tubuh mungil itu, namun Arnelia lebih dulu merentangkan tangan.

​"It’s okay, Harley." Arnelia memberi isyarat agar pelayannya kembali ke posisi semula. Ia menunduk, menatap mata putranya dengan binar kasih sayang yang tak terbatas.

​"Kamu ini suka sekali bikin orang jantungan, ya!" goda Arnelia pura-pura marah. Namun, tawanya justru mengudara, diiringi jemari yang mencubit ujung hidung putranya dengan gemas.

​"Ibu, tape yang aku suruh Ibu keluarkan itu ke mana?" Nicholas—atau Nick—menuntut dengan wajah serius. Arnelia mengangkat alis sejenak sebelum tawanya kembali pecah.

"Astaga, kenapa kamu ingat saja, sih? Ibu pikir kamu tidak mau dengar."

​Nicholas, bocah berusia sembilan tahun itu, menggelengkan kepala dengan cepat. Tangannya terulur tinggi-tinggi, seolah sedang menagih janji pada langit.

Arnelia tersenyum, kembali mencubit hidung mancungnya sebelum mengeluarkan sebuah tape kecil berwarna merah muda dari balik bantal sandarannya. Usia benda itu jelas lebih tua dari Nicholas, terlihat dari beberapa baretan halus di sisinya yang menceritakan perjalanan waktu.

​Mata Nicholas berbinar seketika. Dengan gerakan tak sabar, ia menyambungkan kabel headphone hitam dan memasangnya ke telinga. Jemarinya menekan tombol "Play", dan seketika itu juga, tape tua itu mengalunkan melodi dalam bahasa Jerman—bahasa ibunya—yang membuat Nick mulai mengangguk-anggukkan kepala mengikuti ritme lambatnya.

​Arnelia tak bisa menyembunyikan kekagumannya. Ia mengecup puncak kepala Nicholas yang berambut keemasan, lalu menghela napas panjang—sebuah napas yang seolah ingin menyerap semua sisa kehidupan untuk ia simpan rapat-rapat dalam relung hatinya.

​"NICHOLAS, KAMU LAGI NGAPAIN?"

​Seorang gadis kecil dengan rambut pirang pucat yang menjuntai bak tirai sutra berlari menghampiri. Namanya Alana. Alana Highmore.

Merasa ada yang datang, Nicholas menurunkan headphone-nya.

​"Wahhh, tape-nya lucu sekali. Warnanya pink, lagi!" pekik Alana ceria.

​"Ini tape milik Ibuku. Lagunya bagus-bagus, kesukaan Ibu. Aku sedang mendengarkannya sekarang," sahut Nicholas penuh semangat.

​"Alana, ayo main lagi!" teriak Axel, bocah berambut keriting kecokelatan yang berdiri tak jauh dari sana sambil memegang tongkat golf kecil.

​Alana mengabaikan panggilan Axel.

"Aku boleh ikut mendengarkan lagunya tidak? Atau aku boleh pinjam sebentar tidak tape-nya?"

​"Tidak boleh!" tolak Nicholas tegas, membuat Alana maupun Arnelia terlonjak kaget.

​"Loh kenapa? Aku kan cuma mau pinjam sebentar. Aku janji tidak akan mengambilnya, kok," ujar Alana dengan bibir mengerucut gemas. Namun wajah memohon itu tak berhasil meluluhkan Nicholas.

​"Tetap tidak boleh. Tape ini dari Ibuku. Isinya lagu-lagu Ibuku yang kamu pasti tidak akan paham apa artinya," tandas Nicholas dengan gaya bicara yang sangat dewasa.

​Alana bersedekap, menatap Nicholas dengan jengkel. "Kok kamu pelit sekali, sih! Memangnya ada apa di dalam sana?"

​"Ini isinya lagu-lagu dari Ayahku. Lagu-lagu cinta pakai bahasa Jerman. Ibuku memberikan ini kepadaku supaya jika suatu saat nanti aku bertemu dengan orang yang aku sayang, aku akan memberikan ini sebagai bentuk rasa cintaku. Seperti dulu waktu Ayah memberikan ini kepada Ibu."

​Arnelia tertegun. Ia tak menyangka apa yang pernah ia ceritakan tersimpan begitu rapi dalam ingatan Nicholas. Bocah itu memahami arti cinta di balik benda tua itu jauh lebih dalam dari yang ia duga.

​"Memangnya kamu tidak menyayangiku? Kata Ayah kamu, kalau kita sudah besar nanti kan kita akan menikah," bantah Alana lagi dengan polos namun menuntut.

​Nicholas menggeleng tegas. "Kata Ibu, suatu hari nanti aku sendiri yang akan memilih jodohku. Bukan Ayah, bukan juga Ibu. Jadi suatu hari nanti kalau kita sudah besar dan aku memang sayang sama kamu, baru aku berikan tape ini, ya. Tapi untuk sekarang, biar kusimpan dulu. Karena aku belum tahu apakah jodohku memang kamu atau bukan."

​Arnelia tak kuasa menahan rasa terkejutnya, begitu pula Harley. Alana yang marah mengentakkan kakinya ke rumput. "Kamu pelit! Sudahlah, aku mau main saja dengan Axel. Main sama Axel lebih seru daripada main sama kamu!"

​Dalam sekejap, Alana sudah berlari kembali menuju Axel. Nicholas, yang seolah tak peduli, kembali memasang headphone-nya dan menikmati lagu itu sambil mengangguk kecil.

Arnelia hanya diam memandang putranya. Ada kekaguman yang tersirat dari mata hijaunya yang keemasan. Ia membelai rambut Nicholas, mengecup puncak kepalanya, dan sekali lagi menghirup dalam-dalam aroma musim gugur itu untuk disimpan selamanya.

°°°°

Damian menarik rapat jaket kulit hitamnya. Rambut keemasannya ia sibakkan sebelum memasang helm hitam pekat yang menutupi wajahnya. Begitu kunci diputar, mesin motor sport besarnya menderu redam merobek keheningan.

​Mesin itu menderu seolah melawan kencangnya angin, menembus cahaya matahari yang mulai bergeser turun menuju sore. Damian men starter motornya gila-gilaan, dengan decitan roda yang berputar cepat membawanya pergi secepat cahaya.

​Hari ini Damian memutuskan untuk mengendarai motornya yang sudah beberapa bulan ini tidak dikendarainya.

Ia sedang tak ingin mengendarai mobil, walaupun Adam Whitmore, supirnya yang sudah begitu setia mengantar tuan mudanya itu pergi kemanapun, sudah menawarkan diri untuk menyiapkan kendaraan Roll Royce Damian.

Urusannya kali ini harus segera diselesaikan, demi ketenangan batin Damian yang hari ini rasanya carut marut. Dan berada didalam mobil hanya akan memakan waktu terlalu lama.

Sampai detik ini Damian tak habis pikir dengan perubahan besar yang terjadi semenjak bertemu dengan Fraya Alexandrea. Bisa-bisanya hati Damian yang terkenal sekeras batu dan sedingin kutub ini mampu diruntuhkan oleh kehadiran gadis yang fungsinya kini sepenting oksigen.

​Damian membelah jalanan dengan kecepatan gila-gilaan, menyalip dengan keahlian sekelas pembalap handal demi memotong jarak menuju Milford.

Ia tak peduli lagi pada pelajaran yang ia lewatkan atau ribuan panggilan telepon dari teman-temannya hari ini. Ponselnya sejak pagi hanya berfungsi untuk menghubungi tiga orang. Dimana dua diantaranya mau menjawab, dan satunya ini masih konsisten untuk bungkam.

​Beberapa menit kemudian, Damian memasuki halaman Milford Hall yang megah bak kastil raksasa. Deru mesinnya langsung menarik perhatian massal. Disusul pekikan kagum terdengar dari siswi-siswi yang nyaris pingsan melihat Damian turun dan membuka helm, menampakkan rambut keemasannya yang berantakan tertiup angin.

Tampilannya terlihat berbahaya, menjadikan ketampanan Damian yang tak tersentuh ini langsung melambung tinggi. Tapi dasarnya Damian, peduli setan dia sama apapun yang sedang terjadi disekitarnya sekarang. Fokusnya datang ke Milford hanya satu: menemui cewek cantik sialan itu di kelas bahasa Jerman.

​Damian menyusuri koridor dengan langkah lebar dan wajah sedingin pahatan es di kutub utara. Dan tampang mengerikan bak dewa Zeus ini dengan sukses bikin siapa pun yang menghalangi jalan langsung minggir cepat-cepat.

Dengan masih melangkah lebar dan pasti, Damian meraih ponsel di saku jaket kulitnya. Jemarinya langsung menekan kontak yang sejak tadi dimandatkannya untuk mengamati keberadaan Fraya hari ini.

Robert Hastings, atau Damian biasa memanggilnya Robby, langsung menjawab panggilan bahkan sebelum nada sambung pertama selesai dimainkan.

​"Masih di sana?" tanya Damian dengan nada rendah tanpa basa-basi.

​"Masih, Bos. Tapi 10 menit lagi sepertinya dia akan selesai," jawab Robby tegas, khas intel yang sedang memberi laporan pada atasan langsung dari TKP.

Damian memutus panggilannya sepihak, dan kembali melangkah ke kelas bahasa Jerman.

Berdasarkan informasi dari Florence ketika Damian menghubungi teman karib Fraya itu siang tadi, Fraya ada kelas bahasa Jerman dan sedang ada kuis dadakan.

Tanpa pikir panjang, Damian pun langsung bergegas, mengabaikan tubuhnya yang masih limbung pengaruh alkohol dan obat-obatan yang ia konsumsi dengan sembrono semalam, demi sebuah misi yang sudah bikin Damian nyaris gila dari kemarin.

Ia harus bisa bikin Fraya bicara pada Damian hari ini. Apapun caranya.

​Sampai di depan kelas, jantung Damian seolah dipompa kuat saat mendengar suara menggelegar Mr. Müller menembus pintu, pertanda kelas Fraya belum selesai.

Sambil menunggu dalam was-was, Damian bersandar di samping pintu. Diam-diam cowok tampan nan sangar itu memanjatkan doa dalam hati, berharap semoga saja konfrontasi nekatnya hari ini justru tidak membuatnya dapat tamparan keras dari Fraya.

°°°°

60? Sialan, 60!?

​Fraya menatap nanar lembar kertas yang baru saja diletakkan Mr. Müller di atas mejanya. Hatinya mencelos, melihat sederet angka sialan yang ditulis dengan spidol merah dan dibulatkan tebal-tebal. Nilai yang hari ini ia peroleh untuk kuis dadakan sesi Hörverstehen atau sesi mendengarkan. Bagian paling Fraya rutuki bahkan sejak Mr. Müller mengumumkan akan mengadakan kuis dadakan sialan itu hari ini.

​Fraya mendesah lelah, masih belum bisa berhenti meratapi nilainya yang anjlok berkat kelemahannya di sesi mendengar ini sekaligus ketidakmampuannya untuk dapat fokus lagi belajar Bahasa Jerman sejak pertandingan bodoh Lacrosse beberapa hari yang lalu itu.

Terkutuklah Damian sialan dan rambut keemasannya yang mirip badai tornado.

​"Kamu dapat berapa?"

​Asa sudah bangkit dari kursinya. Fraya langsung menyadari bahwa kelasnya yang sudah bubar sejak beberapa menit yang lalu kini hanya menyisakan dirinya dan Asa yang sudah bertengger tepat disebelah meja Fraya.

Sambil mendesah berat tanpa mau berkata-kata, Fraya menyerahkan lembar hasil jawabannya pada Asa.

​Sambil menatap Fraya dengan iba, Asa menawarkan diri, "Kalau kamu mau, aku bisa kok gantikan Damian untuk jadi tutor bahasa Jerman kamu," tutur Asa lembut saat Fraya menarik kembali lembar jawabannya.

​"That would be nice, actually," tandas Fraya sambil menyunggingkan senyum setengah hati. "Tapi kata Mrs. Crabtree aku tidak bisa sembarangan minta ganti tutor. Aku juga tidak paham kenapa alasannya. Apakah memang sesulit itu, ya?"

​"Seharusnya sih tidak," tandas Asa, "tapi sejujurnya, aku juga kurang paham karena aku sendiri belum pernah ditugaskan untuk dapat bimbingan tambahan dari sekolah kita."

​Seperti bom yang baru saja dilepaskan, cowok berkacamata di depannya ini menyadari ada nada kesombongan yang tak sengaja dalam jawabannya barusan. Kalimat itu jelas menyentil situasi Fraya yang sedang merasa sangat malu akan hasil ujiannya.

​"Fraya— aku tidak bermaksud—"

​"Hey, dont worry about it. Aku tidak tersinggung, kok." Fraya mengibaskan tangannya di depan Asa, mencoba bersikap tegar meski hatinya sedang dongkol setengah mati.

​Asa baru saja akan membuka mulut untuk kembali melayangkan permintaan maaf ketika ponsel di saku celananya bergetar. Sambil memberi isyarat telunjuk pada Fraya untuk memintanya menunggu, Asa menjawab panggilan itu. "Hello? Oh shit man— sorry i forgot--"

​Fraya benar-benar sudah tidak mau berlama-lama lagi di sekolah. Saat melirik Apple Watch di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 4 sore, Fraya menepuk bahu Asa untuk meminta perhatian sebentar, yang masih sibuk berbicara di telepon. Tanpa suara, Fraya memberitahu Asa bahwa ia harus bergegas pulang lebih dulu. Asa yang ingin menahan kepergian Fraya akhirnya dilema, dan dengan terpaksa mengiyakan kepergian gadis itu.

​Fraya berderap cepat keluar dari kelas sambil masih menatap nanar lembar jawabannya yang rencananya akan ia bakar saja setibanya Fraya dirumah nanti.

​"60? Really, Ace?"

​Fraya terlonjak hebat saat sosok Damian mendadak muncul dari balik dinding luar kelas. Dengan reflek Fraya menekan telapak tangan di dadanya yang berdegup kencang, sambil buru-buru menyembunyikan lembar kertas itu dari pandangan Damian.

​Tanpa melempar kata, Fraya kembali berjalan cepat demi menghindari Damian. Namun Damian, dengan segala kegesitannya, langsung menyamai langkah Fraya di sampingnya.

​"Fancy meeting me here?" Damian bersiul menggoda.

​"Go to hell," tandas Fraya tanpa melirik sedikit pun.

​"Oh believe me, i've been in a hell for these couple days," gumam Damian. Walaupun terkesan meledek, suaranya yang parau terselip kejujuran yang sialnya gagal Fraya tangkap.

​"Oh, great to hear that," timpal Fraya tajam masih sambil jalan cepat-cepat menghindar dari Damian.

​"You haven't returning any of my calls." kata Damian masih sambil menyeimbangkan kecepatan kaki Fraya melangkah disebelahnya, "Any chance you want to tell me that your phone might be facing a malfunction?" Damian sengaja melempar pertanyaan dengan nada meledek yang dibuat santai. Sikap pongah Damian ini selalu berhasil memicu kegeraman Fraya.

​Fraya merogoh saku jasnya yang sejak tadi hanya disampirkannya di lengan, mencari ponsel yang sengaja ia matikan. Lalu mengangkatnya tinggi-tinggi didepan wajah Damian tanpa menoleh ke cowok itu sedikit pun, "Ponselku aman, terkendali. Hanya saja sistemnya sedang berusaha kubuat supaya semua panggilanmu langsung masuk saja ke kotak suara," desis Fraya dengan nada sarkasme yang langsung bikin Damian meringis seolah menahan perih.

​Namun Damian tidak menyerah. Ia menahan egonya yang setinggi langit sambil tersenyum bahagia.

Cewek satu ini. Pantas saja Damian nyaris gila karena didiami Fraya beberapa hari ini. Bahkan kegilaan yang sudah dibuatnya semalam seolah menguap begitu saja hanya dengan bersilat lidah seperti ini.

"Jadi, Jumat ini, kita bisa mulai lagi belajar bahasa Jermannya?" tanya Damian ringan, seolah kesepakatan belajar mereka yang sudah Fraya akhiri sepihak itu tidak pernah terjadi kemarin. Namun walaupun ia berusaha bersikap santai, ada nada memohon yang tersirat dari kalimat Damian itu.

Hatinya ingin berteriak, memohon pada langit agar seraut wajah cemberut itu luluh padanya.

​"Here's my answer. No. Aku yakin kuping kamu tidak tuli waktu aku bilang aku sudah selesai dengan kamu, Damian. Aku akan minta Mrs. Crabtree mencari tutor lain."

​Langkah Fraya terhenti saat Damian menimpali dengan cepat, "Memangnya kamu sudah pastikan ke Mrs. Crabtree kalau kamu bisa minta penggantinya? Bukannya tadi kamu bilang ke Asa kalau itu mustahil?"

​Fraya memejamkan mata sesaat sambil menarik napas dalam-dalam, memohon kesabaran seluas samudera agar ia tidak menonjok hidung mancung milik cowok di depannya ini.

Fraya berbalik dan melangkah maju, berdiri tepat di depan dada Damian.

​"Aku tahu sama rencana kamu."

​Kerlingan jahil yang sejak tadi bermain dimata Damian seketika lenyap, digantikan dengan raut wajah kaku yang langsung membuat Fraya memincingkan mata dengan curiga. Ucapan Fraya terasa seperti ledakan bom yang berhasil dilemparkan cewek itu tepat diwajah Damian.

"Apa maksudmu?"

​"Aku yakin kamu sadar betul kalau apa yang kamu lakukan ke aku ini hanya untuk sebuah validasi. Kamu cuma ingin menunjukkan ke orang-orang kalau tidak ada orang yang tidak bisa kamu taklukkan di Milford Hall, termasuk aku. Iya, kan?"

​Hardikan itu seharusnya membuat Damian murka. Tapi yang terjadi selanjutnya malah membuat Damian bernapas lega. Damian sudah mengira jantungnya telah lepas dari tempat karena mengira Fraya mengetahui niat awalnya bersama Axel Rosewood. Tapi tuduhan pedas Fraya tadi justru menghapus kaku yang muncul di wajah Damian sepersekian menit barusan.

​Bibir Damian kembali mengering jahil, namun entah bagaimana juga terlihat tulus. Ia rela porak-poranda demi bisa melihat raut wajah Fraya yang sedang marah ini daripada cewek itu puasa bicara padanya seperti kemarin-kemarin.

​"Kenapa senyum-senyum? Kamu merasa diatas angin ya, karena bikin aku jadi terpaksa belajar sama kamu!?" Fraya menghardik lagi sambil menunjuk-nunjuk hidung Damian.

Sama sekali tidak puas dengan orang didepannya ini yang malah bersedekap sambil memandangnya dengan intens. Gestur yang sejak tadi menciptakan gempita kecemburuan dari orang-orang disekitar, khususnya mereka, yang sejak tadi tengah sibuk menonton kedua insan yang sedang jadi buah bibir hangat di Milford Hall beberapa hari belakangan ini.

​Tanpa sadar, tangan Damian terangkat membelai puncak kepala Fraya. Ia rapikan beberapa helai rambut gadis itu dengan sentuhan yang sangat protektif namun sayang. Dan tindakan Damian berhasil membuat sekujur tubuh Fraya langsung kaku di tempat.

​Namun hanya sesaat, karena kemarahan kembali menguasai Fraya. Ditepisnya tangan Damian dengan kasar. "Jauhkan tangan kotor kamu dari aku!" desis Fraya sebal sambil menyibak rambutnya yang kusut.

​Di detik berikutnya, Fraya menyadari bahwa mereka sudah menjadi tontonan siswa lain di halaman sekolah. Bisikan dan siulan iri mulai terdengar, membuat Fraya muak.

​"Aku antar kamu pulang, ya. Tapi aku sedang bawa motor," Damian menawarkan diri dengan suara yang begitu lembut, kontras dengan citra "Malaikat Maut"-nya.

​"Diantar pulang sama kamu? Cih, mimpi saja kamu, Harding," Fraya mendesis tajam, kemudian berlalu. Namun ketika cewek itu menyadari titik-titik kerumunan disekitar mereka mulai bermunculan lagi, seperti kemarin, kemarahan langsung meletup naik sampai ke kepalanya.

"APA LIHAT-LIHAT!? DRAMANYA SUDAH SELESAI! BUBAR BUBAR!" bentak Fraya-- dengan suaranya yang menggelegar.

Tapi bukannya jadi takut, beberapa siswa malah jadi melenguh kecewa.

"Yahhh, padahal kalian itu sweet sekali, loh." Ujar salah satu siswa perempuan yang sejak tadi memekik girang melihat Fraya dan Damian.

Fraya melongo, tidak habis pikir, lalu kembali pergi dengan cepat sebelum kesabarannya yang sudah setipis tisu ini tercabik-cabik. Sedangkan Damian yang sejak tadi memerhatikan kejengkelan Fraya sekarang tidak bisa lagi menahan diri untuk tidak mengerling girang.

Misinya berhasil. Fraya-nya kembali bicara dengan Damian. Walaupun ia yakin sekarang Fraya sedang mengutuk Damian supaya hanyut saja dilautan.

​Fraya berjalan menyentak pergi. Damian yang menyaksikan itu hanya menggelengkan kepala. Rasa kagumnya pada Fraya memang tak ada habisnya. Damian kini tahu, semakin ditekan, Fraya akan semakin beringas, namun justru itulah yang membuatnya kian terobsesi.

​Sore ini, setelah berkubang dalam kegelapan pasca pertandingan Lacrosse kemarin itu, Damian akhirnya kembali merasakan senyuman di bibirnya.

Tiba-tiba sebuah ide gila muncul di benaknya—ide yang sebenarnya datang saat ia menelepon Florence tadi. Ide yang membuatnya merasa sangat bangga sekaligus bahagia.

​Dengan senyum puas, Damian melangkah menuju parkiran motornya, meninggalkan semua pasang mata yang masih terpaku pada sang Raja Milford yang baru saja menunjukkan sisi lain dirinya yang tak tersentuh.

1
Ris Andika Pujiono
aku baca cerita ini seperti ninton film
bukan sekedar cerita receh. Sayang sekali baru dpt sedikit peminat. padahal kalo ditilik dari sisi kualitas cerita ngga kalah dari cerita2 best seller di Toon penulisannya rapi, cara berceritanya elegan. kak terus semangat menulis ya 🥰💪💪
Ris Andika Pujiono: asyik bisa ditungguin dong. sampai tamat 😎🥰🫰
total 4 replies
Ris Andika Pujiono
kaan Alana keluar 😔😎
Ris Andika Pujiono
kini aku punya hobby baru
nungguin up date ceritamu
kereeeeen 🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
omG sepertinya akan banyak masalah diantara mereka 😔😔😔😔😔
terima kaaih kak udah upp
Ris Andika Pujiono
kasian Damian 🥲
Ris Andika Pujiono
awas lu Damian sampe nyakitin Fraya 😎
Ris Andika Pujiono
yg baca senyum2 sendri thor
sungguh ceriamu bagusss 🙏😍
Ris Andika Pujiono
semoga semoga kalian baik2 saja Fraya & Damian
Ris Andika Pujiono
seruuuuuuu aku suka ceritamu kak
up terus ya tiap hari sampai tamat
janji 🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Ris Andika Pujiono
Frayaaaa 🥲
Ris Andika Pujiono
cetita bagus begini g ada yg like sih🥲
Ris Andika Pujiono
Damiaaaan jatuh cintaaa
baca sambil ngabuburit
Ris Andika Pujiono
ehemmmm
Ris Andika Pujiono
🥰🥰🥰🙏
Ris Andika Pujiono
Fraya?????
Ris Andika Pujiono
semoga happy ending
Ris Andika Pujiono
awesome💪💪💪💪💪
Ris Andika Pujiono
kok baru nemu sih. jgn sampai hiatus yaa aku tungguin sampai tamat🥰
Ris Andika Pujiono
wow i like it ... 💪
Ris Andika Pujiono
cie cie cieeeeee 🥰🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!