Lima tahun Arabella Reese bertahan dalam pernikahan sepi bersama Devano Altair Wren, seorang dokter forensik jenius yang lebih mencintai mayat dan masa lalunya daripada istrinya sendiri. Devan yang dingin dan kaku hanya menganggap pernikahan mereka sebagai hutang budi keluarga.
Puncaknya, di malam ulang tahun pernikahan kelima, dunia Ara runtuh dua kali. Ia menemukan bukti perselingkuhan Devan dengan Liliana, cinta masa lalu suaminya. Di saat yang sama, berita kecelakaan maut merenggut nyawa orang tuanya.
Ara memilih pergi membawa surat cerai, namun takdir justru memaksanya kembali bersinggungan dengan Devan. Saat kebenaran tentang konspirasi kematian orang tua mereka mulai terungkap melalui jejak forensik, Devan sadar ia telah kehilangan satu-satunya wanita yang tulus mencintainya. Kini, sang dokter harus memilih: membedah misteri masa lalu yang kelam, atau menjahit kembali hati istrinya yang telah ia hancurkan berkeping-keping.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fragmen yang Hilang
Malam di kediaman Wren terasa begitu sunyi, hingga suara jarum jam di dinding terdengar seperti detak jantung yang cemas. Devan berdiri di depan lemari pakaian, tangannya meraba saku jas yang ia kenakan saat pulang dari rumah sakit tadi.
Keningnya berkerut. Kosong.
"Ara?" panggil Devan pelan.
Ara yang baru saja masuk ke kamar sambil membawa segelas air tersentak kecil. "Iya, Mas? Kenapa belum tidur?"
"Jas yang aku pakai tadi... apa kau memindahkannya?" Devan berbalik, menatap Ara dengan mata yang tajam, mata yang biasanya ia gunakan untuk memeriksa sampel jaringan di laboratorium.
"Oh... itu... aku menggantungnya di ruang pakaian. Kenapa, Mas? Ada yang tertinggal?" Ara mencoba bersuara senormal mungkin, padahal kunci kayu itu kini terasa panas di dalam saku daster yang ia kenakan.
"Ada sebuah kunci di sakunya," Devan melangkah mendekati Ara, matanya tak lepas dari wajah istrinya. "Kunci logam berat dengan logo keluarga Wren yang lama. Aku tidak ingat pernah menyimpannya di sana. Apa kau tahu itu kunci apa?"
Ara menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang. "Mungkin itu kunci gudang lama yang diberikan Kakek sebelum dia... sebelum dia pergi ke luar negeri. Aku tidak sengaja memasukkannya ke sana saat merapikan barang-barangmu."
"Begitu?" Devan menyipitkan mata. Ia meraih gelas air dari tangan Ara, namun jemarinya sengaja menyentuh tangan Ara yang dingin dan gemetar. "Tanganmu bicara lain, Ara. Kau sangat tidak pandai berbohong."
"Aku tidak berbohong, Mas. Aku hanya lelah," Ara mencoba menghindar, namun Devan menariknya lembut hingga mereka berdiri sangat dekat.
"Ara, dengarkan aku," suara Devan merendah, terdengar sangat intim namun penuh selidik. "Sejak aku bangun di rumah sakit, aku merasa ada potongan teka-teki yang hilang. Alaska bicara soal cerai, kau bicara soal kecelakaan, dan sekarang ada kunci misterius yang tiba-tiba lenyap dari sakuku. Jika kau merahasiakan sesuatu untuk melindungiku, tolong berhenti. Aku seorang dokter, aku terbiasa melihat kenyataan sepahit apa pun."
Ara menatap mata Devan. Di sana ada kasih sayang yang tulus, namun juga ada ketajaman yang mengancam sandiwaranya.
"Mas, kunci itu tidak penting. Yang penting adalah kesehatanmu," ucap Ara lirih.
Devan tidak menjawab. Ia hanya menatap Ara lama, lalu melepaskan genggamannya. "Baiklah. Aku akan mencoba mempercayaimu. Tapi kau harus tahu satu hal... aku akan menemukan jawaban itu, dengan atau tanpa bantuanmu."
Tengah Malam...
Saat Devan tampak sudah terlelap, Ara menyelinap keluar kamar. Ia menuju ruang kerja Devan yang gelap. Dengan tangan gemetar, ia memasukkan kunci itu ke sebuah laci rahasia di bawah meja kerja Devan yang ia temukan dari catatan ayahnya.
Klik.
Laci itu terbuka. Di dalamnya bukan hanya dokumen, tapi ada sebuah botol kecil berisi cairan ungu yang sama dengan yang diledakkan Devan di vila kakeknya—sebuah sampel asli dari 20 tahun lalu.
Tiba-tiba, lampu ruangan menyala.
"Jadi, kunci itu menuju ke sana?"
Ara berbalik dengan cepat. Devan berdiri di ambang pintu, bersandar pada bingkai kayu dengan tangan bersedekap. Ia tidak tampak mengantuk sama sekali. Tatapannya dingin, persis seperti Devan tiga bulan yang lalu.
"Mas... kau... kau tidak tidur?"
"Bagaimana aku bisa tidur saat istriku menyelinap seperti pencuri di rumahnya sendiri?" Devan melangkah masuk, matanya tertuju pada botol kecil di tangan Ara. "Cairan apa itu? Dan kenapa namaku tertera di label botol itu dengan tulisan tangan ibuku?"
Ara terpaku. Ia tidak menyadari bahwa di label botol itu tertulis: "Untuk Devan, jika suatu saat aku tidak ada."
Melihat label itu, memori Devan seolah dihantam badai. Ia memegang kepalanya, meringis kesakitan saat kilasan-kilasan asap ungu dan suara tembakan mulai muncul kembali di benaknya seperti potongan film yang rusak.
"Mas! Mas Devan!" Ara berlari mendekat, mencoba menahan tubuh Devan yang limbung.
"Asap... asap itu... Kakek..." Devan mengerang, napasnya memburu. "Ara! Apa yang sebenarnya terjadi malam itu?! Katakan padaku!"
Di tengah kepanikan itu, ponsel di meja kerja Devan bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Alaska.
Ara bingung harus menjawab apa. Jika ia memberitahu kebenarannya sekarang, Devan bisa kolaps. Tapi jika ia terus berbohong, Devan akan hancur oleh rasa penasarannya sendiri.
tuh kan .... Ara mah emang kedemenan nya ama Devan /Sob/
kasian Alaska🤭
ada 2 tim nih ,
tim Devan & tim Alaska
awalnya aku tim Alaska ....
pas dibaca terus kok ..... Devan berubah yaa...
/Chuckle//Chuckle/
bantu vote.. /Chuckle/