NovelToon NovelToon
Suami Mafiaku

Suami Mafiaku

Status: tamat
Genre:CEO / Action / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: AinaAsila

Jennie Ruby Jane (29) mengakhiri hidupnya dengan penyesalan terdalam. Di kehidupan pertamanya, ia dibutakan oleh cinta semu Choi Reynard, pemuda licik yang membuatnya mengkhianati suaminya yang perkasa, Limario Thomas Vincentius, dan menelantarkan putri kecil mereka, Kenzhi. Puncaknya, Jennie secara tragis menyebabkan kematian ibu mertua yang sangat menyayanginya.

Namun, takdir memberinya kesempatan kedua. Jennie terbangun di masa lalu, tepat di saat ia masih menjadi "Ratu" di rumah megah keluarga Vincentius. Kini, dengan ingatan masa depan, Jennie bersumpah tidak akan menjadi domba yang tersesat lagi. Ia akan memanjakan suami mafianya yang dingin namun bucin, melindungi putrinya, dan menjaga ibu mertuanya. Sambil membangun kembali kebahagiaan keluarganya, Jennie merajut jaring balas dendam untuk menghancurkan Choi Reynard hingga ke akarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

19. Last second

Guncangan di bawah Institut Le Rosey semakin hebat. Langit di luar jendela asrama yang semula biru cerah kini berubah menjadi ungu pekat yang statis. Burung-burung di udara berhenti mengepakkan sayap, menggantung kaku seperti pajangan di museum. Waktu mulai membeku dari luar ke dalam.

Di lorong bawah tanah, ketegangan antara Jennie dan Kenzhi terinterupsi oleh retakan besar di dinding marmer.

Konfrontasi dan Kebenaran

"Kenzhi, dengarkan Mummy!" Jennie mencoba meraih tangan putrinya, namun auranya begitu dingin. "Aku melakukannya untuk memberimu masa kecil! Jika musuh tahu aku masih memiliki ingatan itu, mereka akan langsung membunuhmu karena kau adalah satu-satunya ancaman bagi mereka!"

"Masa kecil?" Kenzhi tertawa getir, air mata menggenang namun tidak jatuh. "Masa kecilku mati di gudang tua itu, Mum. Sejak hari itu, aku tidak pernah lagi merasa seperti anak berusia sembilan tahun. Aku melihat kematian setiap kali aku berkedip!"

"Cukup!" bentak Limario sambil memeriksa senjatanya. "Debat ini bisa kita lanjutkan jika kita masih punya hari esok. Arka, apa yang kau lihat?"

Arkano, yang bersandar di dinding dengan napas terengah-engah, menunjuk ke arah kabel-kabel raksasa yang berdenyut di balik dinding kaca. "Energi itu... mereka menyedotnya dari luar. Jika aku bisa menyuruh hewan-hewan di luar memutuskan kabel cadangan di menara air, mesin ini akan kehilangan keseimbangan dan stasis ini akan batal."

"Tapi mereka membeku, Arka!" teriak Kenzhi. "Semua hewan di luar sudah menjadi patung!"

"Tidak semuanya," bisik Arkano dengan mata berkilat. "Hewan yang ada di bawah tanah... tikus, ular, dan serangga. Mereka masih bergerak. Aku bisa merasakan ribuan dari mereka."

Misi Bunuh Diri Sang Jenderal Kecil

Arkano memejamkan matanya rapat-rapat. Keringat dingin mengucur di dahinya. Ia mulai mengirimkan gelombang perintah frekuensi rendah. Di seluruh penjuru sekolah, ribuan tikus mulai keluar dari celah-celah pipa, merayap menuju unit daya utama. Mereka mulai menggigit kabel-kabel bertegangan tinggi, mengorbankan diri mereka dalam percikan listrik demi perintah sang tuan kecil.

Sementara itu, Limario dan Jennie bergerak menuju ruang inti. Sang Arsitek berdiri di depan reaktor, wajahnya tampak tenang meski dunia di sekitarnya mulai hancur.

"Hentikan ini, Arsitek!" teriak Limario.

"Aku tidak bisa menghentikannya, Limario yang malang," ucap Sang Arsitek. "Mesin ini membutuhkan 'jangkar'. Seseorang dengan energi kronos yang kuat harus tetap berada di pusat reaktor untuk menstabilkan ledakan, atau seluruh Swiss akan terhapus dari garis waktu."

Ia menatap Kenzhi. "Hanya kau atau aku yang bisa melakukannya, Kenzhi. Dan aku sudah terlalu tua untuk menjadi pahlawan."

Pilihan Sang Ibu

Jennie melangkah maju, melewati Limario. Ia mengeluarkan drive memori yang selama ini ia sembunyikan di dalam liontin kalungnya.

"Tidak, ada pilihan ketiga," ucap Jennie tegas. "Data ini berisi kode pembatalan yang dibuat oleh ayahmu, Limario. Tapi kode ini hanya bisa dimasukkan secara manual dari dalam inti reaktor yang sedang panas."

"Mummy, jangan!" Kenzhi tersentak. Ia melihat masa depan dalam lima detik: Ibunya masuk ke dalam cahaya itu dan tidak pernah kembali. "Aku melihatnya! Jangan masuk!"

Jennie menoleh, memberikan senyuman termanis yang pernah dilihat Kenzhi. Senyum seorang ibu yang akhirnya melepaskan semua topengnya. "Kenzhi, kau benar. Aku egois karena membiarkanmu berjuang sendiri. Tapi hari ini, biarkan Mummy yang menjadi pelindungmu."

"Jennie, tidak! Harus ada cara lain!" Limario mencoba menahan Jennie, namun Jennie menggunakan alat kejut listrik kecil ke lengan Limario, membuatnya lumpuh sesaat.

"Jaga anak-anak kita, Lim. Katakan pada Arka, dia adalah raja yang hebat," bisik Jennie.

Pengorbanan dan Keajaiban Perak

Saat Jennie hendak melompat ke arah inti reaktor yang berpijar, sebuah bayangan perak melesat melewatinya.

Kenzhi.

Gadis itu menggunakan kemampuan prediksinya untuk bergerak lebih cepat dari siapa pun. Ia tidak melompat ke dalam reaktor untuk mati, melainkan ia menghantamkan pisau peraknya tepat ke celah pendingin inti, mengalirkan seluruh energi perak dari pergelangan tangannya ke dalam mesin.

"Kenzhi! APA YANG KAU LAKUKAN?!" teriak Jennie.

"Aku tidak akan membiarkanmu mati lagi, Mum! Tidak di depanku!" raung Kenzhi.

Cahaya perak dan biru bertabrakan. Garis perak di lengan Kenzhi mulai merambat ke seluruh tubuhnya, mengubah rambut hitamnya menjadi putih berkilau sesaat. Mesin itu menjerit, putaran waktunya berbalik. Statis yang membeku di luar mulai pecah seperti kaca.

BOOM!

Ledakan energi itu melempar mereka semua ke dinding. Ruangan itu gelap gulita.

Setelah Badai

Saat lampu darurat menyala, Sang Arsitek telah menghilang—hanya menyisakan topeng porselennya yang retak di lantai. Limario bangkit dan segera menemukan Jennie yang terisak sambil mendekap tubuh Kenzhi yang lemas.

Kenzhi membuka matanya perlahan. Rambutnya kembali hitam, namun tanda perak di lengannya kini telah menghilang sepenuhnya. Ia tampak seperti gadis remaja biasa sekarang.

"Mummy..." bisik Kenzhi lemah. "Aku... aku tidak bisa melihat masa depan lagi. Semuanya gelap."

Jennie memeluk putrinya erat-erat, menangis sejadi-jadinya. "Tidak apa-apa, Sayang. Itu bagus. Sekarang kau bisa melihat dunia seperti orang lain. Kita bebas."

Di ambang pintu, Arkano berdiri dengan lemas, ribuan tikus yang ia pimpin kini diam tak bergerak di sekitarnya. Ia menatap keluarganya, lalu menatap ke arah pegunungan Alpen yang kembali bergerak normal.

"Daddy," panggil Arkano pelan. "Orang tua bertopeng itu... dia belum mati. Dia pergi ke masa yang lain. Dia bilang dia akan menunggu kita di 'Titik Akhir'."

Limario berdiri, menatap keluarganya dengan tekad baru. "Biarkan dia menunggu. Karena mulai sekarang, kita tidak akan lagi lari dari waktu. Kita yang akan menguasainya."

Gema di Balik Reruntuhan

Debu dari ledakan reaktor masih menggantung di udara laboratorium bawah tanah yang hancur. Suasana mendadak sunyi, hanya menyisakan suara tetesan air dari pipa yang bocor dan napas berat Limario yang mencoba bangkit di tengah puing-puing.

Hilangnya Sang Pengamat

"Kenzhi! Jennie!" Limario berteriak, suaranya parau karena menghirup debu mesiu dan ozon.

Di tengah ruangan, Jennie perlahan duduk sambil merangkul Kenzhi yang tampak pucat. Kenzhi bernapas, namun matanya menatap kosong ke langit-langit. Garis perak yang selama lima tahun menghiasi pergelangan tangannya kini benar-benar pudar, menyisakan kulit halus tanpa bekas luka—seolah takdir pahit itu telah dicabut paksa dari tubuhnya.

"Aku... aku tidak mendengar detak jantung mesinnya lagi," bisik Kenzhi. Suaranya terdengar sangat manusiawi, kehilangan nada dingin yang biasanya menyertai kekuatannya. "Mummy, dunianya... dunianya tidak lagi bergerak lima detik lebih cepat. Semuanya diam."

Jennie mencium kening putrinya dengan lega yang luar biasa. "Itu artinya kau bebas, Kenzhi. Kau bukan lagi alat untuk waktu."

Namun, kebahagiaan itu terusik saat Arkano mendekat. Wajah bocah 9 tahun itu tidak menunjukkan kelegaan. Ia menunjuk ke arah kursi di mana Sang Arsitek tadi berada. Kursi itu kosong. Hanya ada jubah hitam yang terbakar dan topeng porselen yang terbelah dua.

"Dia tidak mati, Dad," ucap Arkano, matanya menatap tajam ke arah dinding yang tampak bergetar—sebuah distorsi ruang yang sangat kecil. "Burung-burung di luar berteriak... mereka bilang bayangan pria itu baru saja melompat ke tempat di mana semuanya dimulai."

Insting Seorang Ibu

Jennie menoleh dengan cepat. "Gudang tua. Di busan."

Limario menggerakkan rahangnya dengan keras. "Dia ingin kembali ke titik nol. Jika dia menghancurkan pondasi waktu di sana, maka seluruh garis waktu yang kita bangun selama sepuluh tahun ini akan runtuh seperti kartu domino."

Jennie berdiri, membantu Kenzhi bangkit. Meski Kenzhi telah kehilangan penglihatan masa depannya, insting strateginya masih tajam. "Dia sengaja memancing kita ke sini hanya untuk melemahkan kita. Dia tahu ledakan reaktor ini akan menghisap energi perakku."

"Tapi dia tidak menghitung satu hal," sela Arkano sambil mengepalkan tangan kecilnya. "Dia tidak menghitung bahwa aku bisa bicara dengan setiap makhluk hidup di kota itu. Jika dia mendarat di Jakarta, dia tidak akan punya tempat untuk bersembunyi."

Kepulangan Sang Penguasa

Tanpa membuang waktu, Limario menghubungi Hans melalui jalur satelit darurat. "Siapkan unit Alpha dan Omega. Kita pulang ke Indonesia sekarang. Dan Hans... aktifkan protokol 'Scorched Earth' di sekitar gudang sektor Utara. Jangan biarkan tikus sekalipun keluar dari sana sebelum kami sampai."

Di dalam jet pribadi dalam perjalanan pulang, suasana sangat berbeda. Kenzhi duduk di dekat jendela, mencoba membiasakan diri menjadi "normal". Ia mencoba menebak kapan pesawat akan berguncang karena turbulensi, namun ia gagal. Ia tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang tidak pernah Jennie lihat sejak Kenzhi berusia sembilan tahun.

"Bagaimana rasanya, Sayang?" tanya Jennie lembut.

"Rasanya... tenang, Mum. Aku tidak lagi melihat Daddy mati berkali-kali dalam bayanganku. Aku hanya melihat Daddy yang sedang duduk di sana, memegang pistolnya," jawab Kenzhi jujur.

Namun, di kursi depan, Arkano tampak sangat sibuk. Ia memejamkan mata, wajahnya berkeringat. Ia sedang berkomunikasi dengan ribuan burung migran yang melewati jalur udara mereka, mengumpulkan informasi tentang apa yang terjadi di Jakarta.

"Dad," Arkano membuka mata, manik matanya tampak sedikit menggelap. "Dia sudah sampai. Dan dia tidak sendirian. Dia membawa 'subjek-subjek gagal' lainnya dari masa depan yang hancur. Mereka seperti zombi waktu... tidak hidup, tapi tidak bisa mati."

Persiapan Perang Terakhir

Limario menatap istrinya. "Ini adalah pertempuran terakhir, Jennie. Jika kita menang, kita akan benar-benar bebas. Jika tidak..."

"Kita akan menang, Lim," potong Jennie dengan keyakinan yang tidak tergoyahkan. Ia mengambil pistol dari meja dan memeriksanya. "Karena kali ini, aku tidak lagi bertarung untuk mengubah masa depan. Aku bertarung untuk mempertahankan masa kini yang kucintai."

Saat pesawat mulai menurunkan ketinggian di atas langit Jakarta yang gelap, kilat menyambar di kejauhan, tepat di atas lokasi gudang tua. Perang melawan waktu akan berakhir di tempat ia dimulai.

1
Gustinur Arofah
sangat menakjubkan ceritanya, syukaa🤗🤗🤗🤗
Ratna Wati
Ini Ceritanya Masih Lanjut Ngga?
Rubyred
ceritanya menarik aku suka lanjut
Rubyred
cerita yang menarik dan bagus penuh intrik dan misterius
Umi Zein
mummy Kya mayat yg di awetkan. /Shy//Shy/mommy lebih baik panggilan nya/Chuckle//Smile/
Umi Zein
looh kan udh balik dr RS. kok Ruang VIP RS?!😂😂
Umi Zein
Kaka judulnya bisa bahasa Indonesia aja gak?!😭😭 soalnya aku syediih karna gak ngerti🤣🤣🤣
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan alurnya tidak bertele-tele, penulisan rapi jd enak bacanya🤗🤗🤗🤗
Gustinur Arofah
ceritanya sangat menarik dan satset tanpa bertele-tele, jd setiap baca slalu deh degan dan tidak mudah di tebak alurnya🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!