Di bawah langit London yang selalu kelabu, Juliatte Fontaine hidup dalam jadwal yang diatur ketat. Baginya, keamanan adalah segalanya.
Maka, ketika gerombolan motor The Ravens menderu di depan gerbang sekolah dengan asap knalpot dan aroma pemberontakan, Juliatte hanya merasakan satu hal, kejijikan.
Puncaknya adalah William Wilson. Cowok itu adalah personifikasi dari semua yang Juliatte benci. William adalah alasan adiknya hampir celaka dalam sebuah tawuran antar-geng motor di Camden. Bagi Juliatte, William adalah kriminal, bagi William, Juliatte hanyalah gadis kaca yang akan pecah jika menyentuh realita.
Namun, sebuah insiden memaksa mereka dalam satu situasi pelarian. Juliatte melihat sisi London yang tak pernah ada di buku sejarahnya, dan William menyadari bahwa gadis kaca ini punya api yang lebih besar dari percikan mesin motornya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ice Queen
Keesokan harinya di St. Jude’s, suasana terasa seperti musim dingin yang datang lebih awal. Tidak ada lagi deru motor Triumph yang berhenti di depan lobi, tidak ada lagi jaket kulit yang tersampir di bahu gadis porselen itu.
Juliatte kembali menjadi The Ice Queen. Ia berjalan di koridor dengan dagu terangkat, tatapannya lurus ke depan, kosong dan tanpa nyawa. Rambutnya tertata sempurna tanpa ada satu helai pun yang berantakan, dan tubuhnya terlihat semakin rapuh di balik seragam sekolahnya yang mahal.
Di sudut kantin, William duduk bersama The Ravens. Ia tidak lagi menggoda, tidak lagi bersiul. Ia hanya menatap gelas kopinya dengan mata yang redup. Saat Juliatte berjalan melewati mejanya, William sempat mengangkat wajahnya, berharap menemukan satu binar kecil atau rahasia di mata gadis itu. Namun, Juliatte hanya melewatinya seolah William hanyalah udara kosong.
"Dia benar-benar kembali menjadi robot," bisik Leo dengan nada sedih. Ethan hanya menepuk bahu William tanpa kata, sementara Sonia sudah menyerah mencoba menyapa Juliatte karena setiap sapaannya hanya dibalas dengan anggukan kaku yang formal.
Minggu-minggu ujian berlangsung dalam kebisuan yang menyiksa. William tetap mengawasi dari jauh, memastikan tidak ada pria lain terutama Sebastian yang berani mendekat. Namun, ia tidak pernah lagi mencoba bicara. Ia menghargai keputusan Juliatte, meski itu menghancurkan hatinya setiap hari.
William pasrah. Ia melihat bagaimana Juliatte tenggelam dalam buku-bukunya, mengabaikan segala hal yang berbau emosi. Baginya, Juliatte sedang melakukan cara terbaik untuk bertahan hidup di bawah tekanan Madam Vivienne.
Hingga akhirnya, hari terakhir ujian telah selesai...
Di hari kelulusan yang singkat, sebuah pengumuman besar tersebar di papan buletin sekolah dan melalui desas-desus di kalangan elit.
"Juliatte Fontaine diterima di University of Oxford, jurusan Hukum dan Bisnis Internasional," gumam Jax sambil membaca berita di tabletnya saat mereka berkumpul di markas.
"Dia akan berangkat bulan depan. Kudengar ayahnya sudah menyiapkan apartemen paling mewah di sana agar dia bisa fokus belajar."
William yang sedang memperbaiki mesin motornya berhenti bergerak. Kunci pas di tangannya terjatuh ke lantai beton. Oxford. Cita-cita yang selalu Juliatte ceritakan dengan mata berbinar saat mereka menghabiskan waktu di mansion William dulu.
"Dia mendapatkannya," ucap William lirih. Suaranya tidak terdengar bahagia, namun penuh dengan rasa lega yang pahit. "Dia mendapatkan apa yang dia inginkan dengan cara melepaskanku."
William menyadari bahwa jarak di antara mereka kini bukan lagi sekadar tembok mansion Fontaine, melainkan jarak antara London dan Oxford, antara seorang berandal yang menetap di jalanan dan seorang calon pengacara elit yang akan bersinar di panggung dunia.
Sonia masuk ke markas dengan mata sembab. "Dia bahkan tidak mau menemuiku untuk pamit, Will. Dia hanya mengirimkan pesan singkat, 'Terima kasih untuk semuanya, sampaikan maafku pada William.'"
William menarik napas panjang, menatap motornya yang kini terasa tidak punya tujuan lagi. Ia tahu, di balik dinginnya tatapan Juliatte selama ujian, gadis itu sedang berjuang demi tiket kebebasannya sendiri, meski harga yang harus dibayar adalah cinta mereka.
.
.
Lampu kamar di markas The Ravens masih padam saat William mendorong pintu dengan sisa-sisa tenaga yang terkuras oleh patah hati. Namun, baru satu langkah ia memasuki kegelapan ruangannya, sebuah aroma familiar, campuran bunga lily dan hujan menyergap indranya.
Belum sempat William menyalakan lampu, sepasang lengan melingkar erat di lehernya. Detik berikutnya, bibir yang selama berminggu-minggu ia rindukan itu menempel pada bibirnya. Sebuah ciuman yang terasa seperti badai, penuh rasa bersalah, kerinduan yang meledak, dan rasa sakit yang luar biasa.
William membeku. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa gadis di pelukannya, yang tadi siang menatapnya dengan pandangan sedingin es, kini sedang terisak hebat di balik ciumannya. Air mata Juliatte terasa asin di bibir mereka yang bertaut.
"Jules...?" bisik William serak saat ciuman itu terlepas sesaat.
"Jangan bicara, Will... kumohon," tangis Juliatte pecah. Ia tidak lagi peduli pada gaun mahalnya, tidak peduli pada citra Fontaine.
Di sini, di kamar sempit ini, ia hanyalah gadis yang hancur.
William yang sudah tidak tahan lagi menahan rindu, menarik pinggang Juliatte dan membalas ciuman itu dengan intensitas yang lebih dalam. Air mata William ikut jatuh, membasahi pipi mereka berdua. Emosi yang selama ini ia pendam, kemarahan, rasa pasrah, dan cinta yang mati-matian ia kubur, meluap seketika.
"Kau jahat, Fontaine... kau sangat jahat," gumam William di sela napasnya yang memburu. "Kau membuangku seperti sampah di depan ayahmu, tapi kau kembali ke sini untuk menghancurkan pertahananku lagi?"
William menjauhkan wajahnya sedikit, menatap mata Juliatte yang sembab dalam keremangan. "Aku menginginkanmu, Sayang. Lebih dari segalanya. Tapi aku tidak mau kau pergi lagi. Jika malam ini aku menyentuhmu, aku tidak akan pernah membiarkanmu lepas lagi. Apa boleh?"
Juliatte tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kuat-kuat, lalu membenamkan wajahnya di dada William, memeluk pria itu seolah-olah dunianya akan berakhir besok pagi.
Malam itu, di bawah remang lampu jalanan yang menembus jendela markas, William tidak lagi menahan dirinya. Ia melepaskan segala topeng dan prinsipnya. Penyatuan malam itu bukan sekadar pelampiasan nafsu, melainkan sebuah ikatan yang ia bangun dengan penuh gairah dan keposesifan yang gelap.
Di sela-sela pergumulan mereka yang panas, William membisikkan janji yang mengerikan sekaligus manis di telinga Juliatte.
"Pergilah ke Oxford jika itu maumu, tapi ingat satu hal, Fontaine..." William mengecup leher Juliatte, meninggalkan tanda yang tak akan hilang dalam semalam. "Aku akan menitipkan bagian dari diriku di rahimmu. Kau boleh pergi jauh, tapi kau akan selalu kembali padaku. Aku tidak akan melepaskanmu, selamanya."
Juliatte hanya bisa mengerang kecil, pasrah pada setiap sentuhan William yang kini menjajah seluruh tubuhnya. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia merasa benar-benar hidup, meski ia tahu bahwa benih yang ditanam William malam ini mungkin akan mengubah seluruh rencana masa depannya.
Sinar matahari pagi yang pucat menembus jendela kamar markas, menyinari debu-debu yang beterbangan di udara yang dingin. William terbangun dengan tangan yang secara refleks meraba sisi tempat tidur di sampingnya, mencari kehangatan tubuh yang semalam begitu erat ia dekap.
Kosong.
Hanya ada sensasi dingin dari seprei yang kusut. William tersentak bangun, napasnya memburu saat ia menyapu pandangan ke seluruh sudut ruangan yang remang. Tidak ada Juliatte. Tidak ada aroma parfum bunga lily yang tertinggal.
Keheningan di markas itu terasa mencekik, seolah-olah kejadian semalam hanyalah sebuah halusinasi dari pria yang terlalu lama patah hati.
Namun, saat ia menyingkap selimut, matanya terpaku pada noda merah yang telah mengering di atas seprei putihnya yang kusam. Saksi bisu dari penyerahan diri Juliatte yang paling dalam. Darah itu adalah bukti bahwa semalam itu nyata, bahwa gadis porselen itu telah menyerahkan kesuciannya sebagai bentuk perpisahan yang paling menyakitkan.
William menyentuh noda itu dengan ujung jarinya yang gemetar. Sebuah senyum getir muncul di bibirnya, namun matanya mulai memanas.
"Kau meninggalkan aku lagi, Fontaine..." bisik William serak. Suaranya pecah di tengah ruangan yang sepi. "Kau datang hanya untuk memberiku kenangan yang akan membunuhku pelan-pelan, lalu kau pergi begitu saja?"
Pria yang biasanya tak terkalahkan itu kini meringkuk di tepi ranjang. Ia menyembunyikan wajahnya di telapak tangan, dan untuk pertama kalinya sejak ia mengenal dunia jalanan, William Wilson menangis sesenggukan.
Bahunya terguncang hebat. Tangisan itu bukan hanya karena rindu, tapi karena rasa frustrasi yang luar biasa. Ia merasa telah memiliki Juliatte sepenuhnya semalam, namun pagi ini ia tersadar bahwa bagi Juliatte, malam itu hanyalah sebuah 'salam perpisahan' yang indah sebelum ia kembali ke dunianya yang sempurna di Oxford.
Ia meraih bantal yang tadi malam dipakai Juliatte, memeluknya erat seolah-olah masih bisa merasakan sisa napas gadis itu.
"Kau pikir kau bisa lari dariku setelah ini?" desis William di sela tangisnya. Ia teringat janjinya semalam. Ia tidak menggunakan pengaman apa pun. Ia sengaja ingin menanamkan bagian darinya di hidup Juliatte agar gadis itu tidak bisa terbang terlalu jauh darinya.
Satu Bulan Kemudian...
William duduk di depan bengkelnya, menatap lurus ke arah jalan raya dengan pandangan kosong. Kabar yang ia dengar adalah Juliatte sudah menetap di Oxford dan menjadi mahasiswi paling cemerlang di jurusannya. Tidak ada telepon, tidak ada pesan singkat.
Namun, di Oxford, di sebuah apartemen mewah yang sunyi, Juliatte sedang berdiri di depan wastafel kamar mandi. Tangannya gemetar hebat memegang sebuah benda kecil yang menunjukkan dua garis merah.
Ia mengelus perutnya yang masih rata, teringat pada binar mata William malam itu. Ia menangis, namun kali ini bukan karena sedih, melainkan karena ia tahu bahwa William telah berhasil. Ia membawa bagian dari pria itu di dalam tubuhnya, sebuah rahasia yang tidak mungkin bisa ia sembunyikan selamanya dari sang ayah, atau dari William sendiri.
🌷🌷🌷🌷
Happy Reading Dear😍😍😍