Vania Adinata, tanpa sengaja melewatkan malam panasnya dengan seorang CEO terkenal. Putus cinta membuatnya frustasi hingga dia mabuk dan melakukan one night stand tanpa sengaja.
Dikucilkan karena hamil, hingga dijodohkan dengan pria tua. Namun, nasib baik masih berpihak padanya, dia kabur dan tanpa di duga bisa bertemu dengan Ayah biologis bayi yang ada dalam kandungannya.
Bagaimana kisah selanjutnya? Siapa kira kira CEO terkenal dan nomor satu itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mom AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 14 Menghukum penjahatnya
Tujuh bulan berlalu.
Gio menatap tajam seseorang yang ada di hadapannya saat ini, pistol ditangannya dia pegang dengan erat. Amarahnya sudah membuncah, peluru di dalam pistol itu siap menerjang mangsanya.
"Apa tujuanmu?" tanya Gio pada seseorang itu. Namun, tidak ada jawaban.
Dor!
Bunyi tembakan melayang di udara, pelurunya mendarat tepat mengenai kaki pria yang ada di hadapan Gio, membuatnya seakan-akan berlutut.
"Kau tidak perlu tau, ini urusanku dan aku harus menyelesaikannya."
Gemeretak gigi Gio terdengar sangat menyeramkan, jawaban pria itu membuatnya murka.
"Kau tidak perlu menjawab, akan ku habisi kau sekarang juga!" Gio sudah bersiap menarik pelatuknya.
"Aku punya dendam pada keluarga itu!" ucap Erlangga dengan suara tinggi. Ya, dia adalah Erlangga, seseorang dari masa lalu Vania yang sangat baik. Namun, itu dulu. Setelah orangtuanya meninggal akibat serangan jantung karena kebangkrutan, dendam Erlangga pada keluarga Adinata pun mulai tumbuh. Dia melibatkan Vania dalam aksi balas dendam nya, padahal wanita itu berpihak padanya.
"Baskara, dia sudah membunuh orangtuaku! Dia mempermainkan mental mereka, dia menghabisi keluargaku secara perlahan." teriak Erlangga, keringat membasahi dahinya. Matanya memerah, menerawang jauh ke depan.
"Aku tidak akan berhenti sampai semua dendam ku terbalaskan. Mereka harus merasakan seperti yang keluargaku rasakan. Sedikit lagi rencanaku berhasil, tapi kau ... Kau merusak semuanya!" teriak Erlangga menatap Gio dengan tajam.
"Itu karena kau juga melibatkan anakku."
Erlangga menautkan alisnya, tidak paham dengan perkataan Gio barusan.
"Vania sedang mengandung darah dagingku."
"Kau—"
"Ya! Kejadian itu tidak disengaja, sudah lama aku ingin mengatakan pada Vania tapi waktu tidak pernah berpihak padaku. Dan kau malah berniat mencelakai Vania agar orangtuanya merasakan kehilangan?" Gio menggeleng. "Tidak akan ku biarkan siapapun menyentuh Vania dan anakku, meski seujung kuku."
Erlangga tertawa, tetapi di dalamnya tersiratkan sebuah kesedihan. Dia berusaha mencari alasan agar bisa lepas dari Gio dan akan tetap menjalankan aksi balas dendam nya.
"Maafkan aku, Tuan Abraham. Mungkin aku memang salah, tolong beri aku satu kesempatan lagi. Aku janji akan pergi jauh dari kehidupan Vania." pintanya memelas, padahal semua itu hanyalah sandiwara.
"Apa ucapanmu bisa dipegang?" Gio memperhatikan Erlangga dengan seksama.
"Lepaskan dia!" perintah Giorgino pada kedua orang suruhan. "Pergilah!"
Erlangga merasa senang karena dia berhasil memanipulasi Gio. Dirinya tersenyum lebar kemudian berjalan cepat sambil menyeret sebelah kakinya yang terkena tembakan.
Dor!
Belum jauh pria itu berjalan, Gio langsung melepaskan pelatuknya dan berhasil menembus kepala Erlangga. Tubuh pria itu tergeletak di atas lantai yang berdebu. Darah mulai mengalir deras dari bagian kepala dan kakinya.
"Bereskan!" perintah Gio dan dipatuhi oleh kedua pria itu. "Orang sepertimu tidak bisa dipercaya, daripada kau membahayakan nyawa anakku, lebih baik kau ma*ti."
Gio mengambil ponsel yang berdering di dalam sakunya. Disana tertuliskan Tuan Baskara Adinata, dengan cepat dia menjawab panggilan telepon itu.
"Apa?" kagetnya kemudian berjalan cepat menuju ke mobil.
Di dalam perjalanan Gio tidak bisa berpikir jernih. Bahkan dia melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Setelah mendapat kabar dari Baskara dia merasa sangat khawatir.
"Semoga semuanya baik-baik saja." doanya memohon. Pria itu melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Dia mengerem mendadak, hampir saja menabrak mobil yang ada di depannya.
"Astaga, kenapa harus macet? Si*al!" Gio memutuskan untuk mencari ojek atau taksi, tetapi tak ada. Dengan tekad yang kuat dia berlari menuju ke tempat tujuan. Wajahnya tampak sangat khawatir sekali.
.....
BERSAMBUNG
DOUBLE UP GA NIH??? ☺️