Niat hati hanya ingin menolong Putri dari mantan majikan Kakeknya yang hendak melarikan diri, Asep justru di paksa untuk menikahinya.
Hanya tiga bulan, itu yang ia katakan, namun apa benar dalam waktu tiga bulan tak akan ada perasaan yang tumbuh diantara mereka?
Asep ada kecoak! Asep ada tikus! Asep, Asep, Asep, Asep!
“Sial, kenapa dikit-dikit gue terus manggil nama dia?” Ziya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Whidie Arista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29 - Karena Neng Istri saya
Malam harinya, Ziya mendapatkan pesan lagi dari Regan.
‘Yang, kamu masih marah sama aku?’ bunyinya seperti itu.
“Eh buset nih orang gak ngerti kata putus apa,” kesal Ziya, karena malas meladeninya Ziya memilih mematikan daya ponselnya dan memasukkannya kedam laci.
Asep masuk kedalam kamar, ‘dari pada gue ngeladenin si Regan mending gue fokus naklukin suami gue ini,’ batin Ziya.
Ini malam kedua mereka tidur dalam satu ruangan, namun lagi-lagi Asep tidur di lantai beralaskan tikar, kali ini dia membawa selimut tipis dari kamarnya.
“Sep, punggung lu gak sakit tidur di lantai?” tanya Ziya.
“Nggak ko Neng, saya baik-baik aja,” sahutnya.
“K-kalau lu mau gue bisa ko berbagi ranjang sama lu, beneran. Kalau lu takut gue apa-apain nih gue kasih sekat pake guling,” ucap Ziya.
Asep terkekeh pelan, “mana ada cowok takut di apa-apain atuh Neng, yang ada juga takut ngapa-ngapain. Hehe saya becanda doang, gak papa atuh saya disini aja, lagian itu ranjangnya cuma muat satu orang kalau dua orang di tambah sekat di tengah pasti sempit banget,” ujarnya.
‘Ck, di tolak lagi lu Ziya, haha, pertahanan si Asep kuat juga ya, nyebelin emang.’
“Ya udah terserah lu deh, gue cuma kasian aja takut lu sakit punggung.”
“Saya baik-baik aja ko Neng. Neng tidur aja dengan tenang, laki-laki pekerja keras kaya saya cuma tidur di lantai bukan apa-apa atuh Neng,” ucapnya.
“Iya iya, kalau gitu gue akan tidur dengan tenang sekarang gue udah gak kasin lagi sama lu,” kesal Ziya.
Ziya pun tidur menyamping memunggungi Asep. Tiba-tiba dia ingat sesuatu.
“Eh Sep, katanya mantan lu ngundang lu ke pernikahannya ya, kapan?”
“Lusa Neng.”
“Lu mau dateng?”
“Gak tahu, kayanya enggak deh,” sahutnya.
Ziya berguling, dia berbaring dengan posisi tengkurap menatap ke arah Asep yang tidur di lantai, “kenapa, itu undangan istimewa lo sampek-sampek dia datang sendiri kesini, masa lu gak dateng gak sopan itu namanya,” ucap Ziya.
“Enggak ah Neng, saya malu.”
“Malu? Dih malu kenapa coba. Malu karena orang-orang taunya kalian pernah pacaran?”
Asep diam tak menyahut.
“Ayo kita datang Sep, gue temenin.”
“Neng mau nemenin saya ke kondangan?”
“Ya iya atuh, kan gue istri lu udah pasti gue harus ikut, sekalian ngenalin gue ke mantan lu, lu pernah bilang kan sama dia kalau lu mau ngenalin gue,” ucap Ziya.
“Soal itu, saya cuma basa-basi atuh Neng.”
“Emangnya lu gak mau ngenalin gue sama orang-orang?”
“Bukan gitu atuh Neng, saya cuma takut Neng ngerasa gak nyaman apa lagi hubungan kita kan cuma, sementara.”
“Walau pun cuma sementara tetep aja orang harus kenal gue sebagai istri lu kan, jangan sampai orang salah sangka nantinya,” ucap Ziya.
“Oh gitu ya, ya udah atuh kalau Neng gak keberatan ayo kita dateng,” ucap Asep.
“Oke,” sahut Ziya.
‘Nah gitu dong, gue gak mau mantan lu masih terus berharap sama lu Asep, mulai sekarang lu cuma bisa jadi milik gue, gue mau ngusir semua cewek yang nyoba deketin lu.’ Ziya tersenyum licik.
“Emh kalau gitu besok kita belanja, gue gak punya baju buat ke kondangan soalnya,” ucap Ziya.
“Emh ke pasar?”
“Lah masa ke pasar, yang lain deh ada toko atau mall yang deket area sini gak?”
“Kalau gitu kita harus keluar dari Desa ini Neng.”
“Jauh gak?”
“Lumayan, perjalanannya sekitar dua jaman.”
“Ya udah kita pergi besok.”
***
Hari pun berganti, Asep dan Ziya tengah dalam perjalanan menuju kota. Ziya menarik napas dalam saat mobil hendak melalui jembatan yang waktu itu.
“Neng merem aja kalau takut,” ucap Asep.
“Udah gue lakuin dari tadi,” ucap Ziya dengan mata terpejam dan tangan berpegang kuat pada jok kursi yang ia duduki.
Asep mendengus senyum, setelah mobil melewati jembatan tersebut barulah Ziya membuka matanya, tempat ini benar-benar area pegunungan hingga yang Ziya lihat hanya barisan pepohonan dan hamparan ladang miring di atas bukit, sedang rumah-rumah warga tak ada satupun yang terlihat, ada pun cukup jauh dari area jalan yang dilewatinya.
Cukup jauh perjalanan yang mereka tempuh, akhirnya mobil pun memasuki area kota, terlihat dari mulai ramainya jalanan dan banyaknya rumah-rumah penduduk yang berdempetan.
Mobil Asep memasuki pekarangan Mall kecil di pusat kota, memang tak sebesar Mall di kota-kota besar namun barang jualan yang ada disini cukup lengkap hingga Ziya tetap bisa menemukan baju yang dia inginkan.
Mereka menyatroni salah satu toko pakaian yang menjajakan baju-baju brokat, kebaya dan lain-lain.
“Sep, gimana menurut lu cocok gak?” tanya Ziya sambil menunjukkan baju brokat berwarna biru pada Asep.
“Bagus Neng,” pujinya.
“Hem kayanya kurang deh, warnanya terlalu gelap, kalau yang ini?” tanya Ziya.
“Itu juga bagus," lagi-lagi Asep mengatakan hal yang sama.
“Tapi gue gak suka modelnya,” komentar Ziya.
Hem... Ziya kembali memilih, “yang ini?”
“Bagus Neng, cocok di Neng.”
“Ck, dari tadi lu tuh cuma bilang bagus, bagus, bagus, cocok terus, komentar yang lain napa Sep,” kesal Ziya, dia tak merasa terbantu sama sekali dengan pendapat yang Asep berikan.
Ziya melihat brokat berwarna pastel, model dan motifnya pun sesuai dengan keinginannya, “lagi-lagi dia menunjukkannya pada Asep, gimana?” tanyanya dengan wajah sumringah.
Asep melipat tangan di dada bersiap memberikan penilaiannya, “hem, kayanya warnanya agak belel gitu Neng, kurang bagus. Modelnya gak cocok di Neng,” komentarnya.
Wajah Ziya memberengut seketika, “tapi gue suka yang ini,” ucap Ziya.
“Eh, k-kalau gitu itu cocok banget di Neng, warnanya bagus lembut, modelnya juga cantik sama kaya Neng, cocok deh pokoknya,” ralat Asep segera, dia melirik sekitar terlihat dua orang wanita penjaga toko menertawakannya.
Asep menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Lu tuh, nyebelin tahu gak,” kesal Ziya, sambil membawa baju itu ke ruang ganti.
Asep berdecak pelan, ‘salah lagi kan saya, tadi katanya di suruh kasih pendapat giliran ngasih pendapat salah juga. Kenapa harus minta pendapat saya atuh kalau ujung-ujungnya tetep milih yang itu, lagian saya juga gak ngerti sama model baju perempuan yang saya liat semuanya sama cuma beda warna aja,’ batin Asep.
“Mbak saya pilih yang ini,” ucap Ziya sambil menaruh baju itu di meja kasir bersiap membayarnya.
“Biar saya yang bayar Neng,” Asep langsung berucap.
“Gak usah biar aku aja,” sahut Ziya.
“Nggak saya saja," ucap Asep kekeh sambil membuka dompetnya, sedang Ziya dengan kartunya.
“Nggak usah, biar aku aja.”
“Saya aja atuh Neng, kan Neng Istri saya sudah sewajarnya atuh saya yang bayarin.”
Ziya membeku seketika, pun dengan para penjaga toko itu, mungkin mereka mengira Asep dan Ziya ini bukan pasangan karena perdebatan kecil mereka tadi.
“Y-ya udah kalau gitu, kamu yang bayar,” ucap Ziya sambil memalingkan wajahnya yang berubah kemerahan.
🤣😄😍💪❤❤❤
dari bemci jadi bucin.
🤣😄😍❤💪💪❤❤
jgn2 sarah ikutan ngabisin dueit ziya..
❤❤❤❤
2x up hari ini ..
😍😍❤❤❤💪💪
keren banget Asseeepppp..
😄😍❤💪💪❤❤😍😍
🤣😄😍😍😍💪❤❤❤💪💪
biar tuh regan kena mental....
😄😍😍💪💪💪