Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Relia baru saja meletakkan Apple Pencil-nya di atas meja.
Jemarinya masih terasa sedikit kaku setelah menuangkan seluruh emosinya ke dalam bab terbaru di iPad pemberian Ariel.
Ia menghela napas panjang, merasa sebuah beban berat terangkat setiap kali ia berhasil mengakhiri paragraf dengan penuh keberanian.
Tepat saat itu, pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat menyeruak keluar bersama aroma sabun citrus dan sandalwood yang menyegarkan.
Ariel keluar hanya dengan mengenakan celana training hitam, rambutnya yang masih basah tampak berantakan namun justru menambah kesan maskulin pada wajahnya yang biasanya kaku.
"Sudah selesai menulisnya, Sayang?" tanya Ariel sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
Relia menoleh dan tersenyum tipis. "Sudah, Mas. Rasanya jauh lebih ringan sekarang."
Ariel berjalan mendekat, mengecup puncak kepala istrinya sebelum meraih remote televisi di nakas.
"Istirahatlah sebentar. Tubuhmu baru saja pulih, jangan terlalu memaksakan diri."
Ariel menyalakan televisi berlayar besar itu, berniat mencari saluran musik klasik untuk menenangkan suasana malam. Namun, saluran yang terbuka justru menampilkan siaran berita kilat (Breaking News) dengan latar belakang kantor kepolisian.
Wajah Ariel yang semula tenang mendadak mengeras. Matanya menyipit tajam saat melihat foto Markus dan Sarah terpampang jelas di layar.
"BERITA TERKINI: DUA TERSANGKA KASUS PENGANIAYAAN BERAT, MARKUS DAN SARAH, BERHASIL MELARIKAN DIRI DARI PENGAWALAN SAAT AKAN DIBAWA KE RUMAH TAHANAN."
Relia yang duduk di sofa seketika mematung. iPad di tangannya hampir saja terjatuh.
Ia menatap layar televisi dengan mata yang kembali dipenuhi ketakutan.
"Diduga adanya bantuan dari pihak luar yang mencegat mobil tahanan di jalur sepi. Hingga saat ini, keberadaan Markus dan istrinya masih belum diketahui. Kepolisian meminta warga untuk waspada karena tersangka dianggap berbahaya..." bunyi suara pembawa berita tersebut.
"Mas, mereka lepas?" suara Relia bergetar hebat.
Tubuhnya mulai gemetar, trauma lamanya seolah ditarik paksa ke permukaan.
"Mereka akan mencariku, Mas. Markus tidak akan membiarkanku tenang setelah aku mempermalukannya di depan media."
Ariel segera mematikan televisi dan berlutut di depan Relia, menggenggam kedua tangan istrinya yang kini sedingin es.
"Tenang, Relia. Lihat aku," suara Ariel terdengar sangat dalam dan tegas, aura CEO-nya yang dominan kini keluar sepenuhnya.
"Mereka mungkin bisa lari dari polisi, tapi mereka tidak akan pernah bisa lari dariku."
Ariel meraih ponselnya dan menekan tombol panggilan cepat ke kepala keamanannya.
"Satrio, aktifkan protokol keamanan tingkat satu di seluruh area perbukitan. Tambah personel di setiap titik buta mansion. Jangan biarkan lalat sekalipun lewat tanpa izin. Dan satu lagi... hubungi jaringan informan kita. Cari tahu siapa yang membantu mereka kabur. Aku ingin mereka ditemukan sebelum matahari terbit."
Setelah menutup telepon, Ariel kembali menatap Relia yang masih tampak terguncang.
Ia menarik istrinya ke dalam pelukan yang sangat protektif.
"Mereka melarikan diri karena mereka takut, Relia. Mereka pengecut. Mereka pikir dengan lari, mereka bisa menang, tapi sebenarnya mereka hanya sedang mempercepat kehancuran mereka sendiri," bisik Ariel.
"Mas akan menjagamu. Malam ini, aku akan terjaga di sampingmu. Tidak ada jam dua pagi yang perlu kamu takuti lagi."
Relia membenamkan wajahnya di dada bidang Ariel, namun matanya tetap tertuju pada iPad di atas meja.
Di dalamnya, ia telah menulis bahwa ia adalah api yang akan membakar kebohongan Markus.
Sekarang, api itu harus benar-benar menyala karena sang monster kini sedang berkeliaran di luar sana, haus akan dendam.
Di sebuah rumah tua yang tersembunyi di tengah hutan jati yang rimbun, suasana terasa pengap dan gelap.
Markus duduk di kursi kayu dengan wajah yang tampak berantakan, sementara Sarah terus menangis di sudut ruangan, ketakutan jika polisi tiba-tiba mendobrak pintu.
"Sialan! Bagaimana bisa aku menjadi buronan seperti ini!" Markus menggebrak meja, membuat lampu minyak di atasnya bergoyang.
Seorang pria dengan jaket kulit hitam dan tatapan mata yang licik masuk membawa beberapa botol air mineral.
Ia adalah Tino, sahabat lama Markus yang memiliki banyak koneksi di dunia bawah tanah.
"Tenanglah, Markus. Teriak-teriak tidak akan membuatmu lolos dari Arkatama," ucap Tino sambil menyulut rokok.
"Ariel Arkatama menghancurkan reputasiku, Tino! Relia, jalang kecil itu membuatku terlihat seperti monster di depan seluruh negeri!" Markus menggeram.
Tino terkekeh, kepulan asap rokok keluar dari mulutnya.
"Kalau kamu ingin membalas dendam dengan cara kasar, kamu akan langsung tertangkap. Ariel punya tentara keamanan yang bisa menghancurkanmu dalam sekejap. Tapi, jika kamu ingin menghancurkan mereka, pakailah cara halus."
Markus mengernyitkan dahi. "Maksud kamu?"
Tino mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat mata Markus perlahan melebar.
"Ubah narasi ceritanya. Kamu jangan jadi penjahat. Kamu harus jadi korban."
"Korban? Semua orang sudah melihat visum itu!" sahut Sarah menyela dengan suara serak.
"Visum bisa dimanipulasi oleh uang Arkatama, kan? Itulah yang harus kalian katakan pada publik," Tino tersenyum licik.
"Katakan bahwa sebenarnya Relia-lah yang terobsesi padamu. Katakan bahwa dia mengalami gangguan jiwa yang membuatnya berhalusinasi, lalu dia menjebakmu, bahkan memperkosamu di bawah pengaruh obat-obatan agar dia bisa memerasmu untuk masuk ke keluarga Arkatama."
Markus terdiam sejenak. Ide itu gila, tapi sangat cerdik.
"Memperkosaku? Siapa yang akan percaya?"
"Dunia akan percaya jika kamu punya 'bukti' baru," Tino mengeluarkan sebuah rekaman suara yang sudah diedit sedemikian rupa.
"Gunakan narasi bahwa Ariel Arkatama sebenarnya adalah kaki tangan yang ingin merebut asetmu dengan menggunakan Relia sebagai alat. Katakan bahwa keguguran itu disengaja untuk menghilangkan barang bukti DNA yang sebenarnya bukan milikmu."
Markus mulai berdiri, sebuah seringai jahat kembali muncul di wajahnya yang kuyu.
"Jadi, aku adalah suami malang yang dikhianati dan difitnah oleh istri yang gila dan dokter yang haus kekuasaan?"
"Tepat sekali, Tino. Kita akan rilis video pengakuanmu di media sosial lewat akun anonim malam ini. Biarkan netizen yang maha tahu itu berdebat. Saat publik ragu, itulah celah kita untuk menyerang balik."
Sarah menatap suaminya dengan ngeri. "Tapi Mas, ini kebohongan besar..."
"Diam, Sarah!" bentak Markus. "Ini satu-satunya cara kita menang. Relia menggunakan 'suara' lewat novelnya, maka aku akan menggunakan 'suara' lewat air mata buaya."
Sementara itu di mansion utama, Ariel masih terjaga, ia sedang memeriksa sistem keamanan di iPad-nya ketika sebuah notifikasi video trending muncul di ponselnya. Judulnya sangat provokatif:
"PENGAKUAN JUJUR MARKUS: SAYA ADALAH KORBAN REKAYASA KELUARGA ARKATAMA".
Ariel mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih.
Di sampingnya, Relia yang baru saja ingin terlelap, kembali tersentak saat mendengar suara Markus dari ponsel Ariel yang diputar dengan volume kecil.
"Relia sangat tidak stabil. Dia sering melukai dirinya sendiri dan menuduh saya. Saya mencintainya, tapi dia dan Dokter Ariel bekerja sama untuk menghancurkan hidup saya karena dendam bisnis..." ucap suara Markus di video itu.
Relia menatap Ariel dengan mata berkaca-kaca.
"Mas, dia memutarbalikkan kenyataan. Dia bilang aku yang memperkosanya?"
Ariel mematikan ponselnya, lalu menarik Relia ke dalam pelukannya dengan sangat protektif.
"Dia sedang menggali liang lahatnya sendiri, Relia. Dia pikir dengan berbohong di depan kamera, dia bisa selamat."
Ariel mencium kening istrinya. "Biarkan dia merasa menang malam ini. Besok, aku tidak hanya akan mengirim polisi, tapi aku akan merilis rekaman CCTV asli dari ruang kerjanya yang selama ini dia pikir sudah terhapus. Dia lupa kalau Arkatama punya segalanya."
mudah"an relia selamat