"Aku adalah saksi dari setiap cintamu yang patah, tanpa pernah bisa memberitahumu bahwa akulah satu-satunya cinta yang tak pernah beranjak."
Pricillia Carolyna Hutapea sudah hafal setiap detail hidup Danesha Vallois Telford
Mulai dari cara laki-laki itu tertawa hingga daftar wanita yang pernah singgah di hatinya.
Sebagai sahabat sejak kecil, tidak ada rahasia di antara mereka. Mereka berbagi ruang, mimpi, hingga meja kuliah yang sama. Namun, ada satu rahasia yang terkunci rapat di balik senyum tenang Pricillia, dia telah lama jatuh cinta pada sahabatnya sendiri.
Dunia Pricillia diuji ketika Danesha menemukan ambisi baru pada sosok Evangeline Geraldine Mantiri, primadona kampus yang sempurna. Pricillia kini harus berdiri di baris terdepan untuk membantu Danesha memenangkan hati wanita lain.
Di tengah tumpukan buku hukum dan rutinitas tidur bersama yang terasa semakin menyakitkan, Pricillia harus memilih, terus menjadi rumah tempat Danesha pulang dan bercerita tentang wanita lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Langkah kaki Amelie beradu cepat dengan lantai marmer lobi perusahaan, menciptakan gema yang memburu seirama dengan detak jantungnya yang kacau.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini luruh, membasahi pipinya yang memanas. Ia merasa seperti pecundang, seorang wanita yang merasa paling cerdas namun nyatanya telah ditipu oleh drama murahan selama setengah dekade.
"Amelie! Berhenti!" suara bariton Alex menggelegar di lorong, mengabaikan tatapan bingung para karyawan yang masih tersisa.
Amelie tidak berhenti. Ia justru mempercepat langkahnya menuju pintu kaca besar. Rasa malunya jauh lebih besar daripada rasa rindunya. Bagaimana mungkin ia sebodoh itu? Bagaimana mungkin ia membiarkan lima tahun hidupnya dan hidup Alex hancur hanya karena sepatah kata dari wanita asing?
Tepat di bawah lampu jalanan yang temaram di area parkir, tangan kekar Alex berhasil meraih pergelangan tangannya, memutar tubuh Amelie hingga mereka berhadapan.
"Amelie, kumohon... percaya pada penjelasanku!" napas Alex memburu, matanya memancarkan keputusasaan yang mentah. "Aku bahkan tidak mengingat wajah Magenta. Namanya saja terdengar asing di telingaku. Astaga, aku harus apa agar kamu percaya?!"
Amelie menunduk, menyembunyikan wajahnya di balik rambut pirangnya yang berantakan. Bahunya bergetar hebat karena isak tangis. "Lepaskan aku, Alex... aku malu... aku benar-benar malu..."
"Malu untuk apa? Malu karena kita kehilangan waktu?!" Alex mencengkeram kedua bahu Amelie, memaksa wanita itu menatapnya. Wajah Alex kini terlihat mengintimidasi namun rapuh di saat yang sama.
"Dengar, aku membiarkanmu pergi lima tahun lalu bukan berarti aku memberikan izin itu lagi sekarang! Kamu sudah kembali ke jangkauanku, Amelie. Aku tidak akan membiarkan kebohongan itu menang dua kali!"
Amelie mendongak, matanya yang sembab menatap Alex dengan rasa bersalah yang menghujam jantung. "Justru karena itu, Alex... Aku menghancurkan mu. Aku membencimu selama lima tahun atas kesalahan yang tidak pernah kamu lakukan. Aku tidak pantas ada di depanmu sekarang."
Dengan satu sentakan kuat, Amelie melepaskan diri dari cengkeraman Alex. Ia segera masuk ke dalam mobilnya yang sudah menunggu, mengunci pintu dari dalam sebelum Alex sempat meraih gagang pintu.
"Amelie! Buka pintunya!" Alex memukul kaca jendela mobil dengan kepalan tangannya, ekspresinya penuh amarah yang bercampur dengan rasa takut kehilangan untuk kedua kalinya.
Mobil itu melaju kencang, meninggalkan Alex yang berdiri sendirian di tengah kegelapan area parkir. Alex menatap kepergian lampu belakang mobil Amelie dengan tangan yang gemetar. Ia baru saja mendapatkan kembali alasannya untuk hidup, namun rasa bersalah Amelie kini menjadi tembok baru yang jauh lebih tinggi daripada jarak ribuan kilometer yang memisahkan mereka dulu.
Di dalam mobil, Amelie menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, menangis sejadi-jadinya. Ia telah menjadi "Pricillia" yang gagal, ia tidak cukup tenang untuk melihat kebenaran, dan ia terlalu sombong untuk bertanya.
Rasa bersalah yang menghimpit dada Amelie dengan cepat bermutasi menjadi kemarahan yang membara.
Dia bukan lagi gadis polos yang bisa ditindas, dia adalah putri keluarga Marius yang memiliki darah dingin Pricillia di nadinya. Setelah melarikan diri dari Alex, Amelie tidak pulang ke rumah.
Dia melakukan satu panggilan telepon pada informannya, dan dalam tiga puluh menit, dia sudah tahu di mana hama Magenta itu berada.
The Glass Lounge, sebuah kafe elit di pusat kota, menjadi saksi bisu kemarahan sang Direktur Operasional.
Di salah satu meja bundar paling strategis, Magenta sedang tertawa lepas. Dia tampak sangat terawat, mengenakan gaun desainer, sedang memamerkan tas barunya kepada tiga orang temannya yang tak kalah glamor.
"Jadi, si Alex itu beneran belum nikah sampai sekarang? Duh, padahal dulu dia agresif banget sama aku," ujar Magenta dengan nada sombong yang dibuat-buat, memicu gelak tawa teman-temannya.
Langkah kaki Amelie yang tegas membelah keheningan kafe. Tanpa aba-aba, tanpa menyapa, Amelie meraih segelas besar jus jeruk dingin milik pengunjung di meja sebelah yang baru saja disajikan.
BYURRRR!
Cairan kental berwarna oranye dengan potongan es batu itu mendarat tepat di wajah Magenta, mengalir deras membasahi bulu mata palsunya, masuk ke dalam belahan gaun mahalnya, dan mengotori tas yang baru saja ia pamerkan.
"APA-APAAN INI?!" teriak Magenta histeris, melompat berdiri sambil mencoba mengusap wajahnya yang lengket.
Teman-temannya memekik kaget, menyingkir agar tidak terkena cipratan.
Amelie berdiri tegak di depan Magenta, meletakkan gelas kosong itu ke meja dengan bunyi dentuman yang pelan namun mengintimidasi. Matanya berkilat tajam, jauh lebih berbahaya daripada Alex saat sedang marah.
"Itu untuk lima tahun hidupku yang kamu curi dengan mulut kotormu," suara Amelie rendah, dingin, dan berwibawa, membuat seluruh kafe mendadak senyap.
Magenta akhirnya berhasil melihat siapa pelakunya. Wajahnya memucat sesaat sebelum dia mencoba kembali berakting.
"Amelie? Kamu gila?! Kamu sudah tidak waras karena ditinggal Alex, hah?!"
"Aku tidak ditinggal, Magenta. Aku yang pergi karena kebohongan murah yang kamu buat dengan Tantemu Evangeline," Amelie maju satu langkah, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti. "Aku sudah tahu semuanya. Foto rekayasa, minuman yang dicampur obat... semuanya. Kamu pikir aku akan diam saja?"
Magenta mencoba membalas, namun Amelie mencengkeram rahangnya dengan kuat, persis seperti cara Danesha mencengkeram lawan bisnisnya.
"Dengar baik-baik. Aku bisa menghancurkan reputasi mu di kota ini hanya dengan satu surat tuntutan fitnah dan pencemaran nama baik. Dan jangan harap Evangeline akan menolong mu, dia sudah lama jadi sejarah di keluarga Lambert," desis Amelie.
Amelie kemudian mengambil selembar tisu dari meja, mengelap tangannya yang sedikit terkena jus, lalu melemparkannya ke wajah Magenta yang masih basah kuyup.
"Tunggu surat dari firma hukum ku besok pagi. Dan jangan pernah berani sebut nama Alex lagi dengan mulut murah mu itu, atau siraman berikutnya bukan cuma jus, tapi seluruh hidupmu yang akan ku buat tenggelam."
Amelie berbalik dan melangkah keluar dengan kepala tegak, meninggalkan Magenta yang gemetar karena malu dan takut di tengah kerumunan sosialita yang kini mulai berbisik-bisik menghakiminya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰
masih nyimak 🤣