NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Jinting 3: Kepulangan

Kota Jinting tidak pernah benar-benar tidur, tetapi hari ini, kota itu terjaga dengan kegelisahan yang berbeda.

Di langit biru yang cerah, sebuah garis hitam tipis membelah awan. Itu bukan burung, dan jelas bukan pedang terbang kultivator yang meninggalkan jejak Qi. Itu adalah jejak turbulensi paksa—seperti bekas luka di atmosfer yang ditinggalkan oleh objek yang bergerak dengan memanipulasi ledakan dan pemadatan udara.

Lu Daimeng mendarat di bukit batu, tiga kilometer dari gerbang utara kota.

BOOM.

Pendaratannya menciptakan kawah kecil. Debu mengepul.

Dia berdiri tegak. Jubah bela diri hitam yang dia ambil dari Alam Rahasia berkibar ditiup angin. Rambut hitamnya terurai panjang hingga pinggang, liar dan tidak terikat, memberikan kesan mendominasi.

Wajahnya terbuka.

Dia tidak lagi mengenakan topi bambu penyembunyian aura. Kulit wajahnya cerah, dengan tekstur yang terlalu halus untuk manusia biasa. Dan matanya... mata itu terbuka lebar, memamerkan enam pupil yang berputar pelan di dalam iris emas.

"Kota ini," bisik Lu Daimeng. Suaranya memiliki resonansi ganda—satu dari pita suaranya, satu lagi getaran subsonik dari organ naga di dadanya yang disengaja. "Baunya masih sama. Bau kemunafikan dan dupa murah."

Dia melangkah turun dari bukit. Dia tidak menggunakan kecepatan penuh. Dia berjalan santai menuju gerbang kota, seolah-olah dia adalah turis yang baru pulang dari perjalanan panjang.

Para penjaga gerbang yang biasanya memalak setiap orang asing, terdiam saat melihat sosok Lu Daimeng mendekat.

Mereka tidak mengenalinya. Mereka melihat monster berbentuk manusia. Insting bertahan hidup mereka menjerit.

Lu Daimeng mengangkat wajahnya sedikit. Saat penjaga gerbang hendak meminta uang tol, kata-katanya mati di kerongkongan.

Dia melihat mata itu. Iris berwarna ungu nebula yang berputar, dan di dalamnya... tiga pupil yang tersusun dalam formasi sempurna. Itu bukan mata manusia. Itu adalah mata dewa.

Penjaga Senior, Mundur selangkah, tombaknya jatuh dari tangan yang gemetar. "Dewa..."

"Kapten? Kenapa? Dia hanya pengembara, kita harus meminta paj—" Tanya penjaga junior.

"Pajak matamu!!" Menampar juniornya dengan keras, keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat.

"Tutup mulutmu jika kau masih ingin hidup! Tundukkan kepalamu, bodoh!"

Mengintip sekilas, lalu napasnya tercekat.

"Mata itu... Itu... Tiga pupil dalam satu wadah? Legenda mengatakan itu tanda dari... Tanda dari Keturunan Dewa Kuno?!"

Berbisik dengan suara parau, lututnya lemas.

"Aura di tubuhnya... dingin. Seperti mayat, tapi lebih agung dari Patriark manapun. Dia bukan manusia biasa. Dia pasti Tuan Muda dari Klan Tersembunyi di Daratan Tengah yang sedang menyamar... Demi Langit, dia melihat kita seperti melihat semut mati. Biarkan tuan ini lewat! Buka gerbang selebar-lebarnya! Jangan buat dia menunggu satu detik pun!"

Lu Daimeng melewati gerbang tanpa diperiksa. Aura Anti-Dao yang dia tekan di bawah kulitnya membuat udara di sekitarnya dingin, mematikan keberanian siapa pun untuk bertanya.

Dia berjalan menyusuri jalan utama, menuju sebuah kedai teh besar yang ramai: Paviliun Angin Tenang.

Tempat ini adalah pusat gosip. Tempat di mana kultivator liar, pedagang, dan mata-mata bertukar informasi.

Lu Daimeng melangkah masuk. Aura alaminya yang dingin dan mata Tiga Pupil-nya membuat seisi kedai merasa seperti rakyat jelata yang tiba-tiba didatangi Kaisar Langit. Mereka takut, kagum, dan merasa kerdil.

Pintu kayu kedai itu tidak ditendang, hanya didorong pelan. Namun, efeknya instan. Suara riuh rendah para pengunjung dan pedagang gosip mati seketika, seolah leher mereka dicekik oleh tangan tak terlihat.

Lu Daimeng melangkah masuk. Saat dia mengangkat wajahnya untuk mencari tempat duduk, cahaya matahari menyinari sepasang matanya.

Iris ungu. Dan di dalamnya... tiga pupil hitam vertikal yang berputar lambat dalam formasi segitiga suci.

Bagi orang-orang udik di wilayah pinggiran seperti Kota Jinting ini, pemandangan itu seperti melihat mitos yang hidup.

'Cangkir tehnya berhenti di bibir, matanya melotot sampai urat merahnya terlihat' bisik Pedagang Tua.

'Demi Langit... Mataku... Apa aku salah lihat? Tuan muda itu... matanya...'

Kultivator Liar Menyikut rusuk temannya dengan keras, kepalanya menunduk panik.

'Tundukkan pandanganmu, bodoh! Jangan menatap langsung! Kau mau mati?!'

Kultivator Liar temannya yang penasaran, Mengintip tipis, keringat dingin sebesar biji jagung menetes di pelipisnya.

'Itu... Tiga pupil dalam satu mata?! Aku pernah membaca di gulungan kuno yang rusak... Itu adalah tanda 'Mata Surgawi'. Tanda lahir seorang Putra Dewa!'

Pelayan Wanita yang ada di tempat itu Kakinya gemetar hebat, nampannya berbunyi kling-kling karena getaran tangannya.

'Dia... Dia terlalu tampan... tapi rasanya seperti melihat dewa kematian. Aura di sekelilingnya... dingin sekali. Apakah dia pangeran dari Kekaisaran Pusat?'

Kultivator Liar Suaranya bergetar, penuh rasa hormat yang ketakutan.

'Pasti. Lihat kulitnya. Itu bukan kulit orang yang terkena matahari pinggiran seperti kita. Itu kulit giok abadi. Dan matanya... itu pasti Bloodline (Garis Keturunan) Kuno. Dia pasti Tuan Muda dari Klan Tersembunyi yang sedang 'turun gunung' untuk mencari pengalaman.'

Pedagang Tua menelan ludah dengan susah payah.

'Ssst! Pelankan suaramu. Orang-orang dari Klan Kuno biasanya memiliki tabiat aneh. Jika dia mendengar kita membicarakannya, dia bisa memusnahkan satu kedai ini hanya dengan jentikan jari.'

Kultivator Liar lain Berbisik histeris.

'Gila... Kota Jinting kita kedatangan Naga Sejati. Dibandingkan dengan dia, Nona Lu Zhuxin yang baru pulang itu... terasa seperti kunang-kunang di depan matahari.'

Lu Daimeng berjalan melewati meja mereka. Dia tidak menoleh. Dia tidak peduli. Namun, hembusan angin dari jubahnya membawa aroma ozon dan ketiadaan yang membuat mereka semua menahan napas secara refleks, takut mengotori udara yang dihirup sang "Tuan Muda".

"Ya Dewa... jantungku berhenti saat dia lewat. Dia bahkan tidak melirik kami. Kami benar-benar semut di matanya." Gumam seorang pelayan wanita.

Suasana kedai yang riuh seketika meredup beberapa desibel. Pelanggan di meja-meja terdekat secara tidak sadar menggeser kursi mereka menjauh.

Lu Daimeng duduk di sebuah meja kosong di tengah ruangan. Bukan di sudut gelap. Dia ingin terlihat.

"Teh," katanya pada pelayan yang gemetar.

Sambil menunggu, telinganya yang diperkuat genetik naga menyaring ratusan percakapan sekaligus.

"Kudengar ada ekspedisi mengerikan beberapa hari lalu?"

"Ya, banyak yang mati. Banyak sekte besar dan keluarga besar kehilangan banyak pasukannya... kasihan sekali, mereka pulang dengan tangan kosong."

"Ssst! Jangan keras-keras! Para faksi besar sedang sensitif. Mereka membantai sepuluh warga sipil kemarin hanya karena tertawa saat kereta mereka lewat."

Lu Daimeng mendengarkan tanpa ekspresi. Sudut bibirnya berkedut sedikit saat mendengar nasib Lu Duo.

Tiba-tiba, dari meja di seberang ruangan, seorang pria paruh baya tersedak minumannya.

Pria itu adalah kultivator liar Ranah Pembentukan Qi Tahap 5. Dia mengenakan rompi kulit beruang. Wajahnya pucat pasi saat menatap Lu Daimeng.

Pria itu ada di sana. Di Lembah Gunung Jinting. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang melihat Lu Daimeng membantai murid Keluarga Lu dari kejauhan sebelum melarikan diri.

"I-itu dia..." bisik pria itu, tangannya gemetar menunjuk Lu Daimeng. "Iblis... Iblis dari lembah..."

Teman semejanya bingung. "Apa maksudmu? Siapa?"

"Dia yang memotong Lu Duo! Dia yang membunuh semua murid keluarga Lu! Kita harus lapor ke—"

Kalimat itu tidak pernah selesai.

Lu Daimeng tidak menoleh. Dia masih menatap cangkir teh kosong di depannya.

Namun, di dalam otaknya, Singularitas Psikis berputar.

Dia memfokuskan Pedang Jiwa Surgawi menyatukan dengan Dark Null ke dalam bentuk gelombang jarum mental yang tak terlihat. Dia mengirimkannya melalui tatapan sudut matanya, langsung menuju otak pria itu.

Mati.

Tidak ada ledakan. Tidak ada kilatan cahaya.

Di meja seberang, mata pria itu tiba-tiba memutih. Pembuluh darah di hidung dan telinganya pecah serentak.

BRUK.

Wajahnya menghantam meja. Mati seketika. Otaknya telah dihancurkan dari dalam, dicairkan oleh serangan mental yang presisi.

"Saudara Li?! Saudara Li!" Teman-temannya panik, mengguncang tubuh mayat itu. "Dia tidak bernapas! Jantungnya berhenti!"

Kepanikan menyebar di kedai.

"Penyimpangan Qi! Dia terkena serangan jantung karena kultivasi yang salah!" teriak seseorang.

"Jauhkan mayat itu! Sial, nasib buruk!"

Tidak ada yang curiga pada pemuda berambut panjang yang duduk tenang sepuluh meter dari sana. Tidak ada fluktuasi Qi yang terdeteksi darinya. Membunuh tanpa gerak, tanpa energi yang dikenal dunia ini. Itu adalah pembunuhan hantu.

Lu Daimeng mengambil cangkir teh yang baru diantar pelayan (yang hampir menjatuhkan nampan karena kaget melihat mata Lu Daimeng). Dia menyesapnya.

Pahit.

Tiba-tiba, suara sorak-sorai terdengar dari jalanan luar. Musik seruling dan genderang bergema, diiringi ledakan kembang api di siang hari.

Ribuan lembar kertas berwarna merah dan emas dijatuhkan dari langit oleh burung-burung bangau pelatih.

Salah satu brosur itu melayang masuk ke dalam kedai, jatuh tepat di meja Lu Daimeng.

Lu Daimeng mengambilnya.

Kertas itu wangi. Di atasnya, terlukis potret seorang wanita muda yang sangat cantik, mengenakan jubah kebesaran berwarna ungu dengan motif Phoenix. Dia berdiri di atas awan, memegang pedang giok.

Tulisannya berbunyi:

PENYAMBUTAN AGUNG!

Selamat Datang Kembali, Kebanggaan Kota Jinting!

Nona LU ZHUXIN (Putri Kelima Keluarga Lu).

Murid Langsung Tetua Agung Keluarga Lu Daratan Tengah.

Telah Mencapai RANAH PEMBENTUKAN ROH (SPIRIT REALM) TAHAP 1 di usia 21 tahun!

Lu Daimeng menatap gambar kakaknya itu.

Lu Zhuxin.

Kakak perempuan yang dulu paling jijik padanya. Wanita yang pernah berkata, "Darahmu mengotori lantai yang sama denganku," sebelum menendang Lu Daimeng kecil ke kandang kuda.

Sekarang, dia adalah seorang jenius tingkat benua. Ranah Roh. Bisa terbang, memanipulasi fenomena alam, dan memiliki umur panjang.

"Pesta penyambutan..." gumam Lu Daimeng.

Di jarinya, energi hitam Dark Null merembes keluar. Dia tidak membakar kertas itu dengan api biasa. Dia memanipulasi Dark Null untuk meniru sifat pembakaran, menciptakan Api Hitam Ketiadaan.

Fwoosh.

Kertas itu terbakar. Apinya tidak panas, tapi dingin. Kertas itu tidak menjadi abu, melainkan lenyap begitu saja, dihapus dari eksistensi seiring api hitam itu memakannya.

"Dia pulang untuk pamer," kata Lu Daimeng, menaburkan sisa ketiadaan dari tangannya. "Sempurna. Panggungnya sudah disiapkan."

Dia berdiri, meletakkan keping perak di meja, dan berjalan keluar.

Bersambung...

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!