Deon selalu jadi bulan-bulanan di sekolahnya karena wajahnya yang terlalu tampan, sifatnya penakut, dan tubuhnya yang lemah. Suatu hari, setelah nyaris tewas ditinggalkan oleh para perundungnya, ia bangkit dengan Sistem Penakluk Dunia yang misterius di tubuhnya. Sistem ini memberinya misi-misi berani dan aneh yang bisa meningkatkan kekuatan, pesona, dan kemampuannya. Mampukah Deon membalaskan semua penghinaan, menaklukkan para wanita yang dulu tak mempedulikannya, dan mengubah nasibnya dari korban menjadi penguasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BRAXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rumah Bu Mia
Deon menempelkan ponselnya ke telinga, suaranya dipenuhi kebohongan paling meyakinkan yang bisa ia rangkai saat ia berkata, “Aku benar-benar tidak bisa datang malam ini, Charlotte. Aku punya… urusan penting lain yang harus ditangani.” Nadanya terdengar santai, namun ia dengan hati-hati menyelipkan sedikit penyesalan yang pas ke dalam kata-katanya, berharap bisa mengurangi rasa kecewanya.
Ada jeda di seberang telepon, disusul helaan napas pelan yang terdengar kecewa. “Oh… begitu,” jawab Charlotte, suaranya membawa semburat kesedihan yang hampir membuat Deon merasa bersalah. “Baiklah, mungkin kita bisa melakukannya lain kali.”
Deon mengembuskan napas, lega karena ia tidak mendesak lebih jauh. “Ya, aku benar-benar minta maaf. Aku memang punya janji malam ini, dan aku baru akan bebas sekitar jam sepuluh.”
Tepat ketika ia mengira percakapan itu akan berakhir, nada suara Charlotte tiba-tiba berubah, kesedihan digantikan oleh kegembiraan. “Itu sempurna!” serunya ceria. “Kau bisa datang ke tempatku sekitar jam sepuluh nanti. Kita bisa berkencan di sini saja.”
Alis Deon terangkat sedikit, tidak menyangka perubahan yang begitu cepat. “Tunggu, bukankah itu agak malam?” tanyanya, berusaha terdengar ragu meski sebenarnya ia tertarik.
Charlotte terkikik, suaranya terdengar genit di seberang telepon. “Kalau begitu, tinggal menginap disini saja. Masalah selesai.”
Sebelum ia sempat bereaksi, sambungan telepon terputus, meninggalkan Deon menatap ponselnya dengan tak percaya. Sesaat, ia merebahkan diri di sofa, matanya terpaku ke langit-langit, mencerna apa yang baru saja terjadi. Lalu, saat kesadarannya benar-benar menangkap situasi itu, sebuah tawa kecil lolos dari bibirnya, dan ia bergumam pelan, “Menarik.”
---
Beberapa jam kemudian, saat langit mulai gelap dan jalanan semakin sepi, Deon mendapati dirinya berdiri di depan pintu apartemen Mia, mengetuk dua kali. Ia menunggu jawaban, namun tak ada respons. Ia mengetuk lagi, kali ini mendengar suara tergesa-gesa dari dalam.
“Tunggu sebentar, Lily! Aku segera ke sana!”
Senyum menyeringai muncul di bibir Deon saat ia sedikit bersandar pada kusen pintu. Jadi, dia sedang menunggu orang lain. Ia tidak tahu siapa Lily ini, tapi dari nada suara Mia yang tergesa-gesa, jelas ia belum siap menerima tamu. Mungkin ia seharusnya datang sedikit lebih lambat.
Lalu, beberapa detik kemudian, pintu terbuka, dan mata Deon sedikit membelalak karena terkejut. Ia sudah bersiap untuk melihat gurunya, namun yang tidak ia siapkan adalah apa yang dikenakannya.
Mia berdiri di hadapannya, hanya mengenakan kemeja putih kebesaran yang panjangnya nyaris mencapai paha atasnya. Kainnya longgar, tetapi tidak sama sekali menyembunyikan lekuk tubuhnya. Di balik kemeja itu, samar-samar terlihat garis pakaian dalam renda hitam. Beberapa kancing bagian atas terbuka, memperlihatkan sedikit tulang selangka dan kulit halus di bagian dada atasnya, sementara bagian bawah kemeja nyaris tidak mampu menutupi lekuk pinggulnya.
Kakinya telanjang, putih, dan mulus, dan jelas ia tidak mengharapkan tamu—setidaknya, bukan tamu yang menuntut pakaian yang pantas. Rambut hitamnya sedikit berantakan, seolah ia sebelumnya sedang bersantai dengan nyaman sebelum terganggu.
Sesaat, Mia hanya berdiri di sana, berkedip kaget menatapnya. Kemudian, saat ia menyadari siapa yang ada di depannya, keterkejutannya berubah menjadi kesal. Alisnya berkerut, dan ia menyilangkan tangan di depan dada, seakan baru menyadari betapa terbukanya penampilannya. “Deon?” gumamnya, suaranya terdengar tak percaya.
Deon, yang masih bersandar santai di ambang pintu dengan ekspresi terhibur, tertawa kecil. “Apa kau sedang menunggu orang lain?”
Bibir Mia menipis saat ia menarik napas tajam. “Bukankah kau datang terlalu awal?” balasnya, nada suaranya jelas mengandung kejengkelan, meski Deon bisa tahu itu lebih karena malu daripada marah.
Deon hanya tersenyum, matanya dengan malas menyusuri tubuhnya dari kepala hingga kaki sebelum kembali menatap matanya. “Kau mengatakan jam delapan, dan sekarang memang jam delapan.”
Mia mengembuskan napas, menggelengkan kepalanya sebelum menyingkir. “Masuk saja,” balasnya, wajahnya sedikit memerah.
Saat Deon melangkah masuk ke rumah Mia, hal pertama yang menarik perhatiannya adalah betapa nyaman dan terawatnya tempat itu. Ia membayangkan sesuatu yang lebih formal dan kaku, mengingat Mia adalah seorang guru, namun yang ia temukan justru suasana yang terasa hidup dan nyaman.
Cahaya lampu menerangi interior modern namun sederhana itu, menyoroti penataan furnitur yang rapi. Sebuah sofa abu-abu empuk berada di tengah ruang tamu, dihiasi beberapa bantal yang stylish, sementara meja kopi kaca terletak di depannya. Sebuah rak buku berdiri di salah satu dinding, dipenuhi novel, buku-buku pendidikan, dan beberapa ornamen dekoratif. Beberapa sentuhan pribadi, seperti foto-foto berbingkai dan tanaman pot di dekat jendela, menambah nuansa rumah yang nyaman.
Lalu, indera lainnya menyusul—aroma makanan yang menggugah selera memenuhi udara. Deon menoleh sedikit, menghirup aroma itu saat ia mengenali bau sesuatu yang kaya rasa. Saat melangkah ke arah dapur, ia melihat sebuah panci mendidih di atas kompor, uap mengepul darinya. Dari aroma gurih yang memenuhi rumah, kemungkinan itu adalah hidangan pasta krim dengan bawang putih, mentega, dan rempah-rempah, dipadukan dengan ayam panggang.
Tepat ketika Deon hendak melihat lebih dekat, aroma lain tiba-tiba melintas di dekatnya—lebih manis, lembut, dan sangat feminin. Itu adalah Mia.
Ia melewatinya begitu saja, kaki telanjangnya masih terlihat jelas, namun kali ini, Deon menangkap sesuatu yang sebelumnya tidak ia perhatikan. Saat Mia menaiki tangga, ujung kemeja kebesarannya sedikit terangkat, memperlihatkan lebih banyak paha kencangnya, dan sesaat, sepotong kain hitam tampak sekilas.
Deon buru-buru memalingkan wajahnya, batuk canggung sambil bergumam pelan, “Aku tidak melihat apa-apa… Tidak, sama sekali tidak melihat apa-apa.”
Meski begitu, senyum menyeringai tetap tersungging di sudut bibirnya.
Sambil menunggu Mia kembali, Deon berkeliling rumah, mengagumi detail-detail kecil dirumahnya. Tempat itu terasa pribadi, nyaman, dan entah bagaimana sangat berbeda dari sosok Mia yang ia kenal di kelas.
Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu.
Deon menoleh ke arah pintu masuk, ragu-ragu sejenak sebelum berjalan mendekat dan membukanya.
Berdiri di sana seorang gadis kecil, tak lebih dari sepuluh tahun, dengan mata cokelat besar yang menatapnya penuh rasa ingin tahu. Rambut hitam panjangnya diikat menjadi kuncir, dan ia menggenggam sebuah tas kecil di sisinya.
Deon berkedip bingung, pikirannya langsung melompat pada kesimpulan. “Apakah Bu Mia memiliki anak?” gumamnya dalam hati, menatap gadis itu dengan sedikit terkejut.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa lagi, Mia tiba-tiba muncul di belakangnya, kini memegang sebuah amplop putih kecil di tangannya.
“Tidak, dia bukan anakku,” kata Mia datar, seolah membaca pikirannya. Lalu ia menyerahkan amplop itu kepada gadis kecil tersebut dan menambahkan, “Berikan ini pada ayahmu, ya?”
Gadis itu, Lily, mengangguk sambil memeluk amplop itu erat-erat sebelum tersenyum kecil. “Baik, Tante Mia! Terima kasih!” Lalu ia berbalik dan berlari pergi, menghilang di ujung lorong.
Deon, yang masih berdiri di dekat pintu, merasa semakin bingung. Jika itu bukan anaknya, lalu siapa ayahnya? Sebenarnya, Mia sedang terlibat dalam apa?
Ia sempat berpikir untuk bertanya, namun sebelum itu, matanya tanpa sadar melirik ke bawah.
Mia masih mengenakan kemeja kebesaran itu, tetapi kali ini ia sudah menambahkan celana pendek hitam ketat yang membalut tubuhnya secukupnya agar tetap sopan. Kainnya berhenti di pertengahan paha, masih memperlihatkan banyak kulit halus, jelas menunjukkan bahwa celana itu dipakai hanya untuk menghindari situasi canggung lebih lanjut.
Deon bersandar pada kusen pintu, mengamati Mia saat ia menutup pintu dan berbalik menghadapnya. Ekspresinya berubah kembali menjadi tegas dan profesional.
“Supaya jelas,” katanya dengan nada tegas sambil menyilangkan tangan. “Setelah kita selesai makan, kau langsung pergi. Tidak ada waktu tambahan, tidak ada percakapan yang tidak perlu. Mengerti?”
Deon, masih bersandar santai di kusen, mendecakkan lidahnya, senyum nakal tersungging di bibirnya.
“Di mana serunya kalau begitu?” jawabnya dengan halus.
Mia menyipitkan mata, jelas tidak terhibur.
semangat terus bacanya💪💪