Ibarat luka jahitan saja belum sepenuhnya kering. Tepat 27 hari setelah kematian bayinya, Hana dikejutkan dengan surat gugatan cerai yang Dzaki layangkan untuknya.
Status Whatsaap Mona-sahabat Hana, tertulis "First day honeymoon". Dan Hana yakin betul, pria menghadap belakang yang tengah Mona ajak foto itu adalah suaminya-Dzaki.
Sudah cukup!
Hana usap kasar air matanya. Memutuskan keluar dari rumah. Kepergian Hana menjadi pertemuanya dengan sosok bayi mungil yang tengah dehidrasi akibat kekurangan Asi. Dengan suka rela Hana menyumbangkan Asinya pada bocah bernama~Keira, bayi berusia 2 bulan yang di tinggalkan begitu saja oleh Ibunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septi.sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Sama seperti hari-hari lalu, semalam Dzaki benar tidak pulang, karena sedang merayakan kesuksesannya di Jakarta.
Hana berjalan menuju ruang tengah. Diasana ia duduk, mengambil kalender kecil yang bersandar diatas meja.
Hari ini, tepat 27 hari setelah kematian bayinya. Bayi yang hanya berusia hitungan 1 jam itu, Hana beri nama "Lilia". Wajahnya cantik, kulitnya bersih kemerahan. Dari segi wajah, Lilia sangat mirip Ayanya-Dzaki. Tapi, untuk kulit, Lilia lebih mirip ke dirinya.
Namun, semua itu hanyalah kenangan semata. Hana tersenyum lembut, kembali membuka buku kontrol semasa hamilnya dulu. Dan di situ menunjukan secarik kertas hasil USG baby Lilia.
"Nggak nyangka, sudah 27 hari kamu tinggalin Bunda, Lilia," Hana mengusap lembut hasil USG itu. "Tunggu Bunda disana ya, sayang. Kamu bidadari kecilnya Bunda sama Ayah," bisiknya kembali.
Sore itu, Hana sudah bersiap-siap. Ia tadi sudah mengirimkan pesan pada Dzaki, ingin mengajak suaminya berziarah ke makam sang putri, setelah 27 hari itu.
Dalam balutan gamis bewarna hitam menjuntai, jilbab menutup dada dengan warna senada, Hana duduk di atas kursi rias, tengah menyemprotkan parfum pada sisi jilbabnya.
Ceklek!
Rupanya Dzaki sudah pulang.
Hana masih bergeming, dari pantulan kaca itu, ia menelisik penampilan suaminya. Wajah Dzaki datar, langkahnya teratur mendekat. Namun, apa itu? Hana bahkan sampai mengerutkan dahi dalam, ketika satu tangan Dzaki memegang sebuah amplop bewarna coklat.
Dzaki meletakan amplop coklat itu di ujung meja rias Istrinya.
Hana bangkit, matanya menyipit kearah amplop coklat tadi. Lalu ia menatap suaminya. "Mas, ini surat apa?"
"Buka aja!" perintah Dzaki. Suaranya cukup dingin, terasa menusuk.
Hana masih berandai-andai. Ia tepis rasa penasarannya dengan segera membuka amplop coklat tadi. Begitu terbuka, selembar kertas bewarna putih itu menunjukan tulisan 'Pengadilan Agama Yogyajarta' yang berada di pojok kertas.
Deg!
Deg!
Dan ternyata, Hana sedang memegang surat gugatan dari suaminya sendiri.
Lagi-lagi hati Hana bak di tikam benda tajam, hingga terasa perih namun tiada darah yang keluar. Dadanya sesak, air matanya kembali menggenang.
Dengan kembang kempis itu, Hana meremat surat gugatan tadi. Lalu tak lama itu ia lempar pada suaminya.
"Apa maksud semua ini, Mas? Coba katakan? Aku ingin mendengar semuanya dari mulutmu," tekan Hana, suaranya bergetar masih tertahan. Ia kini berdiri menatap Dzaki, menajamkan matanya, merasakan sesuatu yang yang telah ia bangun musnah dalam sekejab.
Dzaki membuang wajah sekilas, menarik napas dalam. Kali ini suaranya begitu santai, namun kalimatnya menghanyutkan. "Kamu masih tanya ada apa? Itu semua karena kamu jadi wanita gak becus rawat diri! Kamu itu cuma nyusahin aku saja, Hana! Putri kita sampai nggak ada itu semua gara-gara kamu yang nggak becus jadi calon Ibu!" Bentaknya.
Air mata Hana menetes seketika. Dadanya terasa sesak, hingga tangisanya terdengar begitu miris. Ia kini bahkan sampai memukul dada suaminya, benar-benar tak menyangka, suami yang begitu ia cintai tega berbuat keji.
"Itu semua pasti alibi kamu buat selingkuh! Iya 'kan? Jawab, Mas?!" sentaknya lagi. Pukulan itu melemah, hingga suara Hana hanya terdengar isakan.
Dzaki menepis lengan Istrinya. "Mulai sekarang, aku sudah menalak 3 kamu, Hana. Jadi, mulai sekarang aku bukan lagi suami kamu!" ujar Dzaki tanpa rasa iba. "Oh ya, sebagi kompensasi, aku memberikan rumah ini untukmu. aku juga masih akan tetap memberikan kamu uang nafkah selama masa idah berlangsung."
Barulah, setelah itu dirinya beranjak menuju lemari untuk mengambil koper, dan memasukan semua baju-bajunya kedalam.
Hana usap sisa air matanya. Suaminya bahkan tak menoleh, dan terus saja melanjutkan jalanya keluar sambil menarik koper.
"Kamu tega sekali, Dzaki! 27 Hari Setelah Melahirkan, ini lah kejutanmu untuk mencekik hidupku? Aku menyesal sudah berjalan sejauh ini dengamu," batin Hana menatap lurus kearah sisa bayangan suaminya.
Dibawa siluet sorot matahari terbenam, dari tirai korden itu menunjukan waktu yang telah menari-nari dalam ketidak pastian. Hana terduduk rapuh ditepi ranjangnya. Deru napasnya sudah kembali normal. Namun isakan kecil masih sering muncul seperti siulan para pujangga.
Beberapa detik lalu, hidupnya seolah berakhir. Namun setelah ia mengucap kalimat 'Istigfar' kehancuran itu tertutup oleh imanya yang masih bersua. Hana cukup merasa tenang.
Dirinya yang sudah terlanjur rapi, segera menyudahi kesedihannya dengan tetap nekad berziarah menuju pemakaman sang Putri.
Meskipun tubuh bagian bawah Hana masih terasa nyeri, dan dar*h nifas juga belum sepenuhnya hilang, Hana terpaksa membawa motor sendiri.
Namun, baru saja Hana ingin menghidupkan motornya, tetiba dari arah gerbang ada sebuah mobil Xpander yang berhenti.
Seorang pria. Parasnya rupawan. Rahangnya tegas, memakai pakaian santai dengan jaket sebagai pelengkapnya. Namanya Madha, kakak pertama Hana yang kebetulan juga tinggal di Jogyakarta. Usianya 30 tahun.
Begitu Madha turun, alangkah terkejutnya ia melihat sang adik sudah berada diatas motor tengah bersiap-siap.
"Ya Allah, Hana... Kamu mau kemana?" Madha berjalan mendekat. Sakali lagi ia menatap wajah adiknya, hingga dahinya berlipat dalam, melihat wajah sembab Hana ketika kantung mata adiknya itu sampai bengkak.
Hana membuka helmnya. Ia turun, dan seperti biasa selalu menunjukan senyum pada Kakaknya.
Meskipun semenjak SMP sang Kakak sudah di adopsi orang kaya, namun Madha sama sekali tidak pernah melupakan keluarganya, terutama kepada kedua adik perempuanya itu.
"Kok Mas Madha kesini nggak kabarin Hana dulu, kan nanti bisa Hana masakin," ucap Hana sambil mengajak Kakaknya masuk.
Sambil membawa dua jinjing plastik, Madha setiap kerumah adiknya selalu membawakan makanan kesukaan Hana.
Madha kembali menatap serius wajah adiknya. Keduanya sudah duduk bersampingan, namun beda sofa. "Ada apa? Wajah kamu sampai sembab kaya gitu, kamu habis nangis? Ceritain aja sama Mas...."
Hana tertunduk. Kepalanya kini diusap begitu lembut oleh sang Kakak. Sikap beginilah yang dirinya harapkan dari suaminya. Namun, semua itu Allah ganti dengan kehadiran sang Kakak, pria kedua selain sang Ayah yang begitu menyayanginya.
"Mas...." suara Hana bergetar. Matanya kembali terasa panas, disaat ia memaksakan menatap mata sang Kakak. "Aku baru saja di gugat Mas Dzaki...." air mata Hana luruh begitu saja.
Kedua mata Madha terbuka sempurna. "Apa? Kamu digugat?"
Hana mengangguk kecil. Tanganya menyahut dua lembar tisu, ia gunakan untuk menyeka hidungnya.
"Ya Allah...." suara Madha melemah, meraup lemas wajahnya, ikut merasakan sesag dalam hatinya. "Dzaki benar-benar brengsek!" umpat batinya. Lalu ia mengusap kembali bahu adiknya. "Hana, dengerin Mas... Kalau udah seperti itu, udah... Nggak usah lagi kamu harap dia kembali! Hapus air matamu! Kamu masih punya Mas, Mbak, Ibu... Kamu nggak sendiri! Jangan sia-siakan air matamu buat pria bejad kaya Dzaki. Ngerti?"