Gerard adalah seorang pria yang hidupnya jatuh hingga ke titik terendah. Saat ia nyaris mati kelaparan dan menjadi korban serangan tak dikenal, sebuah Sistem misterius tiba-tiba muncul, menyelamatkan nyawanya dan memulihkan tubuhnya sepenuhnya.
Dibawa ke dalam hutan yang asing, Gerard kini diberi tantangan oleh Sistem: bertahan hidup semalam untuk mendapatkan hadiah luar biasa—uang seratus juta dan sebuah rumah. Namun, di balik janji masa depan cerah itu, ancaman dari masa lalu dan identitas penyerangnya yang gelap masih mengintai, membuat setiap detik menjadi pertaruhan nyata.
Siapakah itu? Dan seberapa rumit masa lalunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Loorney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8 - Dia Lagi
Begitu pintu terketuk rapat dan langkah kaki putrinya terdengar mendekat, Andy mengalihkan pandangan dari buku di tangannya. Dari balik kacamata baca, matanya menyipit melihat wajah Mawar yang masih dipayungi sisa-sisa senyum sembunyi-sembunyi. Sebuah isyarat kecil dari sikunya ke arah istrinya, Linda, yang duduk di sampingnya, cukup membuat sang ibu memahami situasi.
Mereka bertukar pandangan sepersekian detik—sebuah percakapan tanpa kata yang hanya dimengerti pasangan yang sudah lama bersama. Andy lalu berdeham keras, sengaja dibuat-buat.
"Ehem, ehem!" Suaranya memecah kesunyian ruang keluarga. Senyumnya mengembang saat Mawar menoleh ke arahnya, sedikit terkejut. "Habis ketemu siapa, nih? Dari tadi wajahnya kayak dapat rezeki nomplok~" goda Andy, nada suaranya berbinar.
Mawar langsung memalingkan mukanya, tapi warna merah yang merambat dari leher hingga ke pipinya sudah terlambat disembunyikan. "Apaan sih, Yah! Nggak ada!" bantahnya sambil mencibir, langkah kakinya dipercepat menuju tangga.
Jantungnya berdegup kencang di balik ribuan godaan kecil yang melintas di pikirannya. Aneh, baru bertemu dua kali, tapi sosok Gerard sudah menempati ruang di benaknya dengan cara yang tak terduga. Di dalam dada, ada benih yang mulai mengakar, lembut namun terasa nyata.
Langkah Mawar semakin menjauh, meninggalkan ayahnya yang masih melontarkan lelucon ringan. Linda hanya diam mengamati, senyum hangat tak pernah lepas dari bibirnya.
Haaa… Setelah memastikan putrinya sudah naik ke lantai atas, Andy menghela napas panjang. Kepalanya menggeleng pelan. "Dia sudah suka sama seseorang, Mah," gumamnya, suaranya terdengar campur aduk antara haru dan sedih. Buku di tangannya ditutup dan diletakkan perlahan di atas meja.
Melihat ekspresi suaminya yang seperti kehilangan permata, Linda terkekeh lembut. Ia merangkul bahu Andy dari belakang dan menempelkan dagunya di sana. "Memang kenapa kalau dia suka? Mawar juga sudah dewasa, Yah… Mamah malah senang lihat dia bersemangat begitu," bisiknya, jujur dan penuh kelembutan.
Andy menatap istrinya, pikirannya berputar antara kebahagiaan melihat senyum anaknya dan kekhawatiran khas seorang ayah. Sangat jarang Mawar menunjukkan reaksi seperti ini—terakhir kali mungkin saat membicarakan idolanya dari Korea. Dan bahkan saat itu, Andy tetap merasa cemburu kecil.
"Iya, sih. Tapi…" Andy masih ragu, alisnya berkerut. "Ayah nggak tahu siapa lelakinya. Kalau dilihat dari sikapnya sejak kemarin sampai sekarang… Masa iya tetangga kita yang baru?" Dugaan itu terasa masuk akal. Tapi saat ia menatap Linda yang tetap tersenyum tenang, ia hanya bisa menghela napas lagi.
"Mamah sudah tahu, ya?" tanyanya, pasrah.
Linda hanya mengangkat alisnya, senyumnya semakin lebar. "Dasar pelit," gerutu Andy setengah bergurau.
"Yah, ini rahasia antarwanita. Cowok-cowok kayak Ayah nggak perlu tahu dulu!" jawab Linda sambil mencubit pipi Andy dengan lembut sebelum beranjak pergi. "Sudah, ah. Mamah mau ke atas dulu!"
Tanpa menunggu respons, langkahnya sudah menuju tangga—ke arah yang sama dengan Mawar tadi. Andy kembali menggeleng, tapi kali ini kerutan di dahinya semakin dalam. Siapa gerangan lelaki yang sudah bisa menggoyang hati putri semata wayangnya?
*•*•*
Sementara di rumah sebelah, sang tetangga yang menjadi buah bibir itu baru saja menyelesaikan mandinya. Pikirannya jernih, sama sekali belum terpikir untuk menganalisis sikap Mawar yang agak frontal tadi pagi. Fokusnya sekarang tertuju pada satu tujuan kecil dan praktis: membeli ponsel.
Dengan cepat ia berganti pakaian—tetap dengan pilihan warna netral, hitam dan abu-abu, seperti identitasnya yang ia jaga. Kemudian, ia berjalan menuju motor Vario milik Sistem yang terparkir rapi di halaman.
Navigasi mungkin tak diperlukan, ia mengandalkan ingatan samarnya tentang letak mall terdekat. Saat mesin motor menyala dan ia bersiap membuka pagar, tiba-tiba…
"Eh, Kakak?"
Suara itu membuatnya terkejut. Gerard menoleh dan matanya menangkap sosok Mawar berdiri di balik pagar rumahnya, seolah sedang mengintip. Kenapa orang ini selalu ada di saat yang tepat? Pikiran itu membuat bulu kuduknya sedikit merinding.
"Halo, Kak!" Melihat dirinya ketahuan, Mawar melompat kecil sehingga seluruh tubuhnya terlihat. Senyum ramahnya tak pudar, diikuti lambaian kecil. "Mau pergi, Kak?"
Gerard mengangguk kaku, berusaha menjaga nada suaranya tetap netral. "Iya, mau beli beberapa keperluan."
Wajah Mawar langsung berseri. Ia mendekat beberapa langkah. "Wah, kebetulan! Aku juga mau belanja keperluan. Boleh ikut bareng, Kak?" Permintaannya lancar, seolah permintaan yang wajar untuk dua orang yang baru dua kali bertemu.
Gerard hampir langsung menolak. Rasanya terlalu dipaksa, terlalu cepat. Tapi sebelum kata-kata itu keluar, sebuah panel muncul tepat di depan matanya.
[Pergi Bersama Mawar]
[Status: Sedang Berlangsung]
[Hadiah: 400.000.000 IDR + Unit Mobil]
Misi lagi.
Hadiahnya melonjak drastis. Menggiurkan, tak bisa dipungkiri. Tapi bagi Gerard yang canggung dengan interaksi sosial baru, tekanan itu nyata.
Astaga… Aku nggak mungkin bisa.
Hatinya bergejolak. Ia melirik Mawar yang masih menatapnya penuh harap. Tapi ia juga tak tahu konsekuensi menolak misi Sistem. Belum ada penjelasan, belum ada aturan yang jelas.
Dengan napas berat yang ia hembuskan perlahan, Gerard akhirnya menatap Mawar. "Boleh… tapi aku naik motor. Kamu nggak masalah?"
Sebenarnya ia sempat melihat dua mobil terparkir di halaman rumah Mawar. Tapi Mawar langsung mengangguk cepat, antusiasme berbinar di matanya. "Nggak masalah! Aku suka naik motor!" Jawabnya seakan menutup semua celah untuk mundur.
Dengan hati berat, Gerard mengangguk. Ia menepuk jok belakang. "Duduk dulu. Aku ambil helm cadangan di dalam."
Mawar langsung menduduki jok belakang dengan patuh, senyum kecil mengembang. Gerard bergegas masuk, tapi bukan mengambil helm—melainkan membuka Toko Sistem. Dengan cepat ia membeli sebuah helm full-face warna merah yang tersedia, tanpa peduli harganya. Beberapa detik kemudian, helm itu muncul di tangannya, masih baru.
Saat ia keluar membawa helm merah itu, wajah Mawar bersinar. Di benaknya, ini adalah perhatian khusus. Helm baru… warna merah… Dia memperhatikanku? Pipinya memerah saat menerima helm itu dari Gerard.
Tanpa banyak bicara, Gerard duduk di depan dan menyalakan motor. Sebelum melaju, ia menoleh sebentar. "Sudah siap?"
Mawar mengangguk, suaranya lirih. "Iya… sudah."
"Pegangan yang baik, takut jatuh," tambah Gerard dengan nada datar, lebih sebagai peringatan keselamatan.
Tapi bagi Mawar, kata-kata itu terdengar seperti perhatian yang hangat. Ia pun mengangkat tangannya dengan malu-malu namun erat di pinggang Gerard, sambil menyembunyikan senyumnya yang semakin lebar.
Motor pun meluncur perlahan meninggalkan kompleks, membawa dua orang dengan ekspektasi dan gejolak perasaan yang sama sekali berbeda.