Bagaimana jika kepingan masa lalu yang kamu lupakan tiba-tiba saja menarikmu kembali ke dalam pusaran kenangan yang pernah terjadi namun terlupakan?
Bagian dari masa lalu yang tidak hanya membuatmu merasa hangat dan lebih hidup tetapi juga membawamu kembali kepada sesuatu yang mengerikan.
Karina merasa bahwa hidupnya baik-baik saja sejak meninggalkan desa kecilnya, ditambah lagi karirnya sebagai penulis yang semakin hari semakin melonjak.
Namun ketika suatu hari mendatangi undangan di rumah besar Hugo Fuller, sang miliarder yang kaya raya namun misterius, membuat hidup Karina seketika berubah. Karina menyerahkan dirinya pada pria itu demi membebaskan seorang wanita menyedihkan. Ia tidak hanya di sentuh, namun juga merasa bahwa ia pernah melakukan hal yang sama meskipun selama dua puluh empat tahun hidupnya ia tidak pernah berhubungan dengan pria manapun.
*
karya orisinal
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mapple_Aurora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15
Karina dan Kate duduk di sudut perpustakaan, kali ini mereka tidak membaca buku melainkan membentangkan denah rumah yang sudah cukup usang, bagian tepinya sudah menguning.
Setelah mereka mengamatinya, ternyata itu denah lama rumah ini.
“Bagus, kita bisa menggunakan ini untuk kabur.” Gumam Kate.
“Ya, tapi sepertinya nggak mudah mencari jalan keluar selain lewat gerbang depan. Lihat, rumah ini di kelilingi pagar tinggi.” Ujar Karina.
“Rumah orang-orang kaya biasanya selalu punya ruang bawah tanah, kita hanya perlu menemukannya dan bisa menggunakannya untuk kabur.” Kate menunjuk salah satu pintu yang terletak dekat dapur, ada tanda silang disana. “Kita harus memeriksa ini,”
Karina merasa tidak yakin, karena biasanya tanda silang identik dengan sesuatu yang dilarang atau berbahaya.
“Kita periksa sekarang, kalau malam biasanya Hugo selalu mengawasi kita.” Kata Karina akhirnya setuju, lagipula itu memang patut di pertimbangkan.
Kate mengangguk, ia menyelipkan denah tersebut ke dalam bajunya kemudian keluar dari perpustakaan.
Rumah ini selalu sepi, jadi itu memudahkan mereka berdua pergi ke ruangan tersebut.
Di perjalananan mereka bertemu Miller, untungnya pria itu hanya memberikan pandangan sekilas.
Segera Karina dan Kate pergi ke ruangan yang diberi tanda silang itu sebelum ada lagi yang melihat.
Ruangan tersebut cukup luas, hampir seluas dapur. Karina dan Kate menatap sekelilingnya yang tidak terlalu banyak perabotan. Hanya ada satu meja bundar dan empat buah kursi. Di salah satu dinding terdapat televisi layar besar.
Tidak ada yang aneh dengan ruangan ini, namun saat matanya melihat lantai marmer di dekat jendela yang sedikit menonjol membuat Karina melangkah kesana. Ia mengetuk-ngetuk permukaannya, terdengar bunyi yang memantul dari dalam. Karina mencoba menggeser, dan ternyata berhasil. Permukaan yang menonjol itu bisa digeser sehingga memperlihatkan lubang yang gelap yang bisa di masuki oleh manusia.
“Kate, sini!” Panggil Karina masih terus mengamati lubang tersebut, ia tidak bisa melihat dasarnya karena sangat gelap dan juga dalam.
Tak lama kemudian terdengar langkah mendekat, berhenti tepat di belakang Karina.
“Ini seperti jalan menuju ruang bawah tanah kan?” Tanya Karina meminta pendapat Kate. Ia menoleh ke belakang dan mendapati Kate yang tersenyum aneh padanya.
Lalu tanpa pernah di duga oleh Karina, kaki Kate terulur ke depan, mendorongnya dengan keras yang membuatnya seketika terperosok masuk ke dalam lubang gelap itu.
“KATEEEE!” Karina berteriak panik, berusaha menggapai apapun untuk menghentikan laju tubuhnya, namun ia hanya menyentuh udara yang tidak bisa menahannya sama sekali. Dalam sekejap tubuhnya meluncur masuk ke lubang gelap yang tidak diketahui sebagai tempat apa.
...\=\=\=\=...
Gelap, lembap, dan rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuh yang dirasakan oleh Karina saat membuka matanya lagi. Ia tidak tahu sudah berapa lama tertidur atau mungkin pingsan, sekelilingnya gelap, bahkan ia tidak bisa melihat tangannya sendiri.
“Akh!” Karina meringis saat mencoba untuk duduk, ia mendongak dan tidak melihat lubang tempatnya jatuh.
Sambil menahan sakit, Karina mengerahkan tenaga yang hampir habis dan mencoba berdiri. Setelah beberapa menit mencoba, ia berhasil berdiri dengan stabil. Tangannya meraba sekitar, ketika menyentuh dinding, ia menggunakannya sebagai alat bantu untuk berjalan.
Ia menyandarkan badannya ke dinding kemudian perlahan mulai berjalan, memaksa kakinya untuk terus melangkah — kedepan—atau kemanapun, yang penting ia harus pergi. Harus!
“Sial!” Karina menggertakkan giginya, merasakan luka di kakinya mulai mengeluarkan darah. “Seharusnya aku tidak mempercayai perempuan itu. Sudah tertipu oleh Tasya dan sekarang tertipu Kate juga.”
Tidak pernah Karina merasa sebodoh saat ini, tertipu dua kali. Itu rekor. Rekor buruk!
Selama lima belas menit lebih Karina berjalan hingga akhirnya ia merasakan sebuah gagang pintu. Ia mencoba menariknya dan tidak terkunci.
Krieeetttt!
Engsel pintu berbunyi nyaring dalam kesunyian itu, pintu sedikit terbuka dan secercah cahaya redup terlihat dari dalam. Karina menghela nafas lega, setidaknya disini tidak terlalu gelap.
Dengan cepat Karina membuka pintu lebih lebar dan masuk.
Ada lentera yang terpasang di dinding, cahaya dari lentera itulah yang membuat ruangan ini tidak terlalu gelap. Karina menutup pintu dibelakangnya, melangkah dengan hati-hati ke tengah ruangan.
“Bunuh! Bunuh dia!”
Karina tersentak, menatap sekelilingnya dengan waspada. Tidak ada siapapun, lalu darimana suara itu berasal?
“Dari dalam kepalamu.”
“Tidak mungkin.” Karina menggeleng, tidak mungkin suara itu berasal dari dalam kepalanya. Jelas suara itu bukan suaranya.
Nyala lentera meliuk-liuk pelan seolah ada angin yang haru saja masuk.
Ini lebih aneh.
Jelas pintu sudah tertutup, dan tidak ada celah yang membuat angin bisa masuk.
“Kalau tidak celah, kenapa kamu tidak kesulitan bernafas?”
Benar juga, ia bisa bernafas dengan lancar dan itu berarti ada sirkulasi udara yang lancar dalam ruangan ini.
“Aku nggak bisa lama-lama disini, tempat ini aneh.” Karina melangkah lagi, mencoba mencari jalan keluar atau apapun yang bisa membawanya pergi dari tempat aneh dan juga menyeramkan ini.
Duk!
Karina menunduk, ia baru saja menendang peti kecil. Karena penasaran Karina duduk di lantai, membuka peti tersebut dengan jantung berdegup kencang.
Di dalamnya ada beberapa barang, satu album foto, cincin berlian berwarna merah darah yang sangat indah dan Tiara.
Ia menunduk, meraih foto terlebih dahulu. Cahaya remang dari lentera memantul samar di permukaan foto yang usang. Sekejap, matanya membeku.
“Ini… nggak, nggak mungkin.” mata Karina membelalak lebar, tubuhnya menegang, jantungnya berdetak liar, dan udara terasa sesak di paru-parunya. Tangan yang memegang foto itu gemetar hebat, seolah baru saja menyedot semua keberaniannya.
...***...
...Like, komen dan vote...
sudah brusaha utk keluar,Mlah harus balik lagi😩
di tunggu double up-nya thor