NovelToon NovelToon
Api Jatayu Di Laut Banda

Api Jatayu Di Laut Banda

Status: sedang berlangsung
Genre:Kultivasi Modern / Kutukan / Dokter / Romansa Fantasi / Ruang Bawah Tanah dan Naga / Harem
Popularitas:395
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Dengan nuansa mitologi Nusantara yang kental, Api Jatayu di Laut Banda adalah kisah epik tentang reinkarnasi, gairah terlarang, dan pengampunan di antara api dan ombak. Siapkah kau menyaksikan bagaimana sebuah bara kecil mampu menenggelamkan lautan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Garis Pantai yang Tak Pernah Diam

Laut Banda tidak pernah benar-benar tidur.

Malam itu, ombak bergulung pelan tapi tak henti, seperti napas raksasa yang terluka. Di desa kecil bernama Karangwangi, yang terletak di ujung semenanjung selatan Sulawesi, angin membawa bau garam dan ikan busuk dari pasar malam yang sudah sepi. Lampu-lampu minyak di rumah-rumah panggung bergoyang pelan, menciptakan bayangan panjang di pasir yang masih hangat.

Banda duduk di ujung dermaga reyot yang dibuat ayahnya dulu. Kakinya menggantung di atas air hitam yang sesekali menyentuh tumitnya. Di tangan kanannya, sebatang rokok kretek murahan menyala redup, asapnya ikut terbawa angin ke arah laut. Ia tidak benar-benar menghisapnya; hanya membiarkan bara itu hidup sebentar-sebentar, seperti satu-satunya teman yang mengerti diamnya.

Usianya baru dua puluh empat, tapi matanya sudah terlihat lebih tua. Garis-garis halus di sudut mata, bekas terlalu sering menatap matahari terbenam yang terlalu terang. Kulitnya sawo matang terbakar, rambut hitamnya acak-acakan karena jarang disisir, dan mata biru gelapnya—warna yang seharusnya tidak dimiliki anak nelayan biasa—selalu tampak mencari sesuatu di kejauhan.

“Masih ingat mimpi semalam?” tanya Kakang Bayu dari belakang.

Banda tidak menoleh. Ia tahu langkah kaki sahabatnya itu dari jauh—berat, sedikit terseret karena kaki kiri yang pernah patah waktu kecil.

“Mimpi yang sama,” jawab Banda pelan. “Laut naik. Bukan banjir biasa. Seperti… ada yang memanggil dari bawah. Suaranya dalam sekali. Seperti guntur di dasar samudra.”

Bayu duduk di sampingnya, kakinya juga menggantung. Ia mengeluarkan sebotol arak aren dari kantong celana pendeknya dan menawarkan. Banda menggeleng.

“Kau makin sering begadang. Ibumu khawatir.”

“Ibu selalu khawatir. Sudah biasa.”

Bayu tertawa kecil, tapi ada nada prihatin di dalamnya. “Kau tahu kan, orang-orang mulai bicara. Katanya kau aneh. Mata biru itu… katanya tanda kutukan. Atau tanda orang asing.”

Banda menghembuskan napas panjang. Asap kretek terakhirnya lenyap di udara malam.

“Mereka boleh bilang apa saja. Aku tetap anak nelayan yang hutangnya banyak.”

Keduanya diam sejenak. Hanya suara ombak dan derit kayu dermaga yang meneman.

Tiba-tiba, dari arah hutan kecil di belakang desa, terdengar suara ranting patah. Bukan suara binatang. Terlalu teratur. Terlalu hati-hati.

Banda langsung menegakkan badan. Instingnya—yang selalu lebih tajam daripada orang lain—berkata ada bahaya.

“Bayu,” bisiknya. “Pulang dulu.”

“Apa—”

“Pulang.”

Bayu tahu nada itu. Nada yang jarang Banda pakai, tapi selalu benar. Ia bangkit, tapi belum sempat melangkah jauh, sesosok bayangan muncul di ujung dermaga.

Perempuan.

Rambut hitam panjang bergelombang, semburat merah samar terlihat di bawah cahaya bulan. Matanya kuning keemasan, seperti api yang baru saja dinyalakan. Pakaiannya sederhana—kemeja hitam longgar dan celana kain gelap—tapi gerakannya terlalu halus, terlalu terlatih untuk orang biasa. Di pinggangnya, sarung golok tersembunyi di balik kain.

Ia berhenti sepuluh langkah dari mereka.

“Maaf mengganggu malam kalian,” suaranya dingin, tapi ada nada formal yang aneh. “Saya mencari seseorang bernama Banda.”

Bayu langsung maju setengah langkah, tangannya menyentuh bahu Banda seperti ingin melindungi. “Siapa kau? Dari mana?”

Perempuan itu tidak menjawab Bayu. Matanya terkunci pada Banda. Dan saat pandangan mereka bertemu, sesuatu terjadi.

Banda merasa dadanya seperti ditusuk jarum dingin. Bukan sakit—lebih seperti kenangan yang tiba-tiba muncul tanpa diundang. Gambar samar: ombak raksasa, api yang membakar langit, raungan yang bukan milik binatang. Dan di tengah semua itu, perempuan ini… atau seseorang yang sangat mirip dengannya.

“Kau…” suara Banda serak. “Siapa sebenarnya?”

Ia melangkah maju satu langkah. Perempuan itu tidak mundur.

“Nama saya Jatayu,” jawabnya pelan. “Dan aku dikirim untuk membunuhmu.”

Bayu langsung menarik pisau lipat dari saku. “Coba saja!”

Tapi Jatayu bahkan tidak melihat Bayu. Matanya masih pada Banda. Dan di matanya, ada keraguan kecil yang hampir tak terlihat.

“Kenapa?” tanya Banda. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja diancam mati.

“Karena ramalan,” jawab Jatayu. “Darah samudra yang kembali akan mengganggu keseimbangan. Dan alpha mereka bilang kau adalah orang itu.”

“Mereka?”

“Werewolf.”

Kata itu keluar begitu saja, seperti hal biasa. Bayu tertawa gugup. “Kau gila ya? Werewolf? Di zaman sekarang?”

Jatayu mengabaikannya. Ia mengeluarkan selembar kertas kusut dari saku dalam. Di atasnya, gambar sketsa sederhana: wajah Banda, dengan mata biru yang digambar terlalu detail.

“Ini kau,” katanya. “Dan ini pesan terakhir dari pemburu sebelumnya yang gagal membunuhmu.”

Banda mengambil kertas itu. Jarinya menyentuh jari Jatayu sesaat. Dan saat itu terjadi lagi—sentuhan kecil yang seharusnya tidak berarti, tapi membuat kulit mereka bergetar.

Jatayu menarik tangan dengan cepat, seolah tersengat.

Banda memandang sketsa itu. “Siapa yang menggambar ini?”

“Orang yang sudah mati,” jawab Jatayu singkat. “Dan sekarang giliranku.”

Ia menarik golok dari pinggangnya. Bilahnya hitam pekat, ujungnya berkilau merah samar seperti bara yang belum padam.

Bayu maju. “Jangan coba-coba!”

Tapi sebelum Bayu bisa bergerak lebih jauh, sesuatu melesat dari kegelapan hutan.

Seekor binatang besar—setengah serigala, setengah manusia—melompat ke dermaga dengan raungan yang menggetarkan kayu. Bulunya abu-abu kusam, matanya merah menyala. Gigi taringnya berkilau di bawah bulan.

Werewolf.

Bayu terpaku. Banda langsung berdiri, badannya menutupi Bayu secara insting.

Jatayu tidak terkejut. Ia malah menghela napas pelan.

“Sepertinya aku tidak perlu membunuhmu malam ini,” gumamnya. “Mereka sudah datang sendiri.”

Werewolf itu melompat lagi. Kali ini langsung ke arah Banda.

Tanpa pikir panjang, Banda mendorong Bayu ke samping dan melompat ke laut.

Air dingin menyambutnya seperti pelukan lama yang dikenalnya. Begitu tubuhnya menyentuh air, sesuatu di dalam dirinya bergerak.

Bukan ketakutan.

Bukan panik.

Melainkan… kekuatan.

Ombak di sekitarnya tiba-tiba naik lebih tinggi, membentuk dinding air yang menghalangi werewolf itu. Binatang itu terdorong mundur, raungannya berubah jadi jeritan kesakitan.

Jatayu berdiri di dermaga, golok masih di tangan, matanya melebar melihat pemandangan itu.

“Tidak mungkin…” bisiknya.

Di bawah air, Banda membuka mata. Cahaya biru samar memancar dari matanya. Tubuhnya terasa ringan, seperti bukan miliknya lagi. Ia bisa mendengar detak jantung werewolf di atas permukaan, bisa merasakan getaran tanah di kejauhan.

Dan di dalam kepalanya, suara itu kembali.

Suara yang sama dari mimpinya.

“Kembalilah, Raja Laut…”

Banda muncul ke permukaan dengan satu dorongan kuat. Air membentuk pusaran kecil di sekitarnya. Ia naik ke dermaga dengan gerakan yang terlalu mulus untuk manusia biasa.

Werewolf itu mundur beberapa langkah, hidungnya mengendus udara.

Jatayu menatap Banda dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran keterkejutan, ketakutan, dan sesuatu yang lebih dalam.

“Siapa kau sebenarnya?” tanyanya, suaranya hampir bergetar.

Banda tidak menjawab langsung. Ia hanya menatap perempuan itu, mata birunya bertemu dengan mata kuning keemasan.

“Aku juga ingin tahu,” jawabnya pelan. “Tapi sepertinya… kita berdua baru saja mulai mencari jawabannya.”

Werewolf itu meraung sekali lagi, lalu melompat kembali ke kegelapan hutan, menghilang secepat ia muncul.

Bayu terduduk di dermaga, napasnya tersengal. “Apa… apa tadi itu?”

Jatayu memasukkan goloknya kembali. Matanya tidak lepas dari Banda.

“Aku seharusnya membunuhmu sekarang,” katanya. “Itu tugasku.”

“Tapi kau tidak melakukannya,” balas Banda.

Jatayu diam sejenak. Lalu ia berbalik, melangkah menuju kegelapan.

“Belum,” jawabnya tanpa menoleh. “Tapi aku akan kembali. Dan saat itu… aku tidak akan ragu lagi.”

Ia menghilang di antara pepohonan.

Banda berdiri di dermaga, air masih menetes dari bajunya. Dadanya naik-turun cepat, tapi bukan karena lelah.

Karena sesuatu di dalam dirinya baru saja bangun.

Dan laut di depannya seolah menjawab—ombak bergulung lebih tinggi, lebih ganas, seolah menyambut kebangkitan tuannya.

Di kejauhan, bulan purnama bersinar terang di atas Laut Banda.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Banda merasa bahwa ia bukan lagi hanya anak nelayan miskin.

Ia adalah sesuatu yang lain.

Sesuatu yang berbahaya.

Sesuatu yang dicari.

Sesuatu yang dicintai… dan dibenci.

1
Sibungas
Alur cerita mudah d mengerti dan mengalir lancar.
Sibungas
patahkan kutukan emang perlu perjuangan.. semngat💪💪💪
Kashvatama: semangat 💪
total 1 replies
Sibungas
mantab thor ceritane lanjutttt. 👍
Kashvatama: makasih supportnya🙏
total 1 replies
Sibungas
alur cerita nya bagus. 👍
Kashvatama: terimakasih banyak. semoga bisa kasih karya yg konsisten menarik 🙏
total 1 replies
Sibungas
cerita cukup menarik utk d ikuti.. lanjutt thor🤭
Kashvatama: terimakasih supportnya 😍
total 1 replies
Kashvatama
kisah fantasi petualang dan romansa antara Jatayu dari kaum Phoenix dan Banda sang reinkarnasi Naga Laut 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!