Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Suasana rumah yang mewah itu terasa begitu mencekam di bawah kendali Akhsan.
Di balik dinding tipis kamar pembantu yang letaknya tak jauh dari area dapur, Bibi Renggo berdiri mematung.
Tangannya gemetar, berkali-kali ia mengelus dadanya sembari menarik napas panjang yang terasa sesak.
"Ya Allah, Den Akhsan. Kenapa hatinya bisa jadi sekeras batu begitu?" bisik Bibi Renggo
Hati kecilnya menjerit tidak tega. Ia telah mengenal Akhsan dan Zahra sejak mereka masih kecil, namun ia tidak pernah menyangka akan melihat pemandangan semengerikan ini.
Suara seretan kaki Zahra yang kesakitan dan bentakan Akhsan yang menyebut Zahra "tidak pantas" terus terngiang-ngiang di telinganya.
Bibi Renggo mendengar suara pintu kamar tamu ditutup dengan dentuman kasar, diikuti langkah kaki Akhsan yang menjauh dengan angkuh.
Ia tahu, di balik pintu kamar tamu yang dingin itu, Zahra sedang hancur sendirian tanpa pengobatan, tanpa selimut, dan dalam kondisi basah kuyup.
"Kasihan Non Zahra. Ini bukan pernikahan, ini penyiksaan," gumam Bibi Renggo dengan bibir bergetar.
Meski takut akan kemarahan Akhsan yang meledak-ledak, naluri keibuannya tidak bisa diam saja.
Bibi Renggo menunggu hingga suasana benar-benar sunyi dan yakin bahwa Akhsan sudah masuk ke dalam kamarnya.
Dengan langkah yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara, Bibi Renggo mengambil kotak P3K, sebuah handuk kering, dan segelas susu hangat.
Ia menyelinap keluar dari kamar pembantu, menuju pintu kamar tamu tempat Zahra dikurung.
Bibi Renggo perlahan memutar kenop pintu kamar tamu yang tidak dikunci itu.
Di dalam, ia mendapati Zahra sedang meringkuk di sudut lantai, memeluk lututnya yang gemetar.
Cahaya lampu koridor yang masuk melalui celah pintu memperlihatkan betapa pucatnya wajah nona mudanya itu.
"Non, Non Zahra," bisik Bibi Renggo seraya mendekat dengan langkah sangat pelan.
Zahra mendongak, matanya yang merah dan sembap menatap Bibi dengan cemas. Alih-alih menerima bantuan, Zahra justru menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Bibi kembali saja ke kamar. Jangan di sini," bisik Zahra dengan suara parau yang hampir hilang.
"Kalau Mas Akhsan tahu Bibi menolongku, dia pasti akan marah besar pada Bibi. Zahra tidak mau Bibi kena masalah atau dipecat. Tolong, Bi. Zahra nggak apa-apa."
Zahra memilih untuk menanggung perih di lukanya dan dingin yang menusuk tulang sendirian, demi melindungi satu-satunya orang di rumah itu yang masih peduli padanya.
Bibi Renggo menyeka air matanya dengan ujung daster.
Ia tidak bisa membawa makanan atau selimut tanpa menimbulkan kecurigaan, namun tangannya merogoh kantong dasternya.
Ia mengeluarkan sebuah roti bungkus yang tadi sempat ia sembunyikan sebelum keluar dari dapur.
"Makan dulu, Non. Dan lekas minum susunya sebelum tidur," bisik Bibi Renggo sambil menyodorkan roti itu ke tangan Zahra.
"Bibi sengaja sembunyikan ini tadi. Non dari siang belum makan apa-apa, nanti lambungnya sakit."
Zahra menatap roti di tangannya, lalu menatap wajah tulus Bibi Renggo.
Rasa haru sesaat menyeruak di tengah dadanya yang sesak.
"Makasih ya, Bi," jawab Zahra lirih.
Ia menggenggam roti itu seperti menggenggam harapan terakhirnya.
Bibi Renggo mengusap puncak kepala Zahra dengan sayang sebelum akhirnya bergegas keluar agar tidak tertangkap oleh Akhsan.
Zahra kembali sendirian di dalam kamar yang gelap, mencoba mengunyah roti itu dengan susah payah karena tenggorokannya yang terasa sangat sakit akibat tangis dan air hujan.
Kegelapan kamar tamu itu terasa seperti peti mati yang dingin bagi Zahra.
Ia duduk bersandar di kaki ranjang yang tak berseprai, mencoba menghangatkan tubuhnya yang mulai demam dengan memeluk kedua kaki sendiri.
Di tangan kanannya, sepotong roti dari Bibi Renggo terasa hambar di lidah, namun ia paksa menelannya demi bertahan hidup.
Dengan jari yang masih bergetar hebat, Zahra merogoh saku pakaiannya yang lembap, mencari benda satu-satunya yang menghubungkannya dengan dunia luar.
Cahaya layar ponsel yang terang seketika menyilaukan matanya yang bengkak.
Puluhan notifikasi masuk, namun tak satu pun berasal dari Papa atau Mama.
Tidak ada pesan yang bertanya apakah ia sudah makan, bagaimana lukanya, atau sekadar menanyakan apakah Akhsan memperlakukannya dengan baik.
Seolah-olah, setelah prosesi akad nikah di rumah sakit itu selesai, tugas mereka telah usai dan Zahra resmi dianggap "hilang" dari tanggungan keluarga.
Ia membuka aplikasi pesan. Nama dua sahabat baiknya muncul di urutan teratas.
[Ra, sampaikan ke Pak Akhsan semoga lekas sembuh, ya. Dan selamat, samawa buat pernikahannya dengan Kak Gea. Sedih banget dengar kecelakaannya, tapi syukur Pak Akhsan selamat. Kamu yang sabar ya dampingi kakakmu.]
Zahra memejamkan mata rapat-rapat. Sesak itu kembali menghantam ulu hatinya. Indri tidak tahu.
Dunia tidak tahu bahwa Gea sudah tiada di bawah tanah, dan posisinya sebagai mempelai wanita telah dirampas secara paksa oleh Zahra.
Ia beralih ke pesan yang dikirimkan oleh Christian sahabatnya.
[Ra, kamu di mana? Tadi di acara akad di rumah sakit, aku datang sama anak-anak kelas, tapi aku nggak lihat kamu sama sekali. Bukannya kamu adiknya? Kok malah nggak kelihatan batang hidungnya? Pak Akhsan kelihatan hancur banget tadi di kursi roda.]
Zahra tertawa getir, sebuah tawa yang berakhir dengan isakan kecil.
"Aku ada di sana, Chris, batinnya perih. Aku ada di sana, di balik cadar putih itu. Aku yang menyalami tangan dingin Mas Akhsan. Aku yang sekarang sedang meringkuk di lantai kamar tamu seperti pesakitan."
Disaat sedang membaca pesan, ia mendengar suara langkah kaki yang berat dan berirama pelan terdengar mendekat dari koridor.
Zahra mengenali suara itu dimana suara langkah kaki yang kini menjadi teror bagi ketenangannya.
Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya.
Dengan gerakan kilat namun penuh kehati-hatian, Zahra memasukkan ponselnya ke dalam saku dan menyembunyikan sisa roti dari Bibi Renggo dan menenggak habis susu hangat dan setelah itu ia menyembunyikan gelas di bawah tempat tidurnya.
Ia segera merebahkan tubuhnya di lantai yang keras, membelakangi pintu, dan memejamkan mata rapat-rapat.
Ia mengatur napasnya sedemikian rupa agar terdengar teratur, meski seluruh sel di tubuhnya berteriak karena rasa takut.
Ceklek!
Suara pintu kamar tamu yang dibuka, cahaya lampu dari koridor membelah kegelapan kamar membentuk bayangan panjang seorang pria yang berdiri di ambang pintu.
Akhsan berdiri di sana, menatap sosok yang meringkuk di lantai.
Wajahnya tidak menunjukkan rasa kasihan sedikit pun; justru tatapannya sangat tajam, meneliti apakah "tahanan"-nya itu benar-benar sudah tidur atau hanya bersandiwara.
Ia melangkah masuk dua tindak. Matanya tertuju pada pakaian Zahra yang masih sedikit lembap dan rambutnya yang berantakan.
Akhsan melihat betapa ringkihnya tubuh istrinya itu di atas lantai yang dingin tanpa alas, namun hatinya yang tertutup dendam justru berbisik bahwa ini adalah balasan yang setimpal.
"Setidaknya tempat tidur ini lebih hangat daripada tanah pemakaman Gea, bukan?" desis Akhsan sangat pelan, hampir seperti bisikan iblis.
Ia tidak mendekat untuk menyelimuti atau memindahkan Zahra ke atas ranjang.
Setelah memastikan Zahra tidak bergerak dan tampak tertidur pulas, Akhsan membalikkan badan.
Brak!
Pintu itu ditutup kembali dengan dentuman yang sengaja dibuat keras, seolah ingin mengejutkan siapa pun yang ada di dalamnya.
Suara langkah kakinya perlahan menjauh, kembali menuju kamar utama yang seharusnya menjadi milik mereka berdua, namun kini menjadi benteng pribadinya.
Begitu suara langkah itu menghilang di balik pintu kamar utama, Zahra membuka matanya.
Air mata yang sejak tadi ia tahan kini mengalir deras membasahi lantai marmer yang dingin.
Ia masih memeluk rotinya, namun selera makannya telah lenyap sepenuhnya.
Di rumah mewah ini, ia tidak lebih dari sekadar bayangan yang tak diinginkan.