NovelToon NovelToon
Baru Kenal, Sudah Halal

Baru Kenal, Sudah Halal

Status: sedang berlangsung
Genre:Pernikahan Kilat / Cinta setelah menikah / Nikah Kontrak
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Azrinamanda

ON GOING | UPDATE SETIAP HARI

Hari dimana seharusnya Ayra Rayana bertemu klien pertamanya justru membuat dia terjatuh ke dalam kehidupan klien pertamanya itu. Regana Satya terpaksa menarik Ayra dalam kehidupannya tanpa rencana dan terjadi secara tiba-tiba.

"Bagaimana Pak Rega? Proposal ini apakah sudah sesuai?"

"Sepertinya kamu harus mengganti semuanya" Ucap Rega

"ganti jadi proposal pernikahan sepertinya cocok" Lanjut Rega

"cancel aja pak makasih!!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azrinamanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masalah Baru

Langit malam itu tampak tenang, seolah tidak ada badai yang sedang menunggu di sudut lain kehidupan Ayra.

Ia dan Rega masih duduk di teras. Piring buah sudah kosong, hanya menyisakan tusuk kecil dan sisa tawa ringan.

Ayra tidak tahu, beberapa hari ke depan, ia akan dihadapkan pada pilihan yang tidak pernah ia bayangkan.

...***...

Sebulan kemudian

Pagi itu dimulai dengan telepon yang tidak biasa.

Ayra baru saja sampai di kantor ketika ponselnya bergetar berkali-kali. Nama Yura muncul di layar. Yura jarang menelepon sepagi itu.

“Ra, kamu udah di kantor?” suara Yura terdengar tegang.

“Udah. Kenapa?”

“Kita ada masalah.”

Nada itu membuat jantung Ayra langsung turun.

“Masalah apa?”

“Klien utama Lumière Studio minta audit ulang kontrak. Mereka nemuin ketidaksesuaian timeline dan laporan cost.”

Sebelumnya rega menyerahkan project Lumière Studio untuk perusahaan lain tapi rega tetap investor utama walaupun tidak ikut campur dalam prosesnya.

Ayra terdiam. “Nggak mungkin. Semua timeline sudah sesuai revisi terakhir.”

“Itu yang aku pikir juga. Tapi mereka kirim email resmi pagi ini. Mereka ancam tarik kerja sama kalau dalam seminggu nggak ada klarifikasi.”

Ancaman tarik kerja sama. Itu bukan sekadar klien biasa.

Itu 40% pemasukan Lumière Studio.

Ayra langsung masuk ke ruang meeting kecil. “Kumpulin semua dokumen. Kita cek ulang dari awal.”

Lumière Studio adalah proyek besar yang sedang mereka jalankan campaign visual untuk brand internasional yang bisa membawa nama Kala Visual Lab naik kelas.

Kala Visual Lab.

Perusahaan rintisan yang Ayra bangun dari nol. Dari ruang kerja kecil di rumah lamanya. Dari tabungan yang hampir habis. Dari malam-malam tanpa tidur.

Dan sekarang… semuanya terasa goyah.

Tiga hari berikutnya terasa seperti maraton tanpa garis finis. Dokumen diperiksa ulang. Timeline dibandingkan. Invoice diteliti satu per satu. Dan akhirnya mereka menemukan celahnya.

Bukan kesalahan tim internal. Melainkan perubahan brief mendadak dari pihak klien yang tidak diperbarui secara tertulis. Ada miskomunikasi di tahap awal revisi kedua.

Secara teknis, bukan sepenuhnya salah Kala Visual Lab.

Tapi secara hukum? Abu-abu.

Ayra duduk diam di ruangannya setelah tim pulang. Lampu kantor sudah separuh mati. Hanya ruangannya yang masih terang.

Kalau klien itu benar-benar mundur, Lumière Studio bukan cuma gagal. Reputasi mereka ikut dipertaruhkan.

Ponselnya bergetar.

Rega.

“Belum pulang?” tanya Rega begitu ia mengangkat.

“Belum.”

“Ada apa?”

Ayra terdiam beberapa detik.

Untuk pertama kalinya sejak mereka menikah, ia merasa benar-benar sendirian dalam sesuatu.

“Ay?”

“Aku takut, Ga.”

Rega langsung berubah nada. “Takut apa?”

Ayra menjelaskan semuanya. Tentang audit. Tentang potensi kerugian. Tentang reputasi.

Di ujung sana, Rega mendengarkan tanpa menyela.

“Kamu sendirian di kantor?”

“Iya.”

“Aku ke sana.”

“Ga, nggak usah-”

Tapi telepon sudah ditutup.

Setengah jam kemudian, Rega sudah duduk di depannya, membaca dokumen dengan serius.

Wajahnya bukan lagi wajah suami yang bercanda di teras. Ia profesional. Fokus.

“Kamu konsultasi legal belum?” tanya Rega.

“Belum sempat. Masih fokus ke klarifikasi internal.”

Rega menghela napas pelan. “Aya, ini bukan cuma soal kreatif atau timeline. Ini soal struktur.”

Ayra tahu itu.

Dan justru itu yang membuatnya makin tertekan.

Kala Visual Lab berkembang cepat dalam satu tahun terakhir. Terlalu cepat. Sistemnya belum sekuat skalanya.

“Aku bisa bantu,” kata Rega akhirnya.

Ayra mengangkat wajahnya. “Bantu gimana?”

“Kita restrukturisasi sementara. Aku masuk sebagai advisor operasional. Aku pegang negosiasi dan legal sampai ini selesai.”

Ayra langsung menggeleng refleks. “Nggak.”

Rega terdiam. “Kenapa?”

“Ini perusahaanku.”

“Aku tahu.”

“Aku yang bangun. Aku yang mulai. Aku nggak mau orang mikir aku nggak mampu.”

Rega menatapnya lama. Bukan tersinggung. Tapi memahami.

“Aku nggak mau ambil alih. Aku mau jagain.”

Kalimat itu menusuk lebih dalam daripada yang Ayra kira.

“Aku cuma sementara. Sampai semuanya stabil. Kamu tetap founder. Tetap kepala. Tapi biar aku yang jadi tamengnya dulu.”

Tameng.

Ayra menggigit bibirnya.

Selama ini, Kala Visual Lab adalah mimpinya. Identitasnya. Bukti bahwa ia mampu berdiri sendiri.

Kalau ia membiarkan Rega masuk…

Apakah itu berarti ia gagal? Atau justru belajar mempercayai?

“Aku nggak mau kamu merasa kecil,” lanjut Rega pelan. “Tapi kamu juga nggak harus hancur sendirian cuma buat kelihatan kuat.”

Ruangan itu terasa sunyi. Ayra sadar, ini bukan cuma soal bisnis. Ini soal egonya. Dan rasa takut kehilangan kendali.

...***...

Dua hari kemudian, klien meminta meeting tatap muka.

Ayra dan Rega datang bersama.

Rega tidak duduk di depan sebagai pemimpin. Ia duduk sedikit di samping Ayra. Memberi ruang. Tapi ketika pembahasan masuk ke pasal kontrak dan potensi penalti, Rega mengambil alih dengan tenang.

Bahasanya terukur. Tegas, tapi tidak menyerang.

Ia membalikkan argumen dengan data. Menunjukkan bukti revisi lisan. Menawarkan solusi kompensasi tanpa merugikan kedua pihak.

Ayra memperhatikan dalam diam. Ia tahu ia cerdas.

Tapi ia juga tahu, di bidang negosiasi keras seperti ini, Rega jauh lebih berpengalaman.

Dua jam kemudian, keputusan akhirnya keluar. Kerja sama tidak dibatalkan. Namun dengan syarat restrukturisasi internal dan pengawasan operasional baru selama enam bulan.

Di mobil dalam perjalanan pulang, Ayra menatap ke luar jendela.

“Aku harus tanda tangan,” katanya pelan.

Rega mengangguk. “Iya.”

“Itu artinya kamu resmi masuk.”

“Iya.”

Ayra menoleh padanya. “Dan itu artinya… aku harus rela kamu ambil alih sementara.”

Rega tidak langsung menjawab.

“Aku nggak akan ambil mimpimu, Ra. Aku cuma bantu kamu menjaganya.”

Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh juga.

Bukan karena kalah. Bukan karena gagal. Tapi karena ia sadar, mengikhlaskan kendali bukan berarti kehilangan segalanya. Kadang itu berarti percaya.

Malam itu, di ruang kerja rumah mereka, Ayra menandatangani dokumen restrukturisasi Kala Visual Lab.

Tangannya sedikit gemetar.

Rega berdiri di belakangnya.

“Aku takut,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Kalau nanti orang lebih percaya kamu daripada aku gimana?”

Rega tersenyum kecil. “Biar aku yang percaya kamu dua kali lebih banyak.”

Ayra menoleh.

Untuk pertama kalinya, ia benar-benar mengerti arti berbagi beban. Ia tidak kehilangan perusahaannya.

Ia sedang menyelamatkannya. Dan mungkin, menyelamatkan dirinya sendiri dari tekanan yang selama ini ia pikul sendirian.

Setelah tanda tangan terakhir selesai, Rega memeluknya dari belakang.

“Kita lewatin ini bareng.”

Ayra memejamkan mata. Kala Visual Lab tetap miliknya.

Lumière Studio tetap mimpinya. Tapi kali ini, ia tidak lagi berdiri sendirian di tengah badai.

Dan anehnya…

Justru dalam keputusan mengikhlaskan itu, ia merasa lebih kuat daripada sebelumnya.

Karena cinta, ternyata, bukan cuma tentang takut kehilangan. Tapi tentang berani berbagi kendali… tanpa merasa hilang.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!