Perjalanan mendaki gunung sebuah rombongan, mengantarkan mereka untuk mengalami hal mistis. Niat ingin bersenang-senang, harus merasakan perasaan mencekam sepanjang perjalanan.
Namun, di akhir kisah mendaki. Salah satu dari rombongan, ternyata merupakan takdirnya salah satu anggota Zandra.
Penasaran?? yuk kita simak ceritanya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah di Kafe 1
Beberapa tahun kemudian, Kenan tengah berkumpul di kediaman utama keluarga Zandra. Dengan seluruh keluarga besarnya, karena merayakan kehamilan Glenna.
"Cewe yang lu tunggu, udah ketemu belum Nan?" tanya Malik
"Belum waktunya kali, tunggu aja tanggal mainnya." jawab Kenan tersenyum, seraya mengingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Dimana ia melihat dan menangkap tubuh Anggun, saat di gondol kunti. WKWKWKWK
"Cieeee... setia nih bang, udah berapa taon nunggu calon bini?" tanya Atikah
"Ck, kepo lu anak kecil." balas Kenan
"Ehhh... jangan salah ya, ini anak kecil. Udah bisa bikin anak kecil, emang abang? Jangankan bikin, lawan mainnya aja ga ada." ceplos Atikah
Membuat yang sedang minum, langsung tersedak. Sedangkan yang sedang berbincang, langsung terdiam. Ruangan mendadak hening, pasalnya yang masih jomblo kan bukan cuma Kenan. Atikah melipat bibirnya, ia melihat ke sekitar.
KRIK KRIK KRIK
BUGH
"Mulut mu Tik" ucap Kenan, setelah ia melempar bantal sofa. Namun bukannya marah, Atikah malah tertawa.
Padahal niatnya hanya menggoda Kenan, tapi ternyata kakak iparnya yang jomblo pun. Tersindir, ucapan Atikah langsung sampai ke usus dua belas jari.
Janda dan tawa, memenuhi ruang keluarga yang begitu besarnya. Eaaaaa.... Takut banget
.
.
"Jadi ke perusahaan?" tanya Malik, Kenana mengangguk
Kenan memutuskan untuk tinggal di kota ini, menggantikan Malik. Yang akan pindah ke luar negeri, setelah Atikah lahiran nanti. Begitu pun dengan Kaif, dia akan menggantikan Maheer. Karena Maheer, diminta untuk mengurus kembali cabang di Jepang. Ilmi dan Inaya, juga memilih tinggal bersama Kenan dan Kaif. Mereka diminta untuk menjalankan kafe milik Ratu, dengan senang hati mereka menerima tugas itu.
Bahkan Glenna dan Itoku juga, mereka memilih untuk ke Korea. Dekat dengan Sun, Itoku diminta menjalankan perusahaan yang ada di sana. Bersama dengan Bayyan, yang juga diminta untuk bersama dengan Itoku.
Jadi initinya.... di sini hanya ada cerita KENAN, KAIF, ILMI MA INAYA. Walau mungkin, nanti adalah selewat-selewat tentang yang lain.
"Rat, ayo kita ke kafe." ajal Ilmi, Ratu mengangguk dan berpamitan pada sang suami
"Gue ga ke perusahaan ya, mau nemenin bebeb di rumah. Ga tenang gue, kalo ninggal Tikah di rumah. Udah hamil gede dia, takut kenapa-kenapa." ucap Malik
"Sekalian bikin jalan lahir ya bang" celetuk Atikah, membuat Kenan dan Kaif menahan kesal. Ucapan istri sepupunya ini, benar-benar asbun. Ga tau apa, kalo mereka ini masih jomblo.
"Kita cabutlah, takutnya kalo kelamaan di sini. Malah nonton siaran langsung lagi, ngeri banget liat bumil tiba-tiba ngereog." celetuk Kaif, ia berjalan keluar terlebih dahulu
Kenan menatap Malik kesal, namun yang di tatapnya malah tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
"Hayu yang, kita bikin jalan lahir. Biar nanti waktu twin mau landasan, jalannya udah terbuka lebar." ucap Malik, yang sama ngaconya
Kenan mengambil kotak tisu, yang ada di meja ruang tamu.
BUGH
"HAHAHAHAHA" Malik tertawa, ia bisa menangkap kotak tersebut. Kenan pergi keluar, menyusul abangnya
"Lama-lama, gue bisa terkontaminasi ini. Kelamaan tinggal ma pasangan gesrek, kemana aja kalo udah ngomong." ucap Kenan menggerutu
.
.
"Kafe lu makin rame ya" ucap Inaya, Ratu mengangguk
"Alhamdulillah Nay, mereka suka sama suasana di sini. Apalagi menunya juga, cocok ma kantong mereka. Di sini kan, kebanyakan anak kuliahan ma anak sekolah." jawab Ratu, ia mengajak ke ruang kerja.
Ratu harus memberitahukan, managemen kerja dan juga peraturan di kafenya. Dia juga memperkenalkan karyawannya, pada atasan mereka yang baru. Semua karyawan Ratu, saat ini berkumpul di taman belakang. Kebetulan jam buka, masih ada waktu 30 menit lagi.
"Maaf, saya mengumpulkan kalian di sini. Saya mau memperkenalkan atasan kalian yang baru, kebetulan saya akan ikut suami ke yang di tugaskan ke luar negeri. Kenalkan, ini ipar-ipar saya. Kak Inaya dan kak Ilmi, saya minta kalian menghormati mereka. Seperti kalian menghormati saya, selama ini. Apapun keputusan mereka, itu juga merupakan keputusan saya." ucap Ratu, Inaya dan Ilmi mengangguk. Wajah mereka terlihat datar, karena tentunya mereka tak suka beramah tamah dengan orang baru.
Bukan sombong, hanya lebih menjaga jarak saja. Takutnya ada yang tiba-tiba SKSD, atau malah ada yang berani kurang ajar. Sementang mereka baru, karena harus menggantikan Ratu.
"Kalau begitu, kalian bisa bubar. Karena jam buka, sebentar lagi tiba." Ratu membubarkan karyawan nya
Mereka kini kembali ke ruang kerja, Inaya dan Ilmi mulai serius. Mereka mengecek beberapa dokumen keuangan, baik dari awal mula berdiri kafe. Sampai sekarang, masih bertahan dan semakin ramai.
"Rat, kayanya ada yang ganjil ini sama laporan keuangan 2 bulan terakhir." ucap Inaya, saat ia melihat ada perbedaan yang cukup signifikan. Antara laporan tertulis, dengan laporan yang ada di komputer. Ratu yang sedang mengecek beberapa faktur pengiriman, langsung bangun dan mendekati Inaya.
Ratu mengambil laporan keuangan tersebut, ia pun membandingkannya dengan yang ada di komputer. Dia mengambil kalkulator, menghitung selisih.
"Gilaaaa... Gue beneran ga tau bjirr, dua bulan kemaren gue sibuk ma bang Maheer. Nyiapin hal-hal kecil dan besar, buat pernikahan. Karena mama Mita, tetap meminta kami untuk turun tangan." Ratu shock, dengan uang yang hilang.
Mungkin buat Inaya dan Ilmi, uang segitu tidak besar. Tapi untuk Ratu, seorang perintis bukan pewaris. Nilai itu, sangatlah besar. Padahal Maheer bisa saja mengganti, tapi ini merupakan harga dirinya sebagai pendiri kafe.
"200 juta" gumam Ratu
"Rat, liat ini juga. Mang lu ganti supplier ya, buat bahan-bahan pokok menu di kafe??" Ratu merasa lemas pada tubuhnya
Apa lagi sekarang?? Padahal hanya 2 bulan, ia tak fokus pada usahanya. Tapi kenapa banyak masalah? Ratu perlahan mendekati Ilmi
Ratu mengerutkan dahi, Ratu segera kembali ke mejanya. Untuk mengambil faktur, yang baru saja ia cek. Faktur yang ia pegang, faktur dari supplier biasanya. Tapi kenapa yang di tangan Ilmi berbeda?
"Kayanya ada yang berani main-main, ada tikus hina dina di kafe lu Rat." ucap Ilmi seraya bersedekap, setelah ia melihat apa yang di pegang oleh Ratu.
"Hmm.. lu bener, 200 juta ini. Bisa di pake buat gaji karyawan gue yang jujur, tapi malah dimakan sama satu orang." jawab Ratu lemas, ia mendudukkan tubuhnya di kursi kerjanya.
Ia menghubungi orang kepercayaannya, meminta untuk memanggil manager dan bagian keuangan. Untuk menghadap, Ratu memijat pelipisnya yang terasa nyeri.
Meski hanya sebuah kafe, tapi Ratu tetap menggunakan manajemen dalam bisnisnya.
"Lu baik-baik aja kan Rat?" tanya Inaya, Ratu menggelengkan kepalanya.
"Gue butuh obat pusing kek nya, Nay, Mi." jawab Ratu, Ilmi mencari kotak P3K. Barangkali ada obat di sana, setelah dapat. Ilmi memberikannya pada Ratu, juga memberikan air minumnya.
"Gue serahin masalah ini ma kalian, terserah mau gimana?? Yang pasti, duit itu kudu balik. Gue ke kamar dulu ya, mau rebahan bentar." Inaya memapah Ratu, untuk ke kamar. Yang memang bersebelahan, dengan ruang kerjanya.
Tok tok
"MASUK"
...****************...
Jangan lupakan like, komen, gift sama vote nyaaa🥰
ganbate kak
votenya emak😘