Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 Dihadapan Hakim
Matahari sudah mulai menjelma ke arah barat ketika sidang dimulai. Cahaya kemerahan menyelinap melalui celah jendela tinggi ruang sidang pengadilan Negeri Bandung, menerangi setiap sudut ruangan yang terasa dingin dan kaku. Rania duduk di bangku pihak gugatan, di samping Pak Haryanto. Tangannya terlipat rapat di atas mejanya, tangan yang sebelumnya gemetar kini terasa mantap. Di seberang, Arga duduk bersama pengacaranya, wajahnya tampak pucat namun masih berusaha menunjukkan wajah tegas. Di belakangnya, keluarga Arga duduk berbaris—ibu Arga yang wajahnya memerah karena kemarahan, ayah Arga yang menatap lantai dengan ekspresi tertekan, dan adiknya yang menyembunyikan wajah di balik kedua tangan.
“Hakim telah menerima permintaan pihak gugatan untuk memanggil saksi tambahan,” suara Ketua Hakim terdengar tegas di tengah kesunyian ruangan. “Saksi berikutnya adalah Bapak Rio Prasetyo, mantan suami Nyonya Maya Sari.”
Suara bisik meriah pun terdengar di antara penonton yang memenuhi ruangan. Ibu Arga berdiri tiba-tiba, wajahnya memerah seperti buah delima matang. “Ini tidak adil! Apa hubungannya mantan suami perempuan itu dengan perkara kita?” serunya dengan nada tinggi, membuat beberapa orang menoleh kepadanya.
“Bapak Hakim mohon maaf,” kata pengacara Arga dengan cepat, berdiri untuk menenangkan kliennya. “Keluarga pihak tergugat sedikit terkejut dengan pemanggilan saksi yang tidak diumumkan sebelumnya.”
“Pemanggilan saksi ini telah disetujui berdasarkan surat permohonan yang kami ajukan tiga hari yang lalu, lengkap dengan bukti-bukti pendukung,” Pak Haryanto berdiri dengan tenang, mengambil seberkas dokumen dari mapnya. “Kita berpendapat bahwa keterangan Bapak Rio sangat relevan untuk menjelaskan motif serta hubungan yang telah terjadi antara terdakwa dengan Nyonya Maya Sari.”
Setelah beberapa saat diskusi singkat antara hakim dan kedua pihak pengacara, sidang dilanjutkan. Rio memasuki ruangan dengan langkah yang mantap. Pakaian jasnya terlihat rapi, wajahnya tampak tegas namun ada kesedihan yang tersembunyi di dalamnya. Ia berhenti di depan meja saksi, melakukan sumpah dengan tangan di atas Al-Qur’an, lalu duduk dengan tenang.
“Silakan, Bapak Pengacara Gugatan,” ujar Ketua Hakim.
Pak Haryanto mengajukan kursinya sedikit ke depan. “Bapak Rio, berapa lama Bapak menikah dengan Nyonya Maya Sari sebelum bercerai?”
“Empat tahun, Pak,” jawab Rio dengan suara yang jelas terdengar di seluruh ruangan. “Kita bercerai sekitar dua tahun yang lalu.”
“Apakah Bapak tahu mengapa pernikahan Bapak dengan Nyonya Maya harus berakhir?”
Rio menghela napas panjang, menatap jauh ke arah jendela sebelum kembali menatap hakim. “Karena dia berselingkuh dengan seorang pria bernama Arga Pratama,” ucapnya dengan tegas. Saat itu, seluruh mata di ruangan tertuju pada Arga, yang kini wajahnya semakin pucat dan kedua tangannya menggenggam kursinya dengan erat.
“Ibu Arga berdiri lagi, kali ini tangannya gemetar karena kemarahan. “Bohong! Anakku tidak mungkin melakukan hal seperti itu! Kamu pasti dibayar untuk mengatakan bohong!” jeritnya, membuat petugas pengadilan harus mengingatkannya untuk tetap tenang.
Arga berdiri dengan wajah memerah. “Saya tidak kenal orang ini! Saya tidak pernah berselingkuh dengan siapa pun!” serunya dengan nada yang sedikit bergetar.
Rania menatapnya dengan mata yang dingin. Selama ini, ia selalu berharap Arga akan mengakui kesalahannya, akan meminta maaf, namun kini tampaknya ia masih akan terus berbohong.
“Bapak Rio, apakah Bapak memiliki bukti tentang hubungan antara Nyonya Maya dan Bapak Arga Pratama?” tanya Pak Haryanto melanjutkan.
Rio mengangguk dan mengambil sebuah amplop dari dalam kantong jasnya. “Saya memiliki bukti percakapan WhatsApp antara mereka, foto-foto bersama yang diambil di berbagai tempat, hingga bukti transfer uang dari rekening Bapak Arga ke rekening Maya saat kita masih menikah,” katanya sambil menyerahkan amplop tersebut kepada petugas pengadilan. “Saya tidak datang ke sini untuk membalas dendam, tetapi karena saya merasa harus mengatakan yang sebenarnya. Maya pernah mengaku bahwa dia dan Arga berencana menikah jika Arga berhasil mendapatkan hak atas aset istrinya.”
Suara bisik kembali menggema. Ibu Arga kini tidak bisa berkata apa-apa lagi, hanya menatap anaknya dengan wajah yang bercampur antara kemarahan dan keterkejutan. Ayah Arga menghela napas dalam-dalam, menyilang tangan di dadanya.
Pengacara Arga segera berdiri untuk melakukan pemeriksaan balik. “Bapak Rio, bukankah Bapak memiliki motif untuk menghancurkan nama baik Bapak Arga? Setelah semua, Nyonya Maya adalah mantan istri Bapak, mungkin Bapak merasa tersakiti dan ingin membalasnya?”
“Saya sudah terluka saat itu, memang benar,” jawab Rio dengan jujur. “Namun saya tidak akan berbohong di depan pengadilan hanya untuk membalas dendam. Semua bukti yang saya berikan adalah nyata, dan saya bersedia bertanggung jawab atas setiap kata yang saya ucapkan di sini.”
Setelah keterangan Rio selesai dan bukti yang dia bawa diterima sebagai barang bukti, Pak Haryanto berdiri kembali. “Bapak Hakim, pihak gugatan memiliki bukti tambahan yang belum kami paparkan sebelumnya,” katanya sambil menoleh ke arah Rania. “Bukti ini akan sangat jelas menunjukkan bahwa hubungan antara Bapak Arga Pratama dan Nyonya Maya Sari bukan hanya hubungan biasa, melainkan hubungan yang telah berlangsung lama dan penuh dengan kesalahan.”
Rania merasa detak jantungnya semakin cepat. Saatnya telah tiba—saatnya untuk mengungkapkan semua yang tersembunyi. Ia mengambil sebuah flashdisk dari dalam tasnya dan menyerahkannya kepada Pak Haryanto.
“Di dalam flashdisk ini terdapat rekaman video yang menunjukkan momen-momen mesum antara Bapak Arga dan Nyonya Maya,” jelas Pak Haryanto. “Video ini diambil dari kamera pengawas di sebuah apartemen yang disewa khusus oleh mereka untuk bertemu. Waktu dan tanggal pada video dapat diverifikasi, dan kami juga memiliki bukti pembayaran sewa apartemen tersebut yang berasal dari rekening perusahaan milik Nyonya Rania, yang dicuri oleh Bapak Arga tanpa sepengetahuan pihak gugatan.”
“Tidak boleh!” teriak Arga, berdiri dengan wajah yang penuh dengan ketakutan. “Jangan putarkan video itu! Saya minta maaf, Rania! Saya sungguh minta maaf!” Ia berbalik menghadap Rania, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku salah, Ran. Aku mengaku aku berselingkuh dengan Maya. Tapi aku mencintaimu! Aku hanya bingung, aku takut kamu akan meninggalkanku karena kamu lebih sukses dariku. Aku ingin kita tetap bersama, kita bisa mulai dari awal lagi, kan?”
Rania hanya menatapnya dengan wajah yang datar. Tak ada air mata yang mengalir, hanya tekad yang jelas terlihat di dalam matanya. “Kamu punya kesempatan untuk mengakuinya jauh sebelum kita sampai di sini, Arga,” ucapnya dengan suara yang tenang namun jelas terdengar di seluruh ruangan. “Kamu punya kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya, untuk meminta maaf dengan tulus. Namun kamu memilih untuk berbohong, memilih untuk menggunakan kebaikanku, bahkan mencoba mengambil semua yang telah kubangun dengan susah payah.”
Ibu Arga kini menangis terisak-isak. “Rania, tolong… maafkan anakku ya. Dia hanya bingung. Kamu kan seperti anak kandung kami. Jangan lakukan ini padanya,” rayunya, mencoba meraih tangan Rania namun tidak berhasil.
“Bu,” ucap Rania dengan nada yang lembut namun tetap tegas. “Aku pernah mencintaimu seperti ibu kandungku sendiri. Aku pernah memberikan segalanya untuk keluarga ini dengan ikhlas. Namun kamu dan keluarga lain memilih untuk melihat itu sebagai kelemahan yang bisa dimanfaatkan. Kamu tidak pernah menanyakan apakah aku mampu memberikan semua itu, tidak pernah memikirkan betapa susahnya aku meraih semua yang ada sekarang.”
Pak Haryanto mengangguk kepada hakim. “Bapak Hakim, jika diizinkan, pihak gugatan akan memutar sebagian cuplikan video tersebut untuk memberikan kejelasan. Kami tidak akan memutar bagian yang terlalu eksplisit, hanya bagian yang cukup untuk membuktikan hubungan mereka.”
Setelah mendapatkan izin dari hakim, layar putih di dinding ruangan mulai menampilkan gambar. Meskipun hanya cuplikan singkat, sudah jelas terlihat sosok Arga dan Maya yang sedang bersama-sama dalam keadaan tidak senonoh. Suara bisik pun hilang, digantikan oleh kesunyian yang menusuk hati. Arga duduk kembali dengan wajah tersembunyi di antara kedua tangan, sementara Maya—yang baru saja masuk ke ruangan—terpaku menatap lantai dengan wajah yang pucat.
“Seperti yang dapat dilihat, bukti ini sangat jelas menunjukkan bahwa pihak tergugat telah melakukan perselingkuhan yang telah merusak ikatan perkawinan,” ujar Pak Haryanto setelah video selesai diputar. “Selain itu, bukti-bukti lain yang kami serahkan menunjukkan bahwa pihak tergugat telah menggunakan uang perusahaan milik Nyonya Rania untuk membiayai kehidupannya bersama Nyonya Maya, serta untuk memberikan berbagai hal kepada keluarganya tanpa seizin pihak gugatan.”
Rania berdiri perlahan, menghadap hakim dengan sikap yang tegap. “Bapak Hakim,” ucapnya dengan suara yang mantap. “Saya tidak datang ke sini untuk mempermalukan siapa pun, tidak untuk balas dendam. Saya datang karena saya ingin keadilan. Saya ingin hak saya sebagai seorang istri yang telah dikhianati diperhatikan, dan saya ingin semua aset yang berasal dari kerja keras saya dikembalikan. Saya tidak akan membiarkan hasil jerih payah saya dinikmati oleh orang yang telah mengkhianati kepercayaan saya.”
Arga menangis sambil mengetuk-meletakkan kedua tangannya di atas mejanya. “Aku tahu aku salah besar, Ran. Aku tidak berhak meminta maaf. Tapi tolong… jangan ambil semua itu dariku. Jangan biarkan keluargaku kehilangan segalanya.”
“Kamu seharusnya berpikir tentang itu sebelum kamu memutuskan untuk berselingkuh dan mengambil apa yang bukan milikmu, Arga,” jawab Rania dengan tenang. “Aku tidak akan mengambil apa yang bukan milikmu. Aku hanya mengambil kembali apa yang memang milikku.”
Ketua Hakim menghela napas dan menatap kedua pihak dengan serius. “Sidang hari ini akan dihentikan sampai pukul sembilan besok pagi. Pihak hakim akan mempertimbangkan semua bukti dan keterangan yang telah diajukan hari ini. Mohon kedua pihak untuk tetap tenang dan menghormati proses hukum yang sedang berjalan.”
Saat sidang ditutup, Rania berdiri dan mulai mengumpulkan barang-barangnya. Ibu Arga masih menangis di belakangnya, sementara Arga masih duduk tak bergerak. Rio mendekatinya dengan lembut. “Maaf harus membawa kembali kenangan buruk untukmu, Nyonya Rania,” ucapnya.
“Tidak apa-apa, Bapak Rio,” jawab Rania dengan senyum tipis. “Terima kasih telah bersedia datang dan mengatakan yang sebenarnya. Itu berarti banyak bagi saya.”
Pak Haryanto menepuk bahu Rania dengan lembut. “Kamu telah melakukan yang terbaik, Nyonya. Sekarang kita hanya bisa menunggu putusan hakim.”
Rania mengangguk, lalu melangkah keluar dari ruang sidang dengan langkah yang mantap. Di luar, udara sore terasa segar menyegarkan. Meski jalan yang ditempuh masih panjang, ia merasa lega—karena akhirnya semua kebenaran telah terungkap, dan ia telah memiliki keberanian untuk berdiri sendiri dan memperjuangkan haknya.