Anies Fadillah hanya ingin menenangkan hatinya yang lelah.
Namun satu langkah tergesa tanpa perhitungan di malam hari menyeretnya pada fitnah yang tak sempat ia luruskan.
Faktanya Anisa Fadillah gadis tujuh belas tahun itu berada di dalam kamar Ustadz Hafiz Arsyad, yang tak lain adalah putra bungsu dari Kiai Arsyad.
Sebuah peristiwa yang menguncang kehormatan, meski keduanya tak pernah berniat melanggar syari'at.
Ketika prasangka lebih dulu berbicara dan kebenaran tak sempat di bela, jalan yang paling tepat menjaga marwah adalah pernikahan.
Hari itu juga Mereka dinikahkan secara tertutup, dan pernikahan itu dirahasiakan dari publik, hanya orang ndalem yang mengetahui pernikahan rahasia antara Hafiz dan Anies.
Apakah pernikahan mereka akan bertahan?
Atau mungkin pernikahan mereka akan terbongkar?
Ikuti kisahnya yuk...!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ZIZIPEDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Gigitan Serangga.
Usai salat Isya dan Tarawih berjamaah di musala kecil dekat penginapan, mereka kembali ke kamar dengan langkah pelan.
Koridor hotel sepi. Hanya suara langkah kaki mereka berdua yang terdengar bersahutan.
Sesampainya di kamar, Gus Hafiz tidak langsung berbaring seperti biasanya. Ia duduk di tepi ranjang.
Diam.
Siku bertumpu di paha, kedua tangan saling menggenggam erat. Wajahnya menunduk. Terlihat wajahnya tengah memikul beban berat di hatinya.
Anisa yang sejak tadi memperhatikan perubahan sikapnya, ikut duduk di sebelahnya.
Pelan dan hati-hati.
“Ada sesuatu, Gus?” tanyanya lembut.
Gus Hafiz tidak langsung menjawab.
Ia justru menoleh. Menatap Anisa lama.
Sangat lama. Tatapan itu bukan sekadar melihat.
Tapi seperti sedang menimbang sesuatu yang berat.
“Seandainya…” suaranya rendah, hampir berbisik, “aku menyentuhmu lebih dari ini… apa Mas dosa?”
Pertanyaan itu menggantung di udara. Anisa terdiam sepersekian detik. Lalu, dengan polosnya, ia menggeleng.
“Kita sudah menikah, dan halal.”
Jawabannya sederhana.
Benar yang Anisa ucapkan, secara hukum agama mereka sah. Namun ia belum selesai.
“Tapi, di belakang kata halal, ada janji Panjenengan pada Umi, Gus…” lanjutnya pelan. “Mungkin itu yang membuat panjenengan berat memikulnya. Ada amanah dalam janji yang panjenengan sendiri sanggupi.”
Kalimat itu seperti anak panah. Menembus tepat ke dada Gus Hafiz. Ia tak menyangka.
Istrinya yang masih remaja, yang sering terlihat malu-malu.Ternyata memahami sesuatu yang bahkan ia sendiri sedang berusaha lari dari itu semua.
Gus Hafiz menelan ludah. Dadanya terasa sesak. Anisa menatapnya dengan tenang.
Tak menghakimi, tak menyalahkan, hanya memahami.
“Tapi…” lanjut Anisa pelan, “kalau menjalankan amanah itu terasa berat untuk panjenengan pikul… dan lebih banyak mudaratnya dari manfaat… bagi Gus sendiri, kenapa panjenengan tidak minta keringanan pada Ibu Nyai?”
Gus Hafiz terdiam.
Lama.
Pikirannya berkecamuk.
Antara nafsu dan amanah.
Antara rindu dan menjaga.
Antara keinginan sebagai suami… dan kewajiban sebagai putra kiai.
Ia memejamkan mata. Ia tahu, ia bisa saja memaksa keadaan. Secara agama, Anisa halal baginya.
Tak ada yang melarang. Tapi ada satu hal yang lebih berat dari sekadar halal dan haram.
Janji dan nama baik.
Ia membuka mata perlahan. Menatap remaja di sampingnya.Yang justru terlihat lebih tenang darinya.
“Kamu tidak marah kalau Mas merasa berat?” tanyanya lirih.
Anisa tersenyum kecil.
“Berat itu manusiawi, Gus. Yang penting panjenengan tidak lari dari tanggung jawab.”
Kalimat itu lembut. Tapi kuat maknanya.
Gus Hafiz menunduk. Beliau merasa bukan hanya ia yang menjaga Anisa.
Tapi Anisa juga sedang menjaga dirinya.
Gus Hafiz, menarik napas dalam. Lalu meraih tangan istrinya, menggenggamnya erat.
“Doakan Mas kuat.”
Anisa mengangguk.
***
Malam kian larut. Lampu kamar diredupkan. Hanya cahaya temaram yang menyisakan bayangan lembut di dinding.
Gus Hafiz berdiri dari tepi ranjang.
“Ya sudah, istirahat. Subuh nanti kita lanjut perjalanan.”
Ia hendak melangkah menjauh, mungkin ke sofa kecil di sudut kamar. Namun tiba-tiba jemari halus Anisa menangkap pergelangan tangannya.
Sentuhan itu ringan, tapi cukup membuat langkahnya terhenti.
“Panjenengan juga istirahat,” ujar Anisa lembut. “Besok panjenengan harus nyetir.”
Gus Hafiz menoleh. Menatap wajah istrinya yang masih duduk di tepi ranjang.
“Kamu yakin… nggak apa-apa Mas tidur bareng seranjang, kamu ndak takut, Masmu khilaf?”
Nada suaranya pelan. Hati-hati. Seolah memberi kesempatan terakhir untuk menjaga jarak.
Anisa menunduk malu. Pipinya memerah. Namun ia mengangguk kecil.
“Aku percaya sama panjenengan. Kita cuma tidur… to?”
Kalimat itu sederhana, tapi justru membuat dada Gus Hafiz bergetar. Ia mengusap tengkuknya, mencoba meredakan ketegangan yang sejak tadi ia tahan.
“Inggih…”
Akhirnya ia ikut berbaring di sebelah Anisa. Mereka berbagi satu selimut, berbaring sejajar. Tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh.
Hening.
Sunyi.
Hanya suara napas yang saling bersahutan. Beberapa menit berlalu tanpa kata. Sampai akhirnya, pelan sekali, tangan Anisa bergerak.
Melingkar di dada Gus Hafiz.
Ragu. Tapi penuh keberanian kecil.
“Boleh peluk…?” bisiknya manja.
Kalimat itu membuat Gus Hafiz menelan ludah.
Sejak tadi ia mati-matian menahan sesuatu yang berdesir dalam tubuhnya. Rindu yang sudah terlalu lama disimpan. Keinginan yang wajar, tapi harus dijaga.
Ia tak langsung menjawab. Namun gerakannya lebih jelas dari kata-kata.Tangannya terangkat. Menarik kepala Anisa agar bersandar di dadanya.
Dekapannya tidak erat. Tidak mendesak.
Hanya cukup untuk membuatnya merasa aman. Dan Itu sudah lebih dari izin.
“Tidur lah…” bisik Gus Hafiz. Suaranya serak. Lebih rendah dari biasanya.
Tangannya bergerak perlahan, mengusap lembut punggung Anisa. Bukan dengan gairah, tapi dengan kasih sayang, dan penjagaan.
Anisa memejamkan mata. Ia bisa mendengar detak jantung suaminya.
Cepat, tidak setenang biasanya.
Di balik selimut yang sama, di ranjang yang sama, mereka memilih menenangkan diri.
Menjaga batas, menjaga amanah. Malam itu, rindu tak diluapkan dengan tergesa. Ia disimpan dalam pelukan yang hangat, dalam doa yang lirih, dan dalam kepercayaan yang saling mereka jaga.
Tepat pukul satu dini hari, Gus Hafiz terbangun. Ia mendapati kaki Anisa melilit cantik di atas kakinya.
Napas Gus Hafiz ngos-ngosan. jantungnya berdegup liat. Mati-matian dia mengatur napas, mengatur pikirannya agar tetap waras.
Tapi tetap saja, jantungnya masih berdegup liat, Gus Hafiz mengangkat sedikit kepalanya, memperhatikan Anisa yang terlelap damai.
Perlahan wajahnya mendekat, dan dalam hitungan detik, kini bibir Gus Hafiz sudah menyentuh lembut bibir Anisa.
Dan dengan gerakan cepat Gus Hafiz membalik badan, hingga tubuhnya mengurung Anisa tetap di bawahnya.
"Maaf... " bisiknya lembut tepat di wajah Anisa yang masih terlelap. Lalu Gus Hafiz kembali merunduk, mencium bibir Anisa dengan lembut. Dan anehnya Anisa. embalas ciuman itu, bibirnya bergerak mengikuti ritme dari gerak bibir Gus Hafiz.
Sesekali terdengar lenguhan dari bibir Anisa,
Saat Gus Hafiz memperdalam ciumannya.
Tiap kali lenguhan itu lolos dari bibir Anisa, dada Gus Hafiz makin sesak, dan makin bergairah untuk memperdalam ciumannya, sesekali Gus Hafiz memainkan lidahnya yang bergulat manja dengan lidah Anisa.
Perlahan Gus Hafiz melepas panggutannya, dan wajahnya bergerak kelain tempat, kini hidung mancung itu menyentuh lembut di bagian leher Anisa.
Bibirnya bermain manja di sana, hingga tanpa sadar bibir Gus Hafiz meninggalkan jejak kemerahan. Saat tangan Gus Hafiz bergersk pelan membuka kancing kimono Anisa, remaja itu mengeliat. Hingga tubuh Gus Hafiz jatuh terlentang di sisi Anisa.
Gus Hafiz terdiam kaku, menyadari kegilaannya, sontak ia terduduk dan meraup wajahnya.
"Astaghfirullah..." jeritnya dalam hati. Dan Seketika Gus Hafiz bergegas bangkit dari ranjang lalu masuk ke kamar mandi mengguyur tubuhnya dengan air dingin, berusaha menjinakkan sesuatu yang mulai tak bisa diajak kompromi.
Setelah itu, Gus Hafiz memilih tidur di sofa di luar kamar.
Paginya Gus Hafiz lebih dulu terbangun dan membangunkan Anisa sahur.
Usai sahur, Anisa mandi, saat melihat pantulan dirinya di cermin, matanya menyipit, merapa lehernya.
"Ini apa?"
"Kenapa kulitku ruam-ruam metah?"
Pertanyaan itu menyisakan tanda tanya.
Setelah keluar dari kamar mandi, ia dengan polosnya menunjukkan pada Gus Hafiz.
"Gus..." panggilnya. Gus Hafiz yang sedang duduk di sofa dengan kitab di tangannya, langsung menoleh.
"Iya..." sahutnya.
"Leherku kenapa ya, kok ruam-ruam merah...?"
Wajah Gus Hafiz seketika memucat. Dengan susah payah ia menelan ludah.
"Coba Mas lihat..." ucapnya.
Anisa mendekat menunjukannya.
"Oh...ini digigit serangga."
Ujar Gus Hafiz dengan suara tenang.
Mata Anisa menyipit.
"Serangga...?" gumamnya.
Gus Hafiz mengangguk, sambil mengusap tengkuknya yang tak gatal.