Lima tahun Hana Ayunindya mengabdi sebagai istri sempurna bagi Arlan Mahendra. Namun, cinta saja ternyata tidak cukup untuk mengisi rahim yang masih sunyi. Di bawah tekanan keluarga dan ego yang terluka, Arlan menjatuhkan vonis paling kejam. Ia akan menikah lagi.
Maura hadir bukan hanya untuk memberikan keturunan yang didambakan Arlan, tapi juga untuk perlahan menggeser posisi Hana di rumah yang ia bangun dengan air mata. Hana mencoba ikhlas, mencoba menelan pahitnya dipoligami, hingga ia menyadari bahwa keikhlasan tanpa batas hanya akan membuatnya hancur tak bersisa.
Di tengah puing-puing hatinya, Hana memutuskan untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya yang hilang. Saat itulah, Adrian Gavriel hadir dan menunjukkan bahwa Hana layak dicintai tanpa syarat.
Ketika Hana mulai berpaling, mampukah Arlan merelakannya? Ataukah penyesalan datang saat pintu hati Hana sudah tertutup rapat?
Kita simak kisah selanjutnya yuk di Karya => Bukan Istri Cadangan.
By: Miss Ra.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
Pagi itu, apartemen Hana terasa begitu sunyi, hanya deru halus pendingin ruangan yang memecah keheningan. Arlan melangkah menaiki anak tangga kecil menuju kamar utama dengan perasaan was-was.
Biasanya, aroma nasi goreng atau kopi panas sudah menyambutnya di meja makan, namun kali ini dapur itu kosong melompong. Dingin.
Arlan memutar knop pintu kamar yang tidak terkunci. Di dalam, ia mendapati Hana baru saja keluar dari kamar mandi.
Uap air masih menempel di kulit lehernya, dan rambutnya yang basah tergerai di atas handuk putih. Hana hanya melirik sekilas, sebuah tatapan datar yang lebih menyakitkan daripada makian.
"Maaf, aku tidak sempat membuatkan sarapan," ucap Hana pendek. Suaranya hambar, seolah ia hanya berbicara pada seorang asing yang kebetulan menumpang lewat.
Arlan duduk di tepi ranjang, matanya tak lepas menatap Hana yang sibuk di depan meja rias. Ada kerinduan yang membuncah di dadanya, sebuah keinginan untuk merengkuh tubuh itu dan menghapus jarak yang membentang di antara mereka.
Namun, ia teringat amarah Hana kemarin. Senyum manis yang biasanya menjadi candunya kini telah hilang, digantikan oleh garis wajah yang kaku.
"Hana... aku sudah mengirimkan uang bulanan untukmu," Arlan membuka suara, mencoba mencairkan suasana. "Tapi maaf, jatahmu kali ini terpaksa aku kurangi sedikit. Aku dan Maura sedang butuh banyak biaya untuk persiapan persalinan dan keperluan bayi kami nanti."
Hana menghentikan gerakan jemarinya yang sedang mengoleskan krim wajah. Ia tersenyum getir pada pantulan dirinya di cermin. Ironis.
Arlan datang bukan untuk menanyakan bagaimana hatinya yang terkoyak atau luka di batinnya, melainkan untuk mengumumkan pemotongan jatah seolah Hana adalah karyawan yang kinerjanya sedang memburuk.
"Simpan saja uangmu, Mas. Aku bisa menghidupi diriku sendiri. Tanpa sepeser pun darimu, aku masih bisa bernapas dan melanjutkan hidup," ketus Hana tanpa menoleh.
Arlan menghela napas, merasa egonya sedikit terusik. "Kau tetap istriku, Hana. Aku masih bertanggung jawab atas nafkahmu."
Hana berbalik, menatap tajam langsung ke manik mata Arlan. "Istri? Aku hanya istri yang tidak kau anggap. Wanita payah yang kau hina karena tidak bisa memberikanmu anak, bukan? Katakan padaku, apa aku masih punya arti di hidupmu selain sebagai pelarian saat kau jenuh dengan rumah utamamu?"
Kalimat itu menghujam Arlan. Ia sadar ia telah keterlaluan tempo hari. "Hana, aku minta maaf soal semalam. Aku tidak sengaja membawanya. Aku hanya... aku hanya sedang kalut."
"Aku mengerti kondisimu," sahut Hana singkat. Ia malas berdebat. Ia tahu ujung-ujungnya Arlan akan menggunakan tameng 'Maura sedang hamil' untuk membenarkan segala kebrengsekannya.
Arlan merasa mendapat angin segar. Ia mengira Hana sudah luluh. Ia bangkit, mendekati Hana, dan melingkarkan lengannya di pinggang ramping istrinya itu dari belakang.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih karena selalu mengerti."
Hana hanya diam membatu. Ia tidak membalas pelukan itu, namun ia juga tidak memberontak. Sebuah kepasrahan yang berbahaya.
Arlan mulai membenamkan wajahnya di ceruk leher Hana, menghirup aroma sabun yang segar bercampur wangi alami tubuh Hana yang dulu selalu membuatnya mabuk kepayang.
"Hana... kita sudah lama tidak melakukan 'itu'. Hari ini, aku akan bolos kerja. Biarkan dunia luar berjalan tanpaku, aku hanya ingin menikmati hari ini bersamamu," bisik Arlan parau, bibirnya mulai menyentuh kulit leher Hana dengan lembut.
Hana memejamkan mata. Tubuhnya mengkhianati logikanya. Ada bagian dari dirinya yang masih mendamba sentuhan pria ini, pria yang telah menghancurkannya sekaligus pria yang pernah menjadi pusat dunianya selama lima tahun.
"Aku..."
"Jangan menolak, Sayang. Mari kita nikmati waktu kita," potong Arlan lembut.
Cengkeraman tangan Hana semakin mengerat di depan dadanya pada handuk yang masih ia pakai. Arlan membalikkan tubuh Hana dan memagut bibirnya.
Ciuman itu awalnya lembut, seolah meminta izin, namun perlahan berubah menjadi tuntutan yang panas dan penuh gairah.
Di atas ranjang yang menjadi saksi bisu kemelut hati mereka, Arlan mencoba menanamkan kembali otoritasnya sebagai seorang suami.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah oleh dering ponsel Arlan yang melengking. Arlan mendesis kesal, melepaskan pagutannya dengan napas yang memburu. Nama 'Maura' berkedip di layar.
"Ada apa, Maura?" tanya Arlan setelah menekan tombol hijau, mencoba menstabilkan suaranya.
"Mas, kamu belum sampai kantor? Sekretarismu bilang kamu belum masuk," suara Maura terdengar curiga di seberang sana.
"Maura... aku sedang ada rapat di luar pagi ini. Lokasinya agak jauh," bohong Arlan lancar, sambil matanya menatap Hana yang kini tertunduk dengan pipi merona.
"Rapat? Mas, kau tidak sedang berbohong kan? Kamu tidak di tempat wanita itu kan?"
"Tentu saja tidak. Ini rapat penting untuk proyek besar. Sudah ya, aku harus masuk ke ruangan."
Arlan mematikan ponselnya dan melemparnya sembarangan ke sofa. Ia menatap Hana kembali, sebuah seringai kemenangan tersungging di bibirnya.
Ia merasa sudah berhasil mengendalikan Hana kembali ke dalam dekapannya.
Gairah yang sempat terinterupsi kini berkobar kembali, jauh lebih hebat dari sebelumnya. Di bawah sinar matahari pagi yang menembus celah gorden, keduanya kembali hanyut dalam lautan gairah yang memabukkan.
Arlan mencumbu Hana dengan intensitas yang seolah-olah ingin menghapus jejak Adrian Gavriel dari hidup wanita itu.
Namun, di balik mata Hana yang terpejam dan desahan yang lolos dari bibirnya, hatinya tetap terasa kosong. Ia membiarkan Arlan memiliki tubuhnya pagi ini, namun ia juga tidak bisa menolak.
Apa yang sebenarnya terjadi pada Hana? Apakah Hana mulai luluh kembali dengan sikap manis Arlan?
Kita pantengin terus kisah Arlan dan Hana yaa...
...----------------...
Next Episode ...
**Hay para pembaca setia, hari ini adalah puncak hadiah yang Miss Ra janjikan untuk kalian yang setia membaca kisah ini hingga masuk 20 bab terbaiknya**...
**Penasaran siapa yang sudah beruntung mendapatkan hadiah dari Miss Ra hari ini**?
**Lihat info dibawah yaa... Dan jangan lupa Follow akun Miss Ra agar bisa mengirim pesan, atau bisa Follow akun IG Miss Ra**.
**Selamat untuk para pemenang, masing-masing juara 1,2,3 akan mendapatkan hadiah dari Miss Ra..**
**Yang merasa juara bisa hubungi Miss Ra dengan bukti Foto dibawah, sampai batas waktu jam 9 malam yaa, lebih dari itu Hadiah akan Miss Ra anggap hangus dan akan diberikan pada yang lain...**
**Terimakasih buat para pembaca setia Miss Ra, akan ada hadiah lain yang akan Miss Ra bagikan untuk kalian jika karya terbaru Miss Ra bisa masuk 20-40 bab terbaiknya..**
**Oke, sampai jumpa di Up selanjutnya yaa ...**
**See You** ...

ya terimasaja jd keset laki lu sm maura trus jd pengasuh sekalian.
ingat jng minta cerai lagi ngisin ngisini wedok an labil.