Sasha difitnah hamil oleh adik seorang konglomerat, dan hidupnya hancur dalam semalam. Untuk menutup skandal keluarga, Gio Artha Wijaya dipaksa menikahinya.
Di mata publik, Sasha adalah istri sah pewaris Wijaya. Di dalam rumah itu, ia hanyalah perempuan yang dibeli untuk menjaga reputasi. Gio membencinya. Menganggapnya jebakan.
Sasha membencinya karena telah menjadikan hidupnya alat tawar-menawar. Namun semakin lama mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta itu, Sasha mulai menyadari satu hal yang lebih menakutkan dari kebencian Gio.
Ia mungkin tidak pernah difitnah secara kebetulan. Seseorang telah merencanakan semua ini dan Sasha hanyalah bidak pertama.
Akankah Sasha mengetahui siapa dalang dari kejadian yang menimpanya selama ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Herlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit Ancaman Sasha
Gio menghela napas panjang. Ia menatap Sasha yang kini berdiri dengan postur tegap, matanya menyalakan api yang sebelumnya hanya samar. Sesuatu dalam dirinya berguncang, percampuran antara rasa kagum, takut, dan bersalah. Ia tahu jalan yang akan mereka tempuh tidak mudah. Setiap langkah adalah risiko, dan setiap rahasia yang terungkap bisa menjadi bom lain yang meledak di hadapan mereka.
“Kamu benar, Sha,” kata Gio akhirnya. “Kita tidak bisa terus lari. Aku… aku akan menanggung risiko itu bersamamu. Aku tidak akan membiarkan dia… atau siapa pun, menghancurkanmu lagi.”
Sasha mendekat, jarak mereka hanya beberapa langkah, namun aura di sekelilingnya terasa tegang seperti medan magnet yang saling tarik-menarik. “Aku ingin semua jelas. Aku tidak mau lagi ada bayangan di antara kita, Gio. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi kebohongan. Aku ingin melihat semua, sejelas-jelasnya.”
Gio menelan ludah, menyadari bahwa ini lebih dari sekadar perang melawan Dimas. Ini adalah ujian atas cinta mereka sendiri, atas kepercayaan yang kini seperti kaca tipis yang bisa pecah kapan saja. “Kalau begitu… kita harus mulai dari hal paling penting. Aku akan ceritakan semuanya. Setiap rahasia, setiap keputusan bodoh yang pernah kulakukan, setiap alasan yang membuatku berbohong…”
Sasha menatapnya dalam. “Aku siap mendengar, Gio. Dan aku harap kamu siap untuk apa pun reaksiku.”
Gio menunduk, menarik napas dalam, dan mulai berbicara. Cerita itu mengalir dari bibirnya, seperti air yang lama tertahan. Setiap kata yang keluar menimbulkan riak di wajah Sasha—mulai dari terkejut, marah, hingga sedih. Ada momen ketika Sasha menunduk, menutup matanya, seperti ingin menahan air mata yang mengalir, namun ia tetap mendengarkan, setiap kata menancap seperti paku yang tajam namun perlu untuk dibuka.
“Ketika aku pertama kali mengetahui tentang Dimas…” Gio mulai, suaranya serak. “Aku… aku takut kehilanganmu. Aku pikir, kalau aku memberitahumu semua, kamu akan pergi. Jadi aku memilih diam. Tapi aku salah, Sha. Aku salah besar.”
Sasha diam, napasnya berat, namun matanya tidak lepas dari wajah Gio. Ia ingin memahami, ingin merasakan alasan di balik semua kebohongan itu, tapi juga ingin memastikan tidak ada lagi ruang untuk manipulasi. “Gio… setiap kali kamu memilih diam, setiap kali kamu menyimpan rahasia itu… aku merasa… aku merasa kehilangan diriku sendiri. Aku hidup dalam bayang-bayangmu, bukan bersamamu.”
Gio menunduk, menyesal. “Aku tahu, dan aku tidak bisa menghapus rasa sakit itu. Aku hanya bisa meminta kesempatan untuk memperbaiki semua. Aku akan menghadapi Dimas bersamamu, Sha. Tidak ada lagi hal yang kusembunyikan.”
Sasha menarik napas panjang, matanya menatap jauh ke luar jendela. Cahaya matahari yang menembus gorden kini menyinari wajahnya, menyoroti garis ketegasan baru yang terbentuk di sana. “Kalau begitu… kita harus bertindak cepat. Dimas sudah memulai langkahnya. Kita tidak bisa memberi dia waktu untuk mengatur jebakan lain.”
Gio mengangguk, menepuk bahu Sasha lembut, namun ia merasakan ketegangan yang mengalir di antara mereka. “Aku akan menyiapkan semuanya. Tapi Sha… kau harus berjanji satu hal padaku.”
“Apa itu?” tanya Sasha, nada suaranya lebih tenang tapi tetap tegas.
“Janji bahwa apapun yang terjadi, kau tidak akan menyerah. Bahkan jika kebenaran itu menyakitkan. Bahkan jika kita menemukan hal-hal yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Kau harus tetap berdiri, seperti yang kau lakukan sekarang.” Gio menatap mata Sasha dengan serius, seolah menanamkan kekuatan di sana.
Sasha mengangguk pelan, jemarinya menyentuh tangan Gio yang menepuk bahunya. “Aku berjanji. Tapi kamu juga harus berjanji, Gio. Tidak ada lagi kebohongan. Tidak ada lagi topeng. Aku butuhmu jujur sepenuhnya, bahkan jika itu membuat kita hancur sementara.”
“Janji,” jawab Gio, suaranya rendah tapi tegas. Mereka saling bertatapan, dua hati yang terluka namun bersatu dalam tekad.
Tiba-tiba, ponsel Sasha bergetar di meja samping. Ia mengangkatnya, dan layar menampilkan pesan yang membuat darah mereka seketika membeku. Pesan itu datang dari nomor tak dikenal, hanya berisi satu kalimat singkat, namun cukup untuk mengguncang pondasi yang baru saja mereka bangun.
“Kalian pikir bisa bersatu dan menghadapi semua rahasia? Salah besar. Semua yang kalian ketahui hanyalah permulaan. Malam ini, salah satu dari kalian akan kehilangan segalanya.”
Sasha dan Gio saling menatap, napas mereka memburu. Tidak ada kata yang keluar. Hanya kesunyian yang pekat dan ketegangan yang menusuk. Mata Sasha menyala dengan api kemarahan, dan Gio menatap balik dengan tekad yang membara.
“Kita harus bersiap,” bisik Gio. “Sekarang juga.”
Sasha mengangguk, menggenggam tangannya kuat. “Aku siap. Apapun yang terjadi, aku tidak akan mundur lagi.”
Dan untuk pertama kalinya, mereka berdiri berdampingan, bukan sebagai korban atau pelindung, tapi sebagai pasangan yang siap menghadapi kegelapan yang menunggu di luar.
Gio menatap Sasha lebih lama, seolah mencoba menembus setiap lapisan pertahanan yang terbentuk di wajah istrinya. Ia tahu, setiap kata yang akan ia ucapkan berikutnya bisa menjadi pemicu ledakan baru—atau jembatan menuju pemulihan. Tapi tidak ada lagi ruang untuk ragu. Waktu sudah habis.
“Sha… aku tidak akan bohong lagi. Tidak ada rahasia tersisa,” bisik Gio, suaranya bergetar menahan emosi. “Kamu harus tahu… semua yang kulakukan dulu, semua diamku, bukan karena aku tidak mempercayaimu. Tapi karena aku takut… takut kalau kebenaran itu akan menghancurkanmu, atau malah menghancurkan kita.”
Sasha menghela napas, matanya yang merah karena menahan tangis kini mulai menatap Gio dengan tatapan lebih tajam, penuh pengertian sekaligus amarah yang terpendam. “Aku tidak butuh perlindunganmu lagi, Gio. Aku butuh kejujuran. Bahkan jika itu menyakitkan. Bahkan jika itu membuatku harus menatap sisi tergelap dari hidup kita sendiri.”
Gio menelan ludah, jantungnya berdegup kencang. Ia tahu Sasha benar. Tidak ada jalan pintas lagi. Semua harus dihadapi. Semua harus dibuka. Dan Dimas… Dimas adalah badai yang menunggu mereka di luar sana.
Sasha meraih tangan Gio, menggenggamnya erat. “Kamu siap menghadapi Dimas bersamaku?” tanyanya, suaranya rendah namun menantang. “Atau kamu akan menyerah sebelum pertempuran dimulai?”
Gio menatap matanya, hati dan pikirannya seakan berhenti untuk sesaat. “Aku… tidak akan menyerah, Sha. Aku berjanji, sampai napasku berhenti. Kita akan hadapi semua. Bersama.”
Tiba-tiba, ponsel di meja bergetar lagi, dan layar menampilkan satu pesan baru yang lebih mengerikan daripada sebelumnya. Tanpa kata-kata panjang, hanya satu kalimat:
“Ini hanya permulaan… dan malam ini, aku akan tunjukkan siapa yang benar-benar berkuasa. Siap atau tidak, kalian akan jatuh.”
Sasha menatap Gio, napasnya berat, jantungnya seakan berhenti sejenak. Ia menekan ponsel itu, menatap layar kosong, lalu memutar tubuhnya menatap Gio dengan mata yang menyala penuh tekad.
“Kalau begitu, Gio,” kata Sasha, suaranya rendah tapi memerintah. “Kalau malam ini adalah medan perang… aku memilih berdiri di sisimu. Tapi ingat satu hal…” ia mencondongkan tubuhnya, matanya menembus pandangan Gio. “…jika kau berani sekali pun menghalangi langkahku atau menyembunyikan satu fakta pun dariku, aku tidak akan ragu menebasmu seperti pedang yang kutajamkan sendiri.”