NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:591
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam di Penginapan dan Rahasia yang Terungkap

“Shen Yi, apa kau sudah tidur?”

Suara Lian'er pelan sekali, hampir tertelan oleh derit kayu lantai dan hembusan angin di luar jendela. Dia berdiri di ambang pintu kamar Shen Yi yang sedikit terbuka, jubah putihnya menyapu lantai seperti kelopak teratai yang jatuh perlahan. Cahaya lentera koridor menyinari separuh wajahnya dingin, tapi ada kerapuhan yang tak biasa di matanya.

Shen Yi langsung duduk di tepi tempat tidur. Dia belum tidur; matanya masih terbuka lebar, memandang tungku kecil yang bara-nya mulai redup. “Belum, Nona Lian'er. Masuk aja. Dingin di luar.”

Lian'er melangkah masuk, menutup pintu pelan agar tak membangunkan Xiao Feng di kamar seberang. Dia berdiri ragu di dekat jendela, memandang kota yang sudah gelap, hanya diterangi titik-titik lentera merah di jalan.

“Aku… tak bisa tidur,” katanya tanpa menoleh. “Es di tubuhku mulai merayap lagi. Bukan karena kutukan yang memburuk, tapi karena pikiran.”

Shen Yi bangkit, menambahkan kayu kecil ke tungku hingga api menyala lebih hangat. “Pikiran apa?”

Lian'er diam sejenak. Lalu dia berbalik, matanya bertemu dengan mata Shen Yi. “Shi Jun. Wajahnya mirip sekali denganmu. Aura teratai di tubuhnya… sama denganmu. Aku takut kalau benar kau saudara kembarnya, apa artinya bagi kita? Bagi perjalanan ini?”

Shen Yi menghela napas pelan, lalu duduk kembali di tepi tempat tidur, memberi isyarat agar Lian'er duduk di kursi kayu di depannya. Lian'er ragu, tapi akhirnya duduk, jarak mereka cukup dekat hingga Shen Yi bisa merasakan dingin samar yang memancar dari tubuhnya.

“Saya juga mikir itu terus sejak tadi,” jawab Shen Yi jujur. “Tapi… nama, asal-usul, sekte besar atau kecil… itu nggak ubah apa yang saya rasain sekarang. Saya tetap Shen Yi. Tabib miskin yang nemuin Nona di hutan teratai layu. Yang pegang tangan Nona tanpa takut jadi es batu. Yang mau ikut ke pulau itu supaya Nona sembuh.”

Lian'er menunduk ke tangannya sendiri. Jari-jarinya yang semula transparan kini hampir normal, tapi masih ada sisa kristal es kecil di ujung kuku. “Kau terlalu sederhana. Tapi… justru itu yang membuatku takut kehilanganmu.”

Shen Yi tersenyum kecil. “Kehilangan? Saya nggak kemana-mana kok.”

Lian'er mengangkat kepala. Matanya basah tipis—bukan karena dingin, tapi karena sesuatu yang lebih dalam. “Kalau kau benar anak Sekte Langit Teratai mereka pasti akan tarik kau kembali. Kau punya darah teratai murni. Mereka akan anggap kau aset berharga. Dan aku, aku hanya dewi yang dikutuk. Aku tak pantas berdiri di sisimu kalau itu terjadi.”

Shen Yi menggeleng tegas. Dia mengulurkan tangan, memegang punggung tangan Lian'er pelan. Hangat dari tubuhnya langsung mengalir, mendorong es kecil itu mundur.

“Nona Lian'er,” katanya lembut, “saya nggak peduli sekte apa, darah apa. Kalau mereka mau tarik saya, biar saya bilang: ‘Maaf, saya lagi sibuk rawat pasien. Pasien saya ini dewi teratai yang lagi butuh Air Teratai Abadi. Nanti aja urusannya.’”

Lian'er tertawa kecil—suara yang jarang sekali keluar dari bibirnya. Ringan, seperti angin musim semi yang menyentuh danau beku. “Kau benar-benar aneh.”

Shen Yi ikut tertawa pelan. “Aneh tapi berguna. Lagipula, Nona suka kan kalau saya aneh begini?”

Lian'er tak menjawab langsung. Dia hanya memandang tangan mereka yang saling bertaut. “Shen Yi… kalau semua ini selesai… apa kau masih mau aku tinggal di gunung bersamamu? Di gubuk kecil itu?”

Shen Yi mengangguk tanpa ragu. “Mau. Saya ajarin Nona bikin ramuan jahe. Nona ajarin saya… gimana caranya summon kelopak teratai. Kita bisa tanam teratai di danau kecil dekat gubuk. Biar Nona nggak kangen istana atas.”

Lian'er tersenyum lagi, lebih lebar kali ini. “Itu terdengar seperti mimpi yang tak pernah aku bayangkan.”

Mereka diam sejenak, hanya menikmati kehangatan yang saling mengalir melalui sentuhan tangan. Api tungku menari pelan, menerangi wajah mereka.

Tiba-tiba, suara ketukan keras di pintu penginapan lantai bawah memecah keheningan. Xiao Feng berteriak dari koridor.

“Tabib Shen! Dewi! Turun sekarang! Ada tamu tak diundang!”

Shen Yi dan Lian'er langsung bangkit. Mereka turun tangga cepat. Di ruang tamu, Xiao Feng sudah berdiri dengan pedang terhunus. Bu Mei bersembunyi di balik meja, wajahnya pucat.

Di depan pintu, Shi Jun berdiri sendirian. Jubah biru sutranya berkibar karena angin malam yang masuk lewat celah pintu. Matanya tertuju langsung pada Shen Yi.

“Aku sudah pikir-pikir sejak tadi,” kata Shi Jun, suaranya lebih tenang daripada saat pertemuan pertama. “Kau bukan penipu. Kau… saudaraku.”

Shen Yi terpaku di tangga. “Apa maksudmu?”

Shi Jun melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya agar angin tak masuk. Dia mengeluarkan gulungan kain tua dari saku jubahnya dan membukanya perlahan. Kain bayi berbordir teratai emas—sama persis dengan yang pernah Shen Yi lihat di kotak kenangan Guru Chen.

“Ini kain selimutmu waktu bayi,” kata Shi Jun.

“Elder Mei Ling dari Sekte Langit Teratai menyimpannya selama ini. Dua puluh lima tahun lalu, ibuku melahirkan anak kembar. Satu dibawa kabur oleh tabib tua bernama Chen, gurumu—karena ada ramalan buruk, satu anak membawa cahaya teratai, satu membawa kegelapan. Guru Chen sembunyikan kau di Gunung Qingyun supaya kau aman dari konflik sekte.”

Shen Yi menatap kain itu lama. Lalu dia menggeleng pelan. “Guru bilang saya ditemukan di keranjang bambu di lereng gunung. Tak ada surat, tak ada kain bordir. Hanya saya dan selimut usang.”

Shi Jun tersenyum tipis, bukan sombong, tapi getir. “Itu karena Guru Chen sengaja hapus jejak. Dia tahu kalau sekte tahu kau ada, kau akan ditarik jadi alat politik. Tapi sekarang rahasia itu bocor. Sekte Es Hitam tahu. Xue Han tahu. Mereka ingin inti teratai Lian'er dan darahmu sebagai kunci untuk hilangkan kutukan balik kalau gagal ambil inti.”

Lian'er maju selangkah, suaranya dingin. “Xue Han, dia yang dulu mencoba mencuri intiku ratusan tahun lalu?”

Shi Jun mengangguk. “Dia. Dan sekarang dia yakin darah teratai ganda adalah jawaban. Kalian berdua jadi target utama.”

Xiao Feng menurunkan pedang pelan. “Jadi… Tabib Shen ini beneran anak sekte besar? Wah, naik kelas mendadak nih.”

Shen Yi menghela napas panjang. “Naik kelas apa. Saya tetap Shen Yi. Kalau kau mau klaim saudara, baiklah. Tapi jangan paksa saya ikut sekte atau tinggalkan Nona Lian'er.”

Shi Jun memandang Lian'er, lalu kembali ke Shen Yi. “Aku nggak paksa. Malah… aku mau ikut kalian ke Pulau Teratai Mistis.”

Shen Yi terkejut. “Kenapa?”

“Karena kau saudaraku. Dan karena… aku penasaran. Kenapa kau bisa bikin dewi teratai tersenyum, sementara aku selama ini cuma bikin orang takut atau iri. Mungkin aku bisa belajar sesuatu darimu.”

Lian'er memandang Shi Jun dengan tatapan netral, tapi tak menolak. “Kalau kau ikut, jangan buat masalah.”

Shi Jun mengangguk. “Janji. Aku akan lindungi kalian sampai pulau. Dan kalau Xue Han muncul… aku akan bantu lawan dia.”

Xiao Feng menyeringai. “Wah, rombongan bertambah jadi empat. Tabib Shen, dewi cantik, pemuda sombong, dan aku si petualang. Kayak cerita dongeng yang lagi hits di kedai arak.”

Shen Yi tersenyum lelah. “Yang penting selamat sampai pulau.”

Malam itu, mereka tak tidur banyak. Shi Jun duduk di ruang tamu bawah, menjaga pintu. Xiao Feng bergantian jaga. Lian'er kembali ke kamar Shen Yi sebentar, hanya untuk memastikan dia baik-baik saja setelah pengungkapan besar itu.

“Shen Yi, apa kau baik-baik saja?” tanyanya pelan sambil duduk di tepi tempat tidur.

Shen Yi mengangguk. “Baik. Nama atau asal-usul nggak ubah siapa saya sekarang. Saya tetap mau selamatkan Nona.”

Lian'er memegang tangannya erat. “Dan aku mau tetap di sisimu. Sampai akhir.”

Mereka duduk bersama dalam hening, tangan saling genggam, sampai fajar menyingsing pelan di ufuk timur.

Subuh menjelang, rombongan empat orang itu keluar dari penginapan, menyusuri jalan rahasia yang ditunjuk Nenek Hua menuju pelabuhan. Shi Jun berjalan di belakang, matanya penuh tekad baru. Xiao Feng bercanda ringan untuk ringankan suasana. Lian'er berjalan di samping Shen Yi, tangannya sesekali menyentuh lengan Shen Yi—bukan karena dingin, tapi karena ingin merasakan kehangatan itu lebih lama.

Shen Yi memandang ke depan, ke arah lautan yang masih jauh. “Pulau Teratai Mistis… semoga kita sampai.”

Lian'er berbisik pelan. “Kita akan sampai. Bersama.”

Di belakang mereka, kota mulai bangun. Tapi di kegelapan pinggir kota, mata dingin Xue Han mengawasi dari jauh, senyum tipis di bibirnya.

“Darah teratai ganda… akhirnya lengkap. Tak lama lagi, keabadian akan jadi milikku.”

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!