Deskripsi — MY DANGEROUS KENZO
📚✨ Naya Putri Ramadhani selalu hidup di bawah aturan Mommy yang super strict. Serba rapi, serba disiplin… sampai napasnya terasa terkekang.
Tapi ketika study tour sekolah datang, Naya menemukan sedikit kebebasan… dan Kenzo Alexander Hartanto.
Kenzo, teman kakaknya, santai, dewasa, tapi juga hyper affectionate. Suka peluk, suka ngegodain, dan… bikin jantung Naya deg-degan tiap kali dekat.
Bagaimana Naya bisa bertahan antara Mommy yang strict, Pappi yang hangat, dan Kenzo yang selalu bikin dia salah tingkah? 💖
💌 Happy Reading! Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Dinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 - My Dangerous Kenzo
...----------------...
...✨📚💌 HAPPY READING! 💌📚✨...
...Selamat datang di cerita ini, semoga kamu betah, nyaman, dan ketagihan baca 😆💫...
...Siapin hati ya… siapa tahu baper tanpa sadar 💖🥰...
...⚠️🚨 DISCLAIMER 🚨⚠️...
...Cerita ini fiksi yaa ✨...
...Kalau ada yang mirip, itu cuma kebetulan 😌...
...No plagiarism allowed ❌📝...
...----------------...
Pagi ini Naya berdiri lebih lama di depan cermin.
Makeup tipis menutupi sembab di bawah matanya. Blush lembut menyamarkan pucat. Lip tint warna peach membuatnya terlihat hidup — setidaknya dari luar.
Ia menarik napas panjang.
“I’m fine. And everything’s gonna be okay,” gumamnya pelan.
Tangannya mengepal kecil di depan dada.
'Naya ceria. Naya cantik. Naya pintar. Aku sempurna dengan diriku.'
Ia meraih tas ransel di atas meja. Langkahnya tertatih karena gips di kaki, tapi ia menolak terlihat lemah.
‘Aku kuat. Aku semangat.’
Ia mulai menuruni tangga sambil bernyanyi kecil. Lagu random yang bahkan nadanya tidak jelas. Yang penting terdengar riang. Supaya Mommy dan Pappi tidak tahu kalau dadanya rasanya seperti diremas-remas semalaman.
Baru sampai anak tangga keempat, pintu kamar Reno terbuka.
“Kenapa nggak manggil sih, hem?” Reno langsung bergerak cepat. Tangannya meraih bahu Naya, menopangnya sebelum gadis itu kehilangan keseimbangan.
“Gak apa-apa dihh, orang aku bisa kok,” Naya menjulurkan lidahnya, pura-pura kesal.
Reno mendecak. “Punya adek satu bandel banget dibilangin.”
Tapi tangannya tidak dilepas.
Naya pura-pura kesal, tapi dalam hati ia bersyukur. Hangatnya perhatian Reno seperti plester kecil di luka yang tak terlihat.
Mereka sampai di ruang makan.
Mommy dan Pappi sudah duduk manis. Meja penuh sarapan: roti panggang, telur, buah potong, susu hangat.
“Morning, princess,” sapa Pappi.
“Pagi, Sayang. Kakinya nggak sakit?” Mommy langsung berdiri, membantu Naya duduk.
“Nggak dong. Strong girl,” Naya mengangkat kedua tangannya kecil, tersenyum lebar.
Senyumnya sempurna.
Terlalu sempurna.
Reno yang duduk di seberangnya memperhatikan lebih lama dari biasanya.
“Nay.”
“Hm?”
“Kamu kenapa?”
“Kenapa apaan?” Naya mengambil roti, mengoles selai dengan gerakan santai.
“Kamu ceria banget pagi ini.”
“Ya masa diem aja? Kan seram,” jawabnya ringan.
Reno menyipitkan mata.
Dia kenal adiknya.
Kalau Naya terlalu ceria — itu tanda bahaya.
Ponsel Naya bergetar di atas meja.
Jantungnya berdegup satu detik lebih cepat.
Kenzo?
Ia cepat-cepat meraihnya.
Layar menyala.
Bukan Kenzo.
DM masuk.
Dari Valerie.
Senyum Naya membeku sepersekian detik. Untung semua sedang sibuk dengan makanan.
Ia membuka pesan itu di bawah meja.
Sebuah video.
Thumbnail-nya saja sudah cukup membuat dadanya mencelos.
Kenzo.
Tanpa baju.
Berbaring di ranjang.
Valerie di sebelahnya. Kamera seperti direkam diam-diam.
Tangan Naya mulai dingin.
Pesan masuk lagi.
Valerie:
Semalam dia nolak aku.
Tapi dulu… dia nggak nolak.
Naya menahan napas.
Video itu belum ia putar. Ia takut.
Pesan berikutnya muncul.
Valerie:
Kamu yakin kamu satu-satunya?
Sendok di tangan Naya bergetar kecil.
“Nay?” suara Mommy terdengar jauh.
Naya langsung mengunci layar.
“Hm? Kenapa, Mom?”
“Kok pucat?”
Naya tersenyum lagi.
“Laper banget sih kayaknya, hehe.”
Reno masih menatapnya.
Tajam.
Curiga.
Tapi Naya menunduk, pura-pura fokus pada sarapannya.
Di dalam dadanya, pertahanan yang ia bangun sejak pagi perlahan retak.
Dan hari bahkan belum benar-benar dimulai.
“Mau tambah nggak, Nay?”
“Nggak, Mom. Naya kenyang banget.”
Lengannya terjulur mengambil air putih di sisi piringnya. Ia meneguknya perlahan, berharap air itu bisa menelan juga rasa pahit yang sejak tadi mengganjal di tenggorokan.
“Adek makan banyak, tumben,” Pappi melirik heran.
“Besok adek mau buka gips. Harus sehat,” Naya tersenyum manis.
Senyum yang lagi-lagi terlalu rapi.
Ia bangkit dari duduknya, lalu tiba-tiba memeluk Mommy dari samping.
“Naya sayang Mommy… tapi Mommy suka nyebelin.”
Mommy membeku sesaat. “Loh?”
Tatapan heran langsung mengarah ke wajah Naya.
'Gak biasanya ini anak begini,' pikir Mommy.
Naya melepas pelukannya sebelum pertanyaan datang lebih jauh, lalu beralih ke Pappi. Ia memeluk pria itu lebih erat dari biasanya.
“Adek sayang Pappi.”
Pappi terkekeh kecil, mengusap punggung putrinya. “Pappi sayang adek juga.”
Ada jeda sepersekian detik lebih lama sebelum Naya melepaskan pelukan itu. Seolah ia sedang menyimpan tenaga. Seolah ia sedang mengisi ulang keberanian.
“Ayo berangkat.” Naya menoleh ke Reno.
Reno mengangkat alis. “Lo nggak peluk gue?”
“Nggak. Ngapain?”
“Ahh elahh, ini nih yang bikin gue gedek banget,” gerutu Reno pura-pura kesal.
Mommy dan Pappi tertawa.
Naya ikut tertawa.
Suara tawanya terdengar normal. Ringan. Ceria.
Tapi hanya Naya yang tahu, tawanya barusan seperti plester tipis di dada yang retak.
Setidaknya… sesak itu sedikit lebih ringan.
Walau hanya sementara.
Reno berdiri dan meraih tas Naya tanpa diminta.
“Pelan-pelan turunnya. Jangan sok kuat.”
Naya mendengus. “Iya, Kak.”
Mereka berjalan ke arah pintu.
Sebelum keluar, Naya sempat mencuri pandang ke layar ponselnya di dalam tas.
Notifikasi itu masih ada.
Belum dibuka sepenuhnya.
Seolah selama video itu belum diputar, semuanya masih bisa pura-pura baik-baik saja.
Ia menarik napas dalam.
Hari ini…
ia harus tetap jadi Naya yang semua orang kenal.
Bukan Naya yang hatinya sedang bergetar karena satu nama.
Ada perasaan goyah yang masih terkendali, ingin berusaha percaya tapi bukti sudah jelas. Di hati yang paling dalam masih ada kepercayaan, mungkin kalau Kenzo tidak diam seperti ini kepercayaan itu mungkin saja bisa utuh kembali.
Pikiran Naya terus berputar di Kenzo. Reno yang ada di sampingnya pun seperti tidak ada.
'Beginikah jatuh cinta?' batin Naya.
...----------------...
...💥 Jangan lupa LIKE ❤️ & SAVE 💾 biar nggak ketinggalan update selanjutnya!...
...🙏💛 TERIMA KASIH SUDAH MEMBACA! 💛🙏...
...Dukung karya lokal, gratis tapi berasa 🫶📖...
...Biar penulisnya senyum terus 😆✨...
...----------------...