NovelToon NovelToon
EXPIREDENS

EXPIREDENS

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Misteri / Spiritual / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan
Popularitas:42
Nilai: 5
Nama Author: Karamellatee

Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories

VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan

Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.

Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?

Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#Bab 04: Teror Awal Asrama [3]

...●◉◎◈◎◉●...

...#1 Original story [@clandestories]...

...#2 No Plagiatrism...

...#3 Polite and non-discriminatory comments...

...•...

...•...

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

Sebenarnya tidak banyak harapan juga perihal kedatangan Rakes yang sudah memasuki hari ke-enam dalam waktu seminggu manusia itu belum terlihat batang hidung nya di asrama, di telpon tidak jawab cuman berdering, di chat pun baru di bales pas hari selasa kemarin doang.

Sumpah serapah dan doa dipersatukan, masing-masing penghuni asrama sibuk dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Zack aktif untuk membantu peristiwa bom yang terjadi di gereja kemarin, Kale yang juga ikut membantu Zack karena rasa kemanusiaan nya dan ikut menggalang dana untuk para korban dan perbaikan jalanan, lalu Hamu yang sibuk mencari-cari kabar di Fakultas Hukum yang ia hanya dapati bahwa kabar tentang Rakes yang masih rajin mengirimkan tugas kampus dan sering hadir saat mata kuliah, tetapi aneh nya saat Hamu datang sosok Rakes seperti menghilang bak ditelan bumi, selanjutnya ada Saka yang sekarang lebih sibuk dengan handphonenya karena ia satu-satu nya orang yang dibales pesan oleh Rakes sewaktu selasa kemarin.

Banyak hal yang dilalui mereka semua dalam waktu sesingkat yang diberikan oleh Rakes, berpikir dengan matang dan perlu tekad serta niat yang luar biasa.

Keempat orang itu juga menghubungi keluarga masing-masing untuk meminta doa dan petunjuk agar jalan nya mereka selalu dipermudahkan, sampai hari ini berapa mengejutkannya Saka mendapati pesan dari Rakes yang membuat satu Asrama kembali heboh.

Dituliskan pesan disana "Mau nitip apa?" bersamaan foto Rakes bersama seseorang yang tidak mereka kenal, tetapi Hamu mengenal sosok pria yang ada disebelah Rakes dengan gaya nyentrik.

"Cape cape khawatirin, ternyata si monyet ini lagi makan cendol dawet bareng sama sepupunya. " ucap Hamu membuat yang lain juga ikut kesal.

"Bilang Sak, pulang pulang bawain gua martabak 12 toping pokoknya. " ucap Kale menepuk pundak Saka membuat si empu bergidik ngeri.

Saka melirik kearah Zack yang juga tersenyum memandangi foto yang dikirimkan oleh Rakes, dengan pelan Saka bertanya, "Bang Zack mau nitip?. "

"Oh, gua ngga nitip apa apa bilang aja suruh pulang cepet daripada gua gali kuburan di halaman belakang. "

Secepat itu juga jari Saka mengetikkan pesan untuk membalas pesan dari Rakes, dan hanya di jawab oke saja balasan dari sana serta pesan kedua bilang kalau ia akan pulang besok.

Itupun kalau pulang nya masih lengkap anggota tubuh, misalkan kalau cuman tinggal nama?.

Mengubur semua bayangan itu, Saka cuman bisa berdoa semoga Rakes pulang dengan selamat dan membawa titipin yang sudah dipesan tadi.

Sementara itu manusia yang sedang ditunggu tunggu kedatangannya kini menutup handphone nya, foto tadi yang ia kirimkan hanya untuk menenangkan para penghuni Asrama padahal sekarang Rakes sedang berada di depan pintu mobil dengan gaya mencolok yang disebut sebagai mobil "Pagani" terlebih tidak banyak yang tau kisaran ada berapa mobil koleksi yang sudah tidak diproduksi lagi.

"Mana sabuk pengaman lo?. " tanya Rakes saat melihat sepupu nya yang nyaman duduk sedang memakan camilan.

"Hah, buat apaan?. "

"Buat say hello sama malaikat maut. "

Gaveen terbatuk disela makan nya, lalu memasang sabuk pengaman dengan erat. "Serius anjing, jangan ngada ngada gua masih mau nikah. "

"Serius, " satu kata yang diucapkan Rakes bersamaan terdengar suara mesin mobil dinyalakan.

Tangan nya memegang stir mobil itu dengan erat, sembari mengucapkan sesuatu yang membuat Gaveen ingin menghardik anak disebelahnya, entah apa yang diucapkan oleh Rakes sehingga kilatan aliran berwarna kuning keemasan muncul di tangan nya tak hanya pada bagian stir mobil tetapi Gaveen merasakan bahwa ada sesuatu yang akan membawa nya terbang ke alam lain.

"Rak... Sialan, harus nya gua aja yang nyetir bangsat!!" umpat Gaveen saat mobil sudah melaju secepat kilatan petir yang dimiliki oleh Rakes mengendalikan seluruh mesin mobil tersebut membuat kecepatan antar dimensi menabrak ruang waktu.

Pada saat ini mobil itu berada di kecepatan dimana sekelilingnya berada pada garis rentang waktu malam, ditengah setiap umpatan yang keluar dari mulut Gaveen sama sekali tidak di dengarkan oleh Rakes pada kursi pengemudinya dia masih menatap lurus dan melirik jam pasir yang sebentar lagi akan habis.

Tersisa sedikit pasir dan Rakes langsung melajukan pedal gas nya juga memutar stir mobil membelokkan mobil itu tepat saat sebuah mobil melaju kencang dan ingin menabrak mobil nya, kedua mobil berhenti diantara air mancur tingkat masing-masing berhadapan sampai mobil lawan membukakan pintu.

"Rakes... Jangan melawannya. "

Perkataan samar yang entah bagaimana pastinya itu terdengar begitu dekat, lagipula sebelum bertindak apapun otak nya sudah memikirkan segala kemungkinan dari hidup dan mati dalam pertemuan ini, apalagi dipertemukan nya keturunan darah Polarios kepada ancaman membual akan keajaiban untuk permintaan kedamaian, waktu yang diberikan sudah mulai habis.

Takut akan waktu, dan hal yang harus di hadapi Rakes sendiri adalah waktu yang samar samar akan berubah menjadi ancaman bagi apa yang dia jaga.

Rakes terkekeh kecil, lalu dia melirik kearah Gaveen yang terlihat sudah tersadarkan diri. "Veen, kata gua mah mendingan lo pingsan daripada ngeliat ini. "

Manusia yang merasa terpanggil jiwa nya itu menoleh dengan tatapan tajam, rasanya ia ingin melempar tampang songong Rakes dengan rongsokan benda.

"Sebagai keturunan suci, gua dengan nama Gaveen Travers Jounert ini menganggap kita yang punya status sepupu begitu kuat buat menghadapi sekedar ancaman sampai level 5 tentunya, walaupun gua benci lo bilang tadi bakalan aman aja anjing. "

Rakes berwajah masam saat mendengar ucapan itu, "Keturunan suci sepupu nya pengkhianat? Gua masih bingung lo terima aja pas upacara waktu itu. "

Beberapa detik berselang tawa nyaring mengalun di udara, menusuk gendang telinga Rakes yang tidak enak hati sama sekali untuk mendengar tawa yang mengawali kegilaan.

Saking lucu nya Gaveen sampai beberapa kali memukul mobil yang mereka naiki tadi, lalu mengontrol tawa nya agar lebih rendah sampai menghilang.

"Pengkhianat itu bukan cuman karena nafsu, tapi kadang mereka lahir dari orang baik yang dikhianati kepercayaannya. "

Rakes terdiam. Kalimat Gaveen barusan bukan sekadar pembelaan diri, melainkan sebuah tamparan halus yang mengingatkan Rakes bahwa garis antara "pahlawan" dan "pengkhianat" di dunia mereka setipis helai rambut.

​Di depan sana, dari balik kemudi mobil lawan yang menghalangi jalan, sesosok figur jangkung keluar.

Jubahnya berkibar pelan meski tidak ada angin yang berembus di dimensi antara ini. Wajahnya tertutup topeng perak yang memantulkan kilatan petir emas dari sisa-sisa energi mobil Rakes.

​"Waktu tidak pernah berpihak pada mereka yang ragu, Rakes Polarios," suara itu bergema, bukan di telinga, melainkan langsung di dalam batok kepala.

​Gaveen mendecit pelan. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu membuka laci dasbor mobil Pagani itu. Tangannya merogoh ke dalam, mengeluarkan sebuah belati dengan ukiran kuno yang berpendar redup.

"Rak, lo urusin 'jam pasir' itu. Biar si Topeng Perak ini gua yang buat sibuk. Kalau lo telat sedetik aja buat balik ke asrama, martabak 12 toping pesanan si Kale bakal jadi sesajen di kuburan lo."

​Rakes terkekeh, meski tangannya masih gemetar menahan luapan energi yang memaksa keluar.

"Gua nggak rencana mati sebelum liat Zack gali lubang di halaman belakang, Veen."

​Rakes melompat keluar dari mobil. Begitu kakinya menyentuh aspal dimensi yang retak, aliran listrik statis menyambar-nyambar di sekelilingnya. Ia menatap jam pasir kecil yang tergantung di lehernya. Pasir yang tersisa tinggal beberapa butir lagi. Jika habis sebelum mereka keluar dari celah waktu ini, mereka akan terjebak selamanya dalam kebodohan menjadi kenangan yang terlupakan bagi penghuni asrama.

​"Gaveen! Sekarang!" teriak Rakes.

​Gaveen bergerak secepat bayangan. Sebagai keturunan Travers Jounert, ia memanipulasi ruang di sekitarnya, membuat jarak antara dirinya dan musuh menyusut dalam sekejap mata. Belatinya beradu dengan tongkat perak sang lawan, menciptakan dentuman yang menggetarkan dimensi.

​Sementara itu, Rakes memejamkan mata. Ia tidak menggunakan otot, melainkan memanggil memori tentang kawan-kawannya di asrama. Kebisingan Saka, ketegasan Zack, kepedulian Kale, dan rasa ingin tahu Hamu. Energi kuning keemasan di tangannya mengumpul, membentuk sebuah kunci cahaya.

​"Buka... pintunya!"

​Rakes menghantamkan tinjunya ke udara kosong. Ruang di depannya retak seperti kaca yang pecah, memperlihatkan pemandangan gerbang belakang asrama yang sudah sangat ia kenali.

​Namun, tepat sebelum ia menarik Gaveen masuk, sebuah serangan gelap meluncur dari arah musuh, mengincar jantung Rakes.

​"RAKES, AWAS!"

Suara debuman keras terdengar di halaman belakang asrama tepat pukul tiga pagi. Zack, yang memang tipe light sleeper sejak kejadian bom kemarin, langsung meloncat dari tempat tidurnya dengan kewaspadaan penuh. Di tangannya sudah ada senter taktikal, siap menghadapi apa pun yang berani mengusik ketenangan asrama di jam keramat ini.

​Namun, pemandangan di halaman belakang jauh dari kata menyeramkan.

​Asap tipis mengepul dari tanah. Di sana, sebuah mobil Pagani yang entah datang dari mana terparkir miring, menabrak sedikit jemuran handuk milik Saka. Pintunya terbuka perlahan, menampakkan Rakes yang keluar dengan langkah gontai, pakaiannya agak hangus di bagian lengan, tapi wajahnya tetap songong seperti biasa.

​"Harusnya gua Assalamu'alaikum dulu...," gumam Rakes sambil menepuk-nepuk debu di bahunya.

​"Rakes?" Zack menyinari wajah temannya itu dengan senter. "Lo... dari mana aja, anjing? Dan itu mobil siapa?"

​Gaveen menyembul dari kursi penumpang, wajahnya pucat pasi seolah baru saja diputar di dalam mesin cuci.

"Mobil gua, Bang. Dan tolong, kasih tau sepupu gua ini kalau nyetir itu butuh SIM, bukan cuma modal nekat!"

​Rakes tidak menghiraukan gerutuan Gaveen. Ia justru merogoh kursi belakang dan mengeluarkan dua kotak besar yang terbungkus kantong plastik plastik putih dengan aroma yang sangat familiar.

​"Zack, jangan gali kuburan dulu. Nih," Rakes menyodorkan kantong itu.

​Zack mengernyit, mencium aromanya. "Martabak?"

​"Martabak 12 topping pesanan si Kale. Sama satu lagi martabak telur spesial buat kalian yang udah doain gua nggak mati," kata Rakes sambil nyengir lebar, meski ada luka gores kecil yang bersinar keemasan di pipinya sisa pertarungan di dimensi tadi.

Suasana asrama yang tadinya tegang selama seminggu mendadak berubah menjadi pesta martabak, Rakes tuh memang sering ngasih sogokan karena dia sering pulang telat apalagi dia punya tugas negara bak presiden. Kuras dompetnya, tukang martabak pun sampai udah paten muka sama pesenan dia.

​Saka sibuk memotret Rakes dari berbagai sudut, memastikan manusia itu benar-benar nyata dan bukan hantu.

"Lo ngapain poto gua dah daritadi, kalo dibayar gua baru mau. " ucap Rakes heran.

"Oh, ini bang Seno sama bang Haki nanyain lo kemana mereka tuh udah kebakaran jenggot karena proposal nya belum lo tandatangani. "

Ketika Saka membicarakan tentang "Proposal" disitulah Rakes menepuk jidatnya keras, lalu mengetikkan sesuatu pada laptop nya secara cepat.

​Kale sudah asik dengan martabak manisnya, tidak peduli meski gula darahnya mungkin melonjak drastis. "Gila, ini baru namanya martabak! Rak, lo beli di mana? Kok masih anget padahal katanya lo dari luar kota?"

"Ada sistem namanya oven bang, yaelah tinggal diangetin disitu. " jawab Rakes sekenanya.

​Hamu hanya menyipitkan mata, menatap Gaveen yang terlihat sangat fashionable tapi gemetaran saat memegang garpu.

"Sepupu lo ini... kenapa kayak orang habis liat malaikat maut?"

"Kacangin aja, abis kena jet lag. "

Orang mah ya Jet lag pakai nya pesawat, memang si Rakes nya aja yang asbun.

​Zack hanya duduk di pojok, memperhatikan Rakes dengan tatapan menyelidik.

​"Jadi," Zack membuka suara, memecah kegembiraan tidak berdosa. "Lo ngapain aja deh disana? Mana ada Gaveen segala, gua yakin ini bukan obrolan pengangguran banyak acara kayak biasanya."

​Rakes berhenti mengetik. Ia melirik ke arah jendela, di mana mobil Pagani itu masih terparkir diam, menyembunyikan segala rahasia tentang dimensi waktu yang baru saja ia dobrak.

​"Cuma masalah administrasi keuangan yang kian menipis, Bang," jawab Rakes santai, meski matanya menyiratkan kelelahan yang luar biasa. "Yang penting gua balik lengkap, kan? Dan martabaknya enak, kan?"

​Gaveen mendengus pelan sambil meminum kopinya. "Enak sih enak, tapi harga bensinnya bisa buat beli toko martabaknya sekalian, Rak."

Kesenangan Kale atas martabak 12 topping itu tidak bertahan lama. Setelah asrama kembali tenang dan masing-masing penghuni masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur atau sekadar merebahkan diri, Kale merasa ada yang tidak beres dengan kamarnya.

Udara di dalam ruangan itu mendadak turun beberapa derajat. Kale, yang baru saja hendak menyikat gigi, terhenti di depan cermin wastafel kecilnya.

Di sudut cermin, ia melihat pantulan kotak martabak yang tadi ia bawa ke kamar, yang seharusnya sudah kosong. Namun, di dalam cermin, kotak itu terlihat masih utuh, namun warnanya bukan lagi putih bersih, melainkan hitam legam seperti terbakar.

Kale berbalik dengan cepat. Kotak martabak di atas mejanya tetap normal. Ia menghela napas, menyalahkan imajinasinya yang terlalu liar karena kurang tidur. Namun, saat ia kembali menatap cermin, sebuah tulisan muncul di permukaan kaca yang mengembun:

"Sesuatu yang dibawa dari kematian, harus dibayar dengan waktu yang hidup."

Bulu kuduk Kale berdiri tegak. Ia meraba sakunya, bermaksud mengambil ponsel untuk menelpon Zack atau Rakes, tapi jemarinya justru menyentuh sesuatu yang dingin dan kecil.

Saat ditarik keluar, itu adalah sebuah jam pasir mini—persis seperti yang dilihat Rakes di dalam mobil tadi. Pasir di dalamnya berwarna merah darah, dan anehnya, pasir itu tidak jatuh ke bawah, melainkan bergerak naik ke atas, melawan gravitasi.

Suara bisikan di telinga kiri Kale, terdengar suara gesekan pasir yang sangat nyata, seolah-olah ada seseorang yang sedang menuangkan butiran debu tepat di dalam gendang telinganya.

Penglihatan ganjil pandangan Kale mulai mengabur. Tembok kamar asramanya perlahan tampak transparan, memperlihatkan garis-garis waktu yang tumpang tindih. Ia melihat Rakes sedang bertarung di dimensi lain, namun dalam penglihatan itu, Rakes kalah dan tubuhnya hancur.

Tok... Tok... Tok...

Ketukan itu pelan tapi berirama.

Bukan dari arah pintu lorong, melainkan dari arah pintu lemari pakaian Kale.

"Kale... buka... ini Rakes disini..."

Itu suara Rakes.

Tapi nadanya datar, tanpa emosi, dan terdengar seperti suara yang direkam lalu diputar berulang-ulang dengan kecepatan lambat.

Kale membeku. Ia tahu Rakes yang asli sedang tidur di kamarnya sendiri setelah kelelahan.

Jadi, siapa? atau apa yang ada di dalam lemarinya?

...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!