"Donor dari Masa Lalu" adalah kisah tentang pengorbanan seorang ibu, luka cinta yang belum sembuh, dan pilihan paling berat antara menyelamatkan nyawa atau menjaga rahasia. Akankah sebuah ginjal menjadi jalan untuk memaafkan, atau justru pemutus terakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ilonksrcc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DDML 4: LANGKAH-LANGKAH DI KORIDOR
Langkah-langkah itu terdengar dari kejauhan.
Keras. Terburu-buru. Seperti orang yang berjalan dengan amarah yang dipendam. Setiap hentakan sepatu di lantai keramik koridor rumah sakit berdetak bersamaan dengan jantung Aisha. Deg... deg... deg.
Ia masih duduk di samping tempat tidur Arka, memegangi tangan anaknya yang dingin. Tapi seluruh tubuhnya tegang. Pendengarannya menyaring setiap suara. Suara roda troli obat yang lewat. Suara percakapan perawat. Dan langkah itu semakin dekat, semakin jelas.
Dia sudah sampai.
Aisha menutup mata, menarik napas dalam-dalam. “Tenang. Untuk Arka. Lakukan ini untuk Arka.”
Tapi tubuhnya memberontak. Tangan berkeringat. Lutut gemetar. Delapan tahun menghindar. Delapan tahun membohongi diri sendiri. Dan sekarang, dalam hitungan detik, semuanya akan berhadapan muka.
Bayangan muncul di pintu ruangan 307.
Tinggi. Lebih tinggi dari yang ia ingat. Postur tubuh yang lebih tegap, bukan tubuh mahasiswa kurus dulu. Rafa. Dengan kemeja lengan panjang biru tua yang masih rapi meski tampak terburu-buru. Celana chino. Wajahnya... lebih tajam. Lebih dewasa. Tapi mata itu mata yang sama persis dengan Arka membelalak, penuh dengan badai emosi yang tidak tersembunyi.
Dia berdiri di sana, di ambang pintu, seperti patung. Menatap Aisha. Lalu pandangannya beralih ke tempat tidur. Ke Arka yang sedang tertidur dengan selang oksigen di hidung.
Wajah Rafa berubah.
Amarah yang tadinya mengeras di rahang dan bahunya, pelan-pelan mencair menjadi keheranan yang dalam. Mata yang tadi menyala, sekarang melebar. Bibirnya sedikit terbuka, seperti ingin berkata sesuatu tapi tidak bisa.
Dia melangkah masuk. Perlahan. Seperti takut mengganggu mimpi.
Aisha berdiri, badannya goyah. “Rafa...”
Rafa tidak menoleh. Matanya tetap tertancap pada Arka. Dia mendekat, langkah demi langkah, hingga berdiri tepat di sisi tempat tidur. Tangannya, tangan besar dengan urat yang menonjol terangkat pelan, seolah ingin menyentuh, tapi berhenti di udara.
“Ini...” suara Rafa parau, hampir berbisik. “Ini dia?”
Aisha mengangguk, tidak bisa bicara.
“Namanya Arka?”
“Iya. Arka. Kepanjangan dari...”
“Arkana. Cahaya.” Rafa menyelesaikan kalimatnya, matanya berkaca-kaca. Dia ingat. Delapan tahun lalu, di sebuah sore di perpustakaan kampus, Aisha pernah bercanda: “Kalau nanti kita punya anak laki-laki, aku mau namanya Arkana. Cahaya.”
Aisha terisak menahan tangis. Dia ingat.
Rafa kini benar-benar menatap. Memperhatikan setiap detail: alis yang lebat seperti miliknya, hidung yang mancung, bibir yang tipis. Rambut yang sudah menipis karena pengobatan. Dan mata meski terpejam, bentuk matanya persis.
“Sakit apa dia?” tanya Rafa, suaranya tegang lagi.
“Gagal ginjal stadium akhir. Fungsi ginjalnya tinggal 12%. Butuh transplantasi.”
“Dan... dokter bilang donor terbaik dari...?”
“Dari orang tua kandung.” Aisha menatap lantai. “Aku sudah tes. Tidak cocok. Ada antibodi. Jadi... harapannya ada padamu.”
Rafa menghela napas panjang. Tangannya akhirnya turun, menyentuh selimut di dekat kaki Arka. Sentuhan ringan, penuh keraguan. “Berapa umurnya?”
“Delapan. Ulang tahun bulan depan.”
“Delapan tahun.” Rafa mengucapkannya perlahan, seperti mencoba merasakan berat waktu yang hilang. “Delapan tahun aku tidak tahu. Delapan tahun aku tidak melihatnya belajar jalan, ucap kata pertama, hari pertama sekolah. Delapan tahun dia tumbuh tanpa ayah.”
Kalimat itu diucapkan dengan datar, tapi setiap kata seperti pisau yang mengiris. Aisha menunduk, rasa malu dan bersalah membakar tenggorokannya. “Aku minta maaf, Rafa. Aku tahu ini salahku yang tak termaafkan.”
“SALAH?” Rafa menoleh tiba-tiba, matanya kembali menyala. Suaranya masih rendah ingat ada Arka yang tidur tapi bergetar keras. “Ini lebih dari salah, Aisha! Ini pengkhianatan! Kamu merampas delapan tahun pertama hidup anakku! Dan merampas delapan tahun dariku untuk menjadi ayah!”
Aisha mengangguk, air mata mengalir deras. “Aku tahu. Aku egois. Aku pengecut. Tapi tolong... jangan hukum dia. Dia tidak tahu apa-apa.”
Rafa memalingkan wajah, tangannya mengepal. Nafasnya berat. Koridor rumah sakit yang sunyi sore itu hanya diisi oleh bunyi monitor detak jantung Arka yang stabil... bip... bip... bip...
“Kenapa?” akhirnya Rafa bertanya, suara lebih kecil, lebih hancur. “Kenapa waktu itu kamu tidak bilang? Aku coba cari kamu. Setelah kamu hilang, aku tanya teman-temanmu, ke alamat orangtuamu di Kota J. Mereka bilang kamu pindah, tidak tahu kemana. Bahkan marah padaku. Katanya aku yang bikin kamu pergi.”
Aisha terkejut. “Kamu... kamu mencari aku?”
“TENTU SAJA!” Rafa hampir tidak bisa menahan suaranya. “Kita bertengkar, iya. Tapi aku tidak pernah mau putus! Kamu tiba-tiba hilang! Telepon tidak aktif! Semua orang tidak tahu! Aku pikir... aku pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu.”
“Aku kirim surat,” bisik Aisha, suara tertahan. “Ke kosanmu. Cerita semuanya. Tentang kehamilanku. Minta kamu datang.”
Rafa mengerutkan kening, kebingungan yang tulus terpancar. “Surat? Aku tidak pernah terima surat apa pun. Setelah kamu hilang, ayahku sakit keras. Aku harus pulang kampung darurat selama tiga bulan. Ketika kembali, kosanku sudah diganti orang. Semua barangku termasuk mungkin surat itu dikembalikan ke keluarga di kampung dan berantakan.”
Penjelasan itu membuat Aisha terpana. Masa lalu mereka ternyata adalah menara kesalahpahaman. Surat yang tidak sampai. Pencarian yang sia-sia. Dua anak muda yang terpisah oleh keadaan dan asumsi yang salah.
“Aku tidak tahu,” bisik Aisha. “Aku pikir... kamu menerima surat itu dan memilih mengabaikannya. Aku pikir kamu tidak mau terlibat.”
“KAMU YANG TIDAK MEMBERI KESEMPATAN!” Rafa membentak, lalu langsung menutup mulut karena Arka bergerak-gerak. Dia menurunkan suaranya, tapi sakitnya masih sama nyata. “Kamu yang memutuskan sendiri! Kamu yang membesarkannya sendirian dalam kepahitan! Kamu yang mencuri delapan tahun itu dariku!”
“Aku takut!” Aisha akhirnya berteriak balik, suara pecah berisakan tangis. “Aku baru 19 tahun, Rafa! Aku hamil, diusir orangtua sendiri, tidak punya sepeser pun! Ibuku sakit jantung saat itu! AKU TAKUT KAMU BILANG ‘INI BUKAN ANAKKU’! AKU TAKUT KAMU LARI! AKU LEBIH TAKUT DITOLAK LAGI!”
Hening.
Bentakan mereka menggantung di udara. Keduanya terengah-engah. Keduanya terluka oleh pilihan delapan tahun lalu yang berantakan.
Lalu, dari tempat tidur, suara kecil terdengar.
“Bunda... suara siapa?”
Aisha dan Rafa sama-saga menoleh. Arka sudah terbangun. Matanya setengah terbuka, memperhatikan mereka berdua dengan pandangan bingung. Dan dia melihat Rafa.
Wajah Arka berkerut. Dia melihat pria asing yang berdiri di samping tempat tidurnya. Pria tinggi, dengan wajah... wajah yang mirip dengan wajahnya di cermin.
“Siapa...?” tanya Arka, suara serak dan lemah.
Aisha cepat mendekat, mengambil posisi di sisi lain tempat tidur. “Ini... ini...” lidahnya kelu, jantung berdebar kencang.
Rafa berdiri kaku. Dia menatap Arka yang sudah bangun anak lelaki berusia delapan tahun yang adalah darah dagingnya. Nafasnya tertahan, dada sesak oleh gelombang emosi yang belum pernah ia rasakan: keterkejutan, kemarahan, kesedihan, dan sebuah ikatan primitif yang tiba-tiba menyala.
“Arka,” akhirnya Rafa berbicara, suaranya aneh lembut, gemetar, penuh keraguan dan harap. “Namaku... Rafa.”
Arka mengedipkan mata. Memperhatikan. Lalu dia melihat Aisha, mencari penjelasan di wajah bundanya yang basah. “Bunda... ini ayah?”
Pertanyaan langsung. Polos. Tapi punya kekuatan untuk meluluhkan tembok pertahanan siapa pun.
Aisha menatap Rafa. Di mata pria itu, ia melihat amarah yang masih menyala, tapi juga melihat keinginan. Keinginan untuk mengaku. Keinginan untuk memiliki.
Dia mengangguk. Pelan. Pasti. “Iya, sayang. Ini... ayahmu. Ayah yang selama ini kamu tanyakan.”
Arka tidak langsung bereaksi. Dia memandangi Rafa lagi, dari kepala hingga kaki. Seperti memverifikasi gambar ayah dalam imajinasinya dengan kenyataan. Lalu, senyum kecil muncul di bibirnya yang pucat. Senyum yang selama ini hanya untuk Aisha, sekarang diberikan juga pada pria asing itu.
“Halo, Ayah,” ucap Arka, lembut namun jelas.
Dua kata itu.
“Halo, Ayah.”
Menyentuh sesuatu yang paling dalam, dalam diri Rafa. Matanya langsung basah. Bibirnya bergetar hebat. Tangannya yang tadi mengepal, sekarang terbuka, gemetar tak terkendali. Dia mengangguk berulang kali, tidak bisa mengeluarkan kata. Hanya anggukan. Dan air mata air mata pria dewasa yang jarang menangis akhirnya jatuh, mengalir deras di pipinya.
“Halo... Arka,” akhirnya Rafa bisa bersuara, serak, penuh isak yang ditahan. “Ayah... sangat senang akhirnya bertemu kamu.”
Arka tersenyum lebih lebar. Tapi kemudian wajahnya berkerut kesakitan. Tangannya memegangi perut. “Bun... sakit. Mual.”
Aisha cepat-cepat memencet tombol panggil perawat. “Sakit dimana, sayang?”
“Perut... seperti diremas.”
Rafa melihat panik di wajah Aisha. Langsung, instingnya bekerja. “PERAWAT! BUTUH BANTUAN DI SINI!”
Seorang perawat masuk, cepat tanggap. Dia memeriksa, lalu memasang obat anti mual dan pereda nyeri di infus. “Efek samping obat baru, Bu. Biasa. Nanti juga reda.”
Tapi saat perawat itu pergi, Arka sudah memegangi tangan Aisha erat-erat. Wajahnya pucat pasi, berkeringat dingin. Matanya mencari Rafa. “Ayah... jangan pergi,” bisiknya, suara nyaris tak terdengar. “Tungguin Arka.”
Rafa terdiam sejenak. Dia melihat Arka yang kesakitan. Melihat Aisha yang panik namun berusaha tenang. Melihat kenyataan barunya yang tiba-tiba dan menyakitkan: Ia punya anak berusia delapan tahun. Dan anak itu mungkin sekarat.
“Ayah tidak pergi,” akhirnya Rafa berbisik, mendekatkan dirinya. Tangannya, tanpa sadar, meraih tangan Arka yang satunya. Genggamannya kuat, hangat. “Ayah di sini. Ayah janji.”
Arka mengangguk pelan, lalu tertidur lagi kelelahan melawan rasa sakit yang menghampiri.
Dan di ruangan 307 yang sunyi, seorang ayah dan seorang ibu yang dipisahkan oleh waktu dan menara kesalahpahaman kini berdiri bersama di samping tempat tidur anak mereka. Tangan Rafa memegang erat tangan Arka. Tangan Aisha memegang yang satunya.
Mereka tidak saling memandang. Tidak saling bicara. Tapi di antara mereka, sebuah gencatan senjata tanpa kata-kata terjadi. Untuk malam ini. Untuk Arka. Untuk anak delapan tahun yang menyatukan mereka kembali.
---
Rafa akhirnya duduk di kursi plastik keras di sudut ruangan. Matanya tidak lepas dari Arka. Setelah lama diam, dia bertanya, “Apa... tes pertama yang harus aku lakukan?”
Aisha menatapnya, masih terkejut dengan perubahan sikapnya. “Tes kecocokan jaringan. HLA typing. Tapi... itu mahal. Dan belum tentu cocok.”
“Biaya urusanku,” kata Rafa pendek, tegas. “Aku akan tes. Besok pagi, sebelum kerja.”
“Rafa...” Aisha ingin bilang terima kasih. Tapi kata-kata itu terasa hambar di tengah laut kesalahan yang ia buat.
“Jangan,” potong Rafa, matanya masih tertuju pada Arka, penuh dengan perasaan baru yang kompleks. “Aku tidak melakukannya untukmu. Aku melakukannya untuknya. Untuk anakku.”
Anakku.
Dua kata yang diucapkan dengan penuh kepemilikan, rasa sakit, sekaligus sebuah penerimaan yang tiba-tiba.
Aisha diam. Dia benar. Ini bukan tentang mereka berdua lagi. Ini tentang Arka. Tentang hak seorang anak untuk hidup.
---
Malam semakin larut. Rafa masih di sana. Duduk diam, sesekali melihat ponsel notifikasi dari istrinya berdering terus, tapi ia matikan getarnya. Fokusnya penuh pada Arka, pada napas tidak stabil anak itu, pada monitor yang terus berbunyi.
Dan Aisha, dari tempat duduknya, memperhatikan pria yang dulu ia cintai, yang ia lukai dengan kepergiannya, yang kini hadir kembali sebagai ayah dari anaknya. Dunia berputar dengan cara yang aneh dan pahit. Kesalahan dan kesalahpahaman masa lalu membawa mereka ke sini, ke ruang rumah sakit ini. Dan sekarang, orang yang paling ia sakiti itu mungkin menjadi satu-satunya harapan untuk masa depan anaknya.
Tapi satu pertanyaan masih menggantung lebih berat dari sebelumnya:
Apa yang akan terjadi pada keluarga Rafa yang lain istri dan anak perempuannya?
Dan setelah semua ini selesai, akankah ada ruang untuk maaf? Atau hanya rasa sakit yang lebih dalam?
---
(Di ponsel Rafa yang terbaring di atas meja, layarnya menyala berulang kali dengan notifikasi yang sama: “Sayang, kamu di mana? Nadia nangis cari Ayah. Telepon aku.”)