"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1: Rendang Berbumbu Dendam
Satu hal yang paling Alana sesali siang ini bukanlah keputusannya memakai kebaya encim yang sedikit kekecilan, melainkan keputusannya untuk melangkah masuk ke gedung serbaguna yang baunya didominasi oleh campuran aroma bunga melati layu dan keringat manusia. Udara di dalam ruangan itu terasa gerah, seolah-olah AC sentral di sana sedang ikut berduka atas nasibnya.
Di depan sana, di atas pelaminan yang didekorasi dengan warna emas norak yang menyilaukan mata, duduk laki-laki yang enam bulan lalu masih berjanji akan memberikan dunia padanya. Namanya Bayu. Dan di samping Bayu, duduk seorang wanita dengan perut yang mulai membuncit, tersenyum lebar seolah-olah dia baru saja memenangkan lotre nasional, padahal hanya memenangkan laki-laki bekas.
"Sabar, Lana. Jangan sampai lipstik mahal ini luntur cuma buat maki-maki pengkhianat. Rugi bandar," gumam Alana pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram tas tangan mungilnya erat-erat sampai buku-buku jarinya memutih.
Ia berjalan menuju meja katering dengan kepala tegak. Tujuannya hanya satu: rendang. Kalau hatinya sudah hancur, setidaknya lambungnya harus bahagia. Namun, baru saja ia hendak mengambil potongan daging terbesar, sebuah suara cempreng yang sangat ia kenali menginterupsi dari belakang.
"Lho, Alana? Datang juga akhirnya? Kirain masih nangis di pojokan kamar sambil dengerin lagu galau," ujar seorang wanita paruh baya dengan sanggul setinggi menara BTS. Itu Tante Lastri, ibunya Bayu—mantan calon mertua yang dulu selalu memuji masakan Alana tapi langsung berbalik arah dalam semalam begitu tahu Bayu menghamili anak juragan tanah sebelah.
Alana menoleh perlahan, memasang senyum paling manis namun dengan tatapan mata sepedas cabai rawit. "Eh, Tante. Enggak dong, Tan. Saya ke sini justru mau syukuran. Akhirnya saya lepas dari beban hidup yang namanya Bayu. Bonusnya, saya bisa makan rendang gratis tanpa harus mikirin cicilan motor anak Tante lagi. Tante kelihatan... makin lebar ya kebayanya? Apa itu karena makan hasil keringat orang lain?"
Wajah Tante Lastri memerah seketika, tampak seperti udang rebus yang siap meledak. Baru saja wanita itu hendak membalas dengan kalimat yang pasti lebih pedas, tiba-tiba kegaduhan besar terjadi di pintu masuk gedung.
Seorang pria dengan setelan jas charcoal yang tampak sangat mahal—jenis bahan yang tidak akan meninggalkan bekas lipatan meski dipakai duduk berjam-jam di jet pribadi—melangkah masuk dengan terburu-buru. Wajahnya panik, keringat tipis membasahi pelipisnya, tapi ia tetap terlihat sangat tampan dengan rahang tegas dan rambut yang tertata sedikit berantakan, seolah-olah dia baru saja keluar dari sampul majalah bisnis dunia.
Pria itu menabrak barisan penerima tamu yang sedang asyik mengobrol, lalu tanpa sengaja menyenggol meja katering tepat di samping Alana.
Pyarr!
Gelas berisi es sirup merah tumpah ruah, menyiram bagian depan kemeja putih pria itu yang tampak sangat bersih sebelumnya.
"Sial!" umpat pria itu pelan. Suaranya berat, rendah, dan memiliki getaran yang bisa membuat lutut wanita mana pun lemas seketika.
Alana tertegun sejenak, matanya terpaku pada sosok di depannya. Pria ini jelas salah alamat. Tidak ada orang di lingkungan kelurahan ini yang punya jas dengan potongan se-elegan itu. Alana, dengan insting "julid"-nya yang tak terbendung, langsung nyeletuk.
"Mas, kalau mau atraksi sulap es sirup, tempatnya bukan di sini. Ini kondangan rakyat jelata, Mas, bukan sirkus elit."
Pria itu menoleh tajam ke arah Alana. Matanya yang gelap dan tajam menatap Alana dari atas ke bawah, memberikan tekanan yang membuat Alana hampir lupa cara bernapas. "Di mana pintu keluar rahasia di gedung ini? Saya harus pergi sekarang, atau semuanya akan kacau."
Alana tertawa sinis, menyembunyikan rasa gugupnya. "Keluar rahasia? Mas pikir ini markas rahasia di film mata-mata? Ini gedung serbaguna kelurahan, Mas. Pintu keluarnya ya cuma yang di depan itu, yang dijaga sama bapak-bapak pakai batik sambil ngerokok."
Tiba-tiba, dari arah luar, terdengar suara teriakan beberapa pria berbadan besar yang tampak sangat kasar. "Tuan Arkan! Kami tahu Anda masuk ke sini! Jangan mencoba lari!"
Pria bernama Arkan itu tampak semakin tegang. Ia melihat ke arah pelaminan, di mana Bayu dan keluarganya sekarang sedang memperhatikan mereka dengan tatapan bingung sekaligus menghina. Bayu, yang sepertinya merasa harga dirinya terancam oleh kehadiran pria yang lebih tampan darinya, mulai beraksi.
"Lana, itu siapa? Selingkuhan baru kamu?" teriak Bayu dari atas pelaminan, suaranya sengaja dikeraskan agar didengar semua tamu. "Kasian ya, seleranya turun. Cari cowok yang bajunya kena tumpahan sirup di kondangan orang! Nggak sanggup bayar makan di restoran?"
Alana merasa darahnya mendidih. Ia benci menjadi pusat perhatian dalam posisi kalah di depan sang mantan. Arkan, si pria asing itu, sepertinya menangkap situasi tersebut dengan sangat cepat. Ia menatap Alana, melihat luka dan amarah di mata gadis itu, lalu beralih menatap kerumunan orang yang mulai berbisik-bisik menghakimi.
Tanpa peringatan, Arkan menarik pinggang Alana mendekat secara paksa. Wangi parfum kayu cendana dan aroma maskulin yang mahal langsung menyerbu indra penciuman Alana.
"Kamu ingin mempermalukan mereka sampai mereka ingin menghilang dari bumi ini?" bisik Arkan tepat di telinga Alana, napasnya terasa hangat dan membuat bulu kuduk gadis itu meremang.
"Lebih dari apa pun di dunia ini," jawab Alana jujur, suaranya sedikit bergetar.
"Maka ikutlah permainanku. Satu tahun pernikahan kontrak, dan aku akan memberikan semua yang pria bodoh itu tidak bisa berikan padamu selama seribu tahun," Arkan berkata dengan nada memerintah yang sangat dingin namun sangat menggoda.
Sebelum Alana sempat mencerna apa yang terjadi, Arkan sudah berbalik menghadap pelaminan dengan wajah angkuh yang luar biasa. Ia merangkul Alana dengan sangat posesif.
"Maaf mengganggu momen murahan kalian," suara Arkan menggelegar, berwibawa, membuat musik dangdut yang tadinya berisik mendadak dikecilkan oleh sang operator yang terpesona. "Saya Arkananta, dan saya di sini untuk menjemput tunangan saya, Alana. Kami punya jadwal makan malam yang jauh lebih penting daripada... acara katering murah yang bahkan rendangnya terlihat alot ini."
Bayu melongo. Tante Lastri hampir pingsan di tempat. Alana hanya bisa mengerjap, merasa dunianya baru saja jungkir balik dalam hitungan detik.
Arkan menarik tangan Alana menuju pintu keluar dengan langkah lebar. Namun, saat mereka hampir sampai di depan sebuah mobil mewah Rolls-Royce hitam yang tiba-tiba terparkir di depan gedung menghalangi jalan, Arkan mendadak berhenti.
Wajahnya yang tadi terlihat sombong kini berubah menjadi sangat serius dan waspada. Ia menatap Alana dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Jangan senang dulu, Alana," bisik Arkan dingin. "Begitu kamu melangkah masuk ke mobil ini, hidupmu yang tenang akan berakhir. Kamu bukan lagi gadis biasa. Kamu adalah umpan untuk musuh-musuhku yang haus darah."
Alana menelan ludah. Ia melihat ke belakang, melihat Bayu yang tampak seperti kurcaci tak berarti, lalu melihat ke depan, ke arah Arkan yang misterius.
"Jadi," Arkan mengangkat sebelah alisnya, suaranya menantang. "Masuk ke mobil ini dan ambil risiko, atau tetap di sini dan jadi bahan tertawaan mantanmu selamanya?"
Baru saja Alana hendak membuka mulut untuk menjawab, sebuah mobil SUV hitam lain berhenti dengan decitan ban yang nyaring tepat di belakang mereka. Pintu terbuka, dan tiga pria berpakaian hitam dengan wajah sangar keluar. Salah satu dari mereka merogoh sesuatu di balik jasnya yang tampak seperti gagang senjata.
"Tuan Arkan, permainan petak umpetnya selesai," ucap pria itu dengan suara parau.
Jantung Alana seolah berhenti berdetak. Ini bukan sekadar drama balas dendam di kondangan. Ini adalah awal dari bahaya yang nyata.
Apakah Alana akan memilih nekat masuk ke dalam mobil Arkan di tengah todongan bahaya yang belum ia pahami? Dan siapa sebenarnya Arkan sampai-sampai ia harus dikejar seperti penjahat kelas kakap di hari pelariannya?