NovelToon NovelToon
Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Jodoh Yang Ditukar (Hacker Tampan)

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Romansa
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Rens16

Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 : Deep talk

"Van, aku minta maaf karena memaksamu masuk ke dalam kehidupanku!" Setelah mereka terdiam cukup lama dan larut dalam pikiran masing-masing, akhirnya Amel memutuskan untuk membuka obrolan mereka.

"Harusnya aku nggak menyetujui usulan Abel dan memintamu menikahi aku. Aku, aku, harusnya aku menerima kondisiku meskipun aku harus menanggung malu," ucap Amel lagi.

"Doni nggak akan berhenti sampai di sini dan dia pasti bakalan ganggu gue terus!" Amel mendesah saat mengucapkan hal itu.

"Nggak ada satu orang pun yang bisa mengatur hidup gue, termasuk keputusan gue untuk menikahi lo." Ucapan Revan membuat Amel mendongak dan menatapnya intens.

"Gue sejak dulu dianggap nggak pernah bertanggung jawab sama hidup gue, hanya pekerjaan yang gue pilih sekarang yang bisa gue banggain ke orang-orang yang pernah ngerendahin gue, dan sekarang keputusan gue yang setuju untuk nikahin lo itu juga sesuatu yang ingin gue pertanggung jawabkan juga!" Energi Revan terkuras habis karena harus berbicara panjang.

"Jadi lo nggak gimana gitu nikahin gue? Btw umur lo berapa sih?" tanya Amel.

"Tahun ini gue genap berumur dua puluh satu tahun!"

"What?! Ternyata lo berondong?!" Amel speechless.

"Emang kenapa kalau gue berondong? Lo nyesel nikah ama gue?" tanya Revan dengan nada geli.

Amel dalam segala pesonanya memang semenggemaskan itu dan Revan suka apalagi saat dia dimode kaget dengan mata bulatnya yang melotot lucu.

Amel menggaruk kepalanya pelan. "Ya nggak kenapa-napa sih cuman kaget aja!"

"Btw orang tua lo masih ada, Van?" tanya Amel setelah mereka berdiam diri lagi.

"Gue nggak punya orang tua, gue kan lahir dari batu!" jawab Revan sambil masuk ke dalam kamarnya untuk mengambil baju ganti, kebetulan mumpung Amel masih di luar kan.

"Maksudnya dia kayak Gatotkaca yang keluar dari kawah gunung gitu?" gumam Amel bingung.

"Besok kita ke toko furnitur, gue butuh lemari plastik buat naruh baju gue!" ucap Revan saat ia keluar dari kamarnya sambil membawa beberapa baju gantinya.

"Lemari lo kenapa? Kan masih ada space!"

"Takut ganggu istirahat lo kalau gue pas pulang malem trus butuh ambil baju!" jawab Revan sambil masuk ke dalam kamar mandi sana.

Amel kembali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa bersyukur karena dari hal kecil saja Revan sudah terlihat baik dan menghargainya.

***

"Naik mobil gue aja biar gampang kalau bawa-bawa barang!" Amel menyodorkan kunci city carnya kepada Revan.

Revan menimang kunci itu, sebenarnya lebih suka pakai motornya karena selain praktis juga cepat sampai ke tujuan.

"Mau beli lemari juga kan?' Amel mengingatkan lagi rencana mereka kemarin yang berniat membeli lemari tambahan buat diletakkan di ruang tamu.

Revan mengkode Amel untuk masuk ke dalam mobil, mereka melajukan kendaraan ke salah satu mall yang menjual aneka furnitur dan ada supermarketnya juga.

Amel mengambil troli begitu dia sampai di supermarket yang dituju.

"Lo suka makan apa, Van?" tanya Amel sebelum dia melangkahkan kaki ke rak bahan makanan.

"Gue makan apa aja masuk!" jawab Revan mengambil alih troli yang di dorong oleh Amel.

Mereka menyusuri lorong mie instan dan mengambil beberapa varian dan meletakkannya ke dalam troli.

Mereka juga membeli beras, gula, kopi, teh, telur dan beberapa bahan makanan lainnya.

Amel juga membeli kompor gas satu tungku lengkap dengan tabung gasnya, membeli wajan, penggorengan dan juga alat makan.

Revan menggeleng pelan sambil membuntuti kemanapun kaki Amel melangkah. Revan merasa seperti seorang suami normal yang menemani istrinya mencari kebutuhan rumah tangga.

"Apa lagi ya? Kayaknya udah semua deh!" Amel pun mengangguk lalu mengajak Revan ke kasir.

"Udah nggak ada yang dibeli lagi kan?" tanya Revan.

"Udah, udah semua!" Amel mengangguk.

Amel mengeluarkan barang belanjaan dari dalam troli dan terkejut saat Revan mengangsurkan kartu debitnya kepada Amel.

"Gue ada kok, Van!" Amel ingin mendorong kartu debet Revan.

"Gue nggak biasa dinafkahi cewek!" Revan menyerahkan kartu debetnya kepada si mbak kasir yang tampak tersipu mendengar gombalan Revan yang bikin meleleh.

Empat ratus ribu harga yang harus Revan bayarkan untuk belanjaan itu.

"Kulkas biar yang beli gue aja, Van, kan gue yang butuh kulkas itu!" ucap Amel sambil menuju store elektronik.

"Gue emang niat buat beli kulkas tapi belum sempet aja kok!" Revan berjalan menuju ke bagian yang menampilkan display kulkas beraneka merk.

"Kayaknya ambil yang ini aja deh, Van! Yang ini terlalu gede kalau ditaruh di dapur lo yang minimalis gitu ruangannya!" Amel memberi masukan saat melihat Revan sejak tadi tertarik dengan kulkas dua pintu berukuran besar.

"Iya ya bener juga sih!" Revan pun mengangguk lalu meminta salah satu karyawan di tempat itu untuk menyiapkan nota pembelian.

"Padahal nggak papa lho share untuk membayar pengeluaran kita ini!" Amel menyeletuk saat lagi-lagi Revan membayar belanjaan mereka.

Revan hanya tersenyum tipis menanggapi komentar istrinya tersebut. Tak perlu beradu argumentasi karena memang tak ada yang perlu diperdebatkan.

"Gue sebenarnya heran sih kok lo dari tadi ngajakin gue share pengeluaran kita, jangan-jangan mantan lo itu suka begitu ya?" tuduh Revan membuat Amel melengos.

Amel tak memungkiri bahwa dia paling anti kalau acara dating atau apapun itu dibiayai full oleh pasangannya, Amel hanya tak ingin membebani salah satu pihak sementara dia sendiri bisa ambil bagian untuk meringankan itu.

"Wajar sih kalau lo punya pola pikir kayak gitu, mantan lo kemarin kelihatan kalau dia itu mokondo!" ledek Revan dengan santainya.

"Bukan gitu..." potong Amel.

"Jadi cowok tuh kudu punya jiwa provider sama pasangannya, kalau belum bisa ya jangan cari cewek dulu, malu-maluin kan kalau dilihat orang!" Dengan santainya Revan kembali meledek Amel.

Amel malah tertawa mengingat hububgannya dengan Doni kemarin. Sepanjang mereka pacaran selama dua tahun, hampir sebagian besar Amel ambil bagian dalam biaya yang dikeluarkan saat mereka pergi berkencan.

Amel memang secara financial lebih mumpuni dibanding Doni yang bekerja sebagai karyawan di salah satu perusahaan swasta dengan jabatan sebagai asisten manager di sana.

Amel, meskipun terkesan hanya pemilik toko perhiasan imitasi tapi tokonya terbilang laris dan memiliki banyak pelanggan, bahkan Amel juga menerima design khusus yang diminta oleh pelanggannya, tokonya saja ada dua di kota itu.

"Untung lo nggak jadi kawin ama dia, bisa-bisa lo jadi tulang punggungnya dia kalau kalian bener-bener nikah!" Tanpa beban Revan kembali mengoceh membuat Amel ingin membungkam bibir itu dengan bibirnya...eh kok jadi larinya kesana sih?

1
irma hidayat
mudah2an suatu saat feri menyesal
Rens16: Semogq 😍
total 1 replies
beybi T.Halim
cerita yang mengharu biru.,semangat buat para perintis
Rens16: Terima kasih buat bintang limanya 😍
total 1 replies
irma hidayat
cerita bagus
Rens16: Terima kasih 😍
total 1 replies
irma hidayat
yg keterlaluan sebenarnya kamu fery ayah yg gapantas jadi ayah, anak sendiri diabaikn
Rens16: Kita sikat yuk kak 💪🤣
total 1 replies
Soviani
jangan lama2 up nua
Rens16: oke 🤣
total 1 replies
Rini
lnjutt
Rini
lnjutt😍😍
Rens16: Siap 💪
total 1 replies
Rini
lnjuttt
Rini
lamjuttty👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!