NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian sang fajar

Suara hantaman di balik pintu perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang jauh lebih menyakitkan. Aku tidak tahu siapa yang akhirnya menyerah atau siapa yang pergi lebih dulu. Bagiku, kedua pria itu kini hanyalah kebisingan yang ingin kuhapus dari frekuensi hidupku.

Aku bergerak dalam kegelapan yang tergesa. Aku melempar beberapa potong pakaian, laptop, dan buku catatan ke dalam koper kecil. Aku tidak membawa banyak. Esensi dari melarikan diri bukan tentang apa yang kamu bawa, tapi tentang apa yang kamu tinggalkan. Dan aku ingin meninggalkan Aruna yang rapuh di ruangan ini.

Aku meninggalkan ponselku di atas meja makan—sumber dari segala racun dan pesan misterius itu. Aku tidak ingin dilacak. Aku tidak ingin ditemukan.

Aku menyetir sejauh empat jam ke arah selatan, menuju sebuah desa kecil di pesisir yang hampir tak terdeteksi oleh peta digital. Di sana, ada sebuah rumah kayu milik mendiang nenekku yang sudah bertahun-tahun kosong. Tempat itu adalah satu-satunya wilayah yang tidak diketahui oleh Abhinara, apalagi Biru.

Setibanya di sana, udara dingin laut menyambutku. Namun, ini bukan dingin yang menyesakkan seperti di kota. Ini adalah dingin yang jujur. Dingin yang tidak berpura-pura menjadi hangat.

Tiga hari pertama, aku hidup seperti hantu. Aku membersihkan debu-debu masa lalu di rumah itu, membiarkan tanganku lecet dan punggungku pegal. Aku butuh rasa sakit fisik untuk mengalihkan rasa sakit di dadaku yang terus berdenyut. Setiap kali bayangan Biru yang sedang memotretku muncul, aku langsung mengayunkan sapu lebih keras. Setiap kali suara Abhinara terngiang, aku menyiram lantai dengan air lebih banyak.

Hingga pada sore keempat, sebuah mobil tua berhenti di depan pagar kayu rumahku.

Jantungku berhenti berdetak sesaat. Apakah Biru menemukanku? Apakah Abhinara tidak mau menyerah? Aku mengambil sebuah kayu pemukul di balik pintu, siap untuk menghadapi "langit" mana pun yang berani mengusik fajar ini.

Pintu mobil terbuka. Seorang wanita keluar. Dia mengenakan syal tebal dan wajahnya tampak pucat pasi.

Itu Maira Senja Aurora.

Aku menurunkan kayu itu, namun kewaspadaanku meningkat seratus persen. "Bagaimana kamu bisa tahu aku di sini?" desisku saat aku melangkah keluar ke teras.

Maira menatapku dengan mata yang sembab. Dia tidak tampak seperti wanita yang baru saja memenangkan "hadiah utama" berupa Abhinara. Dia tampak seperti seseorang yang juga sedang sekarat di dalam.

"Aruna... tolong, dengarkan aku sekali saja," suaranya gemetar. Dia memegang perutnya yang membuncit. "Aku tidak ke sini untuk meminta maaf lagi. Aku ke sini karena aku takut."

"Takut pada apa? Kamu sudah mendapatkan segalanya, Maira."

"Aku tidak mendapatkan apa-apa!" tangisnya pecah. "Abhi tidak pernah benar-benar bersamaku. Pikirannya selalu padamu. Dan Biru... Biru Laksmana Langit adalah alasan kenapa aku berani ke sini. Dia yang memberitahuku tempat ini."

Aku terpaku. "Biru?"

"Dia menemuiku setelah perkelahian malam itu. Wajahnya hancur, Na. Tapi dia tidak peduli. Dia memintaku untuk datang padamu dan menceritakan kebenarannya, karena dia tahu kamu tidak akan pernah percaya padanya lagi."

Maira menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Surat kaleng itu... pesan misterius yang kamu terima dengan foto itu... itu bukan dari orang asing. Itu dari ayah Biru. Tuan Laksmana yang sedang sakit itu."

Aku merasa tanah yang kupijak mendadak miring. "Kenapa?"

"Karena Tuan Laksmana tidak mau Biru kehilangan fokus pada perusahaan hanya karena seorang wanita. Dia ingin Biru dan Abhi tetap bersaing secara brutal. Dia mengirim pesan itu untuk menghancurkan kepercayaanmu pada Biru, agar kamu lari, dan Biru kembali fokus pada takhta keluarga."

Maira melangkah mendekat, matanya menatapku dengan kejujuran yang telanjang. "Biru tidak mengincar warisan itu, Aruna. Malam itu, di depan pengacara keluarganya, dia melepaskan seluruh hak waris Laksmana Group. Dia melepaskan miliaran rupiah hanya agar dia bisa mencarimu sebagai pria biasa. Bukan sebagai seorang Laksmana."

Aku merasakan dinding esku bukan lagi retak, tapi meledak menjadi debu.

"Dia melepaskan segalanya?" bisikku.

"Dia kehilangan rumah, mobil, dan posisinya hanya dalam satu malam. Sekarang dia sedang di pelabuhan tua, tempat kalian pertama kali bertemu untuk proyek itu. Dia bilang, dia akan menunggu di sana setiap subuh. Sampai fajarnya kembali terbit, atau sampai dia sendiri yang membeku ditelan laut."

Maira berbalik menuju mobilnya, meninggalkan aku yang berdiri mematung di bawah langit yang mulai menggelap.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, aku tidak merasakan dingin. Aku merasakan sebuah api kecil mulai menyala di ulu hatiku. Bukan api yang membakar, tapi api yang membimbing.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!