Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
"DIAM"
Satu kata. Tapi diucapkan dengan nada yang membuat semua orang membeku. Bukan teriakan. Tapi bisikan yang lebih menakutkan dari badai.
Mata hijau zamrud Zaverio berubah—berubah menjadi sesuatu yang gelap, kosong, mematikan. Mata seorang pria yang sudah kehilangan segalanya dan tidak punya apa-apa lagi untuk hilang.
Dia mengangkat tangan kanannya, jari telunjuknya menunjuk ke arah keluarganya satu per satu.
"Kalian semua," katanya dengan suara yang sangat tenang—ketenangan sebelum badai apokaliptik. "Akan mati. Malam ini."
Lastri tertawa nervous. "Zaverio, jangan bicara yang tidak-tidak. Kita keluarga—"
"KELUARGA?!" Untuk pertama kalinya, Zaverio berteriak—teriak yang menggema di seluruh resort, membuat kaca jendela bergetar. "KALIAN MEMBUNUH WANITA YANG AKU CINTAI DAN KAU BERANI MENYEBUT KATA 'KELUARGA'?!"
Dia menatap Rio—asisten Vyan yang terluka tapi masih hidup—yang berdiri di sudut ruangan dengan pistol di tangan.
"Hubungi anak buahku," perintah Zaverio dengan nada yang tidak bisa dibantah. "Semua. Setiap bodyguard, setiap tentara bayaran yang bekerja untukku. Suruh mereka datang ke sini. Sekarang."
Rio mengangguk, segera mengeluarkan ponselnya.
Bramantara memucat. "Zaverio, apa yang akan kau lakukan? Kita bisa bicara baik-baik—"
"Bicara?" Zaverio tertawa—tawa yang terdengar seperti pecahan jiwa. "Kalian membunuh Anindita. Kalian membunuh bayinya—dan kau pikir kita bisa bicara?"
Hening. Semua orang tercekat.
"Ya," bisik Zaverio, air matanya jatuh tapi wajahnya tetap dingin. "Dia hamil anak mu, Hardana. Anak yang kalian bunuh sebelum sempat lahir."
Hardana yang berdiri di belakang dengan Savitha yang gemetar, terhuyung mundur. Wajahnya pucat seperti mayat. "Tidak... dia bilang... dia bilang sedang hamil tapi aku pikir—"
"Kau pikir itu anakku karena kalian membuat bukti palsu tentang kami?" Zaverio menatap Hardana dengan tatapan yang bisa membunuh. "Bukti yang dibuat oleh kakek kita? Oleh keluarga kita sendiri untuk menghancurkan pernikahan kalian?"
Hardana merosot ke lantai, kesadaran menghantamnya seperti kereta api berkecepatan tinggi. "Astaga... apa yang sudah kulakukan..."
"Terlambat untuk menyesal, adik." Zaverio meludah kata terakhir dengan penuh kebencian.
Dalam sepuluh menit, ballroom dikepung oleh lebih dari seratus orang—bodyguard pribadi Zaverio, tentara bayaran yang loyal padanya karena dia membayar mereka sangat mahal, bahkan beberapa mantan anggota militer yang bekerja untuknya secara off-the-record.
"Kunci semua pintu," perintah Zaverio. "Tidak ada yang boleh keluar. Tidak ada yang boleh selamat."
"ZAVERIO!" Darwan berteriak, untuk pertama kalinya ada ketakutan di suaranya. "KAU TIDAK BISA MELAKUKAN INI! KAMI KELUARGAMU!"
Zaverio berjalan perlahan menuju kakeknya, setiap langkah bergema di lantai marmer. Dia membawa Anindita dengan sangat hati-hati, seolah dia hanya tertidur, bukan mati.
"Keluarga?" bisiknya, wajahnya hanya sejengkal dari Darwan. "Keluarga tidak membunuh orang yang paling berharga bagi anggota keluarga lainnya. Keluarga tidak memanipulasi, tidak menyiksa, tidak membuat skenario rumit untuk menghancurkan kebahagiaan."
Dia menatap dalam ke mata kakeknya—mata yang dulu dia hormati, sekarang hanya dia lihat sebagai mata monster.
"Kalian bukan keluargaku. Kalian adalah pembunuh. Dan pembunuh harus dihukum."
Dengan gerakan cepat, Zaverio mengeluarkan pistol dari holster salah satu bodyguard dan mengarahkannya ke dahi Darwan.
"Tapi tidak sekarang," katanya dingin. "Mati terlalu mudah untukmu. Aku ingin kau melihat segalanya yang kau bangun hancur berkeping-keping. Baru setelah itu... aku akan akhiri hidupmu."
Dia berbalik ke anak buahnya. "Bawa mereka semua ke warehouse di pelabuhan. Ikat. Jangan biarkan siapapun melarikan diri."
"TIDAK!" Lastri berteriak histeris. "TOLONG! SIAPAPUN SELAMAT AKU! TOLONG!"
Tapi tidak ada yang datang. Resort sudah dikosongkan. Semua tamu sudah kabur saat tembakan pertama terdengar.
Hanya keluarga Kusuma dan anak buah Zaverio yang tersisa.
Pembantaian kecil dimulai—bukan pembunuhan langsung, tapi penangkapan yang brutal. Bodyguard keluarga Kusuma yang melawan ditembak di tempat. Yang menyerah ditangkap dan diseret keluar.
Dalam chaos itu, Zaverio berjalan keluar dengan Anindita di pelukannya. Kirana yang akhirnya berhasil keluar dari ruang penyimpanan, berlari mengejarnya—tubuhnya gemetar, wajahnya pucat, matanya merah karena menangis.
"Tuan..." bisiknya, suaranya hancur. "Saya... saya minta maaf... Saya seharusnya melindungi Nyonya lebih baik..."
"Ini bukan salahmu, Kirana," kata Zaverio tanpa menatapnya, matanya tertuju pada wajah Anindita. "Ini salahku. Aku yang terlambat. Aku yang tidak cukup cepat. Aku yang... aku yang membiarkan ini terjadi."
"Kemana kita akan membawa Nyonya?" tanya Kirana dengan suara bergetar.
"Pulang." Jawaban simple. "Aku membawanya pulang. Ke kakeknya. Ke tempat dia seharusnya aman."
...****************...
Kediaman Paramitha - Tengah Malam
Mobil Maybach hitam Zaverio meluncur melewati gerbang megah mansion Paramitha. Kirana yang menyetir dengan mata sembab, sementara Zaverio duduk di belakang, memeluk Anindita sepanjang perjalanan.
Sepanjang jalan, Zaverio terus berbisik—berbisik permintaan maaf yang tidak akan pernah didengar.
"Dita... maafkan aku... Aku terlambat. Aku sangat terlambat." Suaranya pecah, air matanya membasahi wajah Anindita yang sudah dingin. "Kau pasti sangat kesakitan... Seharusnya aku langsung datang... Kenapa aku tidak langsung datang saat Kirana mengirim pesan? Kenapa aku masih menyelesaikan meeting sialan itu? KENAPA AKU BEGITU BODOH?!"
Dia mengguncang tubuhnya sendiri, membenci dirinya dengan intensitas yang menakutkan.
"Aku berjanji akan selalu melindungimu... Tapi aku gagal. Lagi. Seperti dua belas tahun lalu, aku gagal lagi. Aku pengecut. Aku tidak berguna. Aku—"
"Tuan," Kirana memotong lembut, suaranya bergetar. "Kita sudah sampai."
Mobil berhenti di depan pintu utama mansion. Lampu-lampu menyala terang—semua pelayan sudah bangun, wajah mereka pucat melihat mobil asing di tengah malam.
Tapi yang membuat Zaverio membeku adalah sosok tua yang berdiri di tangga depan—Darma Paramitha, mengenakan jubah tidur, wajahnya penuh kekhawatiran.
"Siapa—" Kata-katanya terhenti saat melihat apa yang Zaverio bawa.
Anindita. Cucunya. Tubuhnya penuh darah, dress putih yang robek, wajah pucat tanpa nyawa.
"TIDAK!" Darma berteriak—teriak yang penuh keputusasaan. Kakinya lemas, dia hampir jatuh tapi pelayan menangkapnya.
Tapi pria tua itu menepis bantuan mereka, berlari—sebisa mungkin dengan kaki tuanya—menuruni tangga menuju Zaverio.
"Dita... cucuku... CUCUKU!" Darma meraih tubuh Anindita dari pelukan Zaverio, memeluknya erat, tubuhnya gemetar hebat. "Tidak... tidak... ini mimpi... Ini pasti mimpi buruk..."
Tapi bukan mimpi. Tubuh di pelukannya dingin. Tidak bernafas. Tidak bergerak.
"SIAPA?!" Darma berteriak dengan seluruh kekuatan yang tersisa, menatap Zaverio dengan mata yang penuh kemarahan dan kesedihan yang mendalam. "SIAPA YANG MEMBUNUH CUCUKU?!"
Zaverio membuka mulut, tapi kata-kata tidak keluar. Bagaimana dia bisa menjelaskan? Bagaimana dia bisa mengatakan bahwa keluarganya sendiri yang melakukan ini?
"Keluarga Kusuma," akhirnya Zaverio berbisik. "Kakek Darwan. Ibu Lastri. Ayah Bramantara. Hardana Kusuma. Savitha Paramitha. Mereka semua... mereka yang membunuh Dita."
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Zaverio. Darma—walau sudah tua dan lemah—menamparnya dengan seluruh kekuatan yang dia punya.
"KAU!" Darma menunjuk Zaverio dengan jari gemetar. "KAU KELUARGA KUSUMA! KELUAR DARI SINI! AKU TIDAK INGIN MELIHAT SIAPAPUN DARI KELUARGA TERKUTUK ITU MENGINJAKKAN KAKI DI SINI!"
"Kakek, tolong..." Zaverio berlutut, tangannya terulur mencoba meraih Anindita. "Tolong biarkan aku menemani Anindita di sini... Tolong jangan pisahkan kami lagi... Kumohon... Aku mencintainya... Aku selalu mencintainya... Kumohon..."
Air matanya mengalir deras—untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Zaverio Kusuma—pria yang ditakuti di dunia bisnis—memohon dengan berlutut.
"Kakek Darma," Kirana ikut berlutut, tangannya terlipat memohon. "Tolong... Tuan Zaverio... Dia tidak seperti keluarga Kusuma lainnya... Dia mencintai Nyonya Anindita... Tolong biarkan dia—"
"KELUAR!" Darma berteriak, air matanya mengalir membasahi wajah keriputnya. "KELUAR SEBELUM KUBUNUH KALIAN BERDUA!"
Bodyguard mansion datang, menyeret Zaverio dan Kirana dengan paksa. Zaverio tidak melawan—dia tidak punya tenaga lagi. Dia hanya menatap Anindita yang ada di pelukan Darma, menatapnya untuk terakhir kali.
"Maafkan aku, Dita," bisiknya sebelum pintu mansion tertutup. "Maafkan aku..."
...****************...
Di Dalam Mansion Paramitha
Darma Paramitha duduk di lantai ballroom mansion-nya yang megah, memeluk tubuh cucunya yang sudah dingin. Di sekelilingnya, semua pelayan menangis—mereka semua menyayangi Nona Anindita yang baik hati dan rendah hati.
"Cucuku..." Darma berbisik, mengusap rambut Anindita yang berantakan. "Cucuku tersayang... Kenapa? Kenapa kau pergi sebelum Kakek? Seharusnya Kakek yang pergi duluan..."
Dia sudah menyaksikan begitu banyak kematian. Istrinya meninggal saat melahirkan Aditya. Aditya—anaknya—meninggal karena diracuni. Menantu perempuannya meninggal saat melahirkan Anindita.
Dan sekarang Anindita—satu-satunya yang tersisa dari keluarganya—juga pergi.
"Kakek sudah tua... Kakek seharusnya yang pergi... Bukan kamu... Bukan kamu..." Tangisannya pecah, histeris, memilukan.
Asisten kepercayaannya—Pak Hendra yang sudah bekerja selama 40 tahun—mendekati dengan wajah yang juga basah oleh air mata.
"Tuan," katanya pelan. "Apa yang harus kami lakukan?"
Darma menatap asistennya dengan mata yang berubah—berubah dari kesedihan menjadi kemarahan yang membara.
"Hancurkan," katanya dengan suara yang dingin seperti es. "Hancurkan Keluarga Kusuma. Ratakan dengan tanah. Aku ingin mereka merasakan apa yang aku rasakan. Aku ingin mereka kehilangan SEGALANYA."
Pak Hendra mengangguk. "Perintah Anda akan dilaksanakan, Tuan."