NovelToon NovelToon
Istri Pilihan Gus Azkar

Istri Pilihan Gus Azkar

Status: tamat
Genre:Romansa / Tamat
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

Muhammad Zaka Fauzian Azkar. Nama itu tak asing di telinga para santri Pondok Pesantren Al-Hikmah. Gus Azkar, begitu ia akrab disapa, adalah sosok yang disegani, bahkan ditakuti. Pribadinya dingin, irit bicara, dan dikenal sangat galak, baik oleh santri putra maupun putri. Tegas dan disiplin adalah ciri khasnya, tak ada yang berani membantah.

Namun, dinding es yang menyelimuti hati Gus Azkar perlahan retak saat seorang santriwati baru hadir di pondok. Rina, gadis pendiam yang sering menyendiri, menarik perhatiannya. Berbeda dari santri putri lainnya, Rina memiliki dunianya sendiri. Suaranya yang lembut, seperti anak kecil, kontras dengan tingginya yang mungil. Cadar yang menutupi wajahnya menambah misteri pada sosoknya.

Gus Azkar sering mendapati Rina tertidur saat pelajaran fiqih yang ia ampu. Setiap kali ditegur karena tidak mendengarkan penjelasannya, Rina hanya diam, kepalanya menunduk. Jawaban yang selalu sama keluar dari bibirnya yang tertutup cadar, "Maaf Ustadz, saya kan sant

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 1Sudut Kelas dan Pandangan Pertama

Udara sore di Pondok Pesantren Al-Hikmah berbisik pelan, membawa aroma melati yang tumbuh subur di halaman. Bel tanda istirahat sudah berbunyi sejak lima menit lalu, namun hiruk pikuk santri yang berhamburan keluar kelas tak lantas membuat Rina ikut bergerak.

Gadis itu masih betah berdiri di pojok kelas, dekat jendela yang memperlihatkan pemandangan taman kecil. Kedua tangannya terlipat di depan dada, tatapan matanya menerawang jauh, seolah ada beban tak kasat mata yang sedang dipikulnya. Cadar yang ia kenakan menutupi sebagian besar wajahnya, menyisakan sepasang mata teduh yang kini terlihat sedikit keruh.

Teman-teman sekelasnya, santri putri kelas dua SMA, sudah lama meninggalkan ruangan. Mereka biasanya berkumpul di kantin atau musala, berbagi cerita dan tawa riang. Namun, Rina tak pernah tertarik bergabung. Bukan karena ia sombong atau anti sosial, hanya saja... ia merasa ada terlalu banyak hal yang lebih penting untuk dipikirkan daripada sekadar obrolan ringan. Lagipula, menurutnya, terlalu banyak berkumpul kadang justru memancing ghibah, dan Rina selalu berusaha keras untuk menjauhkan diri dari perbuatan dosa sekecil apa pun. Ia lebih memilih kesendiriannya, menikmati hening yang memberinya ruang untuk menata kembali isi kepalanya yang seringkali terasa penuh.

Dari ambang pintu kelas, Gus Azkar berdiri, pandangannya menyapu seisi ruangan. Kebiasaan rutinnya setelah mengajar adalah memastikan semua kelas kosong dan rapi. Namun, sore ini, matanya terpaku pada satu sosok di sudut. Rina. Santriwati baru yang entah mengapa selalu berhasil menarik perhatiannya. Gadis itu terlihat begitu rapuh namun sekaligus memiliki aura misterius yang sulit dijangkau.

Gus Azkar mengernyitkan dahi. Ia sudah tahu Rina adalah pribadi yang pendiam, tapi melihatnya sendirian di kelas yang kosong saat jam istirahat seperti ini tetap saja menimbulkan tanda tanya.

Beberapa santri putri yang masih berpapasan di koridor langsung menunduk dan memberi salam hormat kepada Gus Azkar. Mereka semua mengenal betul reputasi beliau. Gus Azkar hanya membalas dengan anggukan singkat, tatapannya tidak lepas dari Rina. Rasa penasaran itu mendorong kakinya melangkah masuk ke dalam kelas.

Suara langkah kaki Gus Azkar yang tegas membuat Rina sedikit tersentak dari lamunannya. Ia menoleh perlahan, dan mendapati Gus Azkar kini berdiri beberapa langkah di depannya. Refleks, Rina segera menundukkan kepala dalam-dalam, tangannya bergerak menyentuh dada sebagai bentuk hormat. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena... entahlah. Ada perasaan canggung yang selalu menyelimutinya setiap kali berhadapan dengan Gus Azkar.

"Kenapa kamu tidak keluar, Rina?" Suara berat Gus Azkar memecah keheningan. Nadanya datar, tanpa emosi berlebihan, namun cukup membuat Rina merasa tegang.

Rina mengangkat kepalanya sedikit, tatapannya masih terpaku pada ujung sepatunya.

Ia menghela napas pelan sebelum menjawab, suaranya terdengar sangat lembut, nyaris seperti bisikan. "Maaf, Ustadz. Saya... tidak ingin berkumpul."

Gus Azkar mengamatinya. "Tidak ingin berkumpul? Apakah ada masalah dengan teman-temanmu?"

Rina menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak, Ustadz. Hanya saja... saya lebih suka sendiri."

Hening sejenak. Gus Azkar merasa ada yang tidak biasa pada jawaban Rina. Bukan sekadar alasan umum. Ia bisa merasakan aura kegelisahan yang memancar dari gadis di depannya, meskipun Rina berusaha keras menyembunyikannya.

"Ada yang kamu pikirkan?" tanya Gus Azkar, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut, meskipun tetap terdengar dingin.

Rina mendongak, matanya bertemu pandang dengan mata Gus Azkar selama sepersekian detik sebelum kembali menunduk. Ia tampak ragu, seolah sedang menimbang-nimbang apakah harus berbicara atau tidak.

"Ada banyak, Ustadz," jawab Rina, suaranya semakin pelan. "Santri luaran seperti saya... banyak hal yang harus dipikirkan. Urusan keluarga... pendidikan... dan juga masa depan."

Gus Azkar terdiam. Jawaban Rina menyiratkan beban yang lebih dalam dari sekadar masalah sepele. Ia mulai memahami mengapa gadis ini selalu terlihat murung, mengapa ia sering tertidur di kelas, dan mengapa ia memilih menyendiri. Hati Gus Azkar, yang selama ini terkenal dingin dan acuh tak acuh, entah mengapa merasakan sedikit... simpati. Ia tahu benar bagaimana rasanya memikul beban seorang diri.

"Baiklah," kata Gus Azkar akhirnya, suaranya kembali ke nada semula. "Tapi jangan sampai mengganggu belajarmu. Pondok ini adalah tempat untuk menuntut ilmu, Rina."

Rina mengangguk patuh. "Siap, Ustadz."

Gus Azkar melirik jam tangannya. "Sudah waktunya shalat Ashar. Segera ke mushola."

"Baik, Ustadz. Saya permisi." Rina membungkuk hormat sekali lagi sebelum berbalik dan berjalan keluar kelas, meninggalkan Gus Azkar sendirian dengan segudang pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

Siapa sebenarnya Rina ini? Dan mengapa gadis pendiam itu berhasil mencuri perhatiannya sedemikian rupa?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!