NovelToon NovelToon
Identitas Tersembunyi Panglima

Identitas Tersembunyi Panglima

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Identitas Tersembunyi / Kehidupan Tentara / Perperangan / Keluarga / Raja Tentara/Dewa Perang
Popularitas:30.2k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di mata keluarga besar Severe, Jay Ares hanyalah seorang menantu benalu. Tanpa harta, tanpa jabatan, dan hanya bekerja sebagai sopir taksi online. Ia kenyang menelan hinaan mertua dan cemoohan kakak ipar, bertahan hanya demi cintanya pada sang istri, Angeline.

Namun, tak ada yang tahu rahasia mengerikan di balik sikap tenangnya.

Jay Ares adalah "Panglima Zero" legenda hidup militer Negara Arvanta, satu-satunya manusia yang pernah mendapat gelar Dewa Perang sebelum memutuskan pensiun dan menghilang.

Ketika organisasi bayangan Black Sun mulai mengusik ketenangan kota dan nyawa Angeline terancam oleh konspirasi tingkat tinggi, "Sang Naga Tidur" terpaksa membuka matanya. Jay harus kembali terjun ke dunia yang ia tinggalkan: dunia darah, peluru, dan intrik kekuasaan.

Saat identitas aslinya terbongkar, seluruh Negara Arvanta akan guncang. Mereka yang pernah menghinanya akan berlutut, dan mereka yang mengusik keluarganya... akan rata dengan tanah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: Kota yang Terkunci

Jalan Utama Distrik 1. Pukul 22:15.

Suasana di dalam mobil SUV Jay hening dan mencekam. Di luar, kota yang biasanya tidak pernah tidur itu kini mati suri. Lampu-lampu gedung dimatikan paksa. Hanya lampu sorot dari pos-pos pemeriksaan militer dadakan yang membelah kegelapan.

Jay tidak menginjak gas dalam-dalam seperti di film aksi. Sebaliknya, ia melajukan mobil dengan kecepatan sedang, tenang, dan mematuhi rambu lalu lintas. Menarik perhatian di saat seperti ini adalah tindakan bunuh diri.

"Jay..." Angeline berbisik, matanya menatap deretan tentara bersenjata lengkap yang sedang memeriksa sebuah bus di depan mereka. "Mereka menurunkan semua penumpang. Apa yang harus kita lakukan? Kita akan ditangkap."

"Tenang, Angel. Lihat tangan mereka," kata Jay pelan, matanya tetap fokus ke depan. "Jari mereka tidak di pelatuk. Mereka hanya memeriksa identitas, bukan mencari musuh. Bersikaplah biasa."

Mobil mereka akhirnya tiba di giliran pemeriksaan. Seorang tentara muda dengan wajah lelah mengetuk kaca jendela.

Jay menurunkan kaca.

"Dokumen?" tanya tentara itu kaku.

Jay mengeluarkan dompetnya. Di balik SIM-nya, ia menyelipkan sebuah kartu nama berwarna perak polos kartu akses khusus yang disiapkan Leon untuk situasi darurat sipil. Itu bukan kartu militer, melainkan kartu "Diplomatic Immunity" palsu dari kedutaan negara netral.

"Kami staf konsulat, Sersan. Sedang dalam perjalanan evakuasi ke zona aman," kata Jay dengan nada sopan namun tegas.

Tentara itu melihat kartu perak tersebut, lalu menatap Angeline yang terlihat elegan (layaknya diplomat). Ia ragu sejenak.

"Jenderal Victor memerintahkan pemeriksaan menyeluruh. Bagasi harus dibuka," kata tentara itu.

Angeline menahan napas. Di bagasi tidak ada senjata, tapi ketegangan ini membuatnya mual.

"Silakan," jawab Jay tenang. "Tapi saya sarankan Anda cepat. Istri saya sedang hamil muda dan dia mudah mual jika terlalu lama di udara terbuka."

Angeline menoleh kaget ke arah Jay, tapi segera sadar dan memasang ekspresi menahan sakit sambil memegangi perutnya.

Tentara itu melihat wajah pucat Angeline. Sisi kemanusiaannya muncul.

"Baiklah. Lewat. Tapi jangan keluar dari jalur utama. Jam malam berlaku mutlak."

"Terima kasih, Sersan."

Jay menaikkan kaca jendela dan melajukan mobil perlahan melewati barikade.

Setelah cukup jauh, Angeline menghembuskan napas panjang, tubuhnya merosot di kursi.

"Hamil muda?" protes Angeline lemah. "Alasan macam apa itu?"

"Alasan yang paling efektif untuk membuat pria bersenjata merasa sungkan," jawab Jay sambil tersenyum tipis. "Kita harus sampai di vila sebelum tengah malam. Besok, aturan akan berubah lebih ketat."

Sementara itu, di dalam Rolls Royce Akbar Ares.

Situasinya sedikit berbeda. Jika Jay menggunakan diplomasi, Akbar menggunakan arogansi aristokrat.

Mobil mewah itu dihentikan oleh blokade tank di perempatan jalan.

Mia duduk di kursi belakang dengan gelisah. "Akbar, ada tank. T-A-N-K. Mobilmu ini cuma kaleng mahal. Kita harus putar balik!"

"Tenanglah, Mia. Putar balik justru mencurigakan," Akbar menekan tombol interkom ke sopirnya. "Alfred, kau tahu prosedurnya."

Sopir pribadi Akbar, pria tua berkumis rapi bernama Alfred, keluar dari mobil. Ia tidak membawa senjata, melainkan nampan perak berisi termos kopi panas dan sekotak cerutu mahal.

Alfred berjalan mendekati komandan tank yang sedang berjaga.

Mia melongo melihat pemandangan itu. Alfred terlihat berbicara sopan, menuangkan kopi, lalu memberikan kotak cerutu itu. Sang komandan tank tertawa, menepuk bahu Alfred, lalu memerintahkan anak buahnya menyingkirkan barikade besi.

Alfred kembali masuk ke mobil.

"Beres, Tuan Muda," lapor Alfred. "Mereka bilang jalanan di sektor 4 ditutup total, jadi kita harus memutar lewat jalur bukit."

"Terima kasih, Alfred," jawab Akbar.

Mobil kembali melaju mulus.

Mia menatap Akbar tak percaya. "Kau... kau menyogok tentara dengan cerutu?"

"Bukan menyogok. Itu namanya 'biaya melintas'," koreksi Akbar santai. "Di masa perang, kenyamanan kecil seperti kopi panas dan tembakau asli Kuba harganya lebih mahal daripada emas."

"Lalu kita mau ke mana?" tanya Mia. "Jalan ke apartemenku pasti diblokir."

"Ke Penthouse-ku di pusat kota. Itu satu-satunya gedung residensial yang memiliki generator listrik mandiri dan persediaan air untuk enam bulan," jawab Akbar.

"Aku tidak mau tinggal denganmu!" tolak Mia.

"Pilihannya hanya dua, Mia. Tinggal di Penthouse bersamaku dengan fasilitas lengkap, atau tidur di trotoar bersama tank tadi."

Mia menggigit bibir bawahnya, kesal karena Akbar benar.

"Baiklah. Tapi aku tidur di kamar tamu. Dan kau tidak boleh masuk tanpa mengetuk!"

"Nona Mia, Penthouse-ku punya tujuh kamar tidur. Kau bahkan tidak akan berpapasan denganku kalau kau tidak mau," jawab Akbar sambil membuka laptopnya, kembali memantau pergerakan saham yang mulai anjlok akibat kudeta.

Mia menatap ke luar jendela. Kota yang ia kenal sedang berubah menjadi penjara raksasa. Dan anehnya, satu-satunya tempat yang terasa aman justru berada di samping pria yang paling ia hindari ini.

Vila Bukit (Safe House). Pukul 23:30.

Jay dan Angeline tiba dengan selamat. Leon sudah menunggu di sana bersama beberapa staf keamanan kepercayaan Orion Group.

Vila itu kini bukan lagi tempat liburan. Jendela-jendela besar telah ditutup tirai tebal anti-tembus pandang. Lampu dimatikan, diganti dengan penerangan darurat yang redup.

"Bagaimana situasinya, Leon?" tanya Angeline, naluri pemimpinnya mulai mengambil alih rasa takut.

"Buruk, Nyonya. Stasiun TV Nasional sudah dikuasai. Internet publik akan diputus total dalam satu jam. Victor Han mengisolasi kota ini dari dunia luar," lapor Leon formal.

Angeline berjalan mondar-mandir. "Kalau internet mati, operasional Orion Group lumpuh. Kita tidak bisa membayar gaji karyawan, tidak bisa memantau aset. Pasar akan panik."

"Kita punya jaringan satelit darurat, kan?" tanya Jay, berpura-pura bertanya pada Leon. "Maksudku... perusahaan sebesar Orion pasti punya backup?"

Leon menangkap kode itu. "Benar. Tuan Jay benar. Kita bisa mengaktifkan server darurat menggunakan koneksi satelit privat. Tapi kapasitasnya terbatas. Hanya untuk komunikasi penting."

"Lakukan," perintah Angeline. "Prioritas utama kita adalah memastikan karyawan kita aman. Leon, gunakan dana cadangan untuk mengirimkan sembako ke rumah karyawan-karyawan kita yang terjebak di zona merah."

Jay tersenyum bangga. Dalam situasi krisis, Angeline tidak memikirkan dirinya sendiri, tapi memikirkan orang-orangnya. Itulah kualitas seorang Ratu.

"Jay," panggil Angeline.

"Ya?"

"Besok pagi... kau harus tetap di sini. Jangan keluar," pinta Angeline, matanya menyiratkan kekhawatiran yang dalam. "Kau hanya sopir, Jay. Kau tidak tahu cara menghadapi orang-orang bersenjata itu. Biarkan Leon dan tim keamanan yang mengurus logistik luar."

Jay mengangguk patuh. "Aku akan menjagamu di sini, Angel. Aku tidak akan ke mana-mana."

Tentu saja itu bohong. Jay tidak akan keluar sebagai 'Jay'. Dia akan keluar sebagai 'Zero'. Tapi tidak malam ini.

Malam ini, mereka harus beristirahat. Karena besok, Kota Langit Biru akan bangun di dalam sangkar besi. Perjuangan panjang untuk bertahan hidup baru saja dimulai.

Jay melihat ke arah kota yang gelap gulita di bawah sana.

"Victor," batin Jay. "Kau pikir kau sudah menang dengan mematikan lampu? Kau lupa... aku adalah orang yang terbiasa melihat dalam gelap."

1
Hendra Yana
lanjut
Mamat Stone
/Bomb//Bomb/💥
Mamat Stone
tok tik tok 👊💥👊
MyOne
Ⓜ️🔜⏩🔜Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🆗🆗🆗Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🙄👀🙄Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️😡😡😡Ⓜ️
MyOne
Ⓜ️🤬🤬🤬🤬Ⓜ️
Mamat Stone
/Determined/
Mamat Stone
/Angry/
Mamat Stone
☮️
Mamat Stone
☯️
Mamat Stone
🐲
Mamat Stone
😈
Mamat Stone
/Toasted/
Mamat Stone
/Gosh/
MyOne
Ⓜ️😵😵‍💫😵Ⓜ️
Mamat Stone
/Casual/
Mamat Stone
/CoolGuy/
Mamat Stone
💥☮️💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!