NovelToon NovelToon
A WINTER OF MY HEART

A WINTER OF MY HEART

Status: tamat
Genre:Karir / Angst / Tamat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Sinopsis
Aruna Rembulan Maharani
Gadis dengan kata-kata yang membelenggu.
Ia adalah editor handal yang hidup di balik tirai kata-kata puitis namun kosong. Di permukaan, Aruna terlihat tenang dan terkendali, seorang gadis yang pandai memoles keburukan dunia menjadi narasi yang indah.
Biru Laksmana Langit
Laki-laki dengan lensa yang memburu kebenaran.
Lahir di tengah gelimang harta keluarga Laksmana, Biru justru memilih menjadi anomali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Retakan di dinding kaca

Madam Syaza memberiku akses ke sebuah jalur komunikasi terenkripsi. Aku menarik napas panjang sebelum mengetik pesan itu. Di tanganku, ponsel satelit milik Madam terasa dingin. Aku tidak tahu apakah Maira akan menganggapku sebagai musuh atau sekutu, tapi satu hal yang pasti: dia adalah seorang ibu yang sedang mengandung, dan dia tidak ingin anaknya tumbuh besar di balik bayang-bayang kejahatan suaminya.

Aruna: Maira, ini Aruna. Aku tahu di mana Biru disembunyikan. Abhinara akan menghancurkan semuanya—termasuk masa depan anak yang kamu kandung—jika dia tidak dihentikan. Aku butuh akses ke sistem cctv gedung lama. Tolong.

Menit-menit berlalu seperti jam. Suara mesin cetak di bawah dek terus menderu, seolah menghitung detak jantungku yang kian cepat. Akhirnya, layar itu berpendar.

Maira: Dia sudah gila, Na. Abhi tidak pulang dua hari ini. Dia terobsesi menghapus jejak Biru. Aku akan kirimkan kode akses admin milik Abhi. Aku melakukannya bukan untukmu, tapi agar anakku tidak perlu malu menyandang nama ayahnya.

Sebuah lampiran file masuk. Maira mengirimkan kunci digital yang selama ini tersimpan di laptop pribadi Abhinara.

"Madam, kita punya aksesnya," seruku.

Tim teknis Madam Syaza langsung bekerja. Dalam hitungan detik, layar besar di depan kami terbagi menjadi beberapa kotak hitam-putih. Kami menyusuri lorong demi lorong gedung lama Laksmana yang tampak angker melalui lensa kamera pengawas. Hingga akhirnya, di sebuah ruangan tanpa jendela di lantai basement, kami melihatnya.

Biru.

Dia terduduk di sebuah kursi kayu, tangannya terikat ke belakang. Kepalanya tertunduk, dan ada noda darah di kemeja putihnya yang kini compang-camping. Di depannya, Abhinara berdiri dengan setelan jas rapi yang tampak kontras, memegang selembar kertas.

"Lihat itu," Madam Syaza menunjuk ke layar dengan geram. "Abhinara sedang memaksa Biru menandatangani surat pengakuan palsu."

Aku menutup mulut dengan tangan, menahan isakan. Melihat Biru dalam kondisi seperti itu membuat hatiku hancur, namun api amarah di kepalaku menyala lebih terang. Aku melihat Biru mendongak, meski wajahnya lebam, dia justru tertawa di depan wajah Abhinara. Ia mengatakan sesuatu yang membuat Abhinara murka dan melayangkan pukulan ke perutnya.

"Kita harus merekam ini," kataku dengan suara bergetar namun tegas. "Madam, rekam semua interaksi ini. Jangan hanya sebagai bukti di pengadilan, kita akan masukkan cuplikan video ini ke dalam QR Code di halaman terakhir buku kita."

Madam Syaza menatapku, matanya membelalak sebelum kemudian berubah menjadi seringai kepuasan. "Ide yang brilian, Aruna. Kita akan membuat pembaca melihat langsung siapa monster yang sebenarnya."

Selama sisa malam itu, aku dan Maira terus berkomunikasi secara sembunyi-sembunyi. Maira memberikan informasi tentang jadwal pergerakan Abhinara, sementara aku mengirimkan draf digital buku tersebut kepadanya—bukan untuk diedit, tapi agar dia tahu kebenaran yang selama ini disembunyikan Abhinara darinya.

Maira: Jadi ini yang selama ini Abhi tutupi? Penggusuran paksa di lahan nelayan itu... dan foto-foto ini... dia bilang padaku itu semua prosedur legal.

Aruna: Kebohongan selalu butuh prosedur, Maira. Kebenaran hanya butuh saksi.

Tiba-tiba, Maira mengirimkan pesan yang membuat kami semua waspada.

Maira: Abhi baru saja memerintahkan untuk memindahkan Biru besok pagi ke luar kota. Dia tahu ada kebocoran informasi. Kalian harus bergerak sekarang atau tidak sama sekali.

Madam Syaza mematikan monitor. "Aruna, buku-buku ini sudah selesai dijilid. Sepuluh ribu eksemplar siap disebar. Kita tidak punya waktu tiga hari lagi. Besok pagi, saat matahari terbit, kita akan meluncurkan serangan fajar."

"Dan Biru?" tanyaku cemas.

"Maira akan membukakan pintu belakang gedung lama untuk tim jemputanku. Kamu ikut dengan mereka," kata Madam Syaza sambil menyerahkan sebuah rompi pelindung padaku. "Bawa satu buku contoh. Tunjukkan pada Biru bahwa fajarnya sudah terbit."

Aku memeluk buku itu erat-erat. Malam ini, aku bukan lagi Aruna yang melarikan diri. Aku adalah Aruna yang akan menjemput keselamatannya.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
Wiwik Darwasih
bagus👍
deepey
bikin meleleh..
deepey
salam kenal kk.
Isti Mariella Ahmad: Salam kenal 😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!