NovelToon NovelToon
Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Tabib Miskin Dan Dewi Bunga Teratai

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyelamat / Reinkarnasi / Romansa pedesaan / Romansa Fantasi / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:760
Nilai: 5
Nama Author: Cahya Nugraha

Shen Yi, tabib desa yang bajunya penuh tambalan, berlutut di sampingnya.
Tanpa ragu, ia pegang pergelangan tangan itu
dan racun dingin yang seharusnya membunuh siapa pun... tak menyentuhnya sama sekali.

Wanita itu membuka mata indahnya, suaranya dingin bagai embun pagi
"Beraninya kau menyentuh Dewi Teratai?"

Shen Yi garuk kepala, polos seperti biasa.

"Maaf, Nona Lian'er. Kalau nggak dicek nadi, bisa mati kedinginan.
Ini ramuan penghangat dulu, ya? Gratis kok."

Dia tak tahu...
sentuhannya adalah satu-satunya harapan Lian'er untuk mencairkan kutukan abadi yang menggerogoti tubuhnya.
Dan juga satu-satunya yang bisa menghancurkannya selamanya.

Dari gubuk reyot di lereng gunung terpencil, hingga dunia jianghu penuh darah dan rahasia,
seorang tabib miskin dan dewi teratai terikat oleh takdir yang tak terucap.

Apa yang terjadi ketika manusia biasa jatuh cinta pada dewi yang terlarang disentuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahya Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggilan dari Kota

“Shen Yi… lihat itu. Ada surat dari kota.”

Lian'er berdiri di ambang pintu gubuk, tangannya memegang gulungan kertas kuning yang disegel dengan lilin merah bertanda burung elang—lambang keluarga pejabat tinggi di kota kabupaten. Pagi itu cerah, matahari musim panas menyinari danau kecil hingga teratai-terataianya berkilau seperti permata putih. Udara masih segar, bercampur bau tanah basah setelah hujan semalam.

Shen Yi sedang menggiling akar ginseng di lesung kayu di beranda. Dia menoleh, tangannya berhenti sejenak.

“Surat? Dari siapa?”

Lian'er mendekat, membuka segel lilin dengan hati-hati.

“Dari Putra Bupati. Namanya Raden Arya Wijaya. Dia bilang ayahnya, Bupati sendiri, sakit parah. Sudah hampir setahun tak ada tabib di kota yang bisa menyembuhkan. Mereka dengar tentang ‘tabib gunung Qingyun yang bisa sembuhkan penyakit aneh’. Mereka minta kau datang.”

Shen Yi mengerutkan kening. Dia meletakkan alu lesung, lalu mengambil surat itu. Tulisannya rapi, tinta hitam pekat, penuh hormat tapi juga nada mendesak.

Tabib Shen Yi yang terhormat,

Ayahanda Bupati Wijaya sedang sakit parah. Penyakitnya tak dikenal oleh tabib-tabib terbaik di kabupaten, bahkan tabib istana kerajaan yang kami panggil pun tak bisa beri nama. Tubuh beliau semakin lemah, demam tinggi bergantian dingin, napas pendek, dan ada bintik hitam aneh di kulit yang menyebar pelan.

Kami dengar Tabib Shen pernah selamatkan orang dari penyakit yang tak masuk akal. Kami mohon kedatangan Tabib secepat mungkin. Segala biaya perjalanan dan pengobatan akan kami tanggung, bahkan berlipat ganda kalau berhasil.

Hormat kami,

Raden Arya Wijaya

Putra Bupati Kabupaten

Shen Yi membaca ulang bagian “bintik hitam yang menyebar pelan”. Tangannya tanpa sadar menyentuh bahu kirinya—bekas noda hitam Xue Han yang sudah hilang, tapi kenangan dingin itu masih terasa.

Lian'er memperhatikan gerakan itu. “Kau pikir ada hubungannya dengan es hitam?”

Shen Yi menggeleng pelan. “Mungkin bukan. Tapi gejalanya mirip. Demam bergantian dingin, bintik hitam. Kalau benar ada sisa energi es hitam yang lolos dari danau ini bisa jadi tanda.”

Lian'er mengangguk. “Kita harus periksa. Bupati itu orang penting. Kalau dia sembuh, nama kau sebagai tabib akan semakin dikenal. Tapi kalau gagal bisa jadi masalah.”

Shen Yi tersenyum kecil. “Aku nggak takut masalah. Aku takut kalau orang itu mati karena tak ada yang bantu. Kita pergi. Besok pagi.”

Lian'er tersenyum. “Baik. Aku siapkan ramuan perjalanan. Kita bawa jarum akupunktur, ginseng terbaik, dan daun teratai kering. Kalau ini penyakit es hitam, teratai kita bisa jadi penawar.”

Mereka mulai persiapan. Shen Yi menggiling ramuan tambahan, Lian'er mengemas pakaian ganti, obat luka, dan makanan kering. Malam itu mereka tidur lebih awal, tapi Shen Yi terbangun tengah malam, duduk di beranda memandang danau.

Lian'er ikut keluar, membawa selimut. “Lagi mikir penyakit Bupati?”

Shen Yi mengangguk. “Bintik hitam itu… kalau bukan es hitam Xue Han, mungkin penyakit baru. Atau… sisa kutukan teratai yang bocor dari pulau. Aku takut kalau aku nggak bisa sembuhkan.”

Lian'er duduk di sampingnya, memeluk dari samping. “Kau selalu bisa. Kau pernah selamatkan aku dari kutukan abadi. Kau selamatkan Shi Jun dari ego, Xiao Feng dari kesepian, bahkan Lan Xue dari dendam. Kau tabib yang sembuhkan hati juga, bukan cuma tubuh.”

Shen Yi tersenyum lelah. “Itu karena ada kau. Kau yang bikin aku percaya bisa sembuhkan apa saja.”

Mereka diam menikmati malam. Danau teratai berkilau di bawah bulan, seperti mengingatkan bahwa cahaya selalu ada meski kegelapan pernah datang.

Pagi berikutnya, mereka berangkat. Kuda pinjaman dari desa sudah siap. Mereka turun gunung pelan, melewati desa bawah. Penduduk melambai, anak kecil berlari mengantar sampai ujung jalan sambil berteriak “Tabib Shen! Cepat sembuhin orang sakit ya!”

Perjalanan ke kota kabupaten butuh tiga hari. Di jalan, mereka sempat berhenti di beberapa kampung kecil. Shen Yi rawat pasien gratis seperti biasa: seorang nenek dengan sakit pinggang, anak laki-laki dengan demam tinggi, petani yang luka kena parang. Lian'er membantu dengan cepat dan telaten. dia sudah mahir baca nadi sederhana dan buat ramuan penghangat.

Di salah satu kampung, seorang ibu muda memegang tangan Lian'er setelah anaknya sembuh dari batuk berdarah.

“Nona, terima kasih. Tabib Shen dan Nona seperti malaikat turun ke desa kami.”

Lian'er tersenyum hangat. “Kami bukan malaikat. Kami cuma orang biasa yang mau bantu.”

Ibu itu menggeleng. “Bagi kami, kalian malaikat. Hati-hati di kota. Orang kaya kadang lupa rasa terima kasih.”

Shen Yi dan Lian'er saling pandang. Mereka tahu di kota, segalanya akan berbeda.

Saat tiba di gerbang kota kabupaten, matahari sudah condong ke barat. Gerbang besar dari batu bata merah dijaga tentara berbaju besi, bendera bupati berkibar tinggi. Begitu mereka menyebut nama Shen Yi, penjaga langsung membuka gerbang lebar.

“Tabib Shen dari Gunung Qingyun! Putra Bupati sudah menunggu!”

Mereka diantar dengan kereta kuda mewah ke kediaman bupati. Rumah besar bertingkat dengan taman luas, kolam ikan koi, dan patung batu singa di pintu masuk.

Raden Arya Wijaya menyambut di beranda utama. Pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu berpakaian sutra biru tua, wajahnya tampan tapi penuh kekhawatiran. Matanya merah karena kurang tidur.

“Tabib Shen… Nona Lian… terima kasih sudah datang secepat ini. Ayahanda semakin lemah. Sudah tak bisa bangun dari tempat tidur. Tabib istana bilang mungkin tak ada harapan lagi.”

Shen Yi membungkuk hormat. “Kami akan coba sebaik mungkin. Bawa kami ke kamar Bupati.”

Mereka diantar ke kamar besar di lantai dua. Bupati Wijaya terbaring di tempat tidur kayu jati berukir, tubuhnya kurus, kulitnya pucat abu-abu, dan di lengan serta lehernya ada bintik hitam kecil yang menyebar seperti jaring laba-laba. Napasnya pendek, demam tinggi bergantian dingin, keringat dingin membasahi dahi.

Shen Yi mendekat, memegang pergelangan tangan Bupati untuk baca nadi. Lian'er berdiri di samping, memandang bintik hitam itu dengan mata menyipit.

“Nadi lemah. dingin di meridian paru-paru dan jantung. Bintik hitam ini seperti energi dingin yang meracuni dari dalam,” kata Shen Yi pelan.

Lian'er menyentuh salah satu bintik dengan jari.

“Ini mirip es hitam tapi lebih halus. Bukan langsung dari Xue Han. Mungkin… sisa energi es hitam yang bocor ke daratan setelah ritual di danau. Seperti penyakit menular lewat udara atau air.”

Raden Arya menatap mereka penuh harap. “Bisa disembuhkan?”

Shen Yi mengangguk. “Bisa. Tapi butuh waktu. Kami butuh ruangan steril, ramuan khusus, dan akupunktur setiap hari. Aku akan mulai sekarang.”

Dia membuka keranjang, mengeluarkan jarum akupunktur dan ramuan penghangat. Lian'er membantu menyiapkan titik-titik meridian di tubuh Bupati.

Saat jarum pertama menusuk, Bupati tersentak kecil. Bintik hitam di kulitnya bergetar, lalu sedikit memudar. Shen Yi menambahkan ramuan penghangat di titik-titik itu, energi teratai dari Lian'er mengalir pelan melalui tangannya untuk bantu mencairkan dingin di dalam.

Setelah satu jam, napas Bupati lebih teratur. Demamnya turun sedikit. Raden Arya menangis pelan.

“Terima kasih, Tabib Shen. Nona Lian. Kalau ayahanda sembuh aku akan beri hadiah apa pun yang kalian minta.”

Shen Yi menggeleng. “Kami nggak minta hadiah. Cukup kalau Bupati sembuh dan bisa kembali pimpin kabupaten dengan adil.”

Raden Arya membungkuk dalam. “Kalian akan tinggal di sini sampai ayah sembuh. Kami sediakan kamar terbaik dan segala kebutuhan.”

Shen Yi dan Lian'er saling pandang. Mereka tahu—ini bukan akhir petualangan. Bintik hitam itu masih ada di kabupaten ini. Mungkin bukan cuma Bupati yang terkena.

Malam itu, di kamar tamu mewah yang disediakan, Lian'er duduk di tepi tempat tidur, memandang Shen Yi yang sedang memeriksa botol Air Teratai Murni.

“Shen Yi, penyakit ini… kalau menyebar, kita harus siap. Ini mungkin bukan penyakit biasa. Ini bisa jadi sisa es hitam yang lolos dari danau.”

Shen Yi mengangguk. “Aku tahu. Besok aku akan periksa lebih banyak pasien di kota. Kalau ada yang sama gejalanya… kita harus cari sumbernya.”

Lian'er memeluknya dari belakang. “Kita lakukan bersama."

Shen Yi tersenyum. “Bareng.”

Di luar jendela, bulan purnama menerangi kota kabupaten. Tapi di sudut-sudut gelap, bintik hitam kecil mulai muncul di kulit orang-orang yang tak sadar. penyakit aneh yang belum punya nama.

Dan di dalam hati Shen Yi, teratai tetap mekar. siap hadapi apa pun yang datang.

1
Kashvatama
Ceritanya semakin jauh bab semakin menegangkan. tidak cuma bercerita tentang drama tetapi konflik eksternal
Kashvatama
yuk follow akunku untuk dapat info update terbaru. sebentar lagi aku release judul baru nih 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!