"Datang sebagai tamu tak diundang, pulang membawa calon suami yang harganya miliaran."
Bagi seorang wanita, tidak ada yang lebih menghancurkan harga diri selain datang ke pernikahan mantan yang sudah menghamili wanita lain. Niat hati hanya ingin menunjukkan bahwa dia baik-baik saja, ia justru terjebak dalam situasi memalukan di depan pelaminan.
Namun, saat dunia seolah menertawakannya, seorang pria dengan aura kekuasaan yang menyesakkan napas tiba-tiba merangkul pinggangnya. Pria itu—seorang miliarder yang seharusnya berada di jet pribadi menuju London—malah berdiri di sana, di sebuah gedung kondangan sederhana, menatap tajam sang mantan.
"Kenalkan, saya tunangannya. Dan terima kasih sudah melepaskannya, karena saya tidak suka berbagi permata dengan sampah."
Satu kalimat itu mengubah hidupnya dalam semalam. Pria asing itu tidak hanya menyelamatkan wajahnya, tapi juga menyodorkan sebuah kontrak gila: Menjadi istri sandiwara untuk membalas dendam pada keluarga sang miliarder.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Pensiun yang Terlalu Cepat
Mas Arkan! Bangun! Lihat ini!"
Alana menggebrak pintu kamar dengan semangat yang bisa membangunkan orang mati. Di tangannya, ia memegang sebuah surat resmi dengan stempel emas yang terlihat sangat berat dan mahal. Mochi mengekor di belakangnya, tampak jauh lebih segar setelah mendapatkan perawatan spa kucing premium kemarin.
Arkan menggeliat di balik selimut sutranya, melirik jam beker yang menunjukkan pukul 06.00 pagi. "Lana... ini hari Minggu. Dan kita sudah sepakat untuk pensiun dari urusan surat-menyurat yang ada stempel emasnya."
"Nggak bisa! Pensiun kita dibatalkan secara sepihak oleh takdir!" Alana melompat ke atas tempat tidur, menyodorkan surat itu tepat di depan hidung Arkan. "Baca ini! Ini dari Komite Keuangan PBB atau apa lah namanya, mereka bilang Yayasan Phoenix kita dicurigai melakukan 'Monopoli Kebaikan'."
Arkan langsung duduk tegak. Rasa kantuknya hilang seketika. "Monopoli Kebaikan? Istilah macam apa itu?"
"Katanya, karena kita terlalu banyak bangun panti asuhan dan rumah sakit pakai dana 'gaib' Zainab, organisasi bantuan internasional lainnya jadi kehilangan panggung. Dan yang lebih parah..." Alana menunjuk baris terakhir surat itu. "Mereka minta audit forensik terhadap seluruh sidik jari pewaris. Mas, itu artinya mereka mau sidik jari kita... dan anak kita."
Arkan mengambil surat itu, membacanya dengan teliti. Wajahnya yang tenang perlahan mengeras. "Ini bukan dari PBB, Lana. Lihat jenis hurufnya. Ini kode rahasia yang hanya digunakan oleh 'The Council of Twelve'—dua belas keluarga paling berpengaruh di dunia yang mengendalikan sistem perbankan global."
"Dua belas? Wah, kemarin 'The Board', sekarang 'The Council'. Besok apa? 'The Arisan'?" celetuk Alana sambil berkacak pinggang. "Mas, kita ini baru saja mau napas lega, lho. Baru kemarin aku beli daster baru buat santai di rumah, masa harus pakai rompi anti peluru lagi?"
Di saat yang sama, di sebuah penthouse di Singapura, Ariel sedang menatap layar monitor yang menampilkan pergerakan saham Yayasan Phoenix yang mendadak tidak stabil.
"Maya, kau lihat ini?" tanya Ariel tanpa menoleh.
Maya, yang kini bekerja sebagai asisten intelijen Ariel (sebagai bentuk penebusan dosa dan jaminan agar tidak dipenjara seumur hidup), mengangguk. "Seseorang sedang mencoba melakukan hostile takeover terhadap dana perwalian itu, Tuan Ariel. Mereka tidak menggunakan senjata, mereka menggunakan regulasi internasional."
"Siapa pelakunya?"
"Sosok yang menyebut dirinya 'The Architect'. Dia adalah otak di balik sistem keuangan yang digunakan Kakek Waluyo dulu. Dia tidak senang melihat mainannya diubah menjadi dana sosial oleh seorang gadis dari Jakarta," Maya menjelaskan dengan nada dingin.
Ariel tersenyum tipis. "Sepertinya kembaranku butuh bantuan lagi. Siapkan pesawat ke Jakarta. Dan Maya... kali ini, bawa senjata yang lebih besar. Kita tidak hanya berhadapan dengan mafia, tapi dengan orang-orang yang merasa diri mereka adalah pemilik dunia."
Kembali ke kediaman Arkan dan Alana.
Baru saja Arkan hendak menelepon tim hukumnya, terdengar suara klakson mobil yang sangat berisik dari halaman depan. Alana mengintip dari jendela dan langsung menepuk jidatnya.
"Mas... Mas harus lihat ini. Kayanya 'The Council' atau siapapun itu kalah cepat sama tamu yang satu ini."
Arkan ikut mengintip. Di halaman rumah, sebuah bus pariwisata berhenti. Dari dalamnya keluar Pak Bambang, Zainab (Bi Inah), dan Ayah Malik yang membawa koper-koper besar. Mereka tidak datang sendiri; mereka membawa sekitar dua puluh anak panti asuhan yang paling nakal.
"Alana! Arkan!" teriak Pak Bambang dari bawah. "Desa Sukomulyo sedang dikepung wartawan dan orang-orang asing berpakaian jas hitam! Kami memutuskan untuk pindah ke rumah kalian sementara waktu! Sesuai protokol 'Keluarga Besar'!"
Alana menoleh ke arah Arkan dengan wajah pasrah. "Mas... sepertinya rumah minimalis kita bakal berubah jadi markas pengungsian nasional. Dan rencana bulan madu kita ke Maladewa... ganti jadi jaga warung kelontong di ruang tamu."
Arkan hanya bisa menghela napas panjang, ia merangkul Alana. "Setidaknya kalau rumah ini ramai, 'The Architect' akan berpikir dua kali untuk menaruh bom di sini."
"Iya sih, Mas. Tapi Mas bayangin deh, Bi Inah sama Pak Bambang kalau sudah satu atap... itu debatnya bakal lebih panas daripada rapat direksi Arkananta!"
Mochi mengeong setuju, lalu dengan santainya kucing itu melompat ke arah tas belanjaan Bi Inah yang baru saja masuk ke lobi, mencium aroma ikan asin yang sangat ia kenali.
Malam harinya, saat seluruh rumah sudah gaduh dengan suara anak-anak dan perdebatan Pak Bambang soal sistem keamanan, Alana menerima sebuah kiriman paket tanpa nama. Di dalamnya hanya ada sebuah jam tangan kuno yang jarumnya berputar terbalik.
Saat jarum itu menunjukkan angka 12, jam itu mengeluarkan suara proyeksi:
"Halo, Nyonya Zainab yang baru. Aku adalah 'The Architect'. Selamat atas kemenangan kecilmu di Laut Jawa. Tapi ingat, di dunia ini tidak ada makan siang yang gratis. Kamu sudah mengambil dana kami, maka sekarang kamu harus membayar bunganya. Bunganya adalah... pilihan."
Layar proyeksi itu menampilkan dua koordinat yang berkedip merah: Satu di gedung sekolah panti asuhan Alana yang baru, dan satu lagi di bandara tempat jet pribadi Ariel baru saja mendarat.
"Pilih satu yang akan tetap berdiri dalam satu jam ke depan. Jika tidak memilih, keduanya akan hilang. Selamat bermain, Alana."
Alana menatap jam itu dengan tangan gemetar. "MAS ARKAN! MAS ARIEL! DRAMANYA MULAI LAGI!"
semoga Alana bisa melewati ini semua